Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
221.Membasmi hama.


__ADS_3

Dirumah Levin dan Syahfiya...


"Tok...tok..tok.." Suara ketukan pintu.


"Siapa yang datang?" Dengan kasar Syahfiya bangun dari tempat dirinya tersungkur.


Syahfiya berjalan menuju ke depan untuk membukakan pintu.


"Ceklek....." Suara gagang pintu.


Melihat yang datang dua orang polisi Syahfiya kembali menutup pintu rumahnya tapi dengan cepat kedua polisi tersebut menahan pintu rumah Syahfiya.


Syahfiya berdiri dengan tatapan takut tubuhnya gemetaran.


"Untuk apa polisi datang ke rumahku?" batin Syahfiya dalam hatinya.


"Ma..af pak ada perlu apa?" tanya Syahfiya terbata-bata.


"Kita kesini untuk menangkap Nyonya Syahfiya dengan laporan yang dilaporkan oleh saudara Alan Mahendra." jelas sang polisi sambil menunjukkan surat penangkapan pada Syahfiya.


Polisi membrogol kedua tangan Syahfiya, Syahfiya terus meronta-ronta meminta dilepaskan.


"Lepaskan saya pak, apa salah saya?" Syahfiya terus meronta-ronta dan menanyakan apa kesalahannya pada kedua polisi tersebut.


"Anda bisa jelaskan semuanya dikantor polisi nanti." jawab sang polisi dengan tegas.


Levin yang melihat Syahfiya dibawa oleh dua polisi sangat terkejut.


"Pak istri saya mau dibawa kemana?" tanya Levin dengan sorot mata bingung.


"Kami akan membawa istri Anda ke kantor polisi, atas laporan yang laporkan oleh saudara Alan." jelas sang polisi pada Levin.


"Levin tolong aku..... Levin......" Syahfiya terus meronta-ronta sambil meminta pertolongan pada Levin.


"Baiklah pak, silahkan diproses sesuai laporan saudara Alan saja." jawab Levin sopan.


"Maaf Syahfiya aku ingin kamu menyadari semuanya kalau apa yang kamu lakukan itu salah. jadi biarkan polisi yang mengurus semuanya." batin Levin dalam hatinya.


Syahfiya menatap Levin dengan tatapan tidak suka.


"Dasar suami brengsek bisa-bisanya kamu hanya diam saja." Syahfiya sangat marah dalam hatinya.


Kedua polisi tersebut membawa Syahfiya ke kantor polisi sedangkan Levin hanya menatap Syahfiya dengan tatapan ikhlas.


Hari ini Syahfiya dibawa ke kantor polisi atas kesalahannya, Alan sengaja melaporkan Syahfiya ke kantor polisi agar Syahfiya tidak melakukan hal kesalahan yang sama lagi.


Ntahlah hukuman apa yang akan diterima oleh Syahfiya nanti?

__ADS_1


Dirumah Denis dan Risa.


Ayumi baru saja selesai mengobati luka dibagian belakang kepala Alan.


"Kalian tadi kemana?" tanya Risa ingin tahu.


"Kita habis membasmi hama pengganggu, kalian tidak perlu tahu kita darimana?" Jawab Alan yang enggan memberitahu pada Risa, Alya dan Ayumi.


Alan sengaja tidak memberitahu mereka karena Alan tidak ingin mereka kawatir.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa." Ayumi dengan manja berglendotan di bahu Alan.


"Tidak usah kawatir, aku baik-baik saja. Sekarang kita fokus sama pernikahan kita yang sudah semakin dekat ya." Alan membelai rambut Ayumi dengan tangan kekarnya, Alan tidak mau Ayumi terlalu kawatir pada dirinya.


Risa melihat Ayumi dengan tatapan lembut, lalu mengalihkan tatapannya pada Denis.


"Apa nanti sekretaris Alan akan menjadi BUCIN seperti kamu juga suamiku?" tanya Risa yang langsung dicubit hidungnya oleh Denis.


Risa menatap Denis lalu menjulurkan lidahnya.


"Dasar reseh." Ledek Risa dengan jail.


"Sayang aku itu tidak menjadi BUCIN aku hanya ingin menunjukkan kasih sayang dan perhatianku padamu." Elak Denis yang tidak mau mengakui kebucinan sampai saat ini.


Risa hanya tertawa dalam hatinya, tidak BUCIN lalu apa dulu dia memberikan aturan-aturan konyol buat aku. sampai-sampai aku tidak boleh melihat Panji lebih dari tiga detik, itu yang namanya tidak BUCIN.


Alya memutar bola matanya kali ini dirinya tidak percaya mendengar cerita dari Panji.


"Apa sungguh kakakku sebucin itu?" tanya Alya dengan senyum jail disudut bibirnya.


"Sudahlah lihat saja aku yakin kalian juga akan menjadi BUCIN seperti diriku, sekarang belum saja." kata Denis yang penuh dengan sumpah serapahnya.


Alan dan Panji saling melempar tawa, kini mereka sedang memikirkan jika mereka menjadi BUCIN seperti Denis nanti.


"Aku tidak bisa membayangkan jika aku berubah menjadi seperti Kak Denis, harus gitu main bucin-bucinan sama Alya." batin Panji dalam hatinya.


"Ayumi kamu terlalu polos, jadi aku tidak memikirkan main bucin-bucinan karena aku akan lebih sering mengajakmu bermain di atas ranjang tempat tidur." batin Alan dalam hatinya.


"Sudahlah kalian pulang sana aku mau pacaran dengan istriku, sana kalian jangan mengangguku dan Risa!" Dengan kesal Denis mengusir Panji dan Alan.


Alan dan Panji saling gelang-gelang kepala karena tidak percaya dengan tingkah Denis.


"Anak sudah mau brojol aja masih mikirin pacaran." omel Alan yang membuat Denis menatapnya kesal.


"Biasa saja menatapku! Ayumi sayang ayo kita pulang, mataku juga sepet lihat dua sejoli ini." Alan kembali mengomel pada Denis dan mengajak Ayumi segera pulang.


"Mending pacaran dirumah sendiri, disini banyak nyamuk." batin Alan yang terus senyam-senyum dalam hatinya.

__ADS_1


Risa hanya diam karena merasa kesal pada suaminya.


"Apa Denis sudah mulai gila semuanya diusir secara halus." batin Risa dalam hatinya.


"Risa, aku pulang dulu!" pamit Alan pada Risa, Alan hanya melewati Denis dan tidak mau berpamitan dengan Denis.


"Dasar tidak sopan, apa dia tidak berpamitan denganku." gerutu Denis yang ternyata dengar oleh Risa.


"Kamu yang mengusirnya tadi jadi wajar kalau sekertaris Alan tidak mau berpamitan denganmu." cetus Risa yang membuat Panji dan Alya sama-sama tertawa.


Denis melihat Risa dengan sorot mata lembut lalu beralih melihat Panji dan Alya dengan sorot mata kesal.


"Sana kalian pacaran diluar saja! aku males melihat kalian." Denis mengusir Panji dan Alya dengan kesal.


Risa yang sudah begitu kesal pada Denis bangun dari tempat duduknya, lalu menarik lengan tangan Denis.


"Ayo kita ke kamar kamu itu apa-apaan sih? Alya, Panji sudah lanjutkan saja Denis biar aku yang mengurusnya." Risa mengomeli Denis dan langsung membawa Denis agar masuk kedalam kamar.


"Aku kesal dengan mereka karena mereka meledek aku terus dari tadi." dengan manja Denis mengadu pada Risa.


Risa hanya diam dan mengabaikannya saja.


"Dasar Denis kadang suka seperti anak kecil." gumam Risa dalam hatinya.


Panji dan Alya sedang membicarakan masalah pernikahan mereka yang sebentar lagi akan datang, diruang keluarga mereka berdua asik mengobrol dengan rencana-rencana mereka selanjutnya.


Sesampainya dikamar Risa duduk ditengah-tengah ranjang tempat tidurnya, Denis merebahkan kepalanya dipangkuan Risa.


"Istriku kamu siang bolong seperti ini mengajakku main dikamar, bagaimana kalau senjataku bangun dan mengajakmu bertempur diatas ranjang yang empuk ini." kata Denis yang terus menciumi tangan Risa.


"Dasar suami mesum." Omel Risa.


"Bagaimana aku tidak mesum istriku yang sedang hamil ini terlihat sangat cantik dan begitu menggoda." Denis terus menggoda Risa dengan manja.


Seperti itulah Denis kalau disamping Risa bawaannya pingin ngajak main perang-perangan terus, biarpun Risa sedang hamil kalau ada kesempatan pasti Denis akan menjenguk sih Ucil yang ada dalam perut Risa. padahal Risa sering menyuruhnya mengeluarkan diluar tapi Denis tetap semangat yang penting bisa ehem-ehem sama istri tercinta.


"Sayang Alya dan Panji sedang pacaran, maka biarkan aku menyiram sih Ucil didalam sana nya." dengan manja Denis terus menggoda Risa.


"Aku takut bunyinya kedengaran sampai ruang keluarga." jawab Risa yang membuat Denis tertawa.


"Bunyi apa? kitakan cuma bermain sebentar." tanya Denis dengan tatapan mesum.


"Emmhh iya bunyi itu...."


"Bunyi apa?"


BERSAMBUNG πŸ™

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2