
Alya hanya diam, Wajah mereka semakin dekat, Membuat jantung Alya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aduh jantungku berdetak sangat kencang." batin Alya yang berusaha menyembunyikan detak jantungnya.
Alya mulai merasakan hembusan nafas Panji, Wajah Panji sudah semakin dekat membuat Alya semakin deg-degan.
"Aku harus bagaimana? Apa dia akan menciumiku? Aduh mana ini ciuman pertamaku lagi." gumam Alya.
Panji hampir saja mencium, Namun Alya langsung pura-pura bersin.
"Haacimmm...." Alya bersin, Panji langsung mengalihkan wajahnya dari hadapan Alya Lalu langsung berdecak kesal.
"Alya ih kamu jorok sekali." omel Panji yang membuat Alya tersenyum malu-malu.
"Lagian kamu mau ngapain sih?" Tanya Alya dengan kesal.
Panji tersenyum lalu merapikan rambut Alya yang berantakan, Alya hanya diam saja sambil terus menatap wajah tampan Panji.
"Ternyata kamu bisa bersikap lembut juga." batin Alya yang tidak sadar memuji Panji.
"Aku mau menciummu tapi tidak jadi," jawab Panji dengan senyum jailnya. Membuat Alya langsung mengerucutkan bibirnya.
Alya langsung membalikkan badannya membelakangi Panji, Lalu dengan cepat Panji mendekati Alya lalu berbisik pada Alya.
"Ayo ke mall!" bisik Panji yang membuat Alya langsung kembali membalikkan badannya, Dan akhirnya jidat mereka beraduh tanpa sengaja.
"Ahh sakit." rintih Alya.
Rasanya Panji tidak tahan ingin sekali menikmati bibir mungil Alya, Namun Panji mengurungkan niatnya.
Panji langsung menjauhkan kepalanya dari kepala Alya, Lalu Panji langsung mengandeng tangan Alya dan meninggalkan tempat belajar masak begitu saja.
Panji langsung mengajak Alya ke mall seperti apa yang Alya minta, Setelah dari mall Panji langsung mengantarkan Alya pulang.
Dirumah Mama Rasti.
Setelah makan Risa dan Mama Rasti kembali mengobrol, Mereka mengobrol sambil menonton televisi.
"Ris, Alya kok belum pulang tumben?" Tanya Mama Rasti pada Alya.
Biasanya jam segini Alya sudah pulang, Tapi hari ini Alya belum pulang bahkan Alya tidak memberikan kabar kerumah.
"Risa juga tidak tahu ma, Mungkin ada kelas tambahan," Jawab Risa dengan lembut.
"Mungkin saja, Kan sudah mau lulusan juga." Kata Mama Rasti yang sebenarnya merasa kawatir pada Alya.
Mama Rasti dan Risa asik mengobrol, Bahkan Mama Rasti menceritakan tentang dulu awal bertemu dengan Papa Andi. Mendengar cerita Mama Rasti, Risa sangat senang.
Hari ini mereka benar-benar menunjukkan bahwa mereka adalah menantu dan mertua yang saling menyayangi.
Dikamar Denis dan Risa.
Denis baru saja bangun, Denis meraba-raba dengan tangannya Denis langsung membuka matanya, Lalu mencari sosok sang istri yang sudah tidak ada disampingnya.
"Risa kemana?" Tanya Denis dengan nada yang masih mengantuk.
Denis beranjak dari tempat tidurnya, Lalu langsung menuju ke kamar mandi, Denis langsung mandi dan setelah Denis selesei mandi Denis langsung berganti pakaian. Setelah selesai berganti pakaian Denis langsung keluar dari kamarnya untuk mencari sang istri.
"Risa sayang." Panggil Denis dengan sorot mata yang mencari-cari Risa disudut ruangan.
"Itu suara Denis ma, Pasti dia baru bangun. Iya sayang aku diruang tengah sama mama," Jawab Risa dengan suara agak keras.
Mendengar suara Risa, Denis langsung menuju keruang tengah.
__ADS_1
Sesampainya diruang tengah dengan manja Denis langsung memeluk Risa, Melihat pemandangan yang ada dihadapannya Mama Rasti hanya tersenyum bahagia.
"Mudah-mudahan kalian bahagia selalu, Jauhkan rumah tangga anakku dari orang ketiga." Doa Mama Rasti dalam hatinya.
"Sayang, Lepasin jangan main peluk-pelukan di depan mama aku malu ih." omel Risa yang berusaha melepaskan Denis dari pelukannya.
Setelah Denis melepaskan pelukannya, Kini Denis langsung mencium pipi Risa dihadapan sang mama membuat Risa tambah malu, Dan kini pipinya sudah merah seperti udang rebus.
"Dasar suamiku, Mau mesra-mesraan juga jangan dihadapan mama. Kan aku malu." Batin Risa.
"Mama juga pernah muda, Ngapain juga malu ya ma? jawab Denis yang langsung bertanya pada sang.
"Dasar kalian ini, Tidak apa-apa nak mama senang melihat kalian begitu mesra seperti sekarang ini." jawab Mama Rasti dengan penuh kasih sayang, Membuat Risa langsung mengembangkan senyumnya.
"Kamu makanlah dulu, Ayo aku siapkan!" kata Risa pada Denis, Denis menganggukkan kepalanya lalu segera menuju keruang makan.
"Mama Risa temanin Denis makan dulu ya," pamit Risa pada Mama Rasti.
"Iya nak, Makan yang banyak biar tenaga kamu kuat Den. Biar bisa buatkan banyak cucu untuk mama dan papa." jawab Mama Rasti, Membuat pipi Risa kembali memerah.
"Mama sama anak sama saja." gumam Risa.
Risa langsung menuju keruang makan, Denis seperti biasanya mengekor di belakangnya seperti kucing.
"Sayang itu dengerin kata mama aku harus makan banyak, Biar bisa buat banyak anak." Kata Denis yang langsung menarik kursi meja makan lalu langsung duduk.
"Satu saja belum lahir, Sudah jangan bicarakan punya anak banyak! Yang penting kamu makan dulu, Aku tahu pasti kamu kecapean gara-gara semalam dan kamu harus makan banyak biar tidak sakit!" jawab Risa dengan penuh kebawelan.
Risa langsung menyendokkan nasi untuk sang suami, Berbagai macam lauk Risa taruh dipiring tersebut.
Denis terus menatap wajah cantik Risa, Lalu tersenyum.
"Risa, Kalau kamu bawel seperti ini rasanya aku ingin kembali menguncimu dikamar. Biar kalau kamu sedang bawel aku langsung bisa mengunci mulutnya dengan bibirku." batin Denis.
Risa langsung menaruh makanan yang berisi nasi dan berbagi macam lauk dihadapan Denis, Denis langsung memakan makanan tersebut dengan tenang tanpa bicara.
"Lihat nak Papamu, Dia makan sangat lahap." Gumam Risa sambil mengelus perutnya.
Setelah selesai makan, Risa langsung membersihkan piring bekas makan sang suami.
"Nona Risa, Nona mau ngapain?" Tanya Bi Inem, Yang melihat Risa membawa piring dan gelas kotor.
"Risa, Mau cuci piring Bi." jawab Risa sopan.
"Biar Bibi saja,Nona jangan capek-capek nanti Tuan Denis marah."kata Bi Inem.
"Tidak apa-apa Bi, Risa biasa melakukan semuanya sendiri dirumah." Tolak Risa dengan sopan.
Buat Risa kerjaan cuci piring itu sudah biasa, Iyalah awal menikah dengan Denis. Denis sengaja menyuruh Risa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Bahkan Denis juga tidak memakai Art karena mau ngerjain Risa.
Denis kembali duduk diruang tengah bersama Mama Rasti.
"Den, Kamu jangan terlalu membuat Risa kecapean, Itukan hamilnya sudah mulai besar jadi kamu juga bisa menahan nafsu kamu!" pinta Mama Rasti, Karena takut kandungan Risa kenapa-kenapa.
"Iya ma, Denis tahu." jawab Denis.
Risa baru saja selesai mencuci piring, Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah lalu dengan cepat Risa menuju ke depan, Untuk membukakan pintu rumahnya.
"Tok...tok...." suara ketukan pintu.
"Iya tunggu!" sahut Risa dari dalam.
