Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
176.Minyak dan air.


__ADS_3

Kini Panji benar-benar merasa kesal pada Ayumi dan Risa.


"Dia memang cantik tapi jutek." gumam Panji.


Dikantin Kampus.


Alya sudah memesan 2 mangkok mie ayam, yang membuat Panji sangat kaget.


"Hey gadis berat, pantas saja tubuhmu kecil tapi berat sekali makanmu saja banyak seperti itu." protes Panji mendengar Alya memesan 2 mangkok mie Ayam.


"Dasar laki-laki lemah, tubuh kecil, langsing seperti ini dibilang berat." kesal Alya yang tidak menerima protesan dari Panji.


Risa dan Ayumi hanya diam, kini keduanya hanya sama-sama menikmati minuman yang mereka pesan.


"Ris, setelah lulus kuliah Kamu mau lanjutin kuliahmu tidak?" tanya Ayumi pada Risa.


"Tidak Yum, lihat Yum Aku sedang hamil Denis juga menyuruhku dirumah saja." jawab Risa dengan begitu santai.


Iya nyatanya Risa sudah menikah, jadi apa-apa diatur oleh Suaminya dan sebagai Istri Risa hanya menuruti apa kata Suaminya.


Bukannya Risa lemah menjadi seorang Istri tapi Risa hanya ingin menjadi Istri yang baik untuk suaminya, biarpun Risa sering melakukan kesalahan tapi tetap saja yang namanya Istri ya harus menurut pada Suami.


"Kamu sendiri setelah lulus kuliah rencananya apa?" tanya Risa pada Ayumi.


"Aku mau menikah." jawab Ayumi dengan tegas.


Panji dan Alya sama-sama menatap kearah Ayumi, gini tatapan mereka seolah-olah menuntut penjelasan pada Ayumi.


"Apasih kalian kompak sekali menatapku?" tanya Ayumi sambil menatap Alya dan Panji dengan tatapan bingung.


"Mereka sedang menunjukkan ke kompakan mereka." Cetus Risa sambil tersenyum jail pada Alya.


Alya menatap Risa, lalu tersenyum pada Risa.


"Kita itu seperti air dan minyak Kak yang tidak akan pernah bersatu." jelas Alya sambil melirik Panji.


"Biarpun minyak dan air tidak bisa menyatu tapi mereka bisa saling melengkapi kok." sambung Ayumi yang diiringi senyum manisnya.


Panji menatap ketiga wanita yang ada dihadapannya dengan tatapan kesal, kini Panji hanya bisa berdecak kesal.


"Sudahlah benar kata Alya kita seperti minyak dan air yang tidak akan pernah menyatu." jelas Panji dengan tegas.


Ayumi dan Risa saling menatap lalu tersenyum secara bersamaan.


"Sudahlah Yum nyatanya benci bisa jadi cinta kok." tegas Risa dengan penuh senyum kemenangannya.


"Ayumi jelaskan padaku, Setelah Kamu lulus kuliah Kamu akan menikah, Apa Kamu akan menikah dengan Kak Alan?" Panji menuntut penjelasan pada Ayumi.


"Iya Pan, Siapa lagi kalau bukan Dia?" jawab Ayumi sambil balik bertanya pada Panji.


"Siapa tahu berubah pikiran Yum, menikahnya sama Aku." Cetus Panji dengan begitu jail.


"Huuu dasar Kamu, Kamu sama Alya saja Pan yang masih jomblo." Suruh Ayumi sambil melihat kearah Alya yang sedang sibuk makan mie Ayamnya.


Alya hanya terdiam dan fokus memakan mie Ayamnya.


"Alya lagi Alya lagi." Keluh Panji.


"Kalau Risa, Aku takut suaminya ngamuk." ledek Ayumi yang diiringi dengan tawanya.


"Iya Yum, Aku tahu suami Risa kan cemburuan banget kaya apaan tahu." sambung Panji yang juga ikut tertawa.


"Hey kalian jangan ghibahin suami orang." omel Risa yang tidak terima Ayumi dan Panji ghibahin Suaminya.

__ADS_1


Kini mereka asik mengobrol bahkan saling bercanda sedangkan Alya masih terus sibuk dengan 2 mangkok mie ayam yang dirinya pesan tadi.


Dikantor Denis.


Denis dan Alan baru saja selesai menemui klien, kini Alan ikut keruangan Denis karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan.


Setelah selesai menyelesaikan pekerjaan, Alan hanya diam kini dirinya hanya bengong seperti orang sedang bingung.


Melihat Alan hanya diam saja, Denis langsung menghampirinya lalu duduk disamping Alan.


"Katakan ada apa?" tanya Denis sambil menepuk pundak Alan.


"Syahfiya kembali mengusikku." jawab Alan dengan tatapan datar.


"Mengusikmu bagaimana? jelaskan yang jelas!" Suruh Denis dengan tegas.


Flashback.


Beberapa hari yang lalu Syahfiya datang kerumah Alan, Dia sengaja datang kerumah Alan hanya untuk minta balikan dengan Alan.


