Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
92. Menanti jandamu.


__ADS_3

Denis masih terus menatap Panji dengan tatapan wajah yang tidak suka.


Akhirnya Risa mengajak Denis duduk bersama ditengah-tengah kedua sahabatnya, termasuk Alan.


Risa duduk di karpet, di dekat Ayumi dukduk akhirnya Ayumi, Panji, dan juga Alan ikut duduk di karpet, sekarang posisi mereka mengitari meja yang berisi berbagai macam cemilan dan minuman kotak, sedangkan Denis terus duduk disamping Risa tanpa melepaskan tangan Risa dari tangannya.


"Den, Kamu lepaskan tanganku! Kamu pergilah mandi dulu" pinta Risa dengan suara begitu lembut.


"Tidak akan, Kenapa Kamu menyuruhku mandi? Kamu sengaja ingin berduaan dengan laki-laki brengsek itu" jawab Denis, yang masih terus melihatkan rasa cemburunya.


Denis yang memang sangat cemburuan, membuat Risa harus benar-benar jaga sikapnya pada Panji.


"Jangan seperti Anak Kecil, Dia punya nama, namanya Panji Wijaya Den, sebutlah namanya dengan benar" kata Risa, yang sebenarnya merasa kesal dengan Denis.


"Tidak mau, baik darimananya? Dia memegang tanganmu waktu itu, bahkan lebih dari itu" jawab Denis, yang menunjukkan tingkahnya seperti Anak Kecil.


Alan melihat Denis, lalu menggelengkan kepalanya Alan tidak percaya selain Denis bodoh dalam mencintai wanita, sekarang Denis menunjukkan kebodohannya juga dalam hal cemburu.


"Den, berhentilah bersikap bodoh" omel Alan, sebagai sahabat Denis.


Denis menatap Alan dengan tatapan kesal.


"Aku hanya sedang menjaga istriku dari laki-laki brengsek itu" jawab Denis, yang melihat kearah Panji.


Bukannya marah Panji malah dengan senang hati menjaili Denis.


"Ris Suamimu cemburuan sekali" kata Panji sambil mengedipkan satu matanya pada Risa.


Risa hanya tersenyum pada Panji.


"Hey, jaga matamu!!" omel Denis, yang melihat Panji mengenitkan matanya pada Risa.


Panji hanya tertawa.


"Dasar Suami cemburuan" ledek Panji.


"Awas saja jika Kamu berani menggoda Risa" kesal Denis, dengan sorotan mata yang begitu tajam.


"Aku tidak akan menggodanya, namun Aku siap menanti jandanya" ledek Panji, yang diiringi dengan tawanya.


Alan pun ikut tertawa.


"Jangankan Kamu, Aku juga siap menanti janda secantik Risa" timpal Alan, yang sudah ikut tertawa.


"Hey kalian dasar brengsek, Aku tidak akan membuat Istriku menjadi janda" Denis marah pada Panji dan Alan.


Kini Panji dan Alan malah tos penuh kemenangan.


Biarpun Panji dan Alan belum saling kenal, namun mereka tetap asik tanpa canggung. mungkin karena sama-sama laki-laki.


"Dasar cemburuan" gumam Alan.


"Risa.... mending Kamu nikah sama Aku aja" gumam Panji.


"Sudah-sudah hentikan" omel Risa, yang sudah merasa sangat kesal karena tingkah Suaminya yang terlalu cemburuan.


Dari tadi Ayumi hanya diam saja, namun sorot matanya menuntut penjelasan pada Risa.


"Risa..." panggil Ayumi.


"Iya Yumi?" jawab Risa.


"Sahabat macam apa Kamu ini, menikah tapi tidak bilang-bilang" omel Ayumi, dengan wajah merajuk.

__ADS_1


Risa melihat kearah Ayumi, lalu memegang tangan Ayumi dengan satu tangannya karena tangan yang satunya Denis terus memeganginya.


"Yum, maafkan Aku bukannya Aku tidak bilang-bilang tapi pernikahanku dengan Denis semuanya Orangtua yang mengatur, Aku menikah dijodohkan awalnya Aku tidak setuju itulah sebabnya Aku tidak memberi tau pada Kamu atau Panji" cerita Risa pada Ayumi.


"Tapi Panji tau kalau Kamu sudah menikah" protes Ayumi.


Risa melihat kearah Panji, lalu Panji menganggukan kepalanya karena tau sebenarnya Risa meminta izin untuk menceritakan kenapa Panji bisa tau.


"Waktu itu dikampus Panji menyatakan perasaannya padaku, oke Kamu tau Aku sudah mulai menyukai Panji namun Kenyataannya Aku sudah menikah, akhirnya Aku jujur dengan Panji waktu itu kalau Aku sudah menikah. karena Aku tidak mau Panji sampai terluka" cerita Risa lagi pada Ayumi.


"Ternyata laki-laki brengsek itu, pernah menyatakan perasaannya pada Risa" gumam Denis, yang sudah sangat merasa kesal.


Ayumi melihat Risa, lalu langsung memeluk Risa.


"Risa, semoga Kamu bahagia dengan pernikahanmu" Doa Ayumi untuk Risa.


"Aamiin, terimakasih ya Yum" jawab Risa.


Ayumi melepaskan pelukannya dari tubuh Risa, lalu tersenyum pada Risa.


"Kamu bilang apa tadi Ris, laki-laki brengsek itu pernah menyatakan perasaannya padamu?" tanya Denis, dengan sorot mata yang begitu tajam.


Risa tersenyum pada Denis.


"Kita bicarakan nanti ini dikamar!" jawab Risa.


Denis menganggukan kepalanya, namun dihatinya sudah mengebu-gebu karena perasaan cemburunya.


"Awas saja Kamu Ris, dikamar nanti Aku tidak akan mengampunimu" gumam Denis.


"Ris, laki-laki ini siapa sih? Dia begitu menyebalkan" tanya Ayumi, yang melihat kearah Alan yang duduk disampingnya.


"Oh iya Aku lupa mengenalkan kalian pada sekertaris Alan" jawab Risa.


"Kenalkan Saya Panji" kata Panji sambil berjabatan tangan dengan Alan.


"Saya Alan" jawab Alan.


"Aku Ayumi Larasati" kata Ayumi.


"Aku tidak bertanya namamu" saut Alan.


Ayumi langsung menatap Alan dengan tatapan tidak suka.


"Dasar laki-laki sombong" gumam Ayumi.


"Ya sudah Aku juga tidak mau berkenalan denganmu" jawab Ayumi.


"Bukankah Kamu tadi sudah memperkenalkan namamu padaku" kata Alan dengan wajah yang begitu menyebalkan.


"Terserah Kamu saja" kesal Ayumi.


Kini Ayumi dan Alan saling berdebat satu sama lain.


Risa dan Denis menatap Alan secara bersamaan.


"Ayumi, sekertaris Alan masih jomblo loh" kata Risa, sambil tersenyum jail pada Ayumi.


"Memangnya apa urusannya denganku, Clarissa?" tanya Ayumi, dengan tatapan kesal.


"Siapa tau kalian jodoh" celetuk Denis, sambil mengedipkan satu matanya pada Alan.


Alan menatap Denis dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Sudah malam, Aku mau pulang sajalah ini bukannya nonton siaran bola malah nontonin Denis lagi BUCIN" kata Alan, yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Hey kau brengsek, Kamu sungguh ingin pulang?" tanya Denis memastikan.


"Iya Aku mau pulang" jawab Alan dengan tegas.


"Baguslah pulang sana Kamu, Aku mau lanjutin main kuda-kudaan sama Istriku nanti" kata Denis, dengan senyuman jailnya.


"Kuda-kudaan?" tanya Risa bingung.


"Dasar BUCIN" kata Alan.


Denis yang tau kalau Istrinya pasti akan terlihat bodoh dalam hal seperti ini, lalu membisikkan ditelinga Risa.


"Nanti, Aku kasih tau dikamar" bisik Denis, dengan nada jail.


Risa hanya terdiam sambil melihat kearah Denis dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Dasar BUCIN waktu itu aja begitu muja-muja Maya, sekarang berpindah ke Risa" gumam Alan.


Alan langsung pergi meninggalkan Denis dan yang lainnya, karena sudah malam Panji dan Ayumi juga pamit pulang.


"Risa, kita juga pamit pulang ya" kata Panji dan Ayumi.


"Baiklah, kalian hati-hati dijalan ya" jawab Risa.


Risa dan Denis mengantar Ayumi dan Panji ke depan rumahnya. setelah mobil Panji sudah tidak terlihat akhirnya Denis dan Risa kembali kedalam rumahnya.


Denis langsung menarik tangan Risa untuk masuk kedalam kamar mereka.


"Den, lepaskan" pinta Risa.


"Tidak mau" jawab Denis yang terus menarik tangan Risa.


Sampai dikamar Denis, langsung melepaskan tangan Risa dengan begitu kasar.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya Risa.


"Katakan padaku, Kamu bilang Kamu mulai menyukai laki-laki brengsek itu" kata Denis, dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Iya Aku memang sudah menyukainya, tapi Aku juga sudah menolaknya karena Aku sudah punya Suami" jawab Risa dengan begitu tegas.


"Bukankah sudah Aku bilang, jangan pernah menyukai laki-laki lain dibelakangku" kata Denis, yang mengingatkan Risa pada perkataan waktu awal menikah.


Denis boleh pacaran dengan Maya kapan saja namun Risa tidak boleh menyukai laki-laki lain.


Denis mendorong tubuh Risa dengan tangannya hingga terjatuh diatas ranjang, lalu Denis menindih tubuh Risa dengan tubuhnya.


"Aku rasa membuatmu segera hamil itu akan lebih baik" kata Denis sambil membelai pipi Risa dengan lembut.


"Tapi kalau ingin membuatmu cepat hamil, Aku harus menggarapmu lebih dari sekali sayangku" kata Denis, sambil mencium pipi Risa dengan lembut.


Tangan Risa terus menahan tubuh Denis, agar tidak sampai menyentuh gunung kembarnya.


"Den, Aku masih capek, S****ganku juga masih nyeri rasanya" keluh Risa, dengan sorot mata memohon.


"Kamu hanya perlu menikmatinya saja sayang, Ayo kita main kuda-kudaan malam ini" kata Denis, yang terus menciumi wajah Risa.


"Atau Kamu yang main dengan Adik kecilku malam ini?" tanya Denis, dengan nada menggoda.


"Denis......!!!" teriak Risa yang merasa begitu kesal.


Denis langsung menutup Risa dengan ciumannya.

__ADS_1


Bersambung πŸ™


__ADS_2