
Denis baru saja sampai dirumahnya, kemudian Denis langsung masuk kedalam kamarnya.
"Sayang, Kamu sudah pulang?" tanya Risa sambil mengambil tas kerja yang ditenteng oleh Denis.
"Sudah, maaf ya Aku tadi menjemputmu." jawab Denis sambil meminta maaf pada Risa.
"Iya tidak apa-apa, Kamu mandilah dulu! air hangatnya sudah Aku siapkan." kata Risa dengan begitu lembut.
Denis langsung melepaskan jas nya, lalu menaruhnya disofa, kemudian Denis langsung mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi.
Risa duduk diatas sofa sambil menonton flim drama kesukaannya, sambil menunggu Denis sedang mandi.
Setelah beberapa lama, Akhirnya Denis selesei mandi, kini Denis berganti pakaian dengan pakaian rumahan.
"Apa yang Kamu nonton?" tanya Denis.
"Flim drama kesukaanku." jawab Risa.
"Kamu mau makan dulu sayang?" tanya Risa sambil melihat kearah Denis.
Denis duduk disamping Risa, lalu merebahkan kepalanya dipangkuan Risa.
"Kenapa kok lesu banget? apa ada masalah?" tanya Risa dengan begitu hati-hati.
"Aku makannya nanti saja sayang, tidak ada masalah Aku hanya ingin berbaring dipangkuanmu saja." jawab Denis sambil memainkan jari-jari Risa.
Risa hanya tersenyum.
"Tumben Dia manja sekali." gumam Risa.
Alan...
Alan langsung memberhentikan mobilnya, lalu Alan turun dari mobilnya. Dengan perasaan kaget ntah harus senang atau kecewa. Alan menghampiri wanita tersebut.
"Syahfiya..." sapa Alan dengan pelan.
"Alan, akhirnya Aku menemukanmu." kata Syahfiya yang langsung menghambur ke pelukan Alan.
Namun Alan tidak membalas pelukan dari Syahfiya.
"Maaf Fiya, ayo Kita ngobrol didalam saja." kata Alan yang langsung melepaskan Syahfiya dari dalam pelukannya.
"Sekarang Aku sudah punya Ayumi, Kamu hanya masalaluku." gumam Alan.
Syahfiya terdiam, lalu bergumam.
"Alan, Apa Aku tidak boleh memelukmu?" gumam Syahfiya dalam hatinya.
Alan memarkirkan mobilnya, lalu mengajak Syahfiya masuk kedalam rumahnya.
Didalam rumah Alan.
Alan duduk disofa, Syahfiya duduk disamping Alan.
Syahfiya terus melihat wajah tampan Alan.
"Selama ini Aku mencarimu dan akhirnya Aku menemukanmu, cinta pertamaku." gumam Syahfiya.
"Untuk apa mencariku, nanti Suamimu marah dan Aku tidak mau membuat masalah dengan keluargamu lagi." tanya Alan tanpa bertele-tele.
Mengingat kejadian 5 tahun lalu, biarpun Alan tidak membenci Syahfiya.namun Alan juga tidak mau berurusan dengan Orangtua Syahfiya.
"Aku tidak punya suami dan Aku terus mencarimu selama ini." jawab Syahfiya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu tidak punya Suami? Bukankah 5 tahun lalu Kamu menikahi laki-laki dari keluarga kaya?" tanya Alan ingin tahu.
Syahfiya terdiam, lalu menarik nafasnya dengan pelan.
"Waktu itu pernikahanku batal begitu saja, Akan ceritakan tentang 5 tahun lalu." kata Syahfiya yang langsung menceritakan semuanya.
Flashback (Cerita Syahfiya pada Alan).
5 tahun lalu, Aku sudah dirias dengan begitu cantik namun Aku terus menangis, dalam hatiku Aku berdoa agar pernikahanku tidak terjadi.
"Sudah jam segini, kok mempelai laki-laki belum datang juga." kata Mama Syahfiya dengan begitu panik.
Syahfiya hanya diam.
"Baguslah jika laki-laki itu tidak datang, jadi Aku bisa menikah dengan Alan." gumam hati Syahfiya.
Sampai dua jam kemudian mempelai laki-laki pun tidak kunjung datang, tiba-tiba Papanya Syahfiya menghampiri Mama Syahfiya.
"Ma, keluarga Raditya membatalkan pernikahan ini begitu saja, katanya Raditya kabur dengan kekasihnya." kata Papa Syahfiya pada Mama Syahfiya.
Mendengar kabar tersebut Syahfiya dengan begitu bahagia, langsung bilang pada orangtuanya.
"Ma, Pa, biarkan Aku menikah dengan Alan." kata Syahfiya yang langsung berlari menuju rumah Alan.
Rumah Alan tidak terlalu jauh rumah Syahfiya, karena rumah Alan terletak di perkampungan dekat komplek Syahfiya tinggal.
Syahfiya terus berlari.
"Alan Aku mencintaimu." Gumam Syahfiya.
Syahfiya memberhentikan langkah kakinya, didepan rumah sederhana yang begitu banyak tanaman dan ada kursi taman tempat biasa Alan dan Syahfiya duduk disitu.
"Kenapa rumahnya sepi?" tanya Syahfiya yang terus mengetuk pintu Alan.
"Alan kemana?" tanya Syahfiya yang sudah meneteskan air matanya.
