Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
173.Dasar pahlawan s*alan.


__ADS_3

Kini Alya tepat jatuh dipelukan orang itu, dengan mata yang masih samar-samar Alya pelan-pelan, membuka matanya.


"Siapa yang menolongku." batin Alya yang belum sepenuhnya membuka matanya.


Denis dan Risa langsung keluar dari dalam mobilnya.


"Alya...." kata Risa yang langsung terburu-buru keluar dari dalam mobilnya.


"Hampir saja Alya ketabrak mobil." gumam Risa yang melihat Alya hampir tertabrak mobil.


Denis juga sudah turun dari mobilnya, Ayumi yang berada tepat di depan gerbang langsung memeluk Alan karena merasa sangat kaget dengan kejadian yang terjadi dihadapannya.


"Sudah tidak apa-apa." Alan berusaha menenangkan Ayumi sambil mengusap-usap punggung Ayumi dengan tangannya.


Panji yang merasa tangannya sudah sangat pegal karena menahan tubuh Alya dari tadi, Panji langsung melepaskannya Alya begitu saja hingga Alya jatuh ke aspal jalan.


"Brukkk..." Panji menjatuhkan tubuh munggil Alya diatas aspal, Alya merintih merasa kesakitan.


"Dasar pahlawan s*alan." Kesal Alya dalam hatinya.


Denis dan Risa langsung menghampiri Alya, Risa langsung membantu Alya bangun dari tempat dirinya dijatuhkan oleh Panji. Kini posisi Alya sudah berdiri sambil memegangi pinggangnya yang sakit karena terbentur aspal, karena Panji menjatuhkan begitu saja.


"Alya, Kamu tidak apa-apa? maafkan Aku ya." Dengan perasaan yang begitu khawatir Risa langsung meminta maaf pada Alya.


Risa merasa sangat bersalah, apalagi sebelum kejadian ini terjadi, Denis yang menyuruh Alya keluar dari dalam mobilnya gara-gara ritual pagi hari yang setiap hari mereka lakukan sebelum Risa masuk ke kampus dan sebelum Denis berangkat ke kantor.


Risa langsung melirik Panji dengan lirikan tajam, lalu mengomeli Panji seenaknya sendiri.


"Panji, bisa-bisanya Kamu menjatuhkan wanita dari pelukanmu." omel Risa sambil melirik Panji dengan tatapan tidak suka.


"Dasar laki-laki br*ngsek!" sambung Denis yang menatap Panji dengan tatapan kesal.


Panji merasa bingung sebenarnya Risa dan Denis mereka itu kenapa? Panji yang tidak kalau Alya adalah sepupunya Denis, kini Panji hanya menggelengkan kepalanya.


"Tubuh Dia sangat berat Ris, tanganku sakit jatuh Aku jatuhkan saja." jawab Panji dengan begitu enteng.


Alya langsung menatap Panji dengan tatapan yang begitu membunuh.


"Dia bilang apa? tubuhku sangat berat? Dasar pahlawan s*alan." berbagai dumelan keluar di dalam hati Alya.


Ayumi dan Alan berjalan menuju ke tempat Risa dan yang lainnya.


"Kamu baik-baik saja Pan?" tanya Ayumi pada Panji.


"Aku baik-baik saja Yum, untung tanganku tidak patah gara-gara menahan tubuh gadis itu yang begitu berat." jawab Panji yang diiringi sindiran untuk Alya.


Alya terus menatap Panji dengan tatapan yang begitu kesal.


"Tubuh bagus kaya gini, langsing, Dia bilang apa Aku berat." gerutu Alya dalam hatinya.


"Tunggu, Denis, Risa, apa kalian mengenal gadis ini?" tanya Ayumi penasaran.


"Dia adalah sepupuku, namanya Alya." jawab Denis sambil memperkenalkan Alya pada Ayumi dan yang lainnya.


Ayumi, Alan langsung memperkenalkan dirinya pada Alya sedangkan Panji tidak mau berkenalan dengan Alya.


"Alya, kenalkan Aku Ayumi." Ayumi memperkenalkan dirinya pada Alya, kini keduanya berjabat tangan dan saling melempar senyum.


"Kalau Aku Alan, sekretarisnya Denis." Alan memperkenalkan dirinya pada Ayumi.


"Kalau Kamu siapa? Pahlawan s*alan?" tanya Alya sambil menatap sinis kearah Panji.


"Aku sudah tau namamu!" ketus Panji.


Panji ternganga mendengar kata-kata Denis.


"Pantas suaminya Risa sangat kesal sekali padaku, waktu Aku jatuhkan tubuh gadis itu ke aspal, ternyata gadis itu adalah sepupunya." batin Panji sambil memperhatikan Alya.


"Hey pahlawan s*alan berhentilah menatapku dengan tatapan menjijikkan!" omel Alya yang melihat dari tadi Panji terus memperhatikannya.


"Kau bilang apa? pahlawan s*alan! jika tidak Aku tidak menolongmu, mungkin Kamu sedang sekarat dirumah sakit." jawab Panji yang tidak terima dengan sebutan pahlawan s*alan.


"Lagian Aku tidak tahu siapa namamu, jadi ya sudah Aku panggil saja pahlawan s*alan." jelas Alya sambil menatap Panji dengan tatapan kesal.


Denis dan Risa sama-sama menggelengkan kepalanya, lalu Denis berusaha melerai Alya dan Panji agar menghentikan pedebatannya.


"Sudahlah, kalian masuk kelas sana!" lerai Denis sambil melihat kearah Alya.


Denis langsung berpamitan dengan Risa untuk segera berangkat ke kantor, begitu juga dengan Alan, Alan juga langsung berpamitan dengan Ayumi untuk segera berangkat ke kantor.


Setelah mobil Denis dan Alan tidak terlihat, Risa, Ayumi, Panji dan Alya langsung masuk ke dalam kelas.


Di dalam kelas kini mereka sudah duduk sambil menunggu Dosen datang, dan tidak sengaja Alya duduk disamping Panji.


"Hey Kau, ucapan terimakasih padaku!" pinta Panji dengan nada jutek.


"Terimakasih apa? Terimakasih sudah menjatuhkanku!" tegas Alya dengan nada nyolot.


"Dasar tidak tahu terimakasih!!" gerutu Panji.


Ayumi dan Risa yang mendengar perdebatan mereka hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar mereka." omel Risa.


"Sudahlah Ris, biarkan saja!"sambung Ayumi.


Dosen baru saja datang, Dosen yang baru saja datang juga menyuruh Alya memperkenalkan dirinya pada teman-temannya, karena Dosen tersebut tahu Alya adalah murid baru.


Setelah selesai memperkenalkan dirinya, Alya kembali duduk disamping Panji.


Iya biarpun dengan parasaan yang masih kesal, bahkan pinggangnya masih sakit, Alya hanya duduk tenang sambil terus memperhatikan Dosen yang menjelaskan mata kuliah hari ini.

__ADS_1


Dikantor Denis.


Denis dan Alan sedang mengerjakan pekerjaannya diruangan Denis, sambil sibuk dengan laptopnya. Alan bertanya pada Denis.


"Apa gadis itu tadi sepupumu?" tanya Alan tiba-tiba.


"Iya Dia sepupuku, namanya Alya Adinda Putri." jawab Denis yang kembali memperkenalkan nama sepupunya.


"Punya saudara cantik seperti Dia, Kenapa Kamu tidak mengenalkan denganku?" tanya Alan yang diiringi kejailannya.


"Dulu ada niatan, tapi karena Kamu terus mengingat mantan kekasihmu jadi Aku mengurungkan niatku." jawab Denis.


Iya sebenernya Denis pernah berpikir mengenal Alya pada Alan, namun waktu itu Alan benar-benar tidak mau sama sekali membuka hatinya untuk Wanita lain, selain itu juga Alya masih terlalu muda untuk pacaran jadi Denis tidak jadi mengenalkannya pada Alan.


"Dasar Kamu ini." omel Alan pada Denis.


"Hey ingatlah, Kamu sudah punya Ayumi yang begitu cantik! jadi tidak usah aneh-aneh atau memikirkan wanita lain yang lebih cantik." Denis memberikan peringatan kepada Alan.


"Iya iya, Ayumi paling cantik diantara wanita yang lainnya." sambung Alan sambil menyunggingkan senyum kemenangannya.


Mereka terus mengobrol sambil melanjutkan pekerjaan mereka.


Mama Rasti sedang duduk sambil menonton televisi, tiba-tiba telpon rumahnya berbunyi lalu Mama Rasti langsung mengangkat telponnya.


"Hallo..." sapa Mama Rasti.


"Hallo Kak, Kak ini Hendra." jawab Hendra yang tidak lain adalah Papanya Alya.


"Iya Hen, katakan ada apa?" kata Mama Rasti.


"Bagaimana Kak, Alya disitu?" tanya Hendra.


"Alya baik-baik saja, Kamu tenang saja, Kakak akan mengurus Alya dengan baik disini." jawab Mama Rasti yang berusaha menyakinkan Adeknya (Papanya Alya).


"Terimakasih Kak, untung ada Kakak Alya disini sangat bandel Kak, takutnya malah terjerumus dalam pergaulan bebas." kata Hendra.


"Iya Kakak tahu, Kamu tidak usah kawatir Alya disini baik-baik saja dan Aku juga akan menjaganya dengan baik." jawab Mama Rasti yang kembali meyakinkan Adeknya.


Setelah obralannya selesei, Hendra langsung memutuskan saluran teleponnya.


Yulia yang sedari tadi duduk disamping Hendra, langsung bertanya pada Hendra.


"Bagaimana Pa?"tanya Yulia (Mamanya Alya).


"Kita serahkan pada Kak Rasti, pasti Kak Rasti akan mengurus Alya dengan baik Ma." jawab Hendra yang berusaha menyakinkan Istrinya.


Mama Yulia, yang tidak lain adalah Mamanya Alya, sebenernya merasa tidak tega kalau Alya harus tinggal bersama Kakak iparnya, namun demi kebaikan Anaknya, Karena diluar negeri pergaulan begitu bebas membuat mereka khawatir, akhirnya Yulia mengalah dan menerima keputusan suaminya untuk memindahkan kuliah Anaknya dikota kelahirannya.


Mama Rasti kembali melanjutkan menonton saluran televisinya.


Kali ini ditelevisi tersebut ada adegan yang begitu membuatnya jengkel, yaitu adegan Mertua yang begitu jahat pada menantunya.


"Dasar mertua durhaka."


"Kalau Aku yang jadi menantunya, Aku bakal pergi dari rumah mertua yang kejam."


"Mending hidup miskin bersama suami daripada hidup kaya tapi punya mertua kaya emak lampir!!!!!


Sambil menonton televisi, Mama Rasti marah-marah sendiri sudah seperti orang yang tidak waras.


Jam menunjukkan pukul 2 siang, Denis dan Alan sudah berada di depan kampus menunggu Risa, Ayumi dan Alya.


"Tumben mereka belum keluar?" tanya Alan sambil melihat jam tangannya.


"Mungkin mereka jajan dulu." jawab Denis.


"Atau mungkin laki-laki brengsek itu mengganggu Istri dan saudaraku." kata Denis tiba-tiba.


"Bisa saja Den." sahut Alan dengan sengaja.


"Awas saja jika laki-laki brengsek itu, menganggu mereka, Akan Aku patahkan kakinya." Kata Denis yang diiringi dengan ancaman.


"Dasar Istri sedang hamil saja, pikirannya macem-macem." omel Alan pada Denis.


Melihat raut wajah Denis yang begitu kesal, Alan hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya ke dada, dan kali ini Alan terlihat sangat tampan dengan setelan jas warna hitamnya.


Risa, Ayumi, Panji dan Alya, kini mereka sedang asik mengobrol dikantin sama makan.


"Hey, murid baru!" Panji memanggil Alya.


"Aku punya nama!" sahut Alya dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.


Mendengar ada pesan masuk diponselnya, Risa langsung membukanya.


1 pesan masuk dari Denis.


"Apa kalian masih lama? Aku sudah menunggu di depan kampus dari tadi."


Risa membalas pesan Denis.


"Iya sebentar lagi, Aku keluar, lagi makan dulu dikantin sayang."


Denis membuka ponselnya, lalu menghembuskan nafasnya dengan kesal.


"Mereka lagi makan Al, makanya lama." cetus Denis sambil kembali menaruh ponselnya ke dalam saku celananya.


"Laki-laki brengsek itu tidak menganggu istri dan sepupumu kan?" ledek Alan.


"Diam Kamu!!" cetus Denis.


Risa dikantin sudah merasa resah, apalagi suaminya sudah menunggunya, sedangkan Alya masih sibuk dengan makanannya.

__ADS_1


"Alya ayo pulang, suamiku sudah menunggu!" Risa mengajak Alya untuk segera pulang.


"Kak Denis, sudah datang Kak?" tanya Alya, sambil mengunyah makanannya.


"Sudah, ayo pulang!" jawab Risa yang kembali mengajak Alya pulang.


"Aku makan dulu, Aku lapar." jawab Alya, yang terus memakan makanannya.


"Sudahlah Ris, biarkan Alya menghabiskan makanannya dulu!" kata Ayumi sambil melihat kearah Risa.


Alya sedang makan soto, tapi dari tadi sotonya tidak habis-habis, iyalah Alya memesannya dua mangkok soto jadi tidak habis-habis.


Biarpun Alya cantik tapi kalau soal makan, Alya paling doyan, untung biarpun doyan makan tapi tubuh Alya tetap indah dan. langsing.


"Dasar kecil-kecil makannya banyak." cetus Panji tidak percaya.


"Apasih? gini-gini Aku makan banyak juga masih tetap cantik." bela Alya sambil melirik Panji dengan tatapan kesal.


"Dasar gadis tidak tahu terimakasih!" cetus Panji lagi.


Namun Alya hanya mengabaikannya dan hanya fokus dengan makanannya.


Panji sudah menolong Alya, tapi Alya tidak mau mengucapkan terimakasih gara-gara Panji menjatuhkannya di aspal tadi pagi.


Setelah selesai makan, Risa, Ayumi, Alya dan Panji langsung keluar dari kampus.


Kini Risa dan Alya langsung menyapa Denis.


"Kak Denis..." sapa Alya.


"Suamiku..." sapa Risa.


"Kalian lama, cepat naik ayo pulang!" kata Denis dengan raut wajah yang begitu kesal.


Wajarlah Denis kesal, nungguin Risa dan Alya dari tadi. untung tidak sampai jamuran.


Ayumi langsung tersenyum pada Alan.


"Maaf lama." kata Ayumi yang diiringi dengan senyum manisnya.


"Tidak apa-apa sayang, mau Kamu selama apapun Aku akan tetap menunggumu." goda Alan yang secara tidak langsung juga mengombali Ayumi.


"Eemmhh Kamu memang kekasih terbaikku." sambung Ayumi yang diiringi dengan senyum manisnya.


Mendengar Alan mengombali Ayumi, Denis hanya mendengus kesal.


"Dasar cowok tukang gombal." cetus Denis.


"Sirik saja Kamu sayang, mentang-mentang tidak pandai menggombal." omel Risa pada Denis.


"Apasih Kamu, ayo cepat pulang!" kesal Denis yang langsung mengajak Risa pulang.


Alya dari tadi merasa bingung, gini pikirannya sedang berperang.


"Apa Kak Ayumi pacaran dengan Sekretaris Alan?" pikir Alya, yang belum tahu Ayumi dan Alan pacaran.


"Hey, ayo pulang! malah bengong." kata Denis sambil menarik baju Alya.


"Kak Denis lepaskan!" kesal Alya.


Ayumi dan Alan langsung masuk ke dalam mobil, Panji juga sudah melajukan mobilnya lebih dulu.


Alya dan Risa juga sudah masuk ke dalam mobil, dengan rasa penasaran dan ingin tahu akhirnya Alya memberanikan diri bertanya pada Risa dan Denis.


"Kak Denis, Kak Risa, Aku mau tanya apa Kak Ayumi dan Kak Alan pacaran?" tanya Alya tiba-tiba.


"Iya mereka pacaran." jawab Denis dan Risa secara bersamaan.


"Kalian kompak sekali." kata Alya sambil nyengir.


"Ohh ternyata mereka pacaran." gumam Alya sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa Kamu bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan Kamu menyukai Alan." tegas Denis sambil terus fokus menyetir.


"Apasih Kak Denis, Aku hanya bertanya saja." jelas Alya.


"Alan sudah pacar, tapi tenang saja Alya, Panji masih jomblo kok." sambung Risa yang diiringi dengan senyum jailnya.


"Panji, Maksud Kak Risa pahlawan s*alan itu?" jelas Alya sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia tampan Alya, Dia juga laki-laki yang sangat baik dan penuh perhatian." Secara tidak langsung Risa memuji Panji dihadapan Denis.


Risa tidak sadar, laki-laki yang sedang menyetir yang saat ini sudah menjadi suaminya, sudah benar-benar merasa kesal karena istrinya memuji laki-laki lain dihadapannya.


"Terus saja puji laki-laki br*ngsek itu, terus saja sayang." pinta Denis yang tentunya dibalik perkataannya pasti terselip ancaman untuk Risa.


Risa langsung meringis, lalu langsung memuji Denis dihadapannya.


"Tapi suamiku yang paling tampan." kata Risa sambil melihat kearah Denis.


"Ris, mulutmu itu tidak bisa dijaga sekali sudah tahu Denis tidak suka Kamu memuji laki-laki lain." gumam Risa.


Mendengar Risa memuji dirinya Denis hanya diam saja, karena perasaanya sudah sangat kesal.


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf ya Authornya sibuk banget, jadi baru sempat lanjutin 😘😘


Baca juga karya teman Asti 😊

__ADS_1



__ADS_2