
Setelah obrolan semalam, Mama Jelita berusaha berdamai dengan keadaan. Niatnya pulang untuk membuat Sean rujuk kembali sepertinya tidak akan pernah berhasil. Sangat sulit meyakinkan putra sulungnya yang menyandang status duda itu.
Pagi ini, Sean dan Mama Jelita sedang menikmati sarapan pagi bersama. Setelah 5 tahun bercerai dengan Diana, Sean langsung meninggalkan rumah utama. Dia memilih tinggal di apartemen dan menjauh dari keluarganya.
"Nak, apa kau yakin tidak ingin menikah lagi?" Mama Jelita sedang berusaha membuat Sean menerima keputusannya.
"Ma, duda sepertiku mana ada yang mau?" Sean sengaja menjatuhkan harga dirinya di depan Mama Jelita.
Maafkan aku, Callista. Aku terpaksa bohong sama Mama untuk menutupi pernikahan kita. Aku tidak bermaksud buruk, hanya saja aku sedang melindungimu, sayang.
"Janda pasti mau, Nak. Kau masih terlihat keren kok diusiamu sekarang ini," Mama Jelita berusaha membuat anak dudanya lebih percaya diri.
Kenapa harus janda, Ma? Aku bahkan sudah mendapatkan seorang gadis.
"Aku tidak mau, Ma. Mama ingin punya cucu, kan? Kenapa Mama tidak menikahkan Zelene saja. Apa Mama tidak kasihan diusianya yang hampir kepala 3 belum juga menikah?" Sean sengaja menjadikan adiknya umpan supaya sang Mama bisa berubah.
Zelene Armstrong adalah adik bungsu Sean Armstrong. Usianya saat ini 28 tahun. Beberapa kali dia mencoba membujuk Mamanya agar diizinkan menikah di usia belia, tetapi selalu ditolak. Zelene sampai kesal dibuatnya. Itulah sebabnya Zelene lebih memilih hidup sendiri.
Ketika Chaiden Barnard Armstrong masih hidup, kedua anaknya diperlakukan dengan baik dan tanpa paksaan. Setelah Papa Chaiden meninggal dunia, Mama Jelita selalu memaksakan kehendak. Termasuk pada pernikahan Sean dan Diana.
"Mama tidak mau jika Zelene mendapatkan Pria yang terlalu biasa. Mama ingin Zelene mendapatkan Pria yang mapan seperti dirimu, Nak," Mama Jelita selalu mempertahankan prinsipnya.
"Ma, jodoh itu tidak bisa memilih. Terlalu mengekang seseorang hasilnya tidak akan baik. Coba Mama lihat Zelene, kurang baik apa dia selalu mengikuti kemauan Mama?" Sean sudah cukup mengungkapkan kekecewaannya pada Mamanya.
"Hidup itu harus realistis, Sean. Apa kau tidak kasihan pada adikmu jika mendapatkan Pria levelnya dibawah. Dia akan bersusah payah membantu pasangannya untuk bangkit. Sementara Zelene sudah terbiasa hidup bergelimang harta, kemudian dia harus bersusah payah membangun sebuah kehidupan yang tidak instan ini. Apa kau tidak kasihan?" Mama Jelita membalas ucapan putranya itu.
Mama benar-benar tidak bisa berubah. Aku tidak yakin jika pernikahanku dengan Callista akan baik-baik saja jika Mama ikut campur di dalamnya. Sementara, biarkan Mama tidak mengetahuinya sampai Zelene pulang. Aku ingin gadis itu lekas menikah. Kasian sekali kamu, Ze... Maafkan kakak belum bisa membantumu terbebas dari kekangan Mama.
Sean terdiam. Berdebat dengan Mrs. Perfeksionis bisa membuat tekanan darahnya tinggi.
Sean melanjutkan sarapan paginya yang hampir selesai, kemudian menikmati secangkir kopi.
Andai kamu tau, Ze... Kakak juga tertekan. Andai Papa Chaiden masih ada, mungkin Mama tidak akan berubah. Semoga setelah ini, kamu mendapatkan Pria yang baik, Ze.
Keduanya terdiam di meja makan. Perdebatan tak akan kunjung usai jika sama-sama mempertahankan prinsip masing-masing.
Hening.
Sangat hening.
__ADS_1
Tak tok tak tok.
Bunyi sepatu high heels memecahkan keheningan ruang makan saat ini.
Semua yang ada di ruang makan menoleh ke arahnya. Ke arah gadis fashionable yang memiliki pikiran fleksibel dan bertolak belakang dengan Mamanya. Siapa lagi kalau bukan Zelene Armstrong.
