
Keesokan harinya, Denis bangun dari tempat tidurnya seperti biasanya Denis langsung pergi mandi. namun pagi ini Denis buru-buru karena bangunnya kesiangan.
"Aduh, Aku kira masih jam 6 ternyata sudah jam setengah 8" keluh Denis.
Denis mandi dengan begitu cepat, setelah selesai mandi Denis langsung berganti pakaian dengan rapi. tanpa sarapan lebih dulu Denis langsung berangkat ke kantor.
"Kacau semuanya" kesal Denis.
Dimobil
Denis melanjuhkan mobil dengan kecepatan agak kencang.
"Ngerasain banget tidak ada istri" keluh Denis.
"Tidur tidak ada yang bangunin"
"Baju kerja tidak ada yang nyiapin, padahal kalau ada Risa semuanya sudah siap Aku tinggal pakai saja, sarapan ada yang nyiapin"
"Sekarang jangankan baju, tidur aja sampai kesiangan, sarapan saja tidak sempat"
Berbagai keluhan terucap dari mulut Denis, kini Denis merasakan tidak ada istrinya dirumah apa-apa tidak ada yang ngurusin.
Dikantor
Alan sudah sampai dari tadi jam setengah 7, kini Alan sedang sibuk dengan laptopnya.
"Tumben Denis, belum datang" kata Alan, yang belum melihat langkah kaki Denis di depan ruangannya.
"Aku yakin bocah bodoh itu pasti kesiangan" kata Alan lagi, sambil menggelengkan kepalanya.
Denis baru saja sampai dikantor, setelah memarkirkan mobilnya Denis langsung menuju keruangannya.
Langkah kaki Denis terhenti di depan ruangan Alan, lalu masuk kedalam ruangan Alan.
"Alan..." panggil Denis.
"Tuan Denis, Aku yakin kamu pasti terlambat" kata Alan, yang ternyata dugaannya benar.
"Semalaman Aku tidak bisa tidur, gara-gara memikirkan Risa" kata Denis, yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa yang ada diruangan Alan.
"Memangnya kamu belum jemput Risa juga?" tanya Alan dengan tatapan begitu kesal pada Denis.
Denis menggelengkan kepalanya.
"Denisss... sana keluar dari ruanganku atau darah tinggiku akan naik gara-gara kebodohanmu" omel Alan, yang merasa kesal pada Denis.
"Hey sekretaris brengsek, mana boleh kamu mengomeli bosmu seperti itu!" protes Denis, karena merasa tidak terima.
"Aku sedang mengomeli sahabatku, yang begitu bodoh!!" saut Alan, dengan lirikan kesalnya.
"Iya Risa, membuatku semakin bodoh" jawab Denis dengan pengakuannya.
"Maya membuatmu lebih bodoh lagi" timpal Alan, dengan tatapan begitu kesal.
"Al, bagaimana sudah memikirkan cara untuk membongkar selingkuhan Maya" tanya Denis, dengan tatapan yang begitu serius.
__ADS_1
"Kita tunggu, kabar dari Ray dulu saja" jawab Alan, yang begitu tegas.
Kruyuk...kruyuk....
"Aku lapar sekali" gumam Denis.
"Al, temenin Aku sarapan yuk" rengkek Denis.
"Hmm, tidak enakan tidak ada istri" ledek Alan, yang penuh dengan kejailan.
"Iya tidak enak, biasanya apa-apa ada Risa yang nyiapin, tidur ada dikelonin sekarang mah boro-boro" keluh Denis, yang merasakan tidak ada Risa.
Padahal baru kemarin ditinggal sama Risa, Denis udah kalang kabut apa-apa serba keteter.
"Sekarang, Kamu kelonin aja itu bantal guling tiap malam! anggap aja itu Risa" timpal Alan yang diiringi dengan tawanya.
Denis menatap Alan dengan tatapan tidak suka.
"Teman lagi susah, malah diledekin mulu" kesal Denis.
"Kan Aku bilang jemput Risa, Denis!!" kata Alan yang kembali mempertegas ucapannya.
Denis terdiam sesaat.
"Apa Aku jemput Risa saja ya? tapikan Aku belum punya bukti tentang kebusukan Maya"
"Sudah ayo temenin Aku sarapan, jangan ceramah terus" omel Denis.
Alan langsung bangun dari tempat duduknya, untuk menemani Denis sarapan dikantin, lalu keduanya langsung pergi ke kantin.
Risa
Risa sudah berada dikampus, sekarang Risa sedang bersama dengan Panji dan Ayumi.
"Ris, kenapa mukamu seperti sedang tidak senang?" tanya Ayumi, yang melihat Risa tidak seceria biasanya.
"Kamu kenapa Ris?" tanya Panji.
"Aku hanya sedang banyak pikiran saja, terus sama kurang tidur saja" jawab Risa.
Panji menatap Risa dengan tatapan penuh arti.
"Risa kamu begitu cantik" gumam Panji, yang diam-diam memperhatikan wajah Risa.
"Yumi, nanti kita pergi belanja yuk" ajak Risa.
"Boleh, ayok" jawab Ayumi dengan begitu antusias.
Ayumi memang senang sekali pergi jalan, jadi jangan ditanya pasti Ayumi akan langsung setuju kalau diajak pergi berbelanja.
"Aku ikut dong, Aku deh yang tlaktir belanjaan kalian" kata Panji, dengan nada merayu.
Risa terdiam.
"Denis tidak akan tau kalau Aku pergi dengan Panji" gumam Risa.
__ADS_1
"Boleh banget itu Pan" jawab Ayumi.
Panji yang tau pasti Risa sedang memikirkan suaminya, Akhirnya bertanya kembali pada Risa.
"Ris, Apa kamu mengizinkan Aku ikut jalan bareng dengan kalian?" tanya Panji memastikan.
Risa tersenyum pada Panji.
"Tentu Pan, kamu boleh ikut" jawab Risa dengan senang hati.
Panji tersenyum pada Risa.
"Tidak apa-apalah Aku kan jalan bertiga dengan Risa, tidak hanya berdua saja" gumam Panji.
"Setelah selesai kelas, kita langsung pergi jalan ya" kata Risa.
"Oke siap..!!" jawab Panji dan Ayumi dengan begitu kompak.
"Pakai mobil siapa?" tanya Panji.
"Pakai punya kamu aja Pan, Aku tidak bawa mobil soalnya" jawab Risa.
"Sama, Aku tadi diantar supir" timpal Ayumi.
"Baiklah..!!" jawab Panji, dengan senang hati.
Risa dan kedua sahabatnya, langsung masuk kelas karena kelas sudah akan dimulai.
Maya
Maya sedang duduk terdiam sendirian dirumah, sambil memikirkan Denis.
tiba-tiba ponsel Maya berdering.
"Keanu..." kata Maya dengan nada girang.
Mengangkat telpon.
"Hallo sayang.." sapa Maya dengan begitu manja.
"Sayang, kita ketemuan ya" kata Keanu.
"Kapan?" tanya Maya.
"Tidak sekarang, sekitar seminggu lagi Aku akan pulang jadi nanti kita bisa bersenang-senang" jawab Keanu.
"Baiklah sayang, cepatlah pulang! Aku sudah sangat merindukanmu" kata Maya dengan begitu manja.
"Sama Aku juga sudah merindukanmu" jawab Keanu, yang langsung mematikan saluran ponselnya.
Maya menaruh ponselnya diatas meja.
"Sepi sekali, sebagai Aku pergi jalan-jalan aja daripada dirumah" gumam Maya.
"Apa Aku pergi ke kantor Denis saja?" kata Maya, sambil berpikir.
__ADS_1
Bersambung