
"Cepat pulang perutku mules-mules!" kata Risa dengan manja.
"Apa kamu mau melahirkan?" Tanya Denis dengan perasaan panik.
Denis bergegas langsung pulang menuju kerumahnya, kali ini perasaannya begitu kawatir Denis langsung berlari menuju keluar dari ruangan. Alan yang melihat Denis berlari terburu-buru merasa bingung.
"Ada apa dengan sih Denis?" Batin Alan dalam hatinya.
"Den, kamu kenapa lari buru-buru?" Tanya Alan tapi Denis tidak memberikan jawaban pada Alan.
Sesampainya diparkiran mobil Denis langsung bergegas menaiki mobilnya. Denis langsung menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai dirumahnya.
"Risa ada apa denganmu sayang? Kan kamu belum waktunya melahirkan." Denis terus merasa kawatir sambil menyetir mobilnya.
Alan masih terdiam di depan ruangannya. Kini dirinya terus berpikir sebenarnya ada apa dengan Denis? Karena Denis tidak biasanya pulang kantor dengan terburu-buru seperti itu.
"Apa terjadi sesuatu pada Risa?" Alan berbicara sendiri. Kini pikiran Alan juga merasa kawatir.
"Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja. Aku akan tunggu kabar dari Denis," Alan kembali berbicara sendiri. Alan kembali masuk ke dalam ruangannya.
Dirumah Denis dan Risa.
Sesampainya dirumahnya Denis langsung turun dari mobilnya, lalu berlari dengan cepat masuk ke dalam rumahnya.
"Sayang...!!"
"Istriku....!!"
Denis terus memanggil Risa tapi tidak ada sahutan dari Risa, Denis terus berjalan menuju ruang tengah dan Denis melihat Risa sedang merintih kesakitan di sofa.
"Istriku apa yang terjadi?" Denis langsung menghampiri Risa. Tatapan Denis begitu kawatir pada sang istri.
"Sakit....kit..." rintih Risa dengan nada lemas.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Denis langsung membopong tubuh Risa, lalu langsung membawanya ke mobil.
Denis langsung membawa Risa ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya. Karena Denis tidak mau sampai terlambat. Jadi Denis tidak memanggil Ambulan lebih dulu.
Denis membaringkan Risa di jok belakang, lalu Denis langsung masuk ke dalam mobil dan dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Ahhh sakit..." Risa terus merintih kesakitan.
"Tahan sayang, aku akan membawamu ke rumah sakit," Denis terus berusaha menenangkan Risa yang sedang kesakitan.
"Lindungi anak dan istriku, mudah-mudahan keduanya baik-baik saja." Doa Denis dalam hatinya.
Sesampainya dirumah sakit Denis langsung membopong tubuh Risa. Dan kedua suster langsung menghampiri Denis dengan membawa tempat tidur pasien.
"Tuan silahkan tunggu diluar!" pinta salah satu suster dengan sopan.
"Baik sus," Denis menunggu Risa diruang tunggu.
Kini Risa langsung dibawa ke UGD. Denis terus berdoa berbagai doa dirinya panjatkan untuk anak dan istrinya.
"Istriku semangat, aku mencintaimu." Batin Denis dalam hatinya.
Denis tiba-tiba menitikkan air matanya karena merasa takut. Denis tahu sebenarnya Risa Belum waktunya melahirkan itulah yang membuat Denis merasa sangat takut.
"Maaf keluarga pasien Nyonya Risa." panggil sang Dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
Denis menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Lalu berjalan menuju ke Dokter yang sedang berdiri di depan ruangan.
"Saya suaminya Dok." kata Denis.
"Tuan, istri anda terpaksa harus segera melahirkan bayinya sekarang. Karena ada masalah pada kandungannya dan kemungkinan istri anda tadi terjatuh," jelas sang Dokter dengan sopan.
Denis tidak tahu apa yang terjadi pada Istrinya, karena tadi pagi waktu Denis pergi ke kantor Risa masih baik-baik saja. Tadi di telpon juga Risa masih berbicara dengan nada manja.
__ADS_1
Denis terdiam mencerna penjelasan dari Dokter.
"Jatuh? Apa mungkin tadi Risa terjatuh, apa yang terjadi pada Risa." Hati Denis terus memikirkan sang istri.
"Kita harus secepatnya ambil tindakan, Dan silahkan tandatangani surat ini!" Dokter menyerahkan selembar kertas pada Denis.
Tanpa melihat apa isi kertas tersebut, Denis langsung menandatanganinya.
"Lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya Dok!" Jawab Denis dengan tegas.
Denis tidak punya pilihan lain selain menyetujui apa yang dikatakan oleh sang Dokter pada dirinya.
Dokter kembali masuk ke dalam ruangan. Denis mengeluarkan ponselnya dari saku celananya untuk menghubungi orang tuanya dan mertuanya.
Pesan buat Mama Rasti.
Mama Risa sedang melahirkan, sekarang aku dan Risa sedang dirumah sakit xx.
Balas Mama Rasti.
Melahirkan!! Mama dan papa akan pulang siang ini juga nak.
Denis juga langsung mengirim pesan pada Mama Dina.
Pesan buat Mama Dina.
Mama Risa hari ini melahirkan, aku dan Risa sedang dirumah sakit xx.
Balas Mama Dina.
Mama dan papa akan langsung pergi ke rumah sakit nak.
Setelah mengabari para orang tua. Denis kembali duduk kali ini wajah Denis benar-benar frustasi. Dokter belum keluar tangisan bayinya belum terdengar.
Ponsel milik Denis tiba-tiba berdering dan ternyata itu telpon dari Alan.
"Den kamu dimana? Apa ada masalah?" Tanya Alan dengan perasaan kawatir.
"Aku dirumah sakit xx, Risa sedang melahirkan," jawab Denis dengan nada lemas.
"Aku akan kesitu bersama Ayumi." Alan langsung mematikan saluran teleponnya.
Dengan cepat Alan langsung bergegas pulang ke rumahnya untuk menjemput Ayumi.
Denis terus berdoa, perasaannya sangat kawatir dan juga sangat takut.
"Kenapa Dokter belum keluar juga dari ruang operasi?" Batin Denis dalam hatinya.
Dua jam telah berlalu Denis mulai gelisah.
"Den...." panggil Alan yang langsung berjalan menghampiri Denis.
"Aku takut Al," Denis langsung memeluk Alan sebagai sahabatnya.
Alan mengusap-usap punggung Denis.
"Kita berdoa semuanya pasti akan baik-baik saja," Alan berusaha menenangkan Denis.
Denis melepaskan Alan dari di pelukannya.
"Ini pertama kalinya aku melihat Denis menangis." Batin Alan dalam hatinya.
"Denis..." Mama Dina dan suaminya langsung berjalan menghampiri Denis.
"Mama, papa." sapa Denis dengan sopan.
"Bagaimana keadaan Risa?" Tanya Mama Dina dengan perasaan begitu kawatir.
__ADS_1
"Masih di dalam ruang operasi ma, Dokter belum keluar dari tadi," jelas Denis pada sang Mama mertuanya.
Denis dan yang lainnya duduk diruang tunggu.
Setelah usaha para tim medis akhirnya tangisan seorang bayi terdengar.
"Owe..owek...." anggap saja tangisan bayi.
"Selamat Nyonya Risa, anak anda laki-laki sudah lahir dengan selamat." kata Dokter dengan senyum bahagianya.
Risa hanya tersenyum karena masih terkulai lemas.
Dokter keluar dari ruangan operasi dan para suster mengurus Risa dan bayinya agar bisa segera dipindahkan keruang rawat inap.
"Tuan Denis." panggil sang Dokter.
Denis menoleh ke sumber suara, lalu dengan cepat pergi berjalan menuju Dokter yang memanggilnya.
"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Tanya Denis.
"Semuanya baik-baik saja, proses operasi berjalan dengan lancar dan selamat anak anda laki-laki," sang Dokter memberi kabar bahagia pada Denis.
Sungguh Denis yang awalnya sedih dan merasa sangat takut, sekarang sudah bisa mengembangkan senyumnya.
"Tunggu sebentar ya tuan. Nanti jika pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat inap tuan bisa langsung melihatnya," Dokter menepuk pundak Denis dengan tangannya.
"Siap Dok, terimakasih Dok." Denis terus tersenyum bahagia pada sang Dokter.
"Sama-sama saya permisi dulu, soalnya masih ada pasien lain," pamit Dokter yang langsung berlalu pergi dari hadapan Denis.
Setelah Dokter pergi, Alan, Ayumi dan kedua orang tua Risa langsung berjalan menuju ke tempat Denis berdiri.
"Bagaimana?" Tanya Alan mewakili semuanya.
"Risa sudah melahirkan dengan selamat dan anak aku laki-laki," jawab Denis yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya.
"Akhirnya kita menjadi nenek dan kakek." Mama Dina langsung memeluk suaminya dengan begitu bahagia.
Akhirnya keinginan Mama Diana dan papanya Risa untuk menjadi seorang nenek dan kakek, hari ini terwujud.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Risa sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Denis melihat sang istri yang berbaring lemas diranjang tempat tidur pasien.
"Istriku terimakasih sudah melahirkan anakku." Denis memegang tangan Risa lalu menciumnya penuh cinta.
Risa pelan-pelan membuka matanya, lalu tersenyum pada Denis.
"Mana anakku?" Tanya Risa.
"Anak kita sayang." Denis tersenyum.
Risa menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Tunggu suster sedang mengurus anak kita dulu. Nanti pasti akan segera diantarkan kesini," Denis mengusap-usap kepala Risa.
Melihat orang tuanya, Alan dan Ayumi yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Risa langsung tersenyum bahagia.
"Aku sudah menjadi seorang Ibu," kata Risa dengan suara pelan, tapi diiringi senyuman bahagianya.
"Iya istriku." Jawab Denis.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi pagi waktu aku dikantor?" Tanya Denis penasaran.
"Aku...."
BERSAMBUNG π
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia π