
Keesokan harinya, setelah selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, Denis juga sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Kini Denis dan Risa sarapan lebih dulu.
Dimeja makan.
Risa membuatkan roti isi selai coklat untuk Denis dan segelas susu.
"Tidak apa-apa ya sarapan ini saja, Aku males mau masak." kata Risa sambil menaruh roti yang sudah diolesi dengan selai dipiring Denis.
"Iya sayang, Kamu juga jangan terlalu kecepean ya." jawab Denis.
Setelah selesai sarapan, Denis langsung mengantar Risa berangkat ke kampus lebih dulu, terus berangkat ke kantor.
Denis langsung melajukan mobilnya menuju ke kampus Risa, setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya sampai dikampus Risa.
"Aku berangkat ke kampus dulu ya." pamit Risa pada Denis, sambil mencium punggung tangan Denis.
"Iya Kamu belajarlah yang benar, nanti Aku jemput ya." jawab Denis sambil memcium kening Risa.
"Iya sayang siap." kata Risa.
Risa membuka pintu mobilnya, untuk keluar dari dalam mobil. namun Denis menarik tangannya.
"Kenapa.?" tanya Risa sambil melihat Denis.
"Semangat paginya belum." kata Denis sambil menunjukkan pipinya dengan jari telunjuknya.
Risa tersenyum, lalu langsung mencium pipi Denis.
"Cup.." Risa mencium pipi Denis.
"Sudah." kata Risa.
"Masih kurang." jawab Denis.
Risa melirik Denis sambil memanyunkan bibirnya.
"Dasar tidak ada puasnya." gumam Risa.
Denis langsung menarik tekuk leher Risa, lalu mendaratkan ciuman dibibir Risa.
"Eeemhhh.." desah Risa, karena Denis menciumnya dengan penuh nikmat.
Risa menggigit bibir Denis, lalu Denis melepaskan ciumannya.
"Sakit ih." kata Denis sambil memegang bibirnya.
"Lagian Kamu menciumku tiba-tiba, sudah sana berangkat ke kantor." kata Risa sambil mencubit hidung Denis.
Denis memegang hidungnya yang dicubit oleh Risa, sedangkan Risa langsung turun dari mobilnya meninggalkan Denis. setelah melihat Risa masuk kedalam kampusnya.
Denis langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
Dikampus Risa.
Risa melihat sosok yang begitu tampan, yang tidak lain adalah Panji.
Risa langsung menghampiri Panji, kali ini Risa menatap Panji begitu lama.
Risa menghentikan langkah kakinya.
"Aduh ada Panji, sudahlah yang penting Denis tidak melihatnya pasti Aku tidak akan dihukum." gumam Risa.
Visual Panji dan Risa.
"Risa.." sapa Panji.
"Cantik sekali, sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Risa."
"Iya Pan, kapan Kamu pulang?" tanya Risa.
"Semalam, oh iya ayo ke kelas!" Panji mengajak Risa kedalam kelas.
"Kita tunggu Ayumi ya Pan." jawab Risa.
Ayumi baru saja sampai, kini Ayumi langsung menghampiri Panji dan Risa yang sedang mengobrol.
"Hey, kalian sepertinya asik sekali dari tadi." kata Ayumi tiba-tiba.
"Tumben datangnya paling belakangan, biasanya paling rajin Yum." sindir Panji sambil melihat kearah Ayumi.
__ADS_1
Diantara mereka memang Ayumi yang paling disiplin dan tidak pernah datang terlambat.
"Semalam ada acara tidak bisa tidur." kata Ayumi.
Risa melihat kearah Ayumi, lalu meledek Ayumi.
"Pasti tidak bisa tidur gara-gara sekretaris Alan ya." Risa meledek Ayumi sambil menyunggingkan senyum jailnya.
"Apaan sih Kamu Ris, gara-gara Levin bukan gara-gara laki-laki menyebalkan itu." jawab Ayumi dengan raut wajah yang kesal.
Panji melihat kearah Ayumi, lalu bertanya pada Ayumi.
"Apa Kamu sedang dekat dengan Alan, temannya Suaminya Risa.?" tanya Panji dengan perasaan ingin tahu.
"Mulut mah bilang Levin, siapa tau dihati Sekertaris Alan." Risa kembali meledek Ayumi.
Ayumi menutup kedua telinganya, karena tidak mau mendengarkan Risa dan Panji bicara.
"Ayo kelas Dosen sudah datang itu." ajak Ayumi untuk merubah pembicaraan.
Akhirnya mereka pergi menuju kelas, kini Dosen sudah datang dan kuliah sudah dimulai.
Dikantor Denis.
Denis sedang berada diruangannya, kini Dia sedang sibuk membaca berkas-berkas penting.
"Tok.. tok..." suara ketukan pintu.
"Masuk pintunya tidak dikunci." sahut Denis.
"Ceklek..." bunyi gagang pintu.
Denis melihat siapa yang datang ternyata Alan.
"Alan, ada apa?" tanya Denis.
"Kita ada metting jam setengah 9 nanti, semuanya sudah saya siapkan." jawab Alan.
Denis beranjak dari tempat duduknya, lalu mengajak Alan keruang metting.
"Ayo keruang metting sekarang." ajak Denis.
"Baik Tuan." jawab Alan.
Alan dan Denis langsung ke keruang metting, kini mereka sudah duduk dikursi sambil menunggu kliennya.
