
Keesokan harinya, Denis bangun lebih dulu kini Denis membelai-belai pipi Risa.
"Mau berapa lama Kamu tidur?" tanya Denis sambil membelai pipi Risa dengan tangannya.
Risa membuka matanya, lalu bangun dari tidurnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Risa dengan suara yang masih ngantuk.
"Belum siang masih jam 7." jawab Denis.
"Jam 7 Kamu bilang belum siang, matahari sudah terbit Denis." omel Risa.
Risa langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu segera menuju kamar mandi.
"Kenapa Dia terburu-buru sekali." kata Denis yang masih berada diatas ranjang.
Risa keluar dari kamar mandi, melihat Denis masih berbaring diatas ranjang membuat Risa merasa kesal.
Setelah selesai berganti pakaian, Risa langsung menghampiri Denis.
"Bangunlah, bukankah Kamu harus berangkat ke kantor?" tanya Risa.
"Aku hari ini cuma ingin terkurung berdua dikamar denganmu Istriku." kata Denis sambil menyangga kepalanya dengan satu tangannya.
"Aku tidak mau, bisa-bisa Aku jadi rempeyek kalau seharian dikamar denganmu." tolak Risa sambil menggelengkan kepalanya.
Risa tahu seperti apa Suaminya, jadi kalau sampai dikamar seharian pasti Risa udah seperti gorengan yang lagi goreng, dibolak-balik terus sama Denis.
"Mandilah Den, ayo antar Aku ke kampus." rengkek Risa dengan begitu manja.
"Baik-baiklah, tunggu 15 menit Aku siap-siap dulu." kata Denis.
Denis langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu langsung menuju ke kamar mandi.
Setelah beberapa lama Denis keluar dari kamar mandi, lalu menghampiri Risa yang sedang berada didepan meja rias.
"Jangan berias terlalu cantik, karena kecantikanmu hanya Aku yang bisa menikmatinya." Denis berbisik ditelinga Risa.
"Tanpa beriaspun Aku sudah cantik dari lahir Suamiku." jawab Risa dengan begitu sombong.
"Gantilah pakaianmu, Aku siapkan sarapan dulu." kata Risa.
Denis langsung berganti pakaian, sedangkan Risa langsung turun keruang bawah untuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
Didapur .
Risa langsung mengambil sale dan roti tawar, lalu membuat dua gelas susu untuk dirinya dan Denis.
Denis baru saja turun dari kamarnya, lalu menghampiri Risa yang sudah duduk dikursi meja makan.
"Kamu sudah siap." tanya Risa.
"Sudah, Kamu tidak masak." tanya Denis.
"Tidak sempat, Jadi makan roti dulu saja ya sayangku." kata Risa.
__ADS_1
Denis menujukan pipinya dengan jari telunjuknya.
"Kenapa?" tanya Risa.
"Cium dulu, karena Kamu tidak masak jadi Kamu harus dihukum." kata Denis sambil tersenyum penuh kemenangan.
Risa menghela nafas, lalu langsung mencium Pipi Denis.
"Sekarang Denis memang benar-benar sudah gila, apa-apa dihukum sudah seperti maling dan polisi saja." dumel Risa dalam hatinya.
"Risa, siapa itu sahabatmu cewekmu yang waktu itu kerumah.?" tanya Denis tiba-tiba.
"Ayumi." kata Risa.
"Iya, Dia sudah punya kekasih belum?" tanya Denis.
Risa langsung menatap Denis dengan tatapan tajam.
"Apa Kamu berniat menjadikan Ayumi, selingkuhanmu?" tanya Risa penuh dengan rasa curiga.
"Apakah Kamu mau, Aku selingkuhi lagi?" tanya Denis dengan begitu jailnya.
"Awas saja jika Kamu sampai selingkuh lagi, Aku tidak akan mengampunimu." kata Risa.
"Aku akan mencabik-cabik dirimu."
"Aku akan memotong Adik kecilmu."
"Bahkan, Aku tidak akan memberikan maaf padamu biarpun Kamu bersungkur dikakiku."
Berbagai sumpah serapah keluar dari mulut Risa, bukannya Denis marah kini Denis malah tertawa ngakak.
"Dasar Suami mata keranjang, Suami mesum, awas saja Aku tidak akan memberikan jatah padamu." omel Risa dengan nada kesal.
"Awas saja jika Kamu berani melakukan itu." ancam Denis.
Setelah selesai sarapan, kini Denis langsung berangkat ke kantor sekalian mengantarkan Risa ke kampusnya terlebih dahulu.
Skip...
Sampailah dikampus Risa, seperti pagi biasanya Risa harus melakukan ritual sebagai Istri Denis Kusuma.
"Sebelum turun dari mobil, jangan lupa tugas pagi Kamu setiap hari." kata Denis.
"Iya Aku tidak lupa." kata Risa.
Denis mengarahkan tangannya pada Risa, lalu Risa langsung mencium punggung tangan Denis, setelah selesai mencium punggung tangan Denis.
Kini Risa memberikan ciuman yang ditunjukkan oleh Denis.
"Kamu harus mencium seluruh wajahku." kata Denis.
Tanpa melakukan protes, akhirnya Risa langsung melakukan apa yang diminta Denis, kini seluruh wajah Denis sudah Risa cium.
"Sekarang apalagi Suamiku?" tanya Risa.
__ADS_1
"Sudah, Kamu belajarlah biar kebodohanmu berkurang, ingat jangan melirik laki-laki brengsek itu lebih dari tiga detik." kata Denis dengan penuh penegasan.
"Siap Tuan Denis." jawab Risa.
Risa langsung turun dari mobil Denis lalu masuk kedalam kampus, sedangkan Denis langsung melajukan mobilnya menuju kantor.
Dikampus Risa.
"Risa..." panggil Panji.
Risa hanya menundukkan kepalanya tanpa melihat kearah Panji.
"Iya Pan." sahut Risa, sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa Ris?" tanya Panji.
"Aku harus jawab apa? Aku tidak mungkinkan Aku bilang pada Panji Aku tidak boleh melihatnya lebih dari 3 detik, gara-gara peraturan Suamiku yang cemburuan itukan." gumam Risa.
"Tidak apa-apa Pan, Aku pergi dulu." pamit Risa, yang langsung pergi meninggalkan Panji begitu saja.
Panji terdiam.
"Risa kenapa ya? tidak biasanya Dia bersikap seperti ini." gumam Panji yang merasa bingung dengan sikap Risa.
Dikantor Denis.
Pagi ini Denis langsung menuju keruang rapat bersama dengan Alan, setelah selesai rapat kini mereka sedang mengurus pekerjaan lainnya diruangan Denis.
"Tuan Denis, ini berkas yang harus ditandatangani." kata Alan.
Denis langsung mengecek semua berkas-berkas yang diberikan oleh Alan, lalu langsung menandatanganinya.
"Ada lagi, yang harus Aku tandatangani?" tanya Denis sambil melihat kearah Alan.
"Sudah Tuan, saya pamit keruangan saya dulu." pamit Alan.
"Tunggu, nanti malam main ke bar yuk, kita cari kekasih untukmu." ajak Denis.
"Tuan Denis, apa harus dibar?" tanya Alan dengan tatapan wajah kesal.
"Iya disana pasti banyak wanita cantik." kata Denis sambil mengedipkan satu matanya.
Alan hanya menggelengkan kepalanya.
"Sadar bodoh, Kamu sudah punya Istri." omel Alan sebagai sahabat Denis.
"Hey dasar sekertaris sialan, Aku tahu Aku sudah punya Istri, lagian Aku juga tidak berniat mencari Istri kedua." jawab Denis.
"Aku hanya menemaninmu mencari wanita cantik." kata Denis yang diiringi dengan tawanya.
"Aku tidak perlu gadis cantik, Aku hanya ingin gadis setia dan sederhana." jawab Alan sambil melihat kearah Denis.
"Apa Kamu trauma dengan masalalumu." tanya Denis.
"Aku pergi dulu, sebelum Kamu membuka aib ku lebih lagi." omel Alan.
__ADS_1
Alan langsung pergi meninggalkan ruangan Denis, sedangkan Denis kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Bersambung π