
"Iya tapi tiba-tiba aku kepingin." Panji kembali memasang wajah memelas, membuat Alya tidak tega.
"Baiklah ayo kita kesana!!"
Panji dan Alya segera pergi ke tukang bubur ayam dekat rumah Denis.
"Sayang aku tidak suka bau parfum kamu!" Alya menatap Panji dengan tatapan kesal.
Sungguh Panji dibuat geram oleh sang istri, waktu itu tidak suka dengan parfum yang dia pilih tiba-tiba, sekarang Panji sudah ganti parfum Alya juga tidak suka lagi dengan baunya.
"Alya ini kenapa sih?" Panji merasa kesal dalam hatinya.
"Ini parfum baru sayang," bela Panji sambil melihat wajah cantik Alya.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya aku tidak suka dengan wanginya!" Alya kembali menatap sang suami dengan tatapan kesal.
Akhirnya karena tidak mau sampai berdebat dengan sang istri, lagi-lagi Panji harus mengalah pada sang istri.
"Akan aku ganti lagi besok," jawab Panji dengan nada lembut.
.
.
Sesampainya ditempat tukang bubur Panji turun lebih dulu dari mobil, lalu membukakan pintu mobilnya untuk sang istri tercinta.
"Hati-hati!" Pinta Panji sambil memegangi tangan Alya.
Sungguh mereka itu pasangan yang romantis dan sangat menggemaskan.
"Ehh kalian sedang apa disini?" Denis menepuk pundak Panji, membuat Panji begitu terkejut.
"Ehh Kak Denis," Panji menoleh kearah Denis.
"Kita mau makan bubur ayam kak," jawab Panji dengan senyum bahagianya.
"Ayo makan dirumahku saja!" Ajak Denis.
"Iya sayang, mending makan dirumah Kak Denis biar aku juga bisa main dengan baby Danis," cetus Alya dengan senyum manisnya.
"Baiklah, aku pesan dulu buburnya," Panji langsung memesan bubur ayam sedangkan Denis menunggu Panji karena mau sekalian ikut di mobil Panji.
Setelah pesanan bubur Panji sudah selesai dibuat dan Panji sudah membayarnya. Panji bergegas menuju kerumah Denis.
.
.
Sampailah dirumah Denis, Alya dengan penuh semangat langsung masuk ke dalam rumah Denis.
"Kak Risa!" Teriak Alya dengan lantang, membuat Risa kaget.
"Aish dasar Alya, mengagetkan saja," Risa menatap kearah Alya.
Alya memainkan pipi gembul Danis dengan begitu gemas, Panji terus memperhatikan istrinya dengan tatapan lembut.
"Kapan aku dan Alya punya anak?" Hati Panji berbicara.
"Kak ini bau apasih?" Tanya Alya tiba-tiba.
"Bau bubur ayam, kamu mau?" Jawab Denis.
"Aku tidak suka dengan baunya kak, singkirkan sana!" Alya menatap Denis sambil memayunkan bibirnya.
Denis menatap Alya dengan tatapan tidak percaya, Alya yang doyan makan tiba-tiba tidak suka dengan bau bubur ayam.
"Pan, itu istrimu lagi kesambet apa? Tumben dia tidak suka dengan bau makanan," Tanya Denis pada Panji.
"Ntahlah kak, dari beberapa hari lalu kak, Alya memang seperti itu. Kakak tahu aku satu Minggu ganti parfum sudah 3 botol gara-gara Alya terus tidak suka dengan baunya," Panji geleng-geleng kepala.
"Kamu sudah cek ke Dokter?" Tanya Denis.
"Buat apa kak cek ke Dokter, kan Alya tidak sakit," Panji mulai memakan buburnya yang tadi dirinya beli.
__ADS_1
"Siapa tahu sudah ada tanda-tanda kehamilan," Jawab Denis dengan santai.
Panji yang sedang menikmati makanannya langsung tersedak mendengar jawaban dari Denis.
"Hamillll?" Batin Panji tidak percaya.
"Minumlah dulu!" Denis menyodorkan segelas air putih buat Panji, Panji meminumnya lalu setelah meminumnya Panji menaruh gelasnya diatas meja.
"Kak, aku titip bubur ayam aku!" Panji memberikan bubur ayam yang ada ditangannya pada Denis dan Panji beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Denis.
"Aku mau ke Dokter, sayang ayo kita ke Dokter sekarang!" Panji langsung mengangkat tubuh Alya lalu membawanya ke dalam mobil.
Denis tertawa sedangkan Risa tersenyum melihat tingkah Panji dan Alya yang begitu lucu.
"Mereka ke Dokter untuk apa?" Tanya Risa penasaran.
"Periksa kehamilan," Jawab Denis singkat dan Risa langsung mengangguk pertanda paham.
.
.
Sesampainya disalah satu klinik yang tidak jauh dari tempat tinggal Denis, Panji langsung memeriksakan Alya.
"Untuk apa kita kesini?" Tanya Alya.
"Kita periksa kehamilan, siapa tahu kamu sudah hamil." Jawab Panji.
Keduanya masuk ke dalam ruang Dokter dan Dokter. Setelah Dokter melakukan pemeriksaan dengan teliti, dokter menjelaskan pada Panji.
"Dok, apa istri saya sakit? Akhir-akhir ini dia tidak suka dengan bau-bauan dok." Panji melihat dokter dengan tatapan serius.
"Tidak tuan, istri anda sedang hamil dan usia kandungannya sudah masuk dua bulan." Jawab Dokter yang membuat Panji langsung mengembangkan senyum bahagianya.
"Hamil.....!!" Alya terkejut.
Panji langsung memeluk Alya dengan begitu bahagia. Dokter memberikan obat untuk Alya minum dan setelah selesai pemeriksaan Panji mengajak Alya kembali ke rumah Denis.
.
.
Sesampainya dirumah Denis, Panji langsung memeluk Denis membuat Denis menatapnya dengan tatapan jijik.
"Alya ini suamimu kenapa?" Tanya Denis karena Panji terus memeluknya dengan erat.
"Kak Denis..... Alya hamil!!" Teriak Panji dengan semangat.
Alya melihat kearah Risa lalu tersenyum, kini Alya sudah duduk disebelah Risa.
"Kamu sungguh hamil?" Tanya Risa pada Alya.
"Iya kak kehamilanku sudah masuk dua bulan." Jawab Alya.
"Pan, lepaskan aku." Denis meronta-ronta akhirnya Panji melepaskan pelukannya dari Denis.
Hari ini akhirnya Panji dan Alya mendapat kabar bahagia, Panji hari ini sangat bahagia sekali karena akan segera menjadi papa muda.
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Panji dan Alya pamit pulang pada Risa dan Denis. setelah Panji dan Alya pulang Denis duduk disamping Risa.
"Akhirnya sayang setelah kabar bahagia dari Alan dan Ayumi, sekarang Panji dan Alya." Kata Denis dengan senyuman bahagianya.
"Iya mudah-mudahan keluarga kecil mereka bahagia selalu," Harapan Risa untuk para sahabatnya.
"Danis tumben tidak menangis?" Tanya Denis.
"Dia sudah kenyang nyusu jadi anteng." Jawab Risa.
"Papanya juga harus kenyang nyusu kali ya sayang, biar anteng juga." Goda Denis dengan jail.
"Sudah jangan macam-macam, pegang Danis aku mau masak mie instan dulu!" Risa memberikan Danis pada suaminya dan Risa berlalu pergi menuju ke dapur untuk membuat mie instan.
__ADS_1
Denis-Denis istri belum lama melahirkan tapi demen banget godain Risa, nanti giliran miliknya terusik kalang kabut deh kamu.
.
.
Ayumi dan Alan.
Alan hari ini sangat lelah menuruti ngidam sang istri yang tidak udah-udah, dari minta mangga muda, minta donat coklat, minta makan cilok pedas.
Sekarang Ayumi malah tidak mau dekat-dekat dengan Alan.
Ayumi sedang menonton televisi, Alan hendak duduk disebelahnya tapi dengan cepat Ayumi mendorong tubuh Alan membuat Alan bingung dibuatnya.
"Sekarang apa lagi?" Batin Alan dalam hatinya.
"Sayang aku mau duduk," Kata Alan.
"Kamu duduknya agak jauh, aku tidak suka dengan aroma tubuh kamu." Ayumi memasang wajah polosnya.
Lagi-lagi Alan harus pasrah, ntahlah semenjak Ayumi hamil banyak tingkah aneh yang kadang membuat Alan ingin marah tapi karena istrinya sedang hamil jadi Alan terus mengalah.
"Baiklah!" Alan duduk dikursi yang berbeda dengan Ayumi.
Pokoknya semasa Ayumi ngidam Alan selalu dibuat kesal bahkan kadang sampai ingin marah, tapi Alan terus sabar menghadapi sang istri tercinta.
Malam hari yang indah, Panji disuruh memetik buah jambu yang ada di depan rumahnya oleh Alya.
"Sayang, ini sudah malam haruskah aku memetik jambu malam-malam seperti ini?" Tanya Panji tidak percaya.
"Ini mau anak kamu sayang." Alya menatap Panji dengan kelembutan.
"Iya ini anakku," Panji tersenyum.
"Aduh nak haruskah mau minta jambu tengah malam seperti ini?" Batin Panji dalam hatinya.
Akhirnya Panji memanjat pohon jambu tersebut, Panji memetik banyak jambu setelah kantong kreseknya penuh Panji langsung turun dari pohon jambu tersebut.
"Sudah aku petik." Kata Panji.
"Ayo kita bikin rujak!" Ajak Alya.
.
.
Setelah rujaknya jadi mereka berdua makan rujak jambu malam-malam berdua.
"Hoek...Hoek...." Panji muntah-muntah.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Alya pelan.
Semenjak Alya hamil suami istri ini kadang aneh, Alya yang tidak suka dengan bau parfum Panji, kadang Panji tiba-tiba pingin makan ini itu, bahkan Panji kadang merasa mual-mual ntah karena apa?
Tapi kalau Alya malah tidak mual, pingin makan rujak juga rujak jambu bukan rujak mangga muda seperti orang hamil muda lainnya.
"Aku mual sayang." Jawab Panji.
"Kenapa sih kamu yang hamil tapi aku yang mual-mual terus?" Panji mengelap sudut bibirnya dengan tissu.
"Aku juga tidak tahu sayang." Jawab Alya.
Dalam hati Panji, mungkin ini salah satu perjuangan yang harus aku lalui untuk punya anak. Aku tidak tahu seperti apa ngidam itu aku juga tidak tahu kadang aku pingin makan ini itu, kadang aku merasa mual, dan cenderung kehamilan Alya ini malah aku yang seperti ngidam, tapi ya sudahlah yang penting aku punya anak.
"Rasanya tidak sabar menanti kelahiran anak pertama aku." Batin Panji dalam hatinya.
Panji dan Alan sedang sama-sama mengahadapi istri-istri mereka yang sedang ngidam, dan mereka juga sudah tidak sabar menanti kelahiran anak-anak pertama mereka.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π
Kira-kira kalau novel ini tamat, mau dibuatin "Perjodohan karena hutang 2" Tidak Kakak-kakak semuanya? ππ€
__ADS_1