Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
74. Mulai BUCIN.


__ADS_3

"Apa Aku ini makanan?" tanya Risa, dengan nada begitu polosnya.


Denis mencubit hidung Risa dengan pelan.


"Kamu bukan makanan, tapi sikapmu mengemaskanmu ini membuatku ingin memakanmu" jawab Denis.


"Lanjutkan pekerjaanmu!" Risa, menyuruh Denis melanjutkan pekerjaannya.


Denis beranjak dari tempat duduknya, lalu kembali ke meja kerjanya. kini Risa membaringkan tubuhnya diatas sofa sambil memainkan ponselnya.


Maya.


Maya menghentikan langkah kakinya, disebuah taman kota merenungi nasibnya.


"*Aku tidak akan mengizinkanmu, merebut Denis dariku gadis bodoh" gumam Maya.


"Memangnya Dia siapa?"


"Denis menikahimu hanya karena paksaan kedua orang tuanya"


"Lihat saja nanti, Aku tidak akan membiarkan gadis bodoh itu bahagia*"


Berbagai kata hati Maya terlontar begitu saja, Maya kecewa Denis yang begitu mencintai Maya dan selalu berpihak pada Maya kini semuanya berubah dalam sekejap.


Langit semakin gelap, tiba-tiba turun hujan namun Maya tetap duduk tanpa berteduh akhirnya Maya kehujanan.


"Hujan kenapa? kamu tiba-tiba datang apa kamu merasakan rasa sedihku saat ini?" gumam Maya, yang sudah meneteskan air matanya.


Kembali ke Risa dan Maya.


Denis baru saja menyelesaikan pekerjaannya, lalu menghampiri Risa yang sedang tiduran dan asik dengan ponselnya.


"Ris, Apa yang kamu tonton?" tanya Denis, karena melihat Risa begitu serius menatap layar ponselnya.


"Drama kesukaanku" jawab Risa.


"Diluar hujan, kita makan di kantin kantor saja iya!" ajak Denis.


"Baiklah, Aku menurut saja" jawab Risa.


Risa masih tertidur, tiba-tiba Denis mengambil ponsel Risa dari tangan Risa lalu menaruhnya di atas meja, kini kedua tangan Risa sudah dipegang oleh tangan Denis.


"Kamu mau apa?" tanya Risa.


"Aku hanya ingin sedikit memakanmu saja" jawab Denis, yang langsung mencium bibir Risa seperti biasanya.

__ADS_1


"Eemmhh" rintih Risa.


Denis melepaskan ciumannya.


"Denis, ini dikantor" protes Risa, sambil memanyunkan bibirnya.


"Dikantor atau dirumah, kamu sama saja milikku Nyonya Denis Kusuma" jawab Denis, yang tidak menghiraukan protes dari Risa.


"Bangunlah! atau Aku akan melanjutkan aksiku" kata Denis, dengan senyum jailnya.


Risa langsung bangun dari sofa tempat dirinya tidur, karena tidak mau Denis melakukan lebih lagi.


Risa dan Denis langsung menuju ke kantin kantor, dikantin kantor Denis melihat Alan makan sendirian akhirnya, Denis dan menghampiri Alan untuk makan bersama.


Denis langsung memesan makanan, lalu langsung bergabung dimeja tempat Alan makan.


"Jomblo makan sendirian" ledek Denis, yang langsung menarik kursi untuk istrinya dan dirinya duduk.


"Tuan muda, bagaimana pertunjukan tadi di dalam ruangan?" Alan kembali meledek Denis, dengan tawanya.


"Dasar, apa ini ulahmu?" kesal Denis.


"Mana mungkin ini ulahku, jelas-jelas Maya datang kesini sendiri" Alan mengelak tuduhan dari Denis.


"Nona, Apa Nona sudah melakukan tugas Nona dengan baik sebagai istri sah Tuan Denis?" tanya Alan.


"Berhentilah memprovokasi istriku" omel Denis, dengan tatapan tajamnya.


"Hahaha, makanya satu saja jadi tidak pusing! istri udah cantik gini masih aja tidak buka mata!" Alan kembali mengomeli Denis.


Denis menatap Alan dengan wajah kesalnya, sedangkan Risa tertawa melihat pertunjukan di depannya saat ini.


"Alan, Dia hanya belum sadar saja" timpal Risa, dengan senyum penuh artinya.


"Mungkin, kalau Nona muda sudah pergi meninggalkan Tuan Denis, baru dia sadar" sindir Alan, dengan kata-kata yang menusuk kehati Denis.


"Apa kalian sedang mengolok-olokku dihadapanku?" kesal Denis, yang merasa tidak terima.


"Apa benar kata Alan, jika Risa benar-benar bercerai denganku dan mrninggalku baru Aku akan sadar?" hati Denis memikirkan perkataan Alan.


Ditengah obrolan mereka, akhirnya pesan Denis dan Risa datang.


"Tidak, saya hanya sedang membicarakan kenyataan" saut Alan, biarpun mereka atasan dan bawahan. tapi tetap ketika mereka sedang berdua seperti ini ya biasa mengobrol antara sahabat.


"Risa, kamu makanlah yang banyak! jangan dengarkan perkataan sekertaris jomblo ini" kata Denis.

__ADS_1


Alan tertawa mendengar perkataan Denis.


"Saya, menunggu jandanya Nona Risa saja" goda Alan dengan senyum jailnya.


"Haha, sekertaris Alan bisa saja" timpal Risa.


"Diam kau, lagian siapa yang mau menjadikan istriku ini sebagai janda" kata Denis, dengan wajah kesalnya.


Alan hanya tertawa mendengar perkataan dari Denis.


"Dasar jelas-jelas sudah mulai BUCIN, tapi tidak mau mengakuinya" gumam Alan.


Risa mulai memakan makanannya.


"Apa Denis tidak akan menceraikanku?"


"Haha, bukakah kamu begitu mencintai Maya Calista?" tanya Alan, dengan sengaja.


"Aku tidak tau, sudahlah jangan membahas Maya" jawab Denis, yang memang saat ini perasaannya untuk Maya sudah mulai berubah.


Alan bangun dari tempat duduknya.


"Pikirkanlah baik-baik, jangan sampai menyesal nantinya! ingat Risa itu gadis yang baik berbeda sekali dengan Maya, bukalah matamu" bisik Alan ditelinga Denis.


Mendengar bisikan dari Alan, Denis terdiam sambil berpikir.


"Aku akan pikirkan semuanya baik-baik" gumam Denis.


"Den, kamu kenapa?" tanya Risa, yang melihat Denis terdiam.


"Emm tidak apa-apa Ris, kamu sudah selesai?" tanya Denis.


"Sudah" jawab Risa.


"Kenapa, kamu tidak menghabiskan makananmu?" tanya Risa.


"Aku sudah kenyang" jawab Risa.


"Baiklah, kita pulang sekarang ya!" ajak Denis.


"Bukankah kamu masih ada kerjaan?" tanya Risa.


"Biar Alan, yang mengurusnya. bukankah hari ini kamu mau berbelanja bahan-bahan makanan, ayo aku antar" kata Denis, yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Baiklah" jawab Risa.

__ADS_1


Hari ini Denis pulang cepat, karena mau menemani istrinya berbelanja bahan-bahan makanan.


Bersambung


__ADS_2