"Ze, kamu sudah datang?" Sean tidak mampu berkata-kata. Dia langsung berdiri menyambut kedatangan adiknya. Dia memeluk adiknya dengan sangat erat. Menyalurkan kerinduan yang sangat mendalam.
Mamanya ikut berdiri untuk menyambut putri bungsunya. Setelah Sean melepaskan pelukannya, Mama Jelita maju untuk memeluk putrinya.
"Apa kabar, Ze?" Mama Jelita kemudian melepaskan pelukannya.
"Seperti yang Mama lihat. Ze baik-baik saja," jawab Zelene.
Mama Jelita mengajak Zelene ke kamarnya. Kamar yang bertahun-tahun ditinggalkan. Sean membantu membawakan koper adiknya.
Kamar Zelene tidak pernah berubah. Sudah hampir 5 tahun kamar itu dibiarkan kosong. Pelayan selalu merawatnya dengan baik.
"Kamarku masih sama Kak. Tidak berubah," ucapnya pada Sean.
"Iya, Ze. Sama seperti kamar Kakak," balasnya.
"Tanpa Ze tanya, keadaan Mama juga baik-baik saja, kan?" Ze mengambil koper ditangan Kakaknya. Dia letakkan di samping ranjang.
"Kenapa tidak langsung dibongkar, Ze? Biar Kakak bantu," Sean menawarkan bantuan.
"Aku cuman mampir, Kak. Setelah ini aku akan pergi lagi," Zelene berbuat seperti ini agar Mama Jelita menyadari kekeliruannya.
"Ze, kau baru saja datang, Nak. Menginaplah disini seperti Kakakmu. Mama ingin bicara banyak denganmu, Nak," pinta Mama Jelita.
Berbicara dengan Mama adalah sesuatu yang percuma. Tidak akan ada masalah yang menemukan kata mufakat!
"Baiklah, Ma. Hanya untuk malam ini. Kak, kau tidak masuk ke kantor hari ini?" Zelene ingin menikmati waktunya untuk mengobrol dengan kakaknya.
"Aku sudah terlambat, Ze. Apa kau mau ikut ke kantor?" Sean menawarkan.
"Ma, Ze ikut Kakak. Nanti malam Ze akan kembali lagi," pamit Zelene.
Zelene meninggalkan koper itu di dalam kamarnya. Dia hanya membawa tas kecil yang sejak tadi tergantung di pundaknya.
__ADS_1
"Ma, Sean juga pamit."
Kedua kakak beradik itu pergi meninggalkan rumah utama. Sepanjang perjalanan, Sean terlihat sangat bahagia melihat kedatangan adiknya.
"Ze, Kakak pikir kamu bakalan pulang beberapa minggu lagi dari kedatangan Mama," ucapnya sambil fokus mengendarai mobil.
"Aku nggak bisa melihat Kakak tertekan. Makanya aku cepat pulang," Zelene tersenyum.
"Ze, kita mampir ke apartemen dulu ya?" ajak Sean.
"Bukannya Kakak sudah terlambat?" Zelene mengingatkan.
"Itu perkara gampang, Ze. Asisten Kakak selalu bisa mengatasinya," Sean tersenyum puas.
Pagi ini, aku akan mempertemukanmu dengan Kakak iparmu, Ze.
"Asisten? Apa Kakak punya asisten baru lagi?" selidik Zelene.
"Asisten Kakak masih sama, Ze. Kamu sudah sangat mengenalnya," Sean berusaha menggoda adiknya.
Masih Kak Vigor? Kuat juga ternyata bersanding dengan Kak Sean selama 7 tahun. Dia perlu mendapatkan apresiasi. Apa dia sudah menikah? Ah, kenapa aku tiba-tiba memikirkan lelaki itu?
"Kak?" Zelene hendak menanyakan Vigor kepada kakaknya, tetapi dia urungkan.
"Ada apa, Ze?"
Apa aku tanya Kakak saja? Ah, percuma juga memperjuangkan asisten itu jika Mama saja masih hidup di zaman batu. Susah mencairnya. Tapi, asisten itu patut untuk diperjuangkan. Dia sangat baik.
"Ze, kamu melamun? Sedang memikirkan Mama?" Selidik Sean.
"Ze mau tanya sama Kakak. Tapi jangan ditertawakan, ya?"
"Hemm, tanya saja," Mobil Sean hampir memasuki area apartemen.
"Kak Vigor sudah menikah?" Pertanyaan konyol itu lolos begitu saja. Membuat Zelene malu di hadapan Kakaknya.
Sean tidak menjawab. Dia sedang fokus mengendarai mobilnya masuk ke basement.
Sayang, aku akan mempertemukanmu dengan adikku, Zelene.
__ADS_1