
Pagi hari yang cerah sinar matahari sudah menembus gordeng kamar Denis dan Risa.
Risa membuka matanya dan melihat sang suami masih terlelap tidur.
"Suamiku kamu masih tidur." Risa mengusap pipi Denis dengan lembut, ntah semalam Denis tidur jam berapa? Karena semalaman menjaga dirinya yang sakit perut.
"Geli sayang jangan dielus-elus terus pipinya!" Denis sudah memegang tangan Risa yang sedang mengelus pipi mulus miliknya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Risa dengan tatapan lembut.
"Bagaimana tidak bangun, kamu terus menganggu tidurku." Denis mengambil tangan Risa lalu menciumnya.
Risa tersenyum melihat sikap manja sang suami pagi-pagi seperti ini.
"Sepertinya Denis sedang bahagia." batin Risa dalam hatinya.
"Katakan padaku! Apa yang membuatmu terus tersenyum seperti itu?" tanya Risa, Denis terus mengembangkan senyumnya membuat Risa sungguh penasaran Sebenarnya suaminya itu sedang kenapa?
"Aku habis ngerjain Alan dan Panji." jawab Denis yang terus menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
Risa terus melihat sang suami dengan tatapan bingung dalam hati Risa, kapan Denis ngerjain Alan dan Panji kan semalaman dia tidak kemana-mana dan hanya menjagaku saja di dalam kamar.
"Memangnya kapan kamu ngerjain mereka?" tanya Risa dengan sorot mata ingin tahu.
Denis bangun dari tidurnya lalu membenarkan posisi menjadi duduk, Risa juga mengikuti sang suami dan sekarang posisi Risa juga sudah duduk.
Denis membuka laci nakas dekat tempat tidurnya, membuat Risa menatapnya penuh dengan tanda tanya?
"Ini, aku mengerjain mereka pakai ini." Denis menunjukkan satu bungkus jamu yang dulu dirinya minum waktu menghukum Risa.
Risa geleng-geleng kepala melihat apa yang ditunjukkan oleh suaminya, mengingat dulu Risa saja sampai tepar karena gara-gara jamu yang Denis minum dan Denis terus mengajak bertempur dengan dirinya sampai berulang kali.
"Kamu mau membuat mereka tepar." omel Risa dengan tatapan kesal.
"Aku yakin mereka pasti menikmatinya." Denis berbicara dengan begitu yakin.
Jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi, karena tidak mau terus berdebat dengan sang suami akhirnya Risa meninggalkan Denis ke dalam kamar mandi.
Denis terus senyam-senyum sendiri dengan bayangan yang sudah traveling kemana-mana memikirkan Alan dan Panji.
"Aku yakin pasti semalam kalian menikmatinya." Denis tertawa jahat dalam hatinya.
Dalam hati Risa, kenapa aku bisa punya suami sejail Denis sih?
Panji dan Alya.
__ADS_1
Panji sudah bangun dari tadi bahkan dirinya sudah mandi dan wangi.
Melihat Alya wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya masih terlelap tidur. Panji tersenyum lalu menghampirinya.
"Pasti kamu sangat lelah sekali, ini semua gara-gara Kak Denis. Bahkan aku semalam bermain sampai beronde-ronde." Panji berbicara sendiri sambil menatap wajah cantik Alya yang masih tertidur pulas.
Panji membelai pipi Alya dengan tangan kekarnya, lalu mencium kening Alya dengan penuh cinta.
"Terimakasih istriku, kamu sudah menjaga kesucianmu sampai saat ini dan aku bersyukur menjadi laki-laki yang pertama yang memilikimu seutuhnya." hati Panji terus mengucapkan rasa syukur.
"Auh..." rintih Alya yang baru saja membuka matanya.
"Sayang." panggil Panji dengan lembut.
"Kok sakit sekali." keluh Alya dengan wajah menahan rasa sakitnya.
Bagaimana tidak sakit malam pertama Panji langsung membobol gawang Alya, dan itu tidak sekali gol saja tapi berulang kali.
"Itu karena kamu melakukan pertama kalinya, beberapa hari pasti sembuh sayang." jelas Panji dengan belaian penuh kasih sayang.
Alya bangun dari tidurnya lalu merubah posisinya menjadi duduk. Alya mencoba menurunkan kakinya karena ingin pergi ke kamar mandi tapi lagi-lagi Alya merasa sakit pada bagian sensitifnya.
"Sakit sekali." Alya merintih karena merasakan sakit pada bagian sensitifnya.
"Jangan banyak bergerak, tetaplah diam di atas ranjang!" pinta Panji dengan lembut.
"Punyamu yang sempit sekali istriku, aku udah berusaha main dengan lembut tapi milikku tidak sabaran." Panji mengusap-usap kepala Alya.
Alya kembali membenarkan posisinya, akhirnya Alya mengurungkan niatnya pergi ke dalam kamar mandi.
"Apa aku nanti akan langsung hamil?" tanya Alya dengan tatapan begitu polosnya.
"Aku menembaknya berulang kali, aku berharap kamu bisa secepatnya hamil." Panji tersenyum pada Alya penuh harapan.
"Kita kapan pergi bulan madu?" tanya Alya dengan wajah yang menggemaskan.
"Semalamkan kita sudah bulan madu jadi kita usah pergi kemana-mana cukup diranjang tempat tidur saja." jawab Panji yang saat ini pikirannya dipenuhi pikir mesum.
Sungguh tidak Panji tidak Denis semuanya lebih suka main diatas ranjang. Mereka itu demen banget buat istrinya tepar.
pagi ini Alya hanya diam diatas ranjang, karena ulah sang suami. Panji tersenyum bahagia dan langsung menarik Alya ke dalam pelukannya.
Alan dan Ayumi.
Ayumi terus berbaring diatas tempat tidur, karena Akan melarang Ayumi jauh-jauh dari dekapannya.
__ADS_1
"Tetaplah seperti ini!" pinta Alan dengan nada lembut.
"Tapi aku belum mandi dan kamu tahu badanku rasanya sakit semuanya." jawab Ayumi berharap agar sang suami melepaskan dirinya dari dalam pelukannya.
Alan hanya geleng-geleng kepala, dan langsung mempererat pelukannya.
"Aku tahu pasti kamu merasakan itu sayang, tapi aku ingin terus memelukmu." Alan tidak mau sama sekali melepaskan Ayumi dari pelukannya.
Dasar pengantin baru maunya dikamar terus, apalagi Alan yang memang betah bahkan kalau bisa tidak mau keluar dari kamar.
"Kita itu sedang menikmati bulan madu kita, jadi kita harus dikamar terus." jelas Alan tentu saja dengan pikiran mesumnya.
Ayumi rasa gemas kali pada laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.
"Dasar mana ada bulan madu hanya dikamar saja, itu ajaran dari siapa?" batin Ayumi merasa kesal.
Dari semalam mereka sampai ditempat bulan madu yang dapat kado pernikahan dari Denis, sungguh Alan terus menahan Ayumi hanya dikamar saja. Bhakan makan juga hanya di dalam kamar.
"Kita jalan-jalan yuk." ajak Ayumi dengan manja, berharap Alan akan menurutinya.
"Percuma kamu itu tidak bisa jalan dan ranjang tempat tidur itu tempat yang tepat untuk bulan madu kita." jawab Alan yang membuat Ayumi menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku bisa jalan." sela Ayumi yang langsung mengangkatkan kakinya dari ranjang tempat tidurnya.
"Auh....." rintih Ayumi.
Alan menatap Ayumi lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Itukan apa aku bilang, sakitkan." Alan terus mengoceh seperti burung beo.
"Kenapa bisa sesakit ini?" tanya Ayumi sambil memayunkan bibirnya.
"Kamu ingat-ingat saja semalam berapa kali kita betempur." Alan senyam-senyum sambil menatap wajah cantik istrinya.
Ayumi hanya menatap Alan dengan tatapan kesal pada suaminya.
"Sudahlah jangan membahasnya, aku tidak mau mengingatnya." Ayumi memanyunkan bibirnya.
Tapi Alan malah tersenyum bahagia.
"Aku mencintaimu istriku." Alan mencium kening Ayumi dengan penuh cinta.
Pokoknya kalau masalah ranjang ternyata Denis, Panji dan Alan sama saja. Mereka suka membuat istri-istri mereka tepar diatas ranjang karena ulahnya.
BERSAMBUNG π
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia π
Maaf ya baru sempat up ππ