
"Emmhh..."
"Emmmhh apa?" sambung Alya dengan tatapan bingung.
"Anak kecil tidak perlu tahu!" cetus Denis yang membuat Alya meliriknya dengan tajam.
Alya menatap Panji dengan sorot mata lembut lalu mengalihkan sorot matanya ke Denis dengan sorot mata kesal.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Denis dengan senyum jailnya.
"Males sama Kak Denis, orang Alya sudah mau menikah dikatain ana kecil." Alya memayunkan bibirnya karena tidak terima dengan apa yang Denis katakan.
Denis geleng-geleng kepala, lalu melihat kearah Panji.
"Pan kamu yakin mau menikahi gadis manja udah gitu tukang manyun seperti Alya." Denis tersenyum pada Panji lalu menepuk bahunya Panji dengan tangan kekarnya.
"Suamiku aku jewer ya kamu, kalau terus menerus meledek Alya." Risa sudah menatap Denis dengan sorot mata tajam.
Alya berjalan menuju ke tempat Panji berdiri lalu Panji menarik Alya kedalam pelukannya. Membuat Alya memancarkan senyum manis dibibirnya.
"Aku yakin kak, aku sangat mencintai Alya." Dengan tegas Panji menjawab pertanyaan dari Denis.
"Sudah jangan urusin Kak Denis dia memang seperti itu, nanti gantian kalau anak dia lahir kita gangguin saja biar anaknya nangis terus." sambil membelai-belai rambut Alya dengan lembut, Panji berusaha menghibur Alya.
Panji paham seperti apa kelakuan Denis dan Alya kalau bertemu, jadi kadang Panji hanya bisa tersenyum dan menghibur calon istrinya agar tidak kesal karena ulah Denis.
Karena tidak mau Alya dan Denis terus berdebat akhirnya Panji mengajak Alya pergi dari rumah Denis.
"Mending aku ajak Alya beli dalaman baru buat malam pertama nanti." Pikiran Panji kembali mesum.
"Sayang ke mall yuk!" ajak Panji dengan semangat.
"Sungguh tapi mau ngapain?" Alya menatap mata Panji dengan sorot mata penuh cinta.
"Mau membeli perlengkapan untuk alat tempur kita nanti." jelas Panji dengan senyum jail.
"Alat tempur? Apa kamu akan pergi ke medan perang?" tanya Alya dengan begitu polosnya.
Mendengar Alya berkata seperti itu, membuat Risa senyam-senyum sendiri kini dirinya ingat waktu itu Denis juga ngomongin alat tempur tapi dengan polosnya Risa tidak tahu dan bertanya dengan begitu polosnya pada Denis.
"Iya medan perang diatas ranjang." cetus Risa tanpa sadar, yang membuat Alya langsung menatapnya.
"Diatas ranjang, aduh otak aku traveling kemana-mana bayangin saja benda tumpul milik Panji masuk, ahh pasti aku akan kelimpungan nanti, tubuh Panji yang kekar pasti miliknya juga besar." otak Alya mulai traveling dengan mesum.
Semenjak mau menikah Panji dan Alya memang sudah sama-sama ngebet mereka sudah tidak sabar menanti malam pertama mereka nanti.
"Sudah sana kalian pergi!" Denis mengusir Alya dan Panji secara halus.
Panji melepaskan Alya dari pelukannya lalu mengandeng tangan mulus Alya.
__ADS_1
"Ayo sayang." ajak Panji dengan semangat dan langsung berlalu pergi dari hadapan Risa dan Denis.
Melihat Panji dan Alya sudah tidak terlihat, Denis tersenyum mesum pada Risa membuat Risa berlalu pergi meninggalkan.
"Sayang ayo main tempur-tempuran diatas ranjang aku jadi pistolnya, kamu jadi markasnya." ajak Denis dengan manja, Denis terus mengekor dibelakang Risa, tapi Risa hanya mengabaikan Denis.
"Dasar tidak kakaknya, tidak adiknya keduanya sama-sama otaknya mesum." gumam Risa dalam hatinya.
"Sayang jangan mengabaikanku." dengan manja Denis merengek pada Risa.
Denis memasang wajah memelas dihadapan Risa, sungguh rasanya Risa sangat gemas sekali pada sang suami.
"Cup...." Risa mencium bibir Denis agar tidak bawel lagi.
"Sudah cukup?" tanya Risa.
Denis geleng-geleng kepala, lalu pergi dari hadapan Risa membuat Risa menatapnya bingung.
"Kamu mau kemana?" teriak Risa yang melihat sang suami berjalan menuju ke pintu depan.
"Apa dia marah padaku?" Pikir Risa.
Denie mengunci pintu rumahnya dan kembali ke tempat Risa duduk.
"Kenapa dikunci?" tanya Risa ternyata Denis mengunci pintu rumahnya.
"Agar tidak ada orang yang masuk, aku mau kita main disini." jawab Denis yang sudah menyibakkan rok pendek yang Risa pakai.
"Kamu nikmati saja sayang, biar aku yang bermain." pinta Denis yang terus melakukan aksinya.
Denis terus menggesek-menggesek milik Risa membuat Risa kelimpungan dan mulai mengeluarkan desahan dari mulutnya.
"Eemmhh ah...." desah Risa dengan manja.
"Terus sayang mendesah!" pinta Denis dengan begitu lembut.
Denis mengeluarkan jarinya lalu melebarkan se*ngkangan membuat Risa ngangkang dan Denis membenamkan wajahnya ditengah-tengah sl*kangan Risa.
Sesekali Denis meng*lum milik Risa dan menj*latinnya, nafas Risa mulai tidak beraturan karena merasakan nikmatnya permainan sang suami dibawah sana.
"Ahhh...ah...." desahan demi desahan Risa keluarkan, membuat Denis tidak tahan dan langsung membuka CD Risa dan manaruhnya dilantai.
Kini milik Risa sudah polos tanpa sehelai benang, Denis dengan cepat melepaskan kancing celananya dan menurunkannya agak sedikit kebawah.
Kini benda tumpul miliknya sudah tegang dan tidak sabar ingin masuk kedalam markas sudah dipegang oleh Denis.
"Percayalah sayang tidak akan ada yang mendengar decitan kita." dengan senyum mesum Denis berkata pada Risa.
"Ayo pindah ke kamar saja!" ajak Risa tapi Denis menggelengang kepalanya.
__ADS_1
"Sudah disini saja, sudah tanggung sayang ini sudah tegang sekali." pinta Denis dengan begitu lembut.
Risa mengangguk kepalanya, percuma kalau sedang main tempur-tempuran Denis tidak akan mendengar apa dirinya katakan.
Denis menidurkan Risa diatas sofa, lalu menyibakkan rok milik Risa agak ke atas.
Denis kembali melebarkan sl*kangan Risa dan langsung mengarahkan benda tumpul miliknya kedalam milik Risa.
Pelan-pelan Denis memasukan dan akhirnya
Jlebbbbbb..... ahh emmhh
Keduanya sama-sama mendesah, Denis terus menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, karena takut akan menyakiti sih Ucil di dalam sana.
"Sayang papa siram kamu biar kamu tambah subur." gumam Denis yang terus menggoyangkan pinggulnya.
Setelah beberapa lama akhirnya Denis sudah tidak tahan dan langsung menembak peluru miliknya kedalam markas Risa.
"Ahhh lega sekali sayang." akhirnya Denis puas dan langsung mencabut miliknya dari dalam milik Risa.
Denis menjatuhkan dirinya di atas sofa, kini dirinya sedang mengatur nafasnya, melihat Risa tampak kelelahan Denis tersenyum.
"Apa kamu lelah?" Denis kembali memakai celananya dengan benar.
Denis memunggut CD Risa lalu mengangkat Risa masuk kedalam kamar mereka. Denis membaringkan Risa diatas tempat tidur lalu menyelimutinya.
"Tidurlah aku akan menjagamu!" suruh Denis dengan begitu lembut.
Risa menganggukkan kepalanya dan Denis membaringkan tubuhnya disamping Risa, Denis terus mengelus-elus perut buncit Risa agar sih Ucil juga anteng.
Biarpun sudah menikah lama dengan Risa, tapi Denis itu tidak kalah BUCIN dengan Alan dan Panji, Denis itu sukanya dimanja terus dan Denis demen banget main tempur-tempuran diatas ranjang.
Di mall.....
Alya dan Panji baru saja sampai di mall, kini mereka sedang berjalan mencari-cari toko khusus dalaman.
"Sayang nanti belinya baju tidur yang sexy ya!" bisik Panji ditelinga Alya dengan jail.
"Apasih Pan, jangan jail deh." Alya malu-malu melihat Panji.
Panji tersenyum pada Alya, ntahlah semenjak mau menikah pikiran Panji memang sering mesum akhir-akhir ini.
"Aku jail pada calon istriku sendiri, ntar juga kalau sudah halal kamu pasti bakalan sering minta dengan manja." Panji terus menggoda Alya dengan manja.
Banyak sorot mata yang menatap kearah mereka tapi Panji mengabaikannya begitu saja.
"Pan.... lihat itu siapa?" Alya melihat sosok yang tidak asing yang sedang ditoko dalaman juga.
"Ayo kita kesana!!"
__ADS_1
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π