Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Perang Ranjang


__ADS_3

Sean memijit pelipisnya. Dia ingin secepatnya pulang dan menyelesaikan semua masalahnya. Jika bukan karena berkas-berkas penting itu, sejak tadi Sean sudah meninggalkan kursi kebesarannya.


Tinggal beberapa berkas penting. Dia butuh asupan makan siang. Vigor sejak tadi sudah meninggalkan ruangannya.


"Siapa pengirim makanan itu?" ucap Sean. Dia mengambil paper bag itu kemudian membukanya.


Terdapat note kecil di dalamnya. Sepertinya kiriman dari seorang wanita.


Terima kasih atas uang yang Anda berikan, Tuan. Semoga Tuan selalu berhati-hati dengan Mama Anda. ~Maggy~


"Ck, kupikir dari istriku. Ternyata dari wanita itu," Sean kemudian menghubungi staf front officenya untuk memberikan makanan itu. Dia tidak berniat menyentuhnya sedikit pun walau menunya sangat menggoda.


Tak lama, staf itu sudah berada di depan Bosnya. Dia terlihat khawatir, pasalnya Bosnya itu jarang sekali memanggil karyawan jika tidak melakukan kesalahan.


"Ada apa, Bos?" tanya staf itu dengan tatapan mata yang ketakutan.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Sean.


"Belum, Bos. Kan belum waktunya," ucap staf itu.


"Ambilah paper bag itu. Makanlah! Aku sedang tidak mood untuk makan," ucap Sean.


Terlihat lega di wajah staf itu. Dia menerima paper bag dengan suka cita.


"Terima kasih, Bos," staf itu kemudian langsung keluar.


Sean menyandarkan badannya ke kursi. Dia harus fokus pada semua berkasnya. Dilihat pergelangan tangannya menunjukkan jam dua belas kurang lima menit.


"Aku harus secepatnya menyelesaikan berkas ini dan pulang," ucapnya meyakinkan.


Setengah jam, Sean telah menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya masih banyak yang harus dikerjakan, tetapi bisa ditunda untuk beberapa waktu. Bayang-bayang istrinya yang akan menjadi pendiam sudah menari-nari di depan pelupuk matanya.


Sean bergegas meninggalkan ruangannya. Tujuannya saat ini adalah apartemennya. Sejak keberadaan Zelene di sana, dia tidak mendapatkan pesan apapun dari adik ataupun istrinya. Sean semakin kalut.


Sean bergegas mengendarai mobilnya. Sepanjang perjalanan, dia menata pikiran tetap yakin jika istrinya akan baik-baik saja. Walaupun perasaan tidak enak sudah membayanginya.


Sesampainya di basement apartemen, Sean sedikit berlari untuk mencapai unit apartemennya.


Sean membuka unit apartemennya. Di ruang tamu, tidak terlihat tanda kehidupan. Sepi. Sean langsung menuju kamarnya.


Ceklek!


Kamarnya berubah. Seperti hamparan salju yang bartaburan di lantai. Ya, warna putih dari tissue yang beterbangan. Callista menangis. Dia seorang diri. Tak ada keberadaan Zelene di sana.


Sean mendekati istrinya. Dia berusaha menjelaskan semua yang terjadi. Ketika hendak mendekat, pergerakannya terhenti.

__ADS_1


"Stop! Jangan mendekat! Aku nggak suka ya... Om duda bohong lagi sama aku!" protes Callista.


Sean sebenarnya sangat khawatir. Melihat panggilan istrinya terdengar sangat aneh di telinganya membuat Sean menahan tawa.


"Sayang, aku akan menjelaskannya padamu. Percayalah!" rayu Sean.


"Stop! Kita tidak bisa berdamai. Aku sudah melayangkan perang ranjang untuk kebohongan ini. Fix, Om tidur di sofa!" ucap Callista dengan air mata dan ingusnya yang dilap pakai tissue dan dilemparkan begitu saja.


"Apa yang dikatakan Zelene padamu?" tanya Sean.


"Zelene bilang, Om akan menduda untuk yang kedua kalinya jika anakku perempuan. Sakit rasanya Om... Om tau tidak, jika kita berpisah... Nantinya kita akan bersaing antara duda dan janda. Aku tidak mau, Om!" jerit Callista. "Pilihannya cuman satu... Om pilih aku atau Mama Om yang galaknya luar biasa itu?"


Pertanyaan Callista membuatnya semakin tertekan. Dia tidak mungkin meninggalkan salah satu dari mereka. Keduanya sama pentingnya di dalam hidup Sean. Walaupun sang Mama selalu berbuat kejam padanya, dia tetaplah seorang Mama yang telah bertanggung jawab penuh atas dirinya.


"Sayang... Aku akan tetap memilih kalian berdua. Mana mungkin dua wanita yang kucintai harus kupilih salah satu?" ucap Sean.


"Itu artinya... Mertuaku, madu dalam pernikahanku! Aku tidak suka itu, Om...," protes Callista.


"Boleh aku mendekat? Kita bicara dari hati ke hati," ajak Sean.


"Tidak! Bicara saja dari situ. Ini kawasan perang. Kalau maju, harus siap kalah," ucap Callista.


"Sayang, perang ranjang yang sesungguhnya bukan seperti ini. Kemarilah! Dengarkan suamimu!" bujuk Sean. Mood ibu hamil sangat kacau sekali. "Ayo, sayang. Kemarilah! Kita berdamai... Ingat buah cinta kita, kalau kamu bersedih... Dia juga akan bersedih... Kemarilah, sayang...," bujuk Sean.


"Bagaimana yang sesungguhnya?" pertanyaan konyol terlepas begitu saja.


"Perang ranjang hanya ada makhluk hidup dan des*hanmu, sayang," ucap Sean terkekeh.


"Ish, tak jauh-jauh dari kata mesum! Jadi, apa yang mama mertua katakan padamu?" tanya Callista tegas.


"Seperti yang dikatakan Zelene. Kami harus memberikan keturunan laki-laki padanya. Tapi, kamu jangan khawatir... Aku tidak mempermasalahkan anak kita. Mau perempuan atau laki-laki, aku akan tetap bersamamu!" ucap Sean meyakinkan.


"Bohong! Mama mertua jelas akan bertindak nekat. Aku tidak mau terjadi apapun dengan anakku!" teriak Callista.


"Sayang... Percayalah! Kita akan terus bersama. Kamu ingat kontrak pernikahan kita? Aku tidak pernah mempermasalahkan anak," ucapnya.


Callista terdiam. Ini saatnya Sean beraksi. Dia mendekati istrinya kemudian memeluknya dengan lembut dan sangat mesra.


"Percayalah padaku, perang ranjang yang sesungguhnya bukan seperti ini," bisiknya.


Callista terdiam. Dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Selain memberikan pelukan, Sean ******* bibir istrinya secara mendadak. Wanita itu menikmatinya. Ketika nafas mereka hampir habis, Callista mendorong tubuh suaminya.


"Eh, kenapa didorong?" protes Sean.


"Aku bisa mati, sayang! Kehabisan napas. Kamu sih, nyerang nggak kira-kira," ucap Callista.

__ADS_1


Sean tertawa. Melihat istrinya sudah kembali seperti semula membuatnya jauh lebih tenang.


"Jadi, perang ranjang masih berlanjut?" tanya Sean menggoda istrinya.


"Big no! Aku lelah, sayang...," ucap Callista sembari memungut tissue yang sudah dihamburkan.


"Biarkan aku yang membersihkannya. Duduklah di ranjang!" pinta Sean.


Callista mengikuti ucapan suaminya. Dia hanya melihat bagaimana sang suami memakai sapu untuk membersihkan semuanya.


Duda memang idaman. Batin Callista.


Callista tersenyum seorang diri. Sean melihatnya kemudian membuyarkan lamunan wanita hamil itu.


"Sayang, malam ini dua part! Aku belum mendapatkannya setelah beberapa hari yang lalu," Sean menagih jatah pada istrinya.


"Tergantung! Nanti malam kita lihat saja. Siapa yang lebih cepat tidur," jawab Callista sekenanya.


Beberapa hari, Sean memang berencana untuk mendapatkan jatah dari istrinya. Dia selalu tertidur tepat jam sembilan malam. Callista sengaja membuat suaminya lelah untuk menyiapkan makan malam. Sehingga ketika Callista hendak memberikan jatah pada suaminya, pria itu tertidur pulas sampai pagi.


Malam ini aku sudah berencana memesan Delivery Order makanan. Biar tidak capek untuk memasak. Batin Sean.


"Sedang memikirkan rencana apa, sayang?" tanya Callista membuyarkan lamunannya.


"Rencana perang ranjang kita nanti malam, sayang," jawab Sean.


Callista terdiam. Dia tidak tau apa yang akan diperbuat suaminya yang paling mesum itu. Callista tidak menolak, tetapi dia hanya berusaha jual mahal karena masih kesal pada suaminya.


Rencana Sean ternyata bercabang. Hari ini harus menghadiri pernikahan dadakan Anthony dan Nanas yang terlibat skandal itu. Anthony adalah sahabat Sean. Sama-sama eks duda, sekarang.


🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓


Mampir di pernikahan Anthony dan Nanas, yach... Duda Salah Kamar...


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir di karya teman emak...


judulnya : Lentera Teruslah Bersinar season 2


Author : ria aisyah


Terima kasih... Luv Yu All... 😍😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2