Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
102. Dijewer Sama Suami.


__ADS_3

Dikampus Risa sedang mengobrol bersama Ayumi dikantin.


"Ris, senang tidak menikah muda?" tanya Ayumi dengan rasa ingin tahunya.


Risa terdiam sambil memikirkan sesuatu.


"Yumi kalau saja Kamu tau awal pernikahanku Aku menjalani dengan penuh drama, bahkan Aku sampai tidak tahan ngadepin suamiku" gumam Risa.


"Ris, kenapa Kamu diam?" tanya Ayumi.


"Ehh maaf Yum, iya menikah muda banyak cobaannya juga Yum, apalagi kan Aku menikah karena dijodohkan oleh Orangtua ya banyak banget pokoknya cobaan Yum." jawab Risa dengan penuh kejujuran.


"Tapi ya umur 21 tahun, sebagai perempuan kalau kataku itu umur yang sudah cukup Yum untuk menikah." kata Risa.


Yumi terdiam mendengar jawaban dari Risa.


"Rasanya pingin nikah mudah saja." gumam Ayumi.


"Kenapa Kamu diam?" tanya Risa.


"Hehe Aku membayangkan jika Aku menikah muda Ris." jawab Ayumi.


Risa tertawa mendengar jawaban dari Ayumi.


"Jangan dibayangkan Yumi!" kata Risa, sambil menggelengkan kepalanya.


Ketika Ayumi dan Risa sedang asik mengobrol tiba-tiba Panji datang.


"Hay, asik banget ngobrolnya." kata Panji yang langsung ikut duduk bareng mereka berdua.


"Biasa Pan namanya cewek." sahut Ayumi.


"Ris, udah masuk kuliah." kata Panji.


"Udah Pan, dirumah terus tidak betah." jawab Risa.


Setelah selesai makan Risa dan Ayumi langsung masuk kelas karena Dosen juga sudah hadir, Panji juga ikut mereka masuk.


Risa, Ayumi, dan Panji mereka fokus mengikuti kelas hari ini.


Dikantor Denis.


Denis sedang berkutat dengan laptopnya karena seperti biasanya, Denis banyak kerjaan yang harus diselesaikan.


"Tok..tok..." suara ketukan pintu.


"Masuklah, pintu tidak dikunci!" sahut Denis dari dalam ruangan.


Alan langsung masuk kedalam ruangan Denis.


"Alan, ada apa?" tanya Denis.


"Aku hanya mau bersinggah diruanganmu sebentar." kata Alan, yang langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa.


"Singgah dikira ruanganku apaan." omel Denis.


Alan melihat kearah Denis.


"Den, apa Dia masih mengingatku?" tanya Alan sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Sebentar lagi makan siang, Ayo ikut Aku jemput Risa saja." kata Denis, yang langsung berjalan menuju ketempat Alan duduk.


Denis duduk disamping Alan.


"Lima tahun telah berlalu, jadi sudah lupakan saja." kata Denis, sambil menepuk pundak Alan dengan tangannya.


Alan mengembuskan nafasnya dengan begitu kasar.

__ADS_1


"Udah ayo pergi jemput Istrimu." ajak Alan.


Akhirnya Denis dan Alan pergi menjemput Risa ke kampus Risa.


Skip ..


Didalam mobil.


"Den, Apa Maya masih mengganggumu." tanya Alan, yang sedang menyetir.


"Dalam beberapa hari ini tidak, ntah hari selanjutnya." jawab Denis.


"Kamu sudah mencabut semua fasilitas yang Aku berikan pada Maya?" tanya Denis.


"Sudah, semuanya sudah beres." jawab Alan.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai dikampus Risa.


Alan memberhentikan mobilnya, lalu Denis langsung turun dari mobilnya.


"Risa belum keluar." gumam Denis.


Risa baru saja selesai kelas, kini Risa sedang asik mengobrol dengan Panji dan Ayumi.


"Ris, siapa itu nama suamimu kemarin Aku lupa." tanya Ayumi.


"Tuan Denis Kusuma yang pencemburuan itu." sahut Panji sambil melirik kearah Risa.


Risa tertawa mendengar sahutan dari Panji.


"Kamu benar Pan, Dia sangat cemburuan banget, sensitif kaya pantat Bayi." bukanya membela Suaminya Risa malah meledeknya.


Ayumi dan Panji akhirnya ikut tertawa.


"Dasar Istri durhaka, aib Suami sendiri dibuka." Ayumi mengomeli Risa sambil tertawa lepas.


"Kalau diceraikan Aku siap menerima jandamu Ris." kata Panji, sambil mengedipkan satu matanya.


Risa tidak tau kalau Denis sudah datang menunggunya didepan kampusnya, kini Denis sudah berdiri dibelakang mereka bertiga yang sedang duduk.


Tiba-tiba Denis menyahut perkataan Panji.


"Hey laki-laki brengsek, Aku tidak akan membuat Istriku menjadi janda." teriak Denis yang sudah berdiri dibelakang mereka bertiga yang sedang duduk.


Risa langsung membalikkan badannya, betapa terkejutnya ternyata Denis ada dibelakangnya.


"Den, kapan Kamu datang?" tanya Risa pelan.


Denis melihat Risa dengan sorot matanya yang tajam, lalu menjewer telinga Risa karena Risa tidak mendengarkan pesannya tadi pagi.


"Mulai bandel ya." omel Denis, yang sudah menjewer telinga Risa dengan pelan.


Risa memasang wajah memelas pada Denis, namun Denis mengabaikannya.


"Sudah Aku bilang jangan menatap laki-laki brengsek itu lebih dari tiga detik, ini malah Kamu melihatnya begitu lama." Denis kembali mengomeli Risa.


"Denis, sakit lepaskan telingaku." rengkek Risa, dengan wajah yang begitu menggemaskan.


Kini Ayumi dan Panji saling melempar tawa mereka karena melihat Denis dan Risa.


"Dasar cemburuan." gumam Panji.


"Ayo pulang sekarang, Aku akan menghukummu." kata Denis, yang sudah melepaskan tangannya dari telinga Risa.


Risa memegangi telinganya yang barusan dijewer oleh Denis.


"Dasar Suami durhaka." kesal Risa.

__ADS_1


"Hay kau laki-laki brengsek, awas saja jika Kamu terus menggoda Istriku." ancam Denis dengan sorot mata yang begitu tajam.


Denis langsung menarik tangan Risa, lalu membawanya ke mobil.


"Den, lepaskan sakit." pinta Risa.


"Tidak, Ayo pulang Aku akan memberikan hukuman untukmu." jawab Denis yang sedang merasa kesal karena rasa cemburunya yang berlebihan.


Sampai dimobil Denis langsung membuka pintu mobilnya, lalu menyuruh Risa untuk segera masuk kedalam mobil.


"Masuklah!" pinta Denis.


Risa masuk kedalam mobil, lalu duduk di jok mobil, kini Denis sudah duduk disamping Risa.


Kini Denis terus menatap Risa dengan tatapan begitu kesal.


Alan melihat Risa dan Denis hanya menggelengkan kepalanya.


"Bodohmu tidak hilang juga, kini dirimu semakin bodoh gara-gara Risa." gumam Alan.


"Kalian Kenapa?" tanya Alan pada Denis dan Risa.


"Biasa atasamu itu, sukanya cemburuan." Risa mengaduh pada Alan.


Alan hanya tertawa mendengar aduhan dari Risa.


"Dia memang seperti itu Ris, besok Kamu dibawain pengawal paling untuk selalu menjagamu." kata Alan, yang sudah menyalahkan mesin mobilnya.


Risa menatap kearah Denis, menuntut penjelasan.


"Apa? benar Apa yang dikatakan oleh Alan mulai sekarang Aku akan menyuruh pengawal untuk menjagamu." kata Denis yang membenarkan perkataan Alan.


"Apa kita ini sedang main drama, sampai harus ada pengawal juga." protes Risa.


Denis tidak menghiraukan protesan dari Risa, kini Dia malah melipat kedua tangannya ke dada lalu memejamkan matanya.


"Apa-apaan Denis ini, seperti itu saja cemburu." gumam Risa.


"Sabar ya Ris, Denis memang bodoh kalau sudah benar-benar mencintai wanita." Alan menjelaskan pada Risa.


"Biarkan saja dipusingkan dengan rasa cemburunya itu." jawab Risa yang sudah merasa kesal.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai didepan rumah Denis dan Risa.


Denis dan Risa langsung turun dari mobil.


"Kamu tidak mampir Al?" tanya Denis.


"Tidak, Aku terlalu muak melihat drama yang sedang kalian mainkan." jawab Alan dengan nada meledek.


"Dasar sekertaris sialan, kembalilah ke kantor kerjakan semua kerjaanku! Aku mau dirumah untuk memberikan hukuman pada Istriku yang sudah berani melihat laki-laki brengsek itu lebih dari tiga detik." kata Denis panjang lebar pada Alan.


Alan menganggukan kepalanya.


"Hm, sana lanjutan drama kalian!" suruh Alan yang langsung pergi meninggalkan Risa dan Denis.


Setelah Alan pergi, Denis langsung menarik tangan Risa untuk masuk kedalam rumah.


Didalam rumah.


"Mandilah dulu, setelah itu Aku akan memberikan hukuman padamu biar tidak bandel lagi." kata Denis, yang kini sudah duduk disofa ruang keluarga.


Risa tidak menjawab perkataan Denis, kini Risa langsung menuju ke kamarnya untuk segera mandi.


"Memangnya hukuman apa yang mau Dia berikan, sehingga menyuruhku mandi lebih dulu?" gumam Risa.


Bersambung πŸ™

__ADS_1


__ADS_2