
"Astaga! Mama mertua kenapa bicaranya jelek begitu, sih? Dilihat orang banyak kurang gimana gitu, Ma," Callista menjawab hinaan Mama mertuanya dengan santai.
"Dasar jal*ng! Pasti kau sudah merayu putraku untuk tidur bersamamu, kan?" teriak Mama Jelita membuat semua orang yang berada di sekitar menoleh padanya.
"Ma, jangan teriak seperti itu! Apa Mama nggak malu dilihat banyak orang?" Zelene mengingatkan.
"Mama mertua jangan khawatir. Aku tidak pernah merayu putramu untuk tidur bersamaku. Justru putramu lah yang merayuku untuk tidur bersamanya," ucapan Callista menjadikan pukulan telak untuk dua orang di hadapannya. Salah satu tidak terima karena merasa putranya tidak memberitahu dan menikah tanpa persetujuannya dan satunya lagi merasa kalah dengan anak di bawah umur, menurutnya.
"Jaga ucapanmu! Kau pasti merayu mantan suamiku dengan gaya jal*ngmu itu, kan?" Diana ikut angkat bicara. Wanita itu masih kesal pada Callista lantaran berebut lipstik beberapa hari yang lalu.
"Ya, ampun, aunty! Sesama jal*ng jangan teriak jal*ng," ucap Callista.
Kali ini Mama Jelita terlihat sangat kesal jika gadis di hadapannya mengatai mantan menantunya seperti itu.
"Jaga ucapanmu! Aku tidak akan pernah menerimamu menjadi menantu keluarga Armstrong. Aku akan meminta Sean segera menceraikanmu jika memang benar kau adalah istri sahnya," Mama Jelita lantas mengajak Diana untuk pergi dari tempat itu.
Tak lama, pesanan nasi goreng mereka sudah datang. Callista terdiam setelah kepergian mertua nenek sihir versinya itu. Dia sedang memikirkan masa depannya yang sebentar lagi akan hancur.
Apa ini kutukan buat gue dari mantan brengs*k itu? Doi nggak mau putus sama gue. Sementara gue sakit hati mendengarnya berbuat mesum di apartemen tempo hari. Yasudahlah, jika Om Sean mau cerai sama gue. Ya cerai aja. Mamanya model kek gitu. Ngeri gue!
"Kak, nasi gorengnya dimakan dulu, gih! Nggak usah dengar omongan Mama barusan. Dia selalu begitu, kok," ucap Zelene berusaha membuat kakak iparnya tidak khawatir.
"Eh, iya, Ze. Aku kelaparan," ucapnya dengan senyum tanpa beban. Dia mulai menikmati nasi goreng ikan asin yang lezat itu. Bahkan, sejenak dia melupakan pertemuan singkat dengan Mama mertuanya.
Zelene juga sedang menikmati nasi goreng Hongkong pesanannya. Sudah sangat lama sekali dia tidak pernah merasakan nasi goreng favoritnya bersama Vigor, kala itu.
"Enak, Kak. Kapan-kapan aku mau ajak Kak Vigor ke sini. Dia suka banget nasi goreng Hongkong sepertiku," ucap Zelene terdengar sangat bahagia sekali.
Callista merasa jika dirinya dan Om Sean memang sangat bertolak belakang. Bahkan semua kesukaannya juga tidak sama, kecuali satu. Kesukaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan diungkapkan dengan perasaan. Hanya keduanya yang memahami.
"Boleh. Kita pergi barengan, ya?" usul Callista.
Zelene mengangguk tanda setuju. Dia tidak bisa menjawab kakak iparnya karena sedang mengunyah nasi goreng yang sangat nikmat itu.
"Kak, setelah ini kita pulang, yuk?" ajak Zelene. Moodnya sudah berkurang ketika bertemu dengan Mamanya dan mantan kakak iparnya.
"Kita ke kantor SA Corporation, Ze. Kita bawakan makan siang untuk suami dan kakakmu. Bagaimana? Apa kau setuju?" Callista memang ingin menemui suaminya. Dia tak sabar ingin menanyakan keputusan apa yang akan diambilnya jika Mama mertua memintanya untuk bercerai. Dia tidak sabar untuk menunggu suaminya pulang.
__ADS_1
"Baiklah! Kak Sean sangat suka nasi goreng seafood. Aku akan memesannya. Kak, kemarilah! Aku mau menambah pesanan nasi goreng untuk take away," Zelene memanggil pelayan.
"Iya, Kak. Mau nambah apa?"
"Nasi goreng Hongkong, satu. Nasi goreng seafood, satu. Untuk nasi goreng seafood jangan pake cabe ya, kalau bisa lada saja. Terima kasih," ucapnya pada pelayan.
"Baik, Kak. Ditunggu beberapa menit, ya!"
"Kenapa pesannya seperti itu? Memang biasanya pake cabe, Ze?" Callista penasaran. Suaminya memang alergi cabe.
"Terkadang ada restoran atau rumah makan tertentu yang menyediakan makanan pedas berbahan cabe, sementara Kak Sean tidak bisa makan itu. Jadi, kalau kita pesan selalu mengingatkan agar tidak ada campuran cabe sama sekali di makanan kakak," Zelene menjelaskan.
Ternyata Om suami selalu dikelilingi oleh orang baik.
Setelah pesanan untuk take away selesai, Callista segera membayarnya.
"Kak, sini biar aku yang bawa," pinta Zelene.
Callista memberikan bungkusan kantong plastik itu pada adik iparnya. Mereka berjalan keluar Mal untuk mencari taksi menuju ke SA Corporation.
Sepanjang perjalanan, Callista lebih diam dari biasanya. Zelene sangat khawatir pada kakak iparnya itu. Setelah bertemu Mama Jelita, sepertinya istri kakaknya itu lebih banyak diam. Zelene tidak berani menanyakan apapun. Biarlah menjadi urusan kakak ipar dengan suaminya.
"Kak, tunggu!" Zelene sedikit berlari membawa bungkusan makanannya. Dia baru pertama kali masuk ke kantor kakaknya.
Callista menoleh. "Ya, Ze. Ada apa?"
"Astaga kakak ipar. Kenapa diam terus dari tadi? Tunggu aku! Aku mana tau di mana ruangan suamiku dan Kak Sean," Zelene sengaja memegangi tangan kakak iparnya itu supaya tidak ketinggalan.
Melewati staf front office, Callista tidak perlu bertanya lagi. Dia sudah hafal di mana ruangan suaminya.
Tepat di depan ruangan suaminya, Callista mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Sean.
Ceklek!
__ADS_1
Nampak wajah Callista yang terlihat murung, disusul Zelene dibelakangnya.
"Hai, sayang. Kenapa murung sekali? Ada apa?" Sean berdiri untuk menyambut kedatangan istrinya. Callista tidak menjawab sama sekali. Dia hanya berjalan menuju sofa.
"Ada apa ini, Ze?" tanya Sean pada adiknya.
"Kakak ipar barusan ketemu Mama, Kak," Zelene tidak bisa berbohong pada kakaknya.
Sean yakin pasti telah terjadi sesuatu pada istrinya. Dia merengkuh istrinya, memeluknya dengan erat sekali.
"Ada apa, sayang? Ceritakanlah!" pinta Sean.
Callista masih saja terdiam. Seribu kekhawatirannya masih terngiang dibenaknya.
"Mama bilang ke kakak ipar untuk meminta Kak Sean menceraikannya. Mama tidak setuju jika kakak telah menikah dengan kakak ipar," Zelene menjelaskan mewakili kakak iparnya.
"Sayang, hei tenanglah!" Sean melepaskan pelukannya kemudian memegang kedua pipi istrinya dengan lembut. "Mama tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita. Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Jangan khawatir, yah?" ucap Sean meyakinkan istrinya.
"Oh ya, Kak. Kami tidak hanya bertemu Mama, tetapi juga bertemu mantan istri kakak. Aku senang akhirnya kakak ipar bisa membuat mereka langsung pergi dengan kata-kata kerennya. Kakak ipar memang best," Zelene memuji kakak iparnya di hadapan kakaknya, Sean.
"Kamu memang lawan yang seimbang untuk Mama, sayang. Jangan khawatir dengan ucapan Mama atau mantan istriku itu. Kamu prioritasku sekarang!" Sean melepas tangannya kemudian memeluk istrinya lagi.
Callista mulai memahami dan tidak akan takut lagi setelah mendapatkan jawaban dari suaminya. Dia membalas pelukan suaminya dengan hangatnya.
"Ehem, masih ada orang, nih. Jangan bikin baper, dong!" goda Zelene.
Sepasang suami istri itu tertawa melihat tingkah Zelene.
😍😍😍😍😍
Sabar yah Kak, emak bikin nggantung biar makin penasaran...
Jangan lupa like, komentar, dan votenya.
Sedikit bunga atau secangkir kopi juga boleh diberikan...
Mau kasih bintang dipersilakan... Apapun emak akan berusaha menghibur akak semunya...
__ADS_1
Lup yu All... 😍😍😍