Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
236.Kabar bahagia.


__ADS_3

"Sayang buat anak lagi yuk!!"


Risa menjewer telinga suaminya, sungguh Denis itu keterlaluan istrinya baru lahiran beberapa hari lalu tapi sudah meminta produksi lagi.


"Sakit... sakit." Denis memegangi telinganya, lalu melepaskan tangannya dari telinga sang suami.


"Makanya jangan aneh-aneh itu Danis saja masih merah." Risa melihat kearah anaknya, Denis tersenyum simpul merasa bersalah.


"Lagian kamu juga harus puasa ehem-ehem dulu, soalnya kan aku habis melahirkan juga," Risa tersenyum dengan jail Risa menjulurkan lidahnya kepada sang suami.


"Puasanya lama?" Tanya Denis dengan manja.


"Iya lama suamiku, makanya kamu jangan aneh-aneh! Kalau kamu tidak mau tergoda denganku, kamu tidur dikamar sebelah saja suamiku," Risa kembali tersenyum jail pada sang suami.


Dalam hati Denis, sabar ya adik kecilku kamu harus puasa dulu!


"Danis kamu jangan seperti papamu yang pencandu itu ya nak!" Risa menatap Danis dengan sorot mata penuh kasih sayang.


"Istriku jangan bicara sembarangan pada anak kita," pinta Denis sambil menjewer telinga Risa.


"Sakit ih...." Risa memegangi telinganya.


Hari ini mereka memperdebatkan hal sepele, tapi mereka sangat lucu mungkin jika Danis sudah bisa bicara, pasti Danis akan melarang orang tuanya agar tidak berdebat.


.


.


Satu minggu kemudian.


Ayumi baru bangun dari tidurnya, Ayumi langsung bergegas menuju ke kamar mandi karena rasanya sangat mual sekali.


"Hoek...Hoek..." anggap saja suara orang mutah.


"Kok tiba-tiba mual sekali, kepala aku juga sangat pusing." Batin Ayumi.


Alan yang baru membuka matanya tangannya mencari-cari sosok istrinya disampingnya.


"Kok tidak ada, Ayumi kemana?" Gumam Alan.


"Sayang.....!"


"Kamu dimana?"


"Hoek..hoek..." Ayumi kembali mengeluarkan cairan kental dari dalam mulutnya.


"Aku kenapa sih?" Batin Ayumi.


Alan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Alan terus bertanya karena merasa sangat kawatir pada istrinya.


"Aku mual, kepalanya juga pusing." Jawab Ayumi.


"Ayo tiduran saja diatas kasur, aku akan panggil Dokter untuk memeriksamu." Alan langsung membopong tubuh mungil Ayumi.


Alan membaringkan Ayumi diatas ranjang tempat tidurnya, lalu Alan segera menghubungi Dokter.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, akhirnya Dokter datang juga dan langsung memeriksa keadaan Ayumi.


"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" Tanya Alan dengan rasa kawatir.


"Istri tuan baik-baik saja dan sekarang dia sedang hamil dua bulan," Jawab sang Dokter.


"Hamilllll?" Alan langsung memancarkan wajah bahagianya.


"Selamat ya," Dokter mengucapkan selamat kepada Alan dan Ayumi.


Ayumi mengelus perutnya dengan begitu bahagia.


"Aku bahagia sekali, akhirnya aku hamil." Batin Ayumi dalam hatinya.


Setelah pemeriksaan selesai Dokter memberikan obat untuk Ayumi minum.


Setelah semuanya selesai, Dokter langsung berpamitan kepada Alan dan Ayumi.


"Sayang kamu hamil," Alan langsung menghujani wajah cantik Ayumi dengan ciuman. sungguh bahagia sekali akhirnya sang istri hamil.


"Aku akan telpon mama, telpon Denis, telpon Panji, aku akan kabari semuanya agar semua tahu Alan Mahendra akan menjadi seorang papa!!!" Alan terus berbicara seperti burung beo, kini Alan sedang sibuk dengan ponselnya untuk mengabari kabar bahagia ini pada semuanya.


Ayumi tersenyum melihat betapa bahagianya suaminya mendengar kehamilannya.


"Lihat nak papamu sudah seperti orang tidak waras," Batin Ayumi dalam hatinya.


Setelah selesai mengabari semuanya Alan kembali ke ranjang tempat tidurnya dan langsung memeluk Ayumi dengan erat.


"Istriku aku bahagia sekali," bisik Alan ditelinga Ayumi.


Pagi ini Alan dan Ayumi akhirnya mendapat kabar bahagia.


.


.


"Sayang Alan mengabariku katanya Ayumi hamil," Denis mengambil alih Danis dari pangkuan Risa.


"Hamil?" Risa memasang wajah terkejut sekaligus bahagia.


"Iya hamil." Tegas Denis.


"Kalau Alya sudah hamil belum ya?" Risa merasa penasaran.


"Panji atau Alya belum memberikan kabar bahagia mereka," jawab Denis.


.


.


Dirumah Panji dan Alya.


Alya dan Panji sedang menikmati sarapan pagi bersama, Panji memakan sarapannya dengan lahap tapi Alya hanya melihat sang suami yang sedang menikmati makanannya.


"Kamu tidak makan?" Tanya Panji dengan nada lembut.


"Aku tidak selera maka suamiku." Jawab Alya dengan tatapan datar.

__ADS_1


Panji terdiam.


"Sepertinya akhir-akhir ini selera makan Alya berkurang," Gumam Panji.


Panji yang tahu kalau sang istri sangat suka sekali makan, bahkan Alya bisa menghabiskan banyak makanan sekali makan tapi akhir-akhir ini selera makan Alya memang sedikit berkurang.


"Kamu harus makan nanti kamu sakit!" Panji menyuapkan makanan ke dalam mulut Alya, tapi Alya menolaknya.


"Sayang nanti kalau aku lapar aku akan makan," tolak Alya dengan lembut.


Panji kembali menaruh makanannya diatas piring, lalu Panji memegang kedua pipi Alya.


"Apa kamu mau makan sesuatu?" Tanya Panji dengan sorot mata penuh kasih sayang.


"Aku tidak pingin apa-apa suamiku, aku hanya sedang tidak mau makan nasi, setiap kali bau nasi saja perut aku sudah enek," Jawab Alya sambil menatap wajah tampan Panji.


"Tapi kamu tidak enek saat melihatku kan?" Tanya Panji dengan nada menggoda.


"Aku tidak suka aroma parfum kamu aku suka pingin mutah kalau menciumnya." Jawab Alya yang membuat Panji agak terkejut.


Dalam hati Panji, Alya bilang dia tidak suka aroma wangi parfum aku? Bukannya waktu itu yang membelikannya dia dan biasanya juga dia menyukainya bahkan dia suka tidur diketekku demi mencium wangi parfum itu.


"Bukannya kamu suka dengan wangi parfum itu sayang?" Tanya Panji dengan lembut.


"Sekarang aku tidak suka!" Alya menundukkan kepalanya, kini Alya tiba-tiba memasang wajah sedih dihadapan sang suami.


Panji semakin bingung melihat Alya tampak sedih.


"Apa aku salah bicara? Dia tiba-tiba sedih seperti itu?" Dalam hati Panji, Panji semakin dibuat bingung oleh sang istri.


"Baiklah nanti aku akan membuangnya," Panji tersenyum lalu mencium kedua pipi