
Hujan yang begitu lebat, kini Alan sedang terdiam didalam kamarnya sambil melihat foto dengan gadis di masalalunya.
"Apa takdir akan mempertemukan Kita kembali?" tanya Alan pada hatinya.
Alan terus melihat foto itu, bahkan sampai meneteskan air matanya.
"Lima tahun sudah berlalu, tapi Aku belum bisa melupakanmu." kata Alan, sambil mengusap-usap foto tersebut dengan tangannya.
Alan menaruh kembali fotonya diatas nakas dekat tempat tidurnya, melihat hujan begitu lebat akhirnya Alan menarik selimut lalu tidur.
Denis dan Risa.
Risa masih berada dipelukan Denis, karena merasa dingin dan juga takut bunyi petir yang begitu mengglegang.
"Den, Ayo nonton flim drama bareng saja." ajak Risa.
"Hujan-hujan gini mah enaknya, main diranjang sayang." jawab Denis, sambil mencubit pipi Risa.
"Capek, main diranjang mulu." protes Risa.
"Ayo Kita bikin cemilan saja!" ajak Risa.
Denis menggelengkan kepalanya, lalu mencium bibir Risa.
"Kamu selalu membuatku kecanduan." kata Denis, sambil mencium bibir Risa.
Risa bangun dari pangkuan Denis, lalu pergi meninggalkan Denis.
"Kamu mau kemana?" tanya Denis.
"Aku lapar mau makan." jawab Risa.
Denis bangun dari tempat duduknya, seperti biasanya Denis mengekor di belakang Risa.
"Kenapa, Kamu selalu mengekor seperti kucing." omel Risa.
"Karena Kamu ikannya." jawab Denis.
Risa mengeluarkan beberapa makanan siap saji dari dalam kulkas, lalu membuatnya setelah selesai Risa membawa makanannya kemeja makan.
Risa duduk dikursi meja makan, Denis ikut duduk dikursi meja makan.
"Untukku mana?" tanya Denis.
"Kan Kamu tidak bilang mau makan tadi." jawab Risa.
Denis menarik makanan yang ada dihadapan Risa, lalu memakannya.
"Ini milikku, Aku tidak mau tau." kata Denis.
Risa memelototi Denis dengan matanya, lalu mengomeli Denis.
"Hey, apa-apaan ini Aku yang membuatnya." omel Risa, yang kembali merebut makannya.
Akhirnya Denis menyerahkan kembali makan Risa.
"Baiklah, Aku kembalikan makanan ini untukmu tapi biarkan Aku memakannya dari mulutmu." ancam Denis.
"Apa-apaan Kau ini? Apa Kau sedang mengancamku?" tanya Risa, dengan sorot matanya yang kesal.
__ADS_1
Risa menyuapkan makanannya ke mulutnya, namun tanpa aba-aba Denis langsung ******* bibir Risa.
"Eemmhh..." desah Risa.
Denis melepaskan lumatannya dari bibir Risa.
"Denis, Aku sedang makan kenapa Kamu menciumku." omel Risa.
Denis tersenyum pada Risa.
"Enak sayang, bibirmu membuatku kecanduan." jawab Denis dengan begitu entengnya.
Mama Rasti menelpon.
"Tunggu Ris, Mama menelpon!" kata Denis.
Denis mengangkat telpon dari Mamanya.
"Hallo Ma," sapa Denis.
"Den, Kamu sedang bersama Risa?" tanya Mama Rasti.
"Iya Ma, Risa sedang makan." jawab Denis.
"Den, Apa Risa sudah ngisi?" tanya Mama Rasti.
Denis terdiam.
"Ngisi, maksudnya Mama apa?"
"Den, ditanya kok malah diam." omel Mama Rasti.
"Ngisi apa Ma?Denis kurang paham." jawab Denis.
"Belum Ma, tapi Denis sedang berkerja keras Ma biar Risa cepat hamil." kata Denis, sambil tertawa.
Risa hampir tersendak gara-gara mendengar perkataan Denis sama Mama mertuanya.
"Dasar bodoh, hal seperti itu saja bilang sama Mama." gumam Risa.
"Bagus Den, lakukan sering-sering biar cepat jadi." jawab Mama.
"Siap Ma." jawab Denis.
"Oh iya jamu yang waktu itu Mama kasih pas dirumah Kamu, diminum tidak?" tanya Mama.
"Belum Ma." jawab Denis.
"Minum itu, biar tahan lama Den." kata Mama Rasti.
"Rasanya sudah tidak sabar pingin gendong cucu" gumam Mama Rasti.
"Kasian Risa nya Ma, nanti." jawab Denis.
"Haha, kalian akan sama-sama puas nanti, buktikan saja." jawab Mama Rasti, yang diiringi dengan tawanya.
"Kira-kira berapa lama ya?" pikir Denis.
"Baiklah Ma, nanti Aku coba." jawab Denis.
__ADS_1
"Bagus, semangat biar cepat jadi." Mama memberikan semangat untuk Denis.
Lalu Mama Rasti, langsung mematikan saluran teleponnya.
"Aku tidak salah menikahkan Denis dengan Risa, tapi Denis sudah beneran putus dengan Maya belum ya?" tanya Mama Rasti pada diri sendiri.
Mama Rasti menaruh ponselnya diatas meja, lalu melanjutkan minum tehnya.
Kembali ke Denis dan Risa.
Risa menatap Denis, dengan sorot mata yang begitu kesal.
"Apa Kamu bicarakan pada Mama?" tanya Risa.
"Mama nanya Kamu sudah hamil belum, terus katanya Aku harus semangat biar Kamu cepat hamil." jawab Denis.
Risa memasukkan makanannya kedalam mulutnya dengan kasar.
"Anak sama Mamanya, Sama saja ngebet banget pingin Aku segera hamil." gumam Risa.
"Mama juga memberikan Aku resep agar tahan lama biar cepat jadi nanti." kata Denis, yang diiringi senyum liciknya.
Risa hanya menggelengkan kepalanya, lalu meninggalkan Denis untuk membawa piring yang kotor ke dapur, lalu Risa mencucinya.
"Sayang, nanti malam kita coba ya resep dari Mama." kata Denis, dengan suara kencang.
"Tidak mau, Aku takut tidak bisa jalan lagi." tolak Risa, yang memang harus masuk kuliah juga.
Denis menghampiri Risa, lalu memeluk Risa dari belakang.
"Ris, menolak Suami itu dosa loh." kata Denis ditelinga Risa.
"Den, memaksa Istri juga tidak baik loh." jawab Risa tidak mau kalah.
Denis mengigit telinga Risa dengan agak sedikit keras.
"Auh sakit.." omel Risa yang diiringi dengan rintihan.
Sebelum terjadi lebih lanjut, akhirnya Risa menginjak kaki Denis dengan kakinya.
"Ahh sakit bodoh..." omel Denis, sambil mengangkat kakinya yang diinjak oleh Risa.
Risa pergi meninggalkan Denis di dapur,
"Haha emang enak, lagian Kamu jail." kata Risa, sambil tertawa.
Denis menaruh kembali kakinya, lalu berjalan menuju Risa.
"Awas saja nanti malam, Aku akan bikin Kamu terus meminta padaku." ancam Denis.
"Sampai Kamu tidak jalan." Denis kembali mengacam Risa.
Risa duduk disofa keluarga sambil memakan cemilan yang ada toples.
"Aku tidak peduli, pokoknya Aku tidak mau." Risa kembali menolak.
"Aku akan terus memaksamu." saut Denis.
Denis duduk disamping Risa, sambil melanjutkan nonton film dramanya sedangkan Risa hanya duduk sambil memakan cemilan.
__ADS_1
Kini keduanya berhenti berdebat, mungkin mereka capek berdebat terus.
Bersambung π