Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
78. Amarah.


__ADS_3

Risa baru saja turun dari taksi yang Dia naiki.


Risa melangkahkan kakinya menuju kampus, betapa bahagianya Risa pagi ini melihat Panji sudah berdiri menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis.


"Risa...!" panggil Panji, yang tersenyum pada Risa.


"Panji..." saut Risa.


Panji berlari menghampiri Risa.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Panji, dengan penuh perhatian.


"Aku sudah sarapan" jawab Risa.


"Ayumi belum datang?" tanya Risa, yang belum melihat keberadaan sahabatnya.


"Belum, mungkin Dia tidak masuk" jawab Panji.


Panji dan Risa jalan berdampingan.


"Oh iya Ris, bagaimana apa kamu ikut acara kampus minggu depan?" tanya Panji.


"Aku belum tau" jawab Risa.


"Sepertinya kamu lesu sekali pagi ini, apa kamu sedang sakit Ris?" tanya Panji yang merasa kawatir.


"Tidak Pan, aku hanya sedang banyak pikiran saja" jawab Risa.


Mereka berdua langsung masuk kedalam kelas. Dosen sudah datang Risa dan Panji langsung berhenti mengobrol.


Setelah beberapa jam akhirnya kelas selesei.


Panji mengajak Risa ke suatu tempat, untuk membicarakan sesuatu dengan Risa.


"Ris, ikutlah denganku!" pinta Panji, yang sudah mengandeng tangan Risa.


"Mau kemana?" tanya Risa.


"Ikut saja" jawab Panji, yang tidak mau memberitahukan akan mengajak Risa kemana.


Panji menaiki tangga untuk menuju ke atap kampus.


"Kita mau ngapain kesini?" tanya Risa.


Sampailah diatap kampus.



Visual Risa dan Panji.


"Pan, kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Risa sambil memegang Panji.


Panji menatap Risa dengan tatapan tajam, Risa membalas dengan tatapan bingung.


"Aduh kenapa? deg..deggan seperti ini" gumam Risa, yang berusaha menyembunyikan rasa geroginya.


"Ris, ada yang mau aku katakan padamu" kata Panji, yang kini sudah memegang tangan Risa.


"Katakan saja Pan" pinta Risa.


"Risa, aku menyukaimu" kata Panji.


"Aku tidak bisa terus-terusan menyembunyikan perasaan ini padamu, Ris" kata Panji lagi.

__ADS_1


Hati Risa begitu tersentak mendengar perkataan Panji.


Risa terdiam.


"Apa aku harus jujur kalau Aku sudah menikah?" gumam Risa.


"Ris, kenapa kamu diam saja?" tanya Panji.


"Tidak apa-apa Pan" jawab Risa.


"Pan maaf ya, mungkin aku harus jujur padamu saat ini juga. karena Aku tidak mau kamu sampai terluka" kata Risa dengan begitu hati-hati.


"Jujur akan hal apa, Ris? katakan saja" jawab Panji.


"Aku sudah menikah, Pan! kamu ingat waktu kita jalan bareng waktu itu? laki-laki yang tiba-tiba menarikku itu adalah suamiku" kata Risa yang jujur pada Panji.


Panji langsung melepaskan tangan Risa dari tangannya.


"Pan, aku minta maaf! Aku tidak bisa membalas perasaanmu untukku" kata Risa, yang sangat merasa penuh salah karena tidak jujur dari awal dengan Panji.


Panji menghela nafasnya, mencoba tersenyum dihadapan Risa, walaupun sebenarnya hati Panji sangat terluka.


"Tidak apa-apa Ris, maafkan Aku yang sudah lancang menyatakan perasaanku" kata Panji, sambil mengacak-acak rambut Risa dengan pelan.


Risa tidak tau sekarang harus seperti apa, perasaannya sekarang campur aduk seperti es campur.


"Tidak apa-apa, tapi Pan apa kita masih bisa berteman?" tanya Risa.


"Apa yang kamu katakan? tentu saja masih bisa" jawab Panji, sambil mencubit kedua pipi Risa.


"Kapanpun kamu butuh Aku, datanglah padaku! Aku akan selalu ada untukmu, bahkan jika kamu terluka bahuku siap menjadi tempat bersandar untukmu" kata Panji, yang kini tersenyum manis pada Risa.


Risa membalas senyuman Panji dengan senyuman.


Panji menggandeng tangan Risa, mereka turun dari atap.


"Ayo makan dulu atau cancing-cacing diperutmu, akan melakukan demo masal" kata Panji, dengan ledekan agar bisa mencairkan suasana yang ada saat ini.


Risa tertawa mendengar perkataan Panji.


"Sudah jangan dipikirin" kata Panji.


"Terimakasih Panji" kata Risa, dengan pancaran senyum manis dibibirnya.


"Risa, kamu sangat cantik! sayang Aku tidak bisa memiliki dirimu" gumam Panji.


Risa dan Panji menuju kantin, setelah selesai makan mereka langsung pulang soalnya Dosen untuk kelas selanjutnya tidak datang.


Denis sudah menunggu Risa dari tadi di depan kampus, Denis masih memakai setelan jas yang begitu rapi karena dari kantor langsung ke kampus Risa. Denis sudah berdiri di depan mobilnya sambil menelpon Risa, namun Risa tidak mengangkat.


Visual Denis.



"Kemana Risa ini? kenapa Dia tidak mengangkat telponku?" gumam Denis.


Risa dan Panji keluar dari kampus bersamaan, kini mereka sedang melempar tawa ntah apa yang mereka obrolkan?


Denis yang melihat pemandangan di depannya merasa kesal. lalu langsung menghampiri Risa.


Denis berjalan menuju ke arah Risa, dengan tatapan wajah begitu kesal.


"Apa sudah selesai kuliahnya, ayo pulang sekarang!" kata Denis, dengan tatapan wajah tidak suka pada Panji.

__ADS_1


"Kapan manusia plin-plan ini datang?" gumam Risa.


Risa menatap Denis dengan tatapan wajah begitu kesal.


"Lepaskan Aku" kesal Risa.


"Kamu berhentilah menatap istriku!" kata Denis, yang mengarah kearah Panji.


Panji langsung mengalihkan tatapannya.


"Ternyata Risa benar-benar sudah menikah" gumam Panji.


"Panji, Aku pulang duluan ya! kamu hati-hatilah dijalan!" pamit Risa, yang diiringi senyum manis Risa.


"Ayo pulang sekarang, berhentilah bersikap manis pada laki-laki lain! disini ada suamimu" kesal Denis, yang melihat Risa tersenyum begitu manis pada Panji.


"Iya Ris, dadah Risa" jawab Panji, sambil membalas senyuman Risa.


Karena tidak mau melihat pemandangan yang bikin Denis tambah kesal, akhirnya Denis langsung mengangkat tubuh Risa masuk ke dalam mobil.


"Den, turunkan Aku!!" Risa meronta meminta Denis untuk menurunkanya.


"Tidak akan" jawab Denis singkat.


Setelah menaruh Risa dijok mobilnya, Denis langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Skip...


Sampai dirumah, Denis langsung menarik tangan Risa dengan begitu kasar.


"Apa kamu tidak pernah mendengarkanku, jangan pernah macam-macam dengan laki-laki brengsek itu!" amarah Denis, yang saat ini sudah mengebu-gebu.


Risa hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu wanita yang sudah bersuami, jagalah sikapmu pada laki-laki lain!" kata Denis, dengan begitu lantang.


Mendengar perkataan Denis, Risa langsung tertawa.


"Tuan Denis Kusuma yang terhormat, jika Aku adalah wanita yang sudah bersuami lalu apa bedanya denganmu? kamu saja laki-laki yang sudah punya beristri, tapi kamu masih pacaran dengan wanita lain diluaran sana" jawab Risa, yang memang tidak terima dengan perkataan Denis.


"Apa kamu sekarang sudah berani melawanku?" kata Denis, dengan mempererat genggaman tangannya.


"Auuhh.." Risa merintih kesakitan.


"Aku tidak melawanmyu, Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan" jawab Risa, dengan begitu lantang.


"Risa....." bentak Denis.


"Aku tanya, sekarang mau kamu apa? apa Aku harus menandatangani surat cerai kita sekarang?" kata Risa, karena merasa begitu geram dengan Denis.


"Berani, kamu bicara seperti itu lagi! Aku akan menamparmu" ancam Denis.


Denis merasa sangat marah sekali mendengar perkataan Risa, Denis langsung mendorong Risa ke sofa hingga Risa terjatuh begitu kasar. lalu Denis meninggalkan begitu saja.


"Aku pergi dulu, Aku tidak mau sampai Amarahku menyakitimu" pamit Denis, yang langsung pergi meninggalkan rumah.


Risa hanya menghela nafasnya.


"Sebenarnya mau kamu apa sih, manusia plin-plan?" gumam Risa, sambil memejamkan matanya.


Denis pergi menuju Kerumah Alan untuk pergi bersamanya, ntah Denis akan mengajak Alan kemana?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2