"Selamat pagi Nona, silahkan duduk." sapa Denis dengan begitu sopan.
"Selamat pagi Tuan, kenalan saya Angel." Angel memperkenalkan dirinya pada Denis.
"Tampan sekali." gumam Angel sambil melirik kearah Denis.
Kini Angel menyodorkan tangannya lalu Denis menyalaminya.
"Kenalkan saya Denis, silahkan Nona Angel duduk." Denis memperkenalkan dirinya sambil memperkenalkan Angel untuk duduk.
Angel terus melihat Denis, bahkan tidak melepaskan tangannya dari jabatan tangan Denis.
"Ehemm.." Alan berdehem.
"Maaf Nona, bisa tolong lepaskan tangan saya." kata Denis yang langsung melepaskan tangannya dari tangan Angel dengan kasar.
"Genit sekali sih, udah gitu tatapan matanya membuatku kesal." gumam Denis.
Denis melihat kearah Alan, lalu langsung menyuruh Alan memulai mettingnya.
"Al, mulai mettingnya sekerang!" kata Denis.
"Baik Tuan." jawab Alan.
Kini Alan langsung mempresentasikan metting hari ini dengan baik, Angel bukannya memperhatikan apa yang dipresentasikan oleh Alan, kini Angel malah terus melihat kearah Denis.
"Kenapa sih? Dia terus menerus melihatku." gumam Denis yang merasa tidak suka.
Setelah beberapa menit, akhirnya Alan selesei mempresentasikan semuanya.
"Bagaimana Nona.?" tanya Denis.
Tanpa berpikir panjang, Angel langsung menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Denis.
"Saya, akan langsung tanda tangan kontrak." kata Angel.
Alan langsung memberikan semua proposalnya pada Angel, lalu Angel langsung menandatangani kontrak kerja samanya.
__ADS_1
"Nona tidak dibaca dulu.?" tanya Alan pada Angel.
"Tidak perlu." jawab Angel.
Kini mereka sudah selesai metting, Angel mengajak Denis untuk makan siang bersama.
"Tuan Denis, ayo kita makan siang bersama!" Angel mengajak Denis makan siang bersama.
"Maaf Nona, saya harus menjemput Istri saya jadi saya tidak bisa makan siang dengan Nona." Denis menolak ajakan makan siang bersama Angel dengan begitu tegas.
Angel terdiam sambil bergumam.
"Istri? apa Tuan Denis sudah punya Istri?"
"Apa Tuan Denis sudah menikah.?" tanya Angel.
"Sudah Nona." jawab Denis.
Angel hanya terdiam.
"Ternyata sudah menikah." gumam Angel.
"Baiklah saya pamit dulu, mudah-mudahan kerja sama kita lancar." kata Angel sambil berjabat tangan dengan Denis.
"Iya Nona, terimakasih." jawab Denis.
Angel melepaskan jabatan tangannya dari tangan Denis, lalu langsung pergi meninggalkan Denis dan Alan tanpa menjawab ucapan terimakasih dari Denis.
Setelah Angel meninggalkan ruangan, kini Alan dan Denis saling menatap lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin Wanita tadi pasti berpikir Kamu masih lajang." kata Alan sambil melihat kearah Denis.
"Sepertinya begitu Al, lihat saja tatapannya tadi." jawab Denis.
"Sepertinya Dia menyukaimu." kata Alan tiba-tiba.
Denis melihat kearah Alan, lalu menepuk pundak Alan.
"Biarkan saja Al, Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Mulai sekarang hanya ada satu wanita dihidupku yaitu Istriku VANIA CLARISSA." jawab Denis dengan begitu tegas.
Alan tersenyum, lalu duduk disamping kursi dekat Denis.
"Iya Kamu benar, jangan pernah lakukan kesalahan yang sama lagi." kata Alan.
Denis melihat kearah Alan, lalu berkata pada Alan.
"Dan Kamu juga harus membuka hatimu kembali dan melupakan masalalumu itu." kata Denis sambil melihat kearah Alan.
"Iya Den, kamu benar 5 tahun telah berlalu mungkin Dia juga sudah bahagia." jawab Alan.
Denis beranjak dari tempat duduknya, lalu berkata pada Alan.
"Masih semangat mengejar cinta Ayumi.?" tanya Denis pada Alan.
"Tentu saja masih." jawab Alan dengan penuh semangat.
"Ikutlah denganku.!" ajak Denis.
Kini keduanya keluar dari ruang metting, lalu menuju ke parkiran mobil.
Diparkiran mobil.
Kini keduanya sudah masuk kedalam mobil, lalu Alan bertanya pada Denis.
"Kita mau kemana.?" tanya Alan.
"Menjemput Risa, sekalian nganterin kamu mengejar cinta Ayumi." jawab Denis.
"Apa Risa sudah selesai selesei kelasnya?" tanya Alan.
"Belum, tapi Aku mau memantaunya jadi Aku datang lebih cepat." jawab Denis.
"Aduh sudah seperti paparazi saja Kamu Den." kata Alan.
"Sekali-kali Al, mantau Istri dari jauh." jawab Denis.
Alan terdiam lalu bergumam.
"Sudah seperti Anak Tk saja sampai-sampai mengejar cinta seorang wanita saja, harus dianterin." gumam Alan.
"Baiklah, ayo kita berangkat." kata Alan dengan penuh semangat.
Alan langsung menyalahkan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya ke kampus Risa.
__ADS_1
Bersambung π
Terimakasih buat para pembaca setia π