Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
154.Punya saingan baru.


__ADS_3

"Aku tidak mau!!!" tolak Denis.


"Suamiku ini mau sih Ucil loh." kata Risa sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Denis hanya menghela nafasnya dengan kasar.


"Kalau bukan Aku yang ngebet banget pingin Risa hamil, pasti Aku tidak mau menerima permintaan-permintaan Aneh Risa." gumam Denis.


Sebelum Denis meninggalkan ranjang tempat tidurnya, Denis lebih dulu mengelus perut Risa yang masih rata.


"Nak jangan buat Papa jauh-jauh dari Mamamu, Papa tidak bisa Nak! Nak benar kata Kakekmu mending Kamu pingin mobil baru saja daripada nyuruh Papamu harus tidur disofa, Papa kan pingin peluk Mama Nak tidurnya." kata Denis pada Anak yang ada di dalam perut Risa.


"Sabarlah Adik kecilku sekarang Kamu punya saingan baru yaitu sih Ucil." gumam Denis sambil mengelus Adik kecilnya.


Risa sebenarnya tidak tega, namun ntah mengapa sih Ucilnya tidak mau dekat-dekat dengan Papanya, padahal kemarin pinginnya dipeluk-peluk terus, bahkan tidur aja maunya cium ketek Denis, tapi sekarang malah tidak mau dekat dengan Denis karena tidak suka bau tubuh Denis.


"Bersabarlah demi Anak kita, kan Kamu yang ngebet banget pingin Aku cepat hamil dan sekarang Aku sudah hamil ya Kamu juga harus nurutin apa ngidamnya Aku." jawab Risa sambil mengusap rambut Denis dengan tangannya.


"Iya, Aku akan bersabar, bahkan Adik kecilku juga harus ikut puasa." kata Denis dengan begitu lemas.


Denis langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu menuju ke sofa sambil membawa bantal yang biasa dirinya gunakan untuk tidur.


Risa langsung membaringkan tubuhnya, lalu menyelimuti tubuhnya, Risa langsung memejamkan matanya sedangkan Denis di sofa terus memperhatikan Risa yang sudah memejamkan matanya.


Denis tersenyum melihat wajah cantik istrinya ketika sedang tidur.


"Ternyata lebih enak waktu buatnya daripada masa ngidamnya." gumam Denis sambil tersenyum.


Keesokan harinya, Risa dan Denis sudah rapi, Denis sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya, sedangkan Risa memakai dress cantik warna biru dongker.


"Sayang, bukankah Kamu cutti kuliah? kok Kamu dandannya cantik banget?" tanya Denis sambil melihat Risa yang sedang berputar-putar di depan meja riasnya.


"Iya, karena hari ini Aku mau ikut suamiku pergi ke kantor." jawab Risa dengan begitu senang.


"Kalau ikut nanti Kamu kecepaan? Kamu dirumah saja, berbaring ditempat tidur!" jawab Denis.


Risa menggelengkan kepalanya, lalu berkata pada Denis.


"Tidak mau, Aku mau lihat suamiku kerja saja dikantor." kata Risa.


Akhirnya mau tidak mau Denis mengajak Risa untuk pergi ke kantornya.


Sesampainya dikantor Denis mengandeng tangan Risa untuk masuk ke dalam kantor.


Para pegawai yang melihat kedatangan Risa dan Denis, saling mengeluarkan berbagai pujian dari mulut mereka.

__ADS_1


"Cantik sekali Istrinya Tuan Denis."


"Iya, Cantikan Istri sah nya daripada Nona Maya."


"Nona Maya siapa?"


"Nona Maya pacarnya Tuan Denis dulu, Dia judes sekali orangnya."


"Memang dimana-mana Istri sah itu lebih cantik daripada pelakor."


"Apa ini pertama kalinya Tuan Denis, mengajak Istrinya ke kantor?" tanya salah pegawai baru yang baru masuk beberapa hari yang lalu.


"Tidak, hanya saja Tuan Denis jarang sekali mengajak Nona muda ke kantornya."


Berbagai perkataan keluar dari mulut para pegawai Denis, Risa yang melewati mereka dan tidak mendengar perkataan mereka, hanya tersenyum pada mereka.


Sampailah diruangan Denis, Denis langsung menyuruh Risa untuk duduk di sofa yang ada diruangannya.


"Kamu duduklah! panggil Aku jika mau sesuatu!" kata Denis.


"Oh iya, Kamu belum sarapan, susu Ibu hamil juga Kamu belum mulai meminumnya." kata Denis lagi.


"Susu Ibu hamil lupa minum, Aku mau sarapan disuapin sama Kamu." kata Risa.


"Tunggulah, Aku beli makanan dulu." jawab Denis.


Kini Denis membeli bermacam-macam makanan, mulai dari somay, bubur ayam dan beberapa makanan lainnya. setelah selesai membeli makanan Denis langsung kembali menuju keruangannya.


Denis langsung membuka semua makanan yang dibelinya, Risa yang melihat berbagai makanan yang ada dihadapannya tiba-tiba rasanya mual.


"Huek...huek..." Risa merasakan mual karena aroma makan-makanan tersebut.


"Kenapa sayang?" tanya Denis.


"Aku tidak suka bau semua itu." keluh Risa.


"Tapi Kamu harus sarapan." jawab Denis.


"Huek... huek..." Risa kembali merasakan mual pada dirinya.


"Suamiku, singkirkan semua makanan itu." pinta Risa yang sudah tidak tahan dengan baunya.


Akhirnya mau tidak mau Denis langsung memanggil salah satu cleaning servis dikantornya, lalu memberikan makanan yang Denis beli padanya.


"Faisal, ini makanan masih baru, Istriku sedang hamil Dia bilang Dia tidak suka dengan baunya, Kamu ambillah

__ADS_1


semuanya dan makan bersama yang lainnya ya." kata Denis pada Faisal.


"Baik Tuan." jawab Faisal.


Faisal langsung merapikan makanan yang ada dimeja, lalu kembali memasukkan ke dalam plastik.


"Saya pamit Tuan." pamit Faisal.


"Tunggu." jawab Denis.


Denis mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memberikan pada Faisal.


"Takut kurang, nanti beli lagi saja!" kata Denis sambil memberikan beberapa lembar uang pada Faisal.


"Siap Tuan, terimakasih Tuan." jawab Faisal dengan begitu senang.


Faisal langsung pergi meninggalkan ruangan Denis, lalu Denis duduk di sofa kali ini Denis berjauhan dengan Risa.


Melihat Denis memperlakukan pegawainya dengan begitu baik, membuat Risa bahagia ternyata Denis yang angkuh, sombong dan kejam mempunyai sisi baik yang baru Risa tahu.


"Sekarang Kamu mau makan apa?" tanya Denis dengan begitu lembut pada Risa.


Risa hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku belum pingin makan apa-apa, Kamu lanjutkan pekerjaanmu! Aku akan berbaring di sofa sambil melihatmu berkerja." jawab Risa.


Karena Risa tidak mau sarapan, Denis juga akhirnya lupa kalau dirinya juga belum sarapan.


Denis kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Risa hanya berbaring di sofa yang ada diruangan Denis.


Denis yang sedang sibuk dengan laptopnya sekali-kali melirik kearah Risa.


Tiba-tiba pintu ruangan Denis yang ada mengetuknya.


"Tok...tok..." suara ketukan pintu.


"Masuklah!" sahut Denis dari dalam ruangannya.


"Ceklek..." suara gagang pintu.


Denis mengarahkan pandangan matanya ke pintu ruangannya, melihat Alan yang datang bersama seorang wanita.


Membuat Denis merasa sangat kesal, apalagi kehadiran yang tidak diundang.


"Mau apalagi wanita itu datang ke kantorku?" gumam Denis dengan tatapan yang begitu kesal.

__ADS_1


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊*


__ADS_2