
Acara demi acara akhirnya selesai, Kini mereka bahagia karena sudah wisuda dan Risa juga dua hari lagi akan melaksanakan acara 7 bulanan untuk kandungannya.
Setelah semuanya selesai akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing.
Sesampainya dirumah Risa langsung rebahan di kasur tempat tidurnya.
"Lelah sekali hari ini." Keluh Risa yang belum berganti pakaian dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk.
Melihat sang istri tampak kelelahan Denis menghampiri lalu membelai wajah cantiknya.
"Kamu tidak ganti pakaian dulu?" Tanya Denis dengan begitu lembut, Membuat Risa senang.
"Aku males mau berganti pakaian, Kakiku pegel gara-gara berdiri terlalu lama." Dengan manja Risa mengeluh pada sang suami.
Dengan penuh perhatian Denis melepaskan sandal yang terpakai dikedua kaki Risa, Setelah melepaskan sandal Risa, Denis manaruhnya dilemari sandal khusus milik Risa.
"Tidurlah jika kamu merasa lelah." Suruh Denis dengan penuh perhatian.
Risa membenarkan posisi tidurnya, Denis pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket karena aktivitas seharian ini.
Setelah selesai Denis berganti pakaian, Lalu Denis berjalan menghampiri sang istri yang sedang membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk.
"Sebentar lagi anak kita akan lahir, Oh iya untuk acara 7 bulanan nanti kan mau diadakan dirumah, Siapa saja yang mau kamu undang sayang?" Tanya Denis sambil mengelus perut Risa yang sudah terlihat bucit.
Risa memegang tangan Denis yang sedang mengelus-elus perutnya, Risa tersenyum lalu memeluk suaminya dengan penuh cinta.
"Kita undang keluarga dekat, Para sahabat dan tentunya aku mau kamu mengundang 100 anak yatim, Jangan lupa kamu juga harus siapkan santunan buat anak yatim yang akan kita undang nanti agar rejeki kamu lancar terus." Dengan lembut Risa kembali meminta sang suami untuk melakukan hal yang begitu mulia.
Denis mencium kening Risa dengan lembut, Membuat Risa tersenyum simpul karena merasa suaminya sangat menyayanginya.
"Akan aku lakukan apa yang kamu mau istriku, Katakan saja padaku apalagi yang kamu mau aku akan mengabulnya." Jawab Denis yang lagi-lagi menunjukkan cinta dan kasih sayangnya pada Risa.
"Sudah cukup suamiku, Sekarang aku mau tidur dipelukanmu." Jawab Risa yang langsung memejamkan matanya dipelukan Denis.
Denis terus mengusap-usap rambut Risa sampai Risa telelap dipelukannya.
"Dia tidur begitu tenang." Batin Denis sambil menatap wajah cantik Risa.
__ADS_1
Denis tahu pasti istrinya sangat kelelahan hari ini, Jadi Denis membiarkan Risa tertidur dipelukannya.
Alan Mahendra dan Ayumi Larasati.
Setelah pulang dari acara wisuda Ayumi dan melamar Ayumi dihari yang sama yaitu tepat dihari Ayumi wisuda.
Hari ini Alan pergi ke makam kedua orang tuanya untuk meminta restu serta berziarah kesana, Alan hari ini mengajak Ayumi agar Ayumi juga tahu makam kedua orang tuanya.
Dimakam.
Alan duduk tepat di atas pusaran sang mama dan papanya, Ayumi juga sudah duduk disampingnya Alan, Makam kedua orang tua Alan bersebelahan. Bagi Alan orang tuanya adalah segalanya untuk Alan, Biarpun Alan tidak pernah melihat seperti apa wajah mereka tapi Alan begitu menyayanginya.
"Mama, Papa, Maafkan aku sudah lama tidak datang kesini." Sambil menitikkan air mata diatas pusaran kedua orang tuanya, Alan meminta maaf pada mereka.
Alan terus mengusap batu nisan kedua orang tua secara bergantian, Kini dirinya benar-benar ingin sekali memeluk kedua orang tuanya, Alan ingin menceritakan kalau dirinya akhirnya sudah menemukan gadis yang mencintai dia dan dia cintai.
"Mama, Papa, Kalian tahu calon menantu kalian juga datang kesini untuk bertemu dengan kalian." Kata Alan yang berusaha tersenyum tegar.
Ayumi mengusap punggung Alan dengan lembut.
Ayumi memegang kedua pipi Alan lalu tersenyum menghapus air mata Alan, Setelah menghapus air mata Alan, Ayumi memegang batu nisan orang tua Alan.
"Mama, Papa, Kenalkan aku adalah Ayumi Larasati calon menantu kalian, Aku janji akan menjaga anak mama dan papa dengan baik dan terus menyayanginya sampai maut memisahkan kita." Dengan nada lembut Ayumi menyapa kedua orang tua Alan, Membuat Alan tersenyum bahagia.
"Terimakasih calon istriku." Jawab Alan yang sudah mau tersenyum biarpun hanya senyum simpul.
Hari Alan dan Ayumi datang ke makam kedua orang tua Alan untuk meminta restu agar hubungan mereka langgeng selamanya.
Setelah meminta restu dan berziarah dari makam kedua orang tuanya, Alan langsung mengantar Ayumi pulang kerumahnya.
Panji.
Setelah pulang dari acara wisuda Panji terus senyam-senyum sendiri, Hari ini Panji benar-benar seperti orang yang sudah tidak waras.
"Pan sampai kapan kamu mau senyam-senyum sendiri terus seperti itu?" Tanya Mama Anita, Mama Anita geleng-geleng kepala karena tidak percaya dari tadi sang anak terus senyum-senyum sendiri.
Mama Anita tahu Panji sedang bahagia selain sudah wisuda, Dihari ini Panji juga melamar Alya itulah yang membuat Panji tidak bisa berhenti tersenyum sampai sekarang.
__ADS_1
"Iya Pan, Nanti gigi kamu kering loh." Sambung sang papa sambil melihat Panji.
"Mama, Papa, Kalian pernahkan merasakan jatuh cinta mungkin saat ini Panji sedang jatuh cinta." Jawab Panji yang sungguh membuat orang tuanya geleng-geleng kepala.
"Papa juga pernah jatuh cinta sama mama kamu, Tapi tidak seperti kamu juga terus senyam-senyum tidak jelas sendirian." Jawab Papa dengan tatapan tajam.
"Sudahlah pa! Anak jaman sekarang memang seperti itu kali pa." Sambung Mama Anita agar anak dan suaminya tidak sampai berdebat.
"Pokoknya hari ini Panji bahagia ma, Panji mau menikah." Teriak Panji yang kegirangan membuat mama dan papanya tambah pusing dibuatnya.
"Dasar Panji benar-benar gila gara-gara Alya." Batin Mama Anita dalam hati.
"Ingat kalau sudah menikah jangan lupa buatkan mama cucu yang lucu-lucu." Kata Mama sambil tersenyum jail pada Panji.
Mendengar perkataan dari sang mama, Panji tersenyum senang dan langsung memeluk sang mama.
"Akan aku buatkan yang banyak ma, Biar rumah kita rame nanti." Jawab Panji yang lagi-lagi tersenyum begitu bahagia.
"Dasar ini anak nikah saja belum sudah memikirkan punya banyak anak." Omel sang papa sambil menjewer telinga Panji, Membuat Panji meringis karena merasa sakit.
"Papa ih jangan dijewer Panji nya!" Omel sang mama yang tidak rela melihat sang papa menjewer telinga anak kesayangannya.
Papa melepaskan tangannya dari telinga Panji, Lalu papa dan mama pergi meninggalkan Panji masuk kedalam kamarnya.
"Dasar papa tega sekali menyakiti anak sendiri, Lagi-lagi aku seperti anak tiri." Panji berbicara sendiri sambil memegangi telinganya yang tadi dijewer oleh sang papa.
Panji berjalan menuju ke kamarnya.
"Alya aku gila gara-gara kamu, Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menikahimu dan membuat banyak anak denganmu." Gumam Panji dengan pikiran mesumnya.
"Aish rasanya sudah tidak sabar." Panji terus berbicara sendiri.
Sebenernya Panji tidak sabar untuk hal apa? Hanya Panji yang tahu.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π
__ADS_1