
Denis baru saja keluar dari kamar mandi, lalu Denis langsung menuju ke tempat tidurnya.
Melihat Risa yang masih membuka matanya, Denis langsung duduk disamping Risa, lalu Denis bertanya pada Risa.
"Kenapa belum tidur? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Denis dengan rasa khawatirnya.
Risa menggelengang kepalanya, lalu menjawab pertanyaan dari Denis.
"Tidak, Aku hanya belum mengantuk." jawab Risa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Denis.
Denis membelai pipi Risa dengan tangannya.
"Mungkin Risa kangen dimanja." pikir Denis.
"Katakan sayang! Apa Kamu mau sesuatu?" tanya Denis dengan penuh perhatian.
"Aku pingin makan ketoprak depan komplek." rengek Risa dengan begitu manja.
Risa tidak biasanya makan ketoprak, namun tiba-tiba Risa pingin makan ketoprak depan kompleknya, mungkin ini mau sih Ucil sengaja ngerjain Papanya.
"Tapi, Kamu masih sakit dan belum boleh banyak gerak, Apalagi sampai kecapean." kata Denis dengan kebawelannya.
"Tapi...." kata-kata Risa terpotong.
"Tapi.. Apa? Aku akan beli ketropaknya, Kamu tunggu dirumah ya! ingat jangan turun dari ranjang tempat tidur!" sambung Denis sambil memberikan peringatan pada Risa.
"Siapp suamiku." jawab Risa dengan begitu senang.
"Sih Ucil, Kamu itu iya paling pintar kalau mau ngerjain Papa kamu." gumam Risa sambil mengelus perutnya.
Denis langsung memakai jaketnya, lalu langsung pergi ke komplek depan untuk membeli ketoprak.
"Risa... Risa pinginnya itu ada-ada saja, sekali-kali kek pingin liburan apa jalan-jalan gitu, ini mah pinginnya yang gampang-gampang banget." gumam Denis sambil berjalan menuju ke depan komplek.
Sesampainya di depan komplek, Denis langsung menghampiri tukang ketoprak, lalu memesan satu ketoprak yang tidak pedas buat Risa.
Setelah pesanan ketopraknya jadi Denis langsung membayarnya, lalu Denis segera pulang kerumahnya.
"Besok apalagi yang Kamu minta Anak Papa." gumam Denis sambil melihat ketoprak yang dibawanya.
Sesampainya dirumah Denis langsung masuk ke dalam rumah, lalu Denis langsung mengunci pintu rumahnya.
Kini Denis langsung menuju ke kamarnya, lalu dengan senang hati Denis langsung berkata pada Risa.
"Sayang, ini ketopraknya!" kata Denis dengan begitu senang.
Risa langsung tersenyum, lalu menjawab perkataan dari Denis.
Denis langsung membuka bungkus ketoprak tersebut, lalu menaruhnya dipiring.
"Suapin..." Pinta Risa dengan begitu manja.
"Pakai apa mulut apa sendok?" goda Denis.
"Pake sendok, Aku tidak mau pakai mulutmu nanti Aku mual." jawab Risa dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Baiklah, buat istriku tercinta apapun akan Aku turuti." kata Denis sambil menyuapkan ketoprak ke dalam mulut Risa.
Pelan-pelan Risa mengunyahnya, lalu setelah beberapa suap Risa tidak mau lagi.
"Aku sudah kenyang." kata Risa.
"Tapi ini masih banyak." jawab Denis.
__ADS_1
"Buat Kamu saja suamiku." kata Risa.
Akhirnya mau tidak mau, Denis langsung memakan ketoprak sisa dari Risa.
"Tadi ngerengek minta ketoprak, baru makan sedikit langsung bilang sudah kenyang." kesal Denis dalam hatinya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Denis sudah menghabiskan ketoprak tersebut.
Setengah jam kemudian, Denis langsung membaringkan tubuhnya disamping Risa.
"Tidurlah, Kamu harus banyak istirahat!" kata Denis sambil mencium kening Risa.
Risa tersenyum, lalu mencium pipi Denis.
Alan dan Ayumi.
"Itu siapa?" tanya Alan.
Ayumi hanya tersenyum pada Alan.
"Kok malah senyum sih sayang, Aku tanya itu siapa?" tanya Alan lagi.
"Itu Pak Yusuf." jawab Ayumi.
"Pak Yusuf, Apa itu Papa Kamu?" sambung Alan sambil melihat wajah Ayumi.
"Iya Dia Papaku, ayo turun Kita bertemu dengannya!" kata Ayumi sambil tersenyum.
Alan terdiam.
"Ketemu calon Papa mertua mendadak." gumam Alan.
"Baiklah ayo Kita ketemu Papa Kamu." kata Alan dengan tegas.
Alan turun lebih dulu dari mobil, lalu Alan membukakan pintu mobilnya untuk Ayumi.
"Turunlah hati-hati!" pinta Alan sambil membukakan pintu mobilnya.
Ayumi turun dari mobil, lalu Alan kembali menutup pintu mobilnya dengan pelan.
Melihat Ayumi dan Alan berjalan menuju kearah mereka, Papa Yusuf langsung berkata pada Mama Renita.
"Ternyata Anak kita sudah mulai nakal, Dia sudah mulai membawa laki-laki ke rumah." kata Papa Yusuf pada Mama Renita.
"Biarkan sajalah Pa, biar Ayumi cepat nikah! biar Kita juga cepat punya cucu." jawab Mama Renita sambil tersenyum.
"Dasar Mama ini." omel Papa Yusuf.
Ayumi dan Alan langsung menghampiri Papa Yusuf dan Mama Renita.
"Selamat Malam Om, Tante." sapa Alan dengan begitu sopan.
"Deg deggan banget!" gumam Alan.
Alan langsung menyalami tangan lalu mencium tangan Papa Yusuf dan Mama Renita secara bergantian.
"Selamat malam Nak Alan." jawab Mama Renita dengan begitu lembut.
"Duduklah!" Mama Renita mempersilahkan Alan untuk duduk.
Kini mereka duduk dikursi yang ada di depan teras, Ayumi langsung masuk ke dalam untuk membuatkan minuman buat Alan.
"Apa Kamu serius dengan Ayumi?" tanya Papa Yusuf dengan tegas.
__ADS_1
"Serius Om." jawab Alan.
"Tunjukkan keseriusanmu, jangan cuma ajak jalan sana-sini Anakku." kata Papa Yusuf dengan raut wajah yang begitu serius.
Alan hanya terdiam.
"Ternyata Papa Ayumi tidak selembut Mama Renita." gumam Alan.
"Siap Om, setelah Ayumi lulus kuliah nanti Aku akan segera melamarnya." jawab Alan.
"Papa jangan buat Nak Alan takut!" kata Mama Renita.
"Papa ini, Papa Ayumi jadi Papa harus tegas pada siapapun laki-laki yang mendekati Anak Papa." jawab Papa dengan begitu tegas.
Ayumi keluar dari dalam rumahnya sambil membawa nampan yang berisi teh buat Alan dan kedua Orangtuanya.
"Minumlah dulu!" kata Ayumi dengan lembut.
"Iya sayang... ehh maksudnya Ayumi." jawab Alan gugup.
Mama Renita dan Papa Yusuf, sebenarnya menahan tawanya mendengar ke gugupan Alan namun mereka menyembunyikannya.
"Nak Alan minumlah!" kata Mama Renita dengan lembut.
"Iya Tante, terimakasih." jawab Alan dengan sopan.
Alan langsung meminum tehnya untuk menutupi rasa gugup pada dirinya.
"Haduh... ketemu sama calon mertuanya rasanya nano-nano banget." gumam Alan.
Ayumi tersenyum melihat Alan.
"Al, sekarang wajahmu begitu menggemaskan." gumam Ayumi.
Malam semakin larut, Alan berpamitan pulang dengan kedua Orangtua Ayumi, setelah berpamitan Alan langsung pergi meninggalkan rumah Ayumi dengan mobilnya.
Ayumi langsung membereskan, semua bekas minuman lalu menaruhnya ke belakang, setelah menaruh gelas-gelas kotor dibelakang Ayumi berjalan menuju ke kamar, namun tiba-tiba Papa Yusuf memanggil Ayumi.
"Yumi, kemarilah Nak!" pinta Papa Yusuf.
"Iya Pa." jawab Ayumi yang langsung berjalan menuju ke tempat Papanya duduk.
Kini Ayumi duduk ditengah-tengah kedua orangtuanya, Papa Yusuf langsung bertanya pada Ayumi tanpa bertele-tele.
"Katakan pada Papa! Kamu membawa laki-laki itu kerumah, Apa Kamu sudah yakin padanya?" tanya Papa Yusuf dengan tatapan wajah yang begitu serius.
"Iya Pa, Aku serius! Alan laki-laki yang sangat baik Pa." jawab Ayumi.
"Maka segeralah menikah, Papa tidak ingin Anak Papa pacaran lama-lama!!" kata Papa Ayumi dengan tegas.
Ayumi hanya terdiam.
"Tidak Papa, tidak Mama semuanya menyuruhku cepat menikah." gumam Ayumi.
"Iya Pa, nanti Aku akan bicarakan semuanya pada Alan." jawab Ayumi.
"Awas saja, jika laki-laki itu sampai menyakitimu atau membuatmu menangis, Papa tidak akan tinggal diam saja." kata Papa Yusuf yang penuh dengan ancaman.
Papa Yusuf sangat menyayangi Ayumi, jadi Papa Yusuf tidak mau kalau sampai Ayumi sampai menangis atau terluka hanya gara-gara seorang laki-laki.
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π
__ADS_1