Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
90. Sikap manis Denis.


__ADS_3

Keesokan harinya, Risa sudah bangun lebih dulu kini Risa sudah mandi dan berpakaian rapi.


Denis juga sudah bangun, Dia sudah mandi hanya saja masih memakai pakaian tidurnya.


Risa menghampiri Denis yang sedang duduk ditepi ranjang, lalu Risa duduk disampingnya Denis.


"Selamat pagi istriku" sapa Denis, lalu mencium kening Risa dengan lembut.


"Selamat pagi juga, Den" jawab Risa, yang masih belum terbiasa dengan perlakuan manis Denis padanya.


Denis mengambil ponselnya yang ada dinakas dekat tempat tidurnya. Denis menekan salah satu no yang mau ditelpon oleh Denis.


"Mau telpon siapa?" tanya Risa, yang pikirannya sudah ke Maya.


"Apa dia mau menelpon Maya?" gumam Risa.


"Mau menelpon Alan, agar membawakan baju-baju kesini" jawab Denis, yang sudah tersenyum pada Risa.


"Aduh Risa, kenapa dipikiranmu hanya ada Maya saja sih" kesal Risa dalam hatinya.


Denis menelpon Alan.


"Hallo Den?" sapa Alan, yang tidak memanggil sebutan Denis dengan Tuan karena masih diluar kantor.


"Al, pergilah ke rumahku lalu bawakan baju-bajuku kerumah mertuaku" kata Denis.


"Baiklah, Apa Kamu tidak mengajak istrimu untuk segera pulang kerumahmu?" tanya Alan, kali ini Alan bertanya sebagai sahabat Denis.


"Nanti Al, Aku akan segera mengajaknya pulang" jawab Denis.


"Bagaimana tentang Maya?" tanya Denis.


"Ray belum memberikan kabar lagi, jadi tunggu saja! oh iya Kamu nikmati saja harimu bersama Risa" jawab Alan.


"Baiklah, terkurung dirumah berduaan seperti pengantin baru lagi Al" jawab Denis, yang diiringi tawa bahagianya.


"Huuu dasar, kemarin aja gelisah terus disuruh jemput tidak jemput-jemput" omel Alan.


"Haha, cepatlah datang jangan lupa bawa baju-baju Aku ya" kata Denis, sambil tertawa.


"Iya baiklah" jawab Alan.


"Alamat rumah Risa apa?" tanya Alan.


"Komplek xx no 17" jawab Denis.


Alan langsung mematikan saluran teleponnya, pagi ini sebelum berangkat ke kantor Alan pergi kerumah Denis lebih dulu.


Denis melihat wajah cantik Risa pagi ini, pagi ini wajah Risa begitu beda menurut Denis kecantikan lebih terpancar dari biasanya.


"Kamu cantik sekali sayang" puji Denis, sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Risa tersenyum malu-malu pada Denis, seperti biasa muka Risa sudah merah seperti kepiting rebus mendengar pujian dari Denis.


"Aku sudah cantik dari lahir" jawab Risa, yang berusaha menyembunyikan rasa malunya.


Denis melihat kearah Risa, lalu tersenyum pada Risa.


"Aku tidak akan mengujimu, kalau tau Kamu akan bersikap sesombong ini" omel Denis, yang menurutnya Risa begitu sombong.


"Aku bicara fakta, Aku cantik dari lahir" jawab Risa, yang tidak mau mengalah.


Denis mengecup bibir Risa dengan pelan.


"Cup..." satu kecupan mendarat dibibir Risa.


Risa menatap Denis dengan tatapan begitu kesal, karena Denis selalu saja mengambil keuntungan dari dirinya.


"Dasar curang" omel Risa.


Denis hanya tertawa penuh kemenangan mendengar omelan istrinya, Risa beranjak dari tempat duduknya karena mau pergi ke dapur.

__ADS_1


"Ahh Kenapa masih sakit" kata Risa, sambil merintih.


Denis menatap Risa dengan senyum bahagianya.


"Apa masih sakit? sini biar Aku cek" tanya Denis, yang tentunya diringi maksud lainnya.


Risa melihat kearah Denis, sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, kalau Kamu ngecek bukannya dicek nanti malah akan terjadi tempur untuk ketiga kalinya" jawab Risa, yang tau maksud Suaminya.


"Jangan sampai pagi ini, Dia minta lagi" gumam Risa.


"Sekarang Istriku makin pintar, punyaku masih kuat sayang. Kamu minta lima kali juga Aku garap sayang" kata Denis, dengan kenakalannya.


"Dua kali saja sudah membuatku susah berjalan, kalau sampai lima kali mungkin Aku hanya akan berbaring ditempat tidur karena ulahmu" protes Risa, yang selalu tidak mau kalah dengan Denis.


Denis tidak menghiraukan protes dari Risa, kini Denis langsung mengangkat tubuh Risa untuk menuju ke dapur.


Denis mendudukkan Risa dikursi meja makan,


lalu Denis pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi buat istrinya.


Risa hanya duduk dikursi meja makan, karena Denis melarangnya banyak bergerak.


"Kamu duduklah disini, jangan banyak bergerak! biar Aku yang membuatkan sarapan untukmu" kata Denis, dengan suara begitu lembut.


Risa menganggukan kepalanya.


"Tapi Aku tidak mau mie instan" jawab Risa.


"Baiklah, Aku akan memasak yang lain Kamu tunggu saja disini" kata Denis.


Denis langsung menuju ke dapur, kini dirinya sedang sibuk memasak ntah apa buat Risa.


Alan


Alan sudah sampai dirumah Denis, kini semua baju Denis sudah Alan siapkan, setelah semua selesai Alan langsung menuju Kerumah Risa.


"Jelas Maya dan Risa, lebih cantik Risa"


"Aku juga yakin Risa masih segelan, wajahnya yang begitu polos membuat laki-laki mudah jatuh cinta padanya"


Didalam mobil, perkataan demi perkataan keluar dari mulut Alan.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Akhirnya Alan sampai dirumah Risa.


Alan langsung turun dari mobilnya, lalu menuju rumah Risa.


"Tok....tok..." Alan mengetuk pintu.


Risa berniat bangun dari tempat duduknya, namun Denis menghentikannya.


"Tetaplah duduk! biar Aku yang membukakan pintu" kata Denis, yang langsung mematikan kompornya yang masih menyala.


Denis melangkah kakinya, menuju depan untuk membukakan pintu.


"Ceklek..." Denis membuka pintu.


Denis tau kalau pasti Alan yang datang.


"Masuklah" Denis mempersilahkan Alan untuk masuk kedalam rumahnya.


Alan mengikuti langkah kaki Denis.


"Rumah sebesar ini, kalian hanya tinggal berdua?" tanya Alan.


"Iya, semua pelayan dirumah ini libur soalnya, mertuaku juga lagi pergi keluar kota" jawab Denis.


Risa yang melihat Alan datang langsung menyapanya dengan begitu sopan.


"Sekertaris Alan, apa kabar?" sapa Risa dengan begitu sopan.

__ADS_1


"Nona Risa, kabar Saya baik" jawab Alan.


"Duduklah!" Risa mempersilahkan Alan untuk duduk.


"Kamu duduk saja disitu sama istriku, Aku akan menyelesaikan masakanku dulu" kata Denis.


Alan duduk dikursi meja makan sedangkan Denis kembali melanjutkan memasaknya.


"Sekertaris Alan, katakan padaku apa Kamu sudah punya kekasih?" tanya Risa dengan begitu penasaran.


Alan tersenyum pada Risa.


"Saya sedang cutti pacaran Nona" jawab Alan.


"Apa orang pacaran bisa melakukan cutti juga ya?" tanya Risa bingung.


Alan tertawa mendengar pertanyaan dari Risa.


"Sudah lupakan Nona, Aku hanya belum menemukan dambatan hati yang cocok saja" jawab Alan.


Setelah beberapa lama, Akhirnya Denis selesei memasak.


"Al, bantu Aku membawa ini semua ke meaja makan!" kata Denis, yang masih berada di dapur.


Alan langsung bangun dari tempt duduknya, lalu pergi ke dapur menghampiri Denis. kini keduanya membawa makanan ditangan mereka untuk dibawa ke meja makan untuk mereka sarapan bareng.


Dimeja makan.


Kini mereka sarapan bertiga dimeja makan.


"Apa ini Kamu yang masak semuanya, Den?" tanya Alan, sambil mengambil lauk pauk yang dibuat oleh Denis.


"Iya ini semua Aku yang masak, hari ini istriku cukup duduk manis sambil melihat ketampananku saja" jawab Denis, sambil melirik kearah Risa.


"Tumben banget" Alan tidak percaya.


Alan mengarahkan mulutnya ketelingga Denis.


"Apa semalam terjadi sesuatu? dileher Risa bekas merahnya begitu terlihat" bisik Alan ditelinga Denis.


Ternyata Alan dari tadi memperhatikan Risa, karena sepertinya wajah Risa begitu lelah sekali dan ternyata Alan langsung menemukan jawabannya yaitu tanda merah dileher Risa pasti telah terjadi sesuatu.


"Jangan melihat istriku lebih dari lima detik! atau Aku akan mencolok matamu nanti" bisik Denis ditelinga Alan.


"Dasar Laki-laki cemburuan" gumam Alan.


Denis melihat kearah Risa.


"Risa, nanti ganti pakaianmu dengan pakaian yang agak tertutup ya, terus ingat selama Aku pergi ke kantor Kamu tidak boleh pergi kemana-mana!!" kata Denis, dengan nada tegas.


Risa menganggukan kepalanya.


"Memangnya Aku mau kemana? buat jalan aja masih terasa sakit" gumam Risa.


"Risa jawab..." pinta Denis.


"Iya Aku tidak akan pergi kemana-mana" jawab Risa.


Setelah selesai sarapan, Denis langsung kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Setelah selesai berganti pakaian, Denis kembali menghampiri Risa dan Alan yang masih duduk dimeja makan.


"Al, ayo kita berangkat sekarang" ajak Denis.


"Ayo" jawab Alan.


"Ris, Aku ke kantor dulu ya, telpon Aku kalau ada apa-apa ya" pinta Denis, lalu mencium kening Risa sebelum berangkat ke kantor.


Setelah berpamitan dengan Risa, Denis dan Alan langsung pergi meninggalkan Risa untuk berangkat ke kantor.


Bersambung πŸ™

__ADS_1


__ADS_2