
"Tapi suamiku yang paling tampan." kata Risa sambil melihat kearah Denis.
"Ris, mulutmu itu tidak bisa dijaga sekali sudah tahu Denis tidak suka Kamu memuji laki-laki lain." gumam Risa.
Mendengar Risa memuji dirinya Denis hanya diam saja, karena perasaanya sudah sangat kesal.
Sesampainya dirumah, Alya langsung turun dari mobilnya Denis begitu juga dengan Risa.
Kali ini Denis berjalan meninggalkan Risa begitu saja, sambil memainkan kunci mobil dijarinya Denis benar-benar mengabaikan Risa begitu saja.
"Sepertinya Kak Denis marah." kata Alya dengan suara pelan.
"Kakakmu memang seperti itu, suka labil." jawab Risa yang dengan suara lirih juga.
Mama Rasti yang melihat Denis berjalan menuju ke kamarnya, langsung bertanya pada Denis.
"Den, Kamu tidak makan dulu?" tanya Mama Rasti.
"Aku sudah kenyang Ma." jawab Denis yang langsung berlalu menuju ke kamarnya.
Risa dan Alya langsung menghampiri Mama Rasti lalu mereka menyalami punggung tangan Mama Rasti secara bergantian.
"Ris, sepertinya Denis sedang kesal." tanya Mama memastikan.
"Ntahlah Ma, Risa susul Denis ke kamar dulu ya Ma." pamit Risa pada Rasti.
Risa langsung pergi menyusul Denis ke kamarnya, sedangkan Mama Rasti kembali duduk lalu bertanya pada Alya.
"Apa Kakakmu sedang bertengkar?" tanya Mama Rasti pada Alya.
"Kak Denis sedang cemburu Mi." jelas Alya Mama Rasti.
Bukannya merasa kawatir Mama Rasti, malah langsung mengembangkan senyumnya.
"Dasar Denis, dulu saja ogah-ogahan dijodohkan dengan Risa, sekarang malah jadi cemburuan gitu." gumam Mama Rasti.
"Mami, kok malah tersenyum." kata Alya.
"Lucu saja sayang, biarkan saja mereka seleseikan urusan rumah tangga mereka, ayo Kita makan dulu." jawab Mama Rasti sambil mengajak Alya makan.
"Mi, Alya sudah makan soto 2 mangkok." jawab Alya dengan memasang wajah polosnya.
Mama Rasti hanya ternganga tidak percaya, ternyata Alya punya selera makan yang tinggi.
"Mi, Alya ke kamar dulu ya." pamit Alya.
"Iya Nak." jawab Mama Rasti singkat.
"Alya-Alya tubuh sekecil itu, tapi makannya banyak." gumam Mama Rasti.
Alya langsung menuju masuk kedalam kamarnya, sedangkan Mama Rasti kembali menonton televisi.
Dikamar Denis.
Denis sedang berdiri sambil menatap pemandangan luar rumah dari jendelanya.
"Sudah berulang kali Aku bilang, jangan pernah memuji laki-laki lain dihadapanku, tapi hari ini Dia melakukannya, dasar Istri durhaka." kesal Denis dalam hatinya.
Risa membuka pintu kamarnya dengan begitu pelan.
"Ceklek." suara gagang pintu.
Risa kembali menutup pintu kamarnya, lalu menguncinya. melihat Denis yang sedang berdiri Risa langsung berinisiatif memeluk Denis dari belakang.
"Mudah-mudahan cara ini bisa meredakan rasa kesalnya." gumam Risa.
Risa langsung berjalan menuju ketempat Denis berdiri, lalu memeluk Denis dari belakang dengan kedua tangannya.
Merasakan pelukan Risa, Denis langsung berusaha melepaskan tangan Risa dari tubuhnya.
"Lepaskan, sana peluk saja laki-laki br*ngsek itu!" cetus Denis dengan ketus.
Risa terus mempererat pelukannya, bahkan Risa tidak memperdulikan cetusan ketus dari mulut Denis.
"Jika Aku sampai memeluk laki-laki itu, pasti suamiku akan murka." jelas Risa sambil terus mempererat pelukannya.
"Sudah tahu suamimu akan murka, tapi Kamu malah memuji laki-laki lain dihadapannya." cetus Denis dengan nada kesal.
"Cie... suamiku sedang cemburu." ledek Risa.
__ADS_1
"Jangan ulangi lagi atau Aku akan menghukummu!" ancam Denis.
"Aku rela dihukum sayang, Apalagi kalau hukumannya seperti waktu itu." jawab Risa.
