Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
76. Kecewa.


__ADS_3

Denis mempererat pelukannya.


"Apa kamu, mau membuatku sesak nafas?" kesal Risa.


Denis malah tertawa mendengar ucapan Risa, wanita yang sekarang sudah menjadi istri sahnya.


"Tidak usah kawatir, Aku akan memberikan nafas buatan untukmu" jawab Denis, dengan begitu jailnya.


"Lepas, Aku mau membereskan belanjaan kita" rengkek Risa.


Akhirnya Denis melepaskan Risa dari pelukannya.


Risa beranjak dari tempat duduknya, lalu membawa belanjaan menuju ke dapur.


"Biar Aku saja" kata Denis, yang langsung mengambil tetengan belanjaan yang ada ditangan Risa.


Akhirnya Denis membawa semua belanjaannya menuju dapur. lalu mereka merapikan semua belanjaannya bersama-sama.


"Ris, ini apa namanya?" tanya Denis, sambil menunjukkan sayuran yang ada ditangannya.


"Itu brokoli, apa kamu tidak nama-nama sayuran?" tanya Risa, dengan rasa kesal.


"Aku hanya baru pertama kali melihatnya, kamu tau sendirikan dirumahku jarang sekali memasak. jadi mana Aku tau tentang semua ini" jawab Denis.


Dirumah Denis memang jarang sekali masak, karena orangtua Denis keduanya sibuk. bahkan Denis lebih sering makan diluar. namun waktu sudah menikah dengan Risa, Denis lebih sering makan dirumah karena Risa lebih sering memasak.


"Oh iya Den, aku mau minta izin" kata Risa, yang kini sudah duduk dilantai di dekat kulkas.


"Katakan" jawab Denis, yang kini sedang mengeluarkan belanjaan dari kantong belanjaan.


"Minggu depan ada acara kampus" kata Risa.


"Katakan saja Ris!" pinta Denis, yang sudah merasa kesal karena Risa terlalu bertele-tele.


"Aku ingin mengikuti acara kampus, acaranya dikota xx" kata Risa lagi.


"Acaranya apa? katakan intinya saja" kesal Denis.


"Camping dan itu mungkin bisa dua hari satu malam, Apa aku boleh Aku ikut?" kata Risa dengan begitu hati-hati.


Denis langsung mendekat ketempat Risa.


"Dua hari satu malam, dan pasti itu akan ada laki-laki brengsek itu, Aku tidak mengizinkannya" jawab Denis, yang langsung naik darah.


Betapa kesalnya Risa saat ini.


"Sekarang bagaimana cara membujuk Denis?"


"Den, aku kan pergi bersama semua teman kampus tidak ada kaitannya dengan Panji" kata Risa, dengan nada begitu hati-hati.


"Tetap saja, laki-laki brengsek itu akan terus mendekatimu apalagi disana tidak ada aku" jawab Denis, dengan nada yang sudah mengebu-gebu.


Risa terdiam.


"Sudahlah mungkin sekarang bukan saat yang tepat, untuk meminta izin pada Denis"


"Sudah selesai, kamu mandi dulu sana! Aku siapkan makanan untukmu ya" Kata Risa, yang berusaha menenangkan keadaan.


Denis beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mandi dulu, ingat awas saja jika kamu berani menemui laki-laki brengsek itu jangan harap kalian bisa selamat dariku" kata Denis, yang penuh dengan ancaman.


Denis meninggalkan Risa, yang masih duduk dilantai depan kulkas.


"Denis menyebalkan" gumam Risa.

__ADS_1


"Rasanya Aku malas sekali masak" keluh Risa.


Risa bangun dari tempat duduknya, lalu memunguti kantong belanjaan untuk membuangnya ke tong sampah.


"Bukankah ini alat tempur Denis, untung Aku tidak sampai membuangnya" kata Risa, yang kembali memasukkan barang itu ke dalam kantong belanjaan.


Setelah selesai, Risa langsung menuju ke kamar.


"Den, ini alat tempur kamu, kamu melupakannya tadi,untung tidak terbuang" kata Risa, dengan penuh kebawelan.


Denis yang baru saja keluar dari kamar mandi, kini Denis hanya telanjang dada tidak memakai handuk.


"Den, kenapa kamu tidak memakai handuk" omel Risa, yang kini sudah menutup kedua matanya dengan tangannya.


Denis langsung menyaut handuk yang ada diranjang tempat tidurnya, lalu mendekati Risa.


"Aku melupakan handukku tadi" kata Denis, dengan nada begitu menggoda.


Denis membuka kedua tangan Risa, agar tidak menutupi matanya.


"Tidak usah ditutup, bukankah kamu sudah pernah melihatnya" bisik Denis, ditelinga Risa.


Risa hanya terdiam.


"Sekarang apalagi?"


"Bukankah kita juga pernah hampir melakukannya" Denis mengingatkan waktu kejadian bulan madu mereka.


"Den, itu alat tempur kamu" kata Risa, agar Denis tidak terus menggodanya.


Denis menarik Risa ke dalam pelukannya.


"Itu bukan alat tempurku tapi itu untuk kita" kata Denis, dengan nada begitu nakal.


Risa bingung mencerna perkataan Denis.


"Iya itu alat tempur kita, istriku" jawab Denis, dengan nada begitu tegas.


"Berhentilah bercanda, Den" kesal Risa.


"Aku tidak bercanda" jawab Denis.


"Sudahlah, memangnya kita mau ke medan perang pakai alat tempur segala" omel Risa.


Denis menahan tawanya, namun Denis juga tidak bisa menahan hasratnya. apalagi Risa bersikap sepolos itu sangat menggemaskan Sekali.


"Kita memang tidak akan pergi ke Medan perang, istriku! kita cukup bertempur diatas kasur yang empuk itu" goda Denis, sambil mengarahkan matanya kearah kasur.


Risa mengikuti arah mata Denis yang menatap ranjang tempat tidurnya.


"Perang, tempur, alat ini, jelaskan padaku sebenernya ini untuk apa?" tanya Risa, yang sungguh penasaran dengan alat tempur itu.


"Ini agar kamu tidak hamil" jelas Denis tanpa bertele-tele.


Risa langsung menatap Denis dengan tatapan tajam.


"Apa kamu sengaja membeli alat ini...?" kata-kata Risa yang belum selesai. namun Denis langsung memotongnya.


"Iya sengaja, untuk membuat istriku tidak ganjen lagi dengan laki-laki lain jadi Aku berniat untuk memilikimu seutuhnya" jawab Denis, dengan tatapan begitu serius.


Denis menatap Risa dengan tatapan begitu tajam, karena rasa kesalnya. namun Denis langsung ******* bibir Risa tanpa meminta persetujuan dari yang punya.


"Eeemhhh.." rintih Risa.


Hari mulai gelap matahari mulai terbenam.

__ADS_1


Denis memperdalam ciumannya, Risa berusaha mengatur nafasnya sampai akhirnya Risa mengigit bibir bawah Denis.


Denis, melepaskan ciumannya.


"Kenapa?" tanya Denis kesal.


"Kamu membuatku tidak bisa bernafas" keluh Risa.


Denis tidak menghiraukan keluhan dari mulut Risa, kini Denis langsung mengangkat tubuh Risa dan langsung menaruh diatas ranjang tempat tidurnya. Denis langsung menindih Risa dengan tubuh kekarnya.


"Den, bukankah kita akan bercerai dalam satu tahun?" kata Risa, sebelum Denis melakukannya lebih.


Denis munutup mulut Risa, dengan jari telunjuknya.


"Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun, Risa" jawab Denis, dengan begitu tegas.


"Tapi Aku masih kuliah" kata Risa.


"Aku, akan menggunakan alat tempur nanti agar kamu tidak hamil" jawab Denis.


"Den...?"


"Berhentilah bicara Risa, kamu ini Istriku jangan berpikir macam-macam" kesal Denis.


Denis langsung kembali ******* bibir Risa, kali ini dengan begitu lembut. Risa juga mulai bisa mengimbangi ciuman Denis.


"Eemmhh...!!" Denis dan Risa sama-sama mengeluarkan desahan dari mulut mereka.


Denis, mengarahkan bibirnya ke bagian tubuh Risa yang lainnya. Risa hanya terdiam menikmati permainan dari suaminya.


"Tring...tring..." ponsel Denis berdering.


"Den, angkat ponselmu ada yang menelpon" kata Risa, diiringi dengan desahan.


Denis menghentikan aktivitasnya.


"Biarkan saja!" jawab Denis.


"Tring...tring..." ponsel Denis kembali berdering.


"Den..." belum selesai Risa bicara.


Akhirnya Denis memberhentikan aktivitasnya dan langsung mengangkat telponnya.


*Dari Maya.


"Hallo Den, Aku sakit badanku panas sekali. tolong kamu kerumahku sekarang ya" kata Maya.


Denis langsung mematikan saluran teleponnya.


"Kenapa?" tanya Risa.


"Aku harus ketempat Maya, Dia sedang sakit" jawab Denis, dengan nada malas.


Risa hanya terdiam.


"Selalu Maya" gumam Risa.


"Pergilah" jawab Risa singkat.


"Tunggu Aku, Aku akan segera pulang" pamit Denis, sambil mencium bibir Risa.


Denis langsung berganti pakaian sedangkan Risa langsung tidur karena merasa kecewa.


Setelah selesai ganti pakaian, Denis langsung pergi meninggalkan Risa kerumah Maya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2