"Fiya, Ada apa malam-malam datang kerumahku?" tanya Alan sambil melihat Fiya yang berdiri di depan gerbang rumahnya.


Tiba-tiba Syahfiya langsung berlari lalu memeluk Alan, sambil berkata pada Alan.


"Kembalilah padaku, tinggalkan gadis itu!" pinta Syahfiya yang menyuruh Alan untuk meninggalkan Ayumi.


"Fiya, Maaf Aku tidak bisa melakukan itu dan tolong lepasankan Aku!" tegas Alan sambil meminta maaf pada Syahfiya.


Syahfiya langsung melepaskan Alan dari pelukannya, kini dirinya hanya terdiam.


"Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku?" tanya Syahfiya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak ada Fiya, Aku sudah mencintai Ayumi dan Kamu juga harus melupakanku!" jawab Alan dengan tegas.


Of flashback.


"Dasar bodoh! Kenapa Kamu harus merasa terusik dengan masalalumu, Kamu mencintai Ayumi dan Ayumi juga mencintaimu, maka nikahilah Ayumi secepatnya." tegas Denis pada Alan.


Alan hanya terdiam, namun Alan juga berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Denis itu benar menikah dengan Ayumi adalah cara terbaik untuk terlepas dari Syahfiya.


"Kamu benar Den, Aku akan segera melamarnya." jawab Alan yang sudah memikirkan ide untuk melamar Ayumi.


"Ingat lupakan Syahfiya." Tegas Denis.


"Apa Kamu juga sudah melupakan Maya?" ledek Alan dengan jail.


"Tentu saja sudah, Maya sedang hamil." jawab Denis sambil memberi tahukan tentang kehamilan Maya pada Alan.


Alan terdiam kini pikirannya berputar seperti komedi putar.


"Hamil, mungkin Dia hamil dengan kekasihnya." pikir Alan.


"Apa Maya hamil Anakmu?" Canda Alan dengan tatapan serius.


"Tentu saja bukan, ingat ya biarpun Aku pernah berciuman dengannya tapi Aku tidak pernah menidurinya." jawab Denis dengan tegas.


Mendengar jawaban Denis, Alan hanya tertawa.


"Dasar Denis, mudah sekali Dia terpancing padahalkan Aku hanya bercanda." gumam Denis.


"Sudahlah, Aku lanjutkan kerjaanku dulu." pamit Alan yang langsung pergi meninggalkan ruangan Denis.


Denis juga langsung kembali ke meja kerjanya, lalu Denis mengambil ponsel dari dalam saku celananya.

__ADS_1


Denis langsung menghubungi Risa.


Risa yang baru saja selesai kelas mendengar ponselnya berbunyi langsung mengangkatnya.


"Hallo sayang." Sapa Denis dengan suara yang begitu lembut.


"Hallo juga Suamiku." jawab Risa.


"Aku merindukanmu." kata Denis.


"Dasar, nanti juga ketemu dirumah." jawab Risa.


"Suamiku hari ini Aku izin ya mau jalan-jalan ke mall sama Alya dan Ayumi." Risa meminta izin pada Denis.


"Apa laki-laki brengsek itu juga ikut?" tanya Denis yang dimaksud adalah Panji.


"Ikut, Kan Dia yang bawa mobilnya." jawab Risa.


"Nanti Aku dan Alan, Akan menyusul Kalian, Aku tidak rela jika laki-laki brengsek itu sampai diam-diam mencari kesempatan untuk mendekatimu." jawab Denis tegas.


Risa hanya diam.


"Dasar suami cemburuan, padahal Istri sedang hamil masih saja dicemburuin." gumam Risa.


"Baiklah nanti susul saja!" jawab Risa.


Risa langsung mematikan saluran teleponnya, lalu segera pergi bersama Panji, Ayumi dan Alya untuk segera menuju ke mall yang tidak terlalu jauh dari kampusnya.


Denis langsung keluar dari ruangannya, lalu menuju keruang Alan.


"Al, ayo ikut denganku!" Ajak Denis.


"Mau kemana?" tanya Alan.


"Sekarang wanita-wanita Kita sedang jalan-jalan ke mall dengan laki-laki brengsek itu." jawab Denis sambil berdecak kesal.


"Maksudmu Panji?" tanya Alan memastikan.


"Iyalah, Memangnya siapa lagi?" Jawab Denis sambil balik bertanya pada Alan.


"Kita ke mall sekarang!" ajak Alan.


Denis dan Alan langsung menaiki mobilnya, kini Alan yang menyetir mobilnya.


Di dalam mobil Alan mencoba membuka pembicaraan dengan Denis.


"Denis." Panggil Alan.


"Iya Kenapa?" Sahut Denis dengan malas.


"Kita jodohkan saja Alya dan Panji daripada Kita terus-terusan dibuat cemburu oleh Panji." Usul Alan dengan begitu hati-hati.


Denis langsung menatap wajah Alan dengan tatapan yang begitu serius.


"Apa menjodohkan Panji dengan Alya, Kamu bilang." jawab Denis sambil menggelengkan kepalanya.


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca juga karya teman-teman Asti 😊


__ADS_1



__ADS_2