"Ceklek" suara gagang pintu.
__ADS_1
Risa tersenyum ternyata yang datang adalah Alya dan Panji.
"Kalian masuklah!" Risa menyuruh Panji dan Alya masuk kedalam rumah.
Alya dan Panji mengikuti langkah kaki Risa, Sesampainya diruang tengah Mama Rasti terkejut melihat Alya membawa seorang laki-laki.
"Sayang, Laki-laki tampan ini siapamu nak?" Tanya Mama Rasti pada Alya, Yang langsung dijawab oleh Panji.
"Kenalkan Tante, Saya calon suaminya Alya." Dengan begitu percaya diri Panji langsung memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Alya, Membuat Alya langsung menatapnya dengan tajam.
"Calon suami? Dasar Panji benar-benar kamu ini ya." batin Alya.
"Jangan setuju ma kalau Alya sama dia!" Timpal Denis yang menang belum memberikan restunya pada Panji.
Alya langsung menginjak kaki Panii, Membuat Panji benar-benar merasa kesakitan.
"Auh sakit Alya." Rintih Panji namun Alya malah tersenyum penuh kemenangan.
"Syukurin." Batin Alya.
"Mami, Jangan percaya sama dia kita hanya berteman saja." jelas Alya pada wanita yang selalu dipanggilnya Mami dari dulu.
Mama Rasti langsung mengembangkan senyumnya, Lalu tersenyum pada Alya.
"Kalau kalian pacaran juga mami setuju nak, Lagian kata mama kamu juga setelah lulus kuliah, Dia akan langsung menikahkanmu." jawab Mama Rasti dengan nada lembut.
Iya beberapa hari lalu Yulia atau Mamanya Alya, Memang sudah mengabari Mama Rasti kalau setelah lulus kuliah Alya akan menikah. Hanya saja Yulia tidak memberi tahu siapa yang akan menikah dengan Alya, Jadi Mama Rasti juga tidak tahu kalau Panji adalah laki-laki yang sudah dijodohkan dengan Alya.
"Mami, Aku tidak mau jadi pacar dia." keluh Alya dengan manja, Alya langsung menghampiri Mama Rasti lalu memeluknya.
Mama Rasti langsung membelai pipi Alya dengan lembut, Sedangkan Denis menatap Alya dengan tatapan kesal.
"Dasar Alya manja," batin Denis.
Panji juga sudah duduk disampingnya Risa, Namun dengan cepat Denis berpindah tempat duduk agar Risa tidak duduk di dekat Panji.
"Geser kamu, Duduknya jangan dekat-dekat dengan istriku!" omel Denis, Namun Panji hanya tersenyum.
"Aduh calon kakakku galak banget," Ledek Panji yang langsung ditatap kesal oleh Denis.
"Jangan mimpi, Itu denger Alya Adinda Putri tidak mau menjadi pacar kamu." Kata Denis dengan penuh kemenangan.
Panji hanya tersenyum, Lalu menjawab perkataan dari Denis.
"Kak Denis Alya memang menolak menjadi pacarku, Karena dia maunya dijadikan istriku." jawab Panji yang langsung tersenyum penuh kemenangan.
Alya benar-benar kesal, Mama Rasti hanya tersenyum sedangkan Risa langsung mengancungkan dua jempol pada Panji.
"Panji......" teriak Alya.
"Iya kita tidak pacaran, Langsung menikah saja nanti." kata Panji yang membuat akhirnya semuanya tertawa.
"Sudah-sudah, Alya, Panji, Kalau jodoh itu tidak akan kemana?" Lerai Mama Rasti agar Panji dan Alya berhenti berdebat.
Denis menatap kearah Panji, Lalu meledeknya.
"Kalau tidak jodoh kamu nangis aja dipojokan kamar mandi!" ledek Denis yang langsung mengeluarkan tawanya.
"Suamiku, Jangan gitu kasian mereka." Risa berpihak pada Panji, Bukannya mendengar perkataan sang istri Denis malah langsung menarik Risa kedalam pelukannya.
Panji dan Alya, Mereka memang benar-benar lucu. Ntah mereka akhirnya akan berpisah atau bersatu dipelaminan ya hanya Authornya yang tahu.
Bersambung π
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia π