
Mama Rasti hanya menggelengkan kepalanya, melihat Anak dan menantunya saling melempar senyum.
"Rasanya bahagia sekali." gumam Mama Rasti melihat Anak dan menantunya begitu bahagia.
Pagi ini Risa masuk kuliah, setelah selesai sarapan Denis langsung mengantar Risa ke kampus sekalian berangkat ke kantor.
Setelah selesai sarapan, Denis dan Risa langsung berpamitan dengan Mama Rasti.
"Ma, Risa berangkat kuliah dulu ya." pamit Risa sambil menyalami punggung tangan Mama Rasti lalu menciumnya.
"Iya Nak, Kamu minumlah ini dulu." jawab Mama Rasti sambil menyodorkan segelas susu pada Risa.
Risa menerima satu gelas tersebut dari tangan Mama Rasti, namun Risa bingung karena bau susu yang diberikan oleh Mama Rasti tidak seperti biasanya.
"Baunya bikin mual." batin Risa yang merasa ingin muntah namun menahannya.
"Ini susu apa Ma?" tanya Risa pelan.
"Itu susu buat Ibu hamil, Mama sengaja menyuruh Bibi membelinya." jawab Mama Rasti sambil tersenyum pada Risa.
Biarpun rasanya mual mencium baunya, rasanya pingin muntah, namun Risa tidak mau membuat Mama mertua kecewa ataupun bersedih.
Akhir perlahan-lahan, Risa langsung meminum susu tersebut sampai habis.
"Uwek..uwek..." Risa langsung merasakan mual, lalu Risa langsung pergi menuju ke kamar mandi.
Kini Risa memuntahkan semua susu yang baru saja dirinya minum.
Denis dan Mama Rasti saling menatap.
"Maafin Mama Ris, aduh Kamu jadi muntah-muntah deh." keluh Mama Rasti yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Ma, sudah biasa Ma sama Denis juga gitu." jawab Denis yang langsung menyusul Risa ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Risa sedang membersihkan sudut bibirnya memakai tissu.
"Sayang... Kamu tidak apa-apa?" tanya Denis dengan begitu kawatir.
"Tidak apa-apa, mungkin sih Ucil Kita sedang manja kali." jawab Risa sambil mengelus perutnya.
Mama Rasti juga langsung berjalan menuju ke kamar mandi, lalu langsung meminta maaf pada Risa.
"Maafin Mama ya Nak, gara-gara susu pagi-pagi Kamu sudah muntah-muntah." Mama Rasti meminta maaf pada Risa.
"Mama, Mama tidak perlu minta maaf, terimakasih ya Ma, Mama sudah selalu memperhatikan Risa." jawab Risa sambil mengucapkan terimakasih pada Mama Rasti.
Mama Rasti langsung mengembangkan senyumnya, lalu Denis dan Risa langsung pergi meninggalkan Mama Rasti untuk segera pergi ke kampus dan kantor.
Sesampai dikampus Risa, seperti biasa Risa menjalankan ritual paginya sebagai istri dari Denis Kusuma.
Setelah menjalankan ritual pagi, Risa langsung turun dari mobilnya lalu Risa berjalan ke dalam kampus.
Denis langsung melakukan mobilnya ke kantornya.
Risa langsung menghampiri Ayumi dan Panji yang sedang duduk dikursi taman.
"Risa... Kamu semakin cantik." sapa Panji sambil memuji Risa.
Ayumi bergeser lalu Risa duduk disamping Ayumi, dengan perasaan senang Risa langsung mengucapkan terimakasih pada Panji karena sudah memujinya.
"Untung tidak ada Denis, kalau ada Denis pasti akan lucu." pikir Risa dengan jailnya.
"Terimakasih loh Pan, Aku akui Aku memang cantik dari lahir." jawab Risa, sambil mengucapkan terimakasih pada Panji.
Ayumi hanya menggelengkan kepalanya mendengar sahabat yang satunya begitu kepedean sekali.
"Oh iya waktu itu, kalian diberi hukuman apa oleh suami dan pacar kalian?" tanya Panji pada Risa dan Ayumi.
"Hukuman yang tidak bisa dilupakan." jawab Risa.
"Iya, hukuman yang begitu indah." sambung Ayumi sambil tersenyum mengingat hukuman yang diberikan oleh Alan waktu itu.
Panji langsung terdiam, kini pikiran Panji langsung berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Hukuman yang tidak bisa dilupakan, wahh jangan-jangan hukuman kaya gitu." gumam Panji dengan pikiran ngeresnya.
"Apa sungguh tidak bisa dilupakan?" Panji kembali memastikan jawab Risa dan Ayumi.
"Iya sungguh." jawab Risa.
"Iya Pan, Aku aja kalau dihukum seperti itu setiap hari, Aku iklhas." sambung Ayumi.
Kini pikiran Panji makin menjadi-jadi, bahkan Pani sampai menggelengkan kepalanya.
"Dasar wanita jaman sekarang." gumam Panji.
"Pan, Kamu carilah kekasih!" pinta Risa.
"Iya Pan, biar carilah kekasih!" sambung Ayumi.
"Aku sudah punya dua wanita cantik, yang setiap hari menemaniku." jawab Panji yang membuat Risa dan Ayumi merasa bingung.
Ayumi dan Risa saling menatap, lalu mereka berdua sama-sama menggelengkan kepalanya, karena tidak tahu siapa yang Panji maksud.
"Dua wanita?" cetus Risa.
"Apa Kamu mempunyai dua pacar sekaligus?" tanya Ayumi dengan raut wajah bingung.
Panji hanya terdiam.
"Dasar mana mungkin Aku punya pacar sekaligus." kesal Panji dalam hatinya.
"Maksudku, Aku sudah punya kalian yang selalu menemaniku setiap hari." Panji menjelaskan pada Risa dan Ayumi.
Kini Risa dan Ayumi, mereka sama-sama mengeluarkan tawa mereka,karena mereka sudah salah, mereka pikir Panji punya dua pacar sekaligus.
"Dasar kalian." omel Panji pada Risa dan Ayumi.
Jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi, Risa, Ayumi dan Panji mereka langsung masuk ke dalam kelas, karena Dosen juga sudah datang.
Dikantor Denis.
Melihat Alan senyum-senyum, Denis langsung bergumam.
"Dasar tidak waras!" gumam Denis sambil melihat Alan.
"Apa sudah selesai tersenyumnya?" tanya Denis tiba-tiba.
Alan langsung menoleh ke sumber suara yang ada, melihat Denis yang datang Alan hanya memasang wajah kesalnya.
"Dasar penganggu." kesal Alan dalam hatinya.
Sedang asik mikirin Ayumi bahkan Alan sampai senyum-senyum sendiri, ntah apa yang dipikirkan oleh Alan tentang Ayumi? Iya hanya Alan yang tahu.
"Sudah Tuan." tegas Alan yang langsung melihat kearah Denis.
"Senyum-senyumnya, lanjutkan nanti saja! oh iya apa Ayumi sudah membuatmu sedikit tidak waras?" kata Denis sambil meledek Alan.
"Bukan tidak waras lagi, bahkan Dia sudah membuatku tergila-gila." tegas Alan yang diiringi dengan senyum jailnya.
"Dasar BUCIN!!" omel Denis.
"Hari ini ada meeting tidak?" tanya Denis.
"Ada Tuan, nanti jam 9." jawab Alan.
"Siapkan semuanya dan ingat berhentilah tersenyum atau Kamu akan menjadi gila sungguhan." kata Denis sambil menggelengkan kepalanya.
Denis langsung pergi menuju ruang kerjanya, sedangkan Alan langsung menyiapkan keperluan untuk meeting nanti jam 9 pagi.
"Dasar Denis, bukannya Dia juga pernah menjadi BUCIN bahkan sampai sekarang Dia terlalu BUCIN sama Risa." gumam Alan.
Setelah menyiapkan semua keperluan meeting, Alan kembali duduk kini Alan melihat foto Ayumi diprofil WA Ayumi.
"Kamu begitu cantik." puji Alan.
"Bayangkan saja, jika Kamu menjadi istriku, pasti Anak-anakku akan cantik sepertimu." Kata Alan sambil membayangkan jika dirinya menikah dengan Ayumi nanti.
__ADS_1
"Ahh jadi pengin cepat-cepat menikah, biar bisa bikin banyak Anak." batin Alan.
Sesampainya diruangan Denis langsung sibuk dengan laptopnya.
"Untung semalam Aku tidak jadi tidur dengan bantal guling, coba kalau jadi pasti Aku tidak akan kuat menatap layar laptopku ini." gumam Denis.
Untung saja semalam Denis menculik Risa dari Kamar Mamanya, coba kalau tidak pasti Denis akan mengantuk saat bekerja.
Jam menunjukkan pukul 9, Alan langsung datang keruangan Denis.
"Tok..tok..tok.." suara ketukan pintu.
"Masuklah!!" sahut Denis dari dalam ruangannya.
"Ceklek." suara gagang pintu.
Alan langsung masuk ke dalam ruangan Denis, melihat Alan yang datang, Denis langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo Kita sekarang keruang meeting." kata Denis yang langsung berjalan kearah Alan.
Alan dan Denis langsung menuju keruang meeting, diruang meeting dua wanita muda yang begitu cantik, sudah menunggunya mereka adalah klien dari PT xx.
Sambil melangkahkan kaki Denis terus melihat kedua wanita itu.
"Mudah-mudahan tidak ada Angel-Angel yang berikutnya." gumam Denis penuh harap.
Alan tersenyum pada kedua wanita yang ada dihadapannya.
"Selamat pagi nona." sapa Alan dengan sopan.
"Selamat pagi." sahut kedua wanita tersebut.
Kini mereka sudah duduk, mereka saling berjabat tangan lalu memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Kenalkan Tuan, Saya Sinta dan ini sekretaris Saya, Devina." Sambil berjabat tangan Sinta memperkenalkan dirinya dan Sekertarisnya.
"Saya Denis dan ini Alan sekretaris saya." Denis juga memperkenalkan dirinya dan juga sekalian memperkenalkan Alan.
Kini semuanya sudah duduk, Devina langsung mempresentasikan meeting hari ini dengan baik, setelah beberapa menit akhirnya Sinta dan Denis langsung tanda tangan kontrak kerja sama, Antara perusahaan mereka.
"Mudah-mudahan senang ya Pak, kerja sama dengan perusahaan Saya." kata Sinta dengan suara begitu lembut.
"Iya Nona pasti." jawab Denis.
Sebelum pergi meninggalkan ruang meeting, Sinta memberikan sebuah undangan kepada Denis.
"Pak, datanglah ke acara pernikahan Saya!" kata Sinta sambil memberikan selembar undangan pernikahannya pada Denis.
Denis menerima undangan tersebut dari tangan Sinta, kini Denis sudah salah berpikir ternyata Sinta akan menikah dan tidak mungkin Dia seperti Angel yang genit itu.
"Sekertaris Alan, Kamu juga datang ya! maaf tadi saya hanya membawa satu undangan." Sinta meminta maaf pada Alan.
"Tidak apa-apa Nona, saya pasti akan datang." jawab Alan dengan senyum manisnya.
"Baik, terimakasih jangan lupa ajak pasang-pasangan kalian ya!" pinta Sinta dengan sopan.
Setelah selesai dengan urusan, Sinta langsung pergi meninggalkan ruangan meeting untuk segera kembali ke kantornya.
Sedangkan Denis dan Alan masih sama-sama duduk diruang meeting.
"Aku kira, Dia bakal seperti Angel." kata Denis.
"Masih ingat juga, tentang cabe cangak itu." Ledek Alan yang diiringi tawanya.
"Hanya takut, ada Angel yang kedua ntar Risa pasti bakal murka lagi." jawab Denis.
Sambil duduk Denis membayangkan, jika sampai ada Angel yang kedua pasti Risa tidak akan menerimanya.
"Pasti akan langsung dibasmi bibit cabe lainnya oleh Vania Clarissa." gumam Denis yang tahu istrinya seperti apa?
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π
__ADS_1