Syahfiya terus menunggu Alan, hingga sore hari, namun Alan tidak kunjung muncul, Syahfiya terus menunggu hingga malam hari, tapi Alan masih tidak muncul juga, hujan yang begitu lebat, petir yang bergelenggan, rasa takut yang Syahfiya rasakan. namun Syahfiya tetap menunggu Alan didepan rumah Alan, hingga Syahfiya tertidur didepan teras rumah Alan.
Keesokan harinya, Syahfiya membuka matanya namun Alan tidak kunjung muncul.
"Alan kemana? Kenapa Kamu pergi meninggalkanku begitu saja." tanya Syahfiya yang akhirnya tangisnya pecah begitu saja.
Tiba-tiba ada seseorang Ibu-ibu yang menghampiri Syahfiya.
"Nona, sedang apa disini?" tanya Ibu tersebut.
"Saya sedang menunggu pemilik rumah ini." jawab Syahfiya.
"Nona, pemilik rumah ini sudah pergi meninggalkan rumah ini." jawab Ibu tersebut.
"Bibi tahu pemilik rumah ini, pergi kemana?" tanya Syahfiya.
"Tidak tahu Nona, saya permisi dulu." jawab Ibu tersebut.
Ibu tersebut pergi meninggalkan Syahfiya, Syahfiya kembali pulang kerumahnya dengan perasaan kecewa, sedih, campur aduk yang Syahfiya rasakan dihari pernikahannya yang ditinggal oleh mempelai laki-lakinya karena kabur dengan kekasihnya.
Bahkan Syahfiya juga ditinggalkan dengan laki-laki yang Syahfiya cintai.
Off flashback.
Alan mendengarkan cerita Syahfiya dengan begitu baik.
"Berati waktu itu Syahfiya datang untuk menemuiku." gumam Alan.
__ADS_1
"Kenapa Kamu pergi meninggalkan rumahmu?" tanya Syahfiya pada Alan.
"Akan ceritakan padamu." jawab Alan, Alan langsung menceritakan kejadian 5 tahun pada Syahfiya.
Flashback (Cerita Alan pada Syahfiya).
5 tahun lalu, sehari sebelum hari pernikahanmu kedua Orangtuamu datang kerumahku.
"Tok...tok... keluar Kamu." suara ketukan pintu sambil menyuruh Alan keluar.
Alan yang sedang duduk di sofa, langsung bangun dari sofa terus membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek..." Alan membuka pintu.
Melihat ternyata kedua Orangtua Syahfiya yang datang, dengan sopan Alan langsung menyapanya.
"Nyonya Sisil, Tuan Vito, silahkan masuk!" sapa Alan pada kedua orangtua Syahfiya, lalu mempersilahkan kedua Orangtua Syahfiya untuk masuk.
"Tidak perlu, Untuk apa masuk kedalam rumah gubuk reyot seperti ini." bentak Mama Sisil.
"Dengar laki-laki miskin, Kita kesini hanya untuk mengusirmu dari sini dan jangan pernah menganggu Syahfiya lagi! karena Syahfiya akan Kami nikahkan dengan laki-laki Kaya yang sepadan dengan Kami, bukan dengan laki-laki miskin yatim piatu sepertimu." kata Mama Sisil dengan begitu ketus.
"Iya Kamu pergilah dari sini! jangan pernah muncul lagi dihadapan Syahfiya." sambung Papa Vito.
Alan hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, lalu menjawab perkataan dari Mama Syahfiya.
"Iya Saya akan pergi dari sini, sekarang juga." jawab Alan sambil menahan tangisnya.
"Maaf Fiya, Aku harus pergi meninggalkanmu mudah-mudahan Kamu bahagia dengan pernikahanmu." Doa Alan untuk Syahfiya.
"Baguslah, laki-laki miskin sepertimu itu tidak pantas untuk Syahfiya anak Kami." jawab Mama Sisil dengan begitu ketus.
Dihadapan kedua Orangtua Syahfiya, Alan langsung mengemasi pakaiannya, lalu memasukkan kedalam koper.
Alan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan kedua Orangtua Syahfiya.
Dengan membawa Alat lukis yang Alan punya, akhirnya Alan menjalani hidupnya sebagai pelukis keliling sampai suatu saat, Alan tidak sengaja dipertemukan dengan Denis.
Dan dari sini juga Alan dan Denis saling kenal, akhirnya Orangtua Denis menyekolahkan Alan disekolah yang sama dengan Denis.
Sampai akhirnya persahabatan mereka terjalin begitu indah dan sudah seperti saudara.
Denis disuruh memegang perusahaan, dan dengan senang hati Denis langsung menujuk Alan sebagai Sekertarisnya. dari pertemuan ini juga yang membuat Denis tahu semua tentang Alan.
Off flashback.
Syahfiya meneteskan air matanya, mendengar cerita dari Alan ternyata Orangtuanya begitu kejam.
"Alan maafkan kedua orangtuaku, Aku akan menebus semuanya." kata Syahfiya pada Alan sambil meneteskan air matanya.
Alan menghapus air mata Syahfiya.
"Jangan menangis, Kamu juga tidak perlu menebus semuanya! karena itu hanya masalalu." jawab Alan sambil menghapus air mata Syahfiya.
Syahfiya tiba-tiba memeluk Alan, namun untuk kali ini Alan membiarkan Syahfiya memeluk dirinya, karena pasti saat ini hanya ini yang Syahfiya butuhkan.
"Alan, ayo Kita mulai semuanya dari awal lagi!" pinta Syahfiya yang terus memeluk Alan.
Alan hanya terdiam, lalu menjawab permintaan dari Syahfiya.
"Syahfiya......" panggil Alan.
Bersambung π
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia π