
"Tok...tok..tok.." Suara ketukan pintu.
"Tunggu sebentar, Aku buka pintu!" Denis melepaskan dirinya dari pelukan Risa, Dan berjalan menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.
"Siapa??"
"Ceklek...." Denis membukakan pintu rumahnya.
Melihat ternyata yang datang adalah Yulia dan Hendra membuat Denis terkejut, Yulia dan Hendra adalah orang tuanya Alya.
"Om Hendra, Tante Yulia, Apa kabar?" Sapa Denis yang langsung menyalami tangan Yulia dan Hendra secara bergantian.
"Baik nak, Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" Jawab Yulia sambil berbalik bertanya pada Denis.
"Aku juga baik tante, Ayo masuk Om, Tante." Denis menyuruh Yulia dan Hendra masuk kedalam rumahnya.
Denis, Hendra dan Yulia berjalan bersama masuk kedalam rumah Denis.
Melihat ternyata orang tuanya yang datang, Alya langsung bangun dari tempat duduknya dan berlari untuk memeluk mama dan papanya.
"Mama, Papa....." Sapa Alya yang berlari untuk memeluk orang tuanya bergantian.
Panji terdiam mencerna sapaan Alya barusan.
"Mama, Papa? Apa mereka orang tua Alya dan mereka adalah calon mertuku." Batin Panji menebak-nebak.
"Pan, Jangan hanya melihat saja bangun dan sapa Tante Yulia dan Om Hendra! Mereka adalah calon mertua kamu." Kata Denis yang akhirnya menjawab rasa bingung pada diri Panji.
"Benar mereka adalah calon mertuaku." Batin Panji yang merasa senang.
"Iya kak," Jawab Panji singkat.
Panji bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ketempat Yulia, Hendra dan Alya sedang berpelukan.
"Apa kabar Om, Tante?" Sapa Panji dengan gugup, Panji juga langsung menyalami tangan orang tua Alya secara bergantian.
"Rasanya ketemu sama calon mertua itu seperti ini deg-degan tidak jelas." Batin Panji.
"Baik nak Panji, Apa Alya merepotkanmu?" Jawab Mama Yulia dengan lembut, Mama Yulia juga balik bertanya pada Panji.
"Om, Tante duduklah Risa buatkan minum dulu!" Dengan sopan Risa menyuruh kedua orang tua Alya duduk.
"Iya nak terimakasih." Jawab Mama Yulia dan langsung duduk di sofa.
Alya duduk disamping Yulia, Panji juga duduk disamping Yulia kini Yulia sekarang duduk ditengah-tengah Panji dan Alya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Tante nak, Apa Alya merepotkanmu?" Yulia kembali bertanya pada Panji.
"Tidak sama sekali Tan."Jawab Panji dengan begitu sopan.
"Syukurlah nak, Oh iya bagaimana kabar kedua orang tuamu nak?" Mama Yulia menanyakan kabar orang tua Panji.
"mereka semuanya sehat tan." Jawab Panji dengan sopan.
__ADS_1
Mama Yulia sangat tahu Alya itu seperti apa? Dan kalau Alya sampai membuat repot Panji yang memang Alya itu manja, Bawel dan banyak maunya juga.
Panji, Alya dan Mama Yulia mereka asik mengobrol.
Denis dan Hendra juga sedang berbincang.
"Tadi Om kerumah, Tapi mama dan papa kamu tidak ada." Kata Om Hendra.
"Mama nyusul papa ke luar kota Om, Oh iya Om kok tahu alamat rumah Denis?" Jawab Denis dengan sopan.
"Tadi sebelum kesini Om menelpon mama kamu dulu, Oh iya perut Istrimu buncit apa dia sedang hamil?" Jawab Hendra, Melihat perut Risa tampak bucit Hendra bertanya pada Denis.
Yulia dan Hendra memang tidak tahu alamat rumah Denis, Tapi tadi sebelum mereka pergi kerumah Denis. Yulian menelpon Rasti terlebih dahulu untuk menanyakan alamat rumah Denis, Karena Rasti sudah memberitahu pada Yulia dan Hendra kalau sekarang Alya tinggal bersama Denis dan Risa.
"Iya Om, Risa sedang hamil." Jawab Denis dan Hendra langsung menepuk pundak Denis.
"Om kira dulu bakal lama, Kan kalian dijodohkan ternyata." Hendra meledek Denis.
Mengingat Denis dan Risa itu dulu dijodohkan, Membuat Hendra berpikir Risa akan lama hamil tapi ternyata itu semua tidak sesuai dengan dugaan Hendra, Perjalanan pernikahan Risa yang sudah berjalan hampir 1 tahun lebih akhirnya Risa hamil, Iyalah Risa cepat hamil Denis main kuda-kudaannya semangat tiap malam.
"Ternyata waktu itu tepat sasaran Om pelurunya dan akhirnya aku tembakin saja." Sambung Denis dengan tawa jailnya, Membuat Hendra juga ikut tertawa lepas.
Melihat papa dan kakaknya tertawa begitu lepas membuat Alya penasaran, Sebenarnya apa yang mereka obrolkan?
"Apa yang Kak Denis obrolkan dengan papa? Sampai-sampai mereka tertawa lepas seperti itu?" Tanya Alya yang merasa penasaran.
"Sudah nak biarkan saja mereka." Jawab Mama Yulia agar Alya tidak penasaran lagi.
Risa duduk agak jauh dari Denis karena Denis sedang mengobrol dengan Om nya.
"Panji kemarilah nak!!" Panggil Papa Hendra dan Panji langsung berjalan menuju ke Papa Hendra sedang duduk.
"Iya Om, Ada apa?" Tanya Panji yang masih canggung.
"Duduklah!" Pinta Papa Hendra.
Panji duduk disamping Papa Hendra, Dengan tatapan serius Papa Hendra terus menatap Panji membuat Panji sebenarnya sangat deg-degan.
"Aduh tatapan calon papa mertua kok serius sekali, Aku jadi takut." Batin Panji dalam hati.
"Apa kamu sudah mencintai Alya?" Tanya Papa Hendra dengan serius.
"Iya pa...eh om aku sangat mencintai Alya." Jawab Panji dengan terbata-bata karena rasa canggungnya saat ini.
Ini adalah pertama kalinya Panji bertemu dengan calon mertuanya, Jadi wajar kalau Panji masih canggung dan berbicara terbata-bata karena gugup. Dalam hati Papa Hendra sebenarnya ingin tertawa tapi ini sedang serius jadi Papa Hendra menahan tawanya.
"Seperti Panji memang tulus mencintai Alya, Yulia tidak salah memilihkan Panji sebagai calon suami Alya." Batin Hendra dalam hati.
"Jika kamu sampai menyakiti hati anak om, Maka om tidak segan-segan untuk memisahkan kalian." Dengan tegas Papa Hendra bicara, Membuat Panji benar-benar agak takut.
"Aku janji om, Aku tidak akan menyakiti hati Alya dan aku akan selalu mencintainya." Dengan tegas juga Panji menjawab perkataan papanya Alya.
Papa Hendra menepuk pundak Panji, Lalu tersenyum pada Panji membuat Panji benar-benar bingung.
__ADS_1
"Tadi tatapannya garang sekali, Sekarang malah jadi senyum lembut seperti itu." Batin Panji dalam hatinya.
Papa Hendra bersikap tegas pada Panji, Karena biar bagaimanapun Panji adalah laki-laki yang akan dinikahkan dengan anaknya. Biarpun Panji adalah laki-laki yang dijodohkan dengan Alya tentu saja dalam hal ini Papa Hendra juga harus tegas.
"Baguslah nak, Om pegang janji kamu." Dengan tegas Papa Hendra memegang erat janji Panji.
"Tenang saja om, Jika Panji sampai menyakiti hati Alya, Aku juga akan langsung menghajarnya." Kata Denis agar Papa Hendra tidak kawatir lagi.
Jika Panji sampai menyakiti hati Alya, Denis juga akan menjadi orang pertama yang akan menghajar Panji pada saat itu juga.
Hari ini Panji pertama kali bertemu dengan calon mertuanya, Perasaan canggung deg-degan dan ntahlah itu hari ini benar-benar dirasakan oleh Panji.
"Seperti ini rasanya bertemu dengan calon mertuanya nano-nano tidak jelas." Batin Panji dalam hatinya.
Panji, Denis dan Hendr asik mengobrol Bahkan dengan jailnya Denis dan Hendra membahas obrolan dewasa, Membuat Panji ketar-ketir ya mungkin sebagai laki-laki dewasa Panji paham tapi sayangnya Panji masih lajang dan hanya bisa membayangkan apa yang diobrolkan mereka saat ini.
Risa, Alya dan Yulia mereka juga mengobrol sambil menikmati cemilan yang disediakan oleh Risa.
"Risa sudah berapa bulan nak Kadungannya?" Tanya Yulia pada Risa.
"Sudah jalan 7 bulan tan, Nanti tepat 2 hari setelah wisuda itu acara tujuh bulanannya." Jelas Risa dengan lembut.
"Iya nak, Jaga baik-baik kandungan! Terimakasih sudah menjaga Alya dengan baik. Alya sering bercerita tentang kamu kalau menelpon tante." Yulia mengucapkan terimakasih pada Risa, Yulia juga bercerita pada Risa kalau Alya sering bercerita tentang dirinya.
Risa tersenyum bahagia, Risa juga sangat senang bisa ikut menjaga Alya biarpun mereka masih seumuran tapi dalam hal menjaga Alya, Risa tetap berperan sebagai seorang kakak yang memperhatikan adiknya.
"Sama-sama tan, Alya tidak menceritakan hal buruk tentang aku kan tan?" Jawab Risa dan balik bertanya pada mamanya Alya, Membuat Mama Alya tersenyum.
"Tentu saja tidak nak, Alya menceritakan banyak hal tentang kamu katanya kamu itu sudah seperti sahabat dan kakak buat dia." Mama Alya menceritakan apa diceritakan oleh Alya setiap kali Alya menelpon dirinya.
Alya memang sangat bawel, Ketika menelpon sang mama pasti Alya menceritakan tentang apa saja yang dia lakukan, Tentang Risa, Tentang Denis bahkan Alya juga sering mengirim foto Panji dan dirinya pada sang mama, Membuat kadang sang mama hanya geleng-geleng kepala tapi juga bahagia karena Alya begitu terbuka pada dirinya.
Obrolan demi obrolan mereka bicarakan, Tawa canda diantara mereka membuat rasa canggung dihati Panji kini menjadi sebuah kehangatan.
"Ternyata orang tua Alya begitu baik." Puji Panji dalam hatinya.
"Pan bagaimana rasanya ketemu sama calon mertua?" Tanya Denis dengan jail.
"Rasanya nano-nano kak." Jawab Panji dengan senyum simpulnya.
Denis hanya geleng-geleng kepala.
"Dasar kamu ini." Omel Denis dan Panji hanya cengar-cengir saja.
Mama Yulia dan Papa Hendra mereka pamit pulang, Sedangkan Alya dan Panji kembali melanjutkan memilih undangan pernikahan untuk mereka nanti.
Perdebatan demi perdebatan Alya dan Panji lakukan, Tapi Denis dan Risa hanya membiarkannya saja.
"Biarkan saja mereka berdebat, Mending kita pacaran sambil nonton flim drama saja sayang." Kata Denis sambil terus memeluk tubuh Risa.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π
__ADS_1