"Kalau hukumannya dikasih uang banyak, Wanita mana sih yang tidak mau." gumam Risa.
Ingatkan Risa pernah dikasih hukuman uang bergepok-gepok oleh Denis dan Risa berharap hukumannya sama seperti itu.
"Tidak, ini hukumannya lain lagi."tegas Denis.
"Hukumannya apa?" tanya Risa penasaran.
"Setiap kali Kamu membuatku cemburu, Kamu harus menghujaniku dengan 100 ciuman." tegas Denis sambil membalikkan badannya menghadap ke Risa.
Risa langsung bengong kini otaknya sudah muter-muter seperti komedi putar.
"Hukuman macam apa yang Denis buat?" pikir Risa sambil geleng-geleng kepala.
"Bagaimana Istriku?" tanya Denis sambil memainkan rambut Risa.
"Tidak mau, 100 ciuman Aku bisa muntah nanti." protes Risa dengan nada kesal.
"Biar Kamu tidak bandel lagi, hukuman diatas ranjang Kamu masih bandel jadi hukumannya diganti dengan menghujani 100 ciuman kalau Kamu membuatku cemburu." tegas Denis yang diiringi dengan senyum liciknya.
Akhirnya mau tidak mau tidak mau, Risa menerima kesepakatan hukuman terbaru yang dibuat oleh sang suami tercinta.
"Untung Aku mencintaimu jadi Aku turuti saja hukuman darimu." gumam Risa.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, akhirnya Risa meninggalkan Denis untuk segera mandi namun Denis malah mengikuti Risa, akhirnya mereka mandi bersama.
Ntah apa yang akan mereka lakukan dikamar mandi hanya mereka yang tahu.
Alan dan Ayumi.
Alan mengajak Ayumi ke sebuah taman bunga yang indah, disini Alan membicarakan sesuatu yang serius pada Ayumi.
Kini Alan dan Ayumi duduk dibawah pohon besar yang begitu rimbun, Ayumi duduk di samping Alan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alan.
Angin sore ini yang begitu sayup-sayup, membuat suasana hari ini terasa beda dari biasanya.
Alan memegang tangan Ayumi, lalu bertanya pada Ayumi dengan tatapan yang begitu serius.
Iya biarpun Alan dan Ayumi pacaran belum lama, tapi tetap saja niat Alan adalah menuju ke jenjang yang lebih serius yaitu sebuah pernikahan bukan hanya untuk main-main saja.
Ayumi terdiam, sambil melihat mata Alan.
"Apa Alan akan mengajakku menikah." pikir Ayumi dalam hatinya.
"Kenapa diam?" tanya Alan pelan.
"Aku siap, tapi tunggu Aku lulus kuliah dulu ya!" jawab Ayumi dengan raut wajah yang masih malu-malu.
"Aku tunggu, setelah Kamu lulus kuliah Aku akan segera melamarmu." tegas Alan dengan raut wajah yang begitu senang.
Ntahlah biarpun Ayumi malu-malu menjawabnya tapi mendengar Alan akan menunggu setalah lulus kuliah, hati Ayumi tiba-tiba merasa sangat bahagia.
"Mudah-mudahan Alan menjadi jodohku sampai akhir hayatku." Doa Ayumi untuk hubungan dengan Alan.
Hari semakin sore, Alan langsung mengajak Ayumi untuk pulang, tapi sebelum pulang Alan mengajak Ayumi makan dulu. setelah selesai makan Alan langsung mengantarkan Ayumi pulang kerumahnya.
Kembali ke Denis dan Risa.
Kini keduanya sudah sama-sama selesei mandi bareng, senangkan ya kalau udah halal jadi bisa mandi bersama.
Setelah berganti pakaian, Denis memeluk Risa dari belakang, lalu berbisik ditelinga Risa.
"Sayang ingat ya hukumanmu!" bisik Denis.
"Hukuman? Apa sungguh Aku harus menghujanimu dengan 100 kali ciumannya?" tanya Risa memastikan.
"Tentu dan Kamu harus melakukan nanti malam sebelum Aku tidur." tegas Denis dengan nada menggoda.
Risa hanya menghela nafasnya, karena kesalahannya sudah membuat Denis cemburu kini Risa harus menghujani Denis dengan 100 kali ciuman.
"Baik-baiklah, akan Aku lakukan nanti." jawab Risa dengan nada males.
"Istriku yang pintar, buatlah Aku cemburu setiap hari biar Aku memang banyak." kata Denis penuh dengan kemenangan.
"Dasar suami licik." kesal Risa sambil melepaskan tangan Denis dari pelukannya.
__ADS_1
Kini tangan Denis sudah terlepas dari pelukannya Risa, lalu Risa berjalan menuju keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Denis.
"Aku mau mengadu sama Mama, biar Kamu diomelin sama Mama." jawab Risa sambil berlalu meninggalkan Denis.
Denis langsung mengejar Risa, lalu menarik tangan Risa dengan cepat. Risa langsung menoleh kearah Denis, lalu bertanya pada Denis.
"Kenapa?" tanya Risa dengan nada kesal.
"Jangan ngadu sama Mama macam-macam." pinta Denis, karena takut Mamanya akan marah padanya.
Biarpun Denis sudah besar, tapi tetap saja Denis takut kalau sampai Mamanya marah apalagi gara-gara Denis menganggu menantu kesayangannya itu.
Dalam hati Risa, Risa hanya berusaha menahan tawanya menurut Risa suaminya itu begitu lucu.
"Ayo ke ruang tengah! Aku mau nonton televisi bersama Mama." kata Risa yang langsung menarik tangan Denis.
Denis mengikuti langkah kaki Risa.
"Awas saja jika sampai Kamu mengadu sama Mama, akan Aku dijewer nanti dikamar." Ancam Denis di dalam hatinya.
Sesampainya diruang tengah, Mama Rasti masih menonton televisi kali ini Mama Rasti menonton flim judulnya "Pelakor kena azab"
Mama Rasti marah-marah tidak jelas hanya karena sebuah adegan, pelakor bermesraan dengan suami wanita lain.
"Dasar pelakor tidak punya akhlak."
"Itu laki-laki juga, sudah punya Istri masih saja main wanita lain!"
"Kalau Aku yang jadi istrinya, sudah tak cakar-cakar itu pelakor."
Risa dan Denis langsung duduk di sofa di dekat Mama Rasti.
Kini Risa dan Denis sama-sama menggelengang kepalanya, melihat Mamanya sudah seperti orang tidak waras gara-gara tayangan televisi yang di tontonnya.
"Lihat tu Ris, kesal banget Mama sama yang namanya pelakor." kata Mama Rasti sambil melihat kearah Risa.
Risa langsung melirik kearah Denis.
"Risa sudah merasakan Ma, Anak Mama saja pernah punya wanita lain." gumam Risa yang langsung mengingat waktu Denis punya Maya Calista.
"Iya Ma, gara-gara pelakor rumah tangga bisa berantakan." kata Risa yang dengan sengaja menyindir Denis.
"Pelakornya cantik ya Ma." puji Denis sehingga mata bulat Risa langsung melotot.
Alya yang baru datang, langsung menyauti pujian dari Denis.
"Pelakor cantik, karena tugas mereka itu godain suami orang." sahut Alya sambil duduk di sofa.
"Ehh Alya jelek." ledek Denis.
"Apa? berani nyimpan pelakor dibelakang Kak Risa, Aku akan menghajar Kak Denis." ancam Alya dengan begitu serius.
"Aku akan memotong Adik kecilnya Denis nanti Alya." sambung Risa.
"Mama setuju sama Kamu Ris, kalau Papa kalian sampai punya wanita lain juga Mama pasti akan memotong Adik kecilnya." jelas Mama Rasti dengan nada serius.
Kini gara-gara flim pelakor mereka berempat sampai aduh mulut.
"Parah sih Risa, untung Aku sudah sangat mencintaimu, jadi Aku tidak akan main wanita lain lagi." gumam Denis sambil mengedipkan satu matanya pada Risa.
"Risa sayang jangan jadi Istri durhaka, kalau Kamu tidak mau suamimu main dengan pelakor ya Kamu harus melayani dengan baik." jelas Denis sambil senyam-senyum pada Risa.
Risa langsung menatap Denis dengan tatapan yang begitu membunuh, kini Risa sudah seperti macam yang ingin menerkam mangsanya.
"Kamu Den yang suami durhaka, tega main wanita lain disaat Kamu sudah menikah." batin Risa yang diiringi dengan rasa kesal.
"Iya Denis sayang, Aku tidak akan menjadi istri durhaka asalkan Kamu juga tidak menjadi suami durhaka." sindir Risa dengan sengaja.
Kini Mama Rasti dan Alya saling menatap lalu menggeleng kepalanya.
Sedangkan Risa dan Denis saling menatap dengan tatapan kesal.
Pokonya hari ini gara-gara flim pelakor, kini Risa dan Denis malah saling main perang-perangan sindiran.
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π
__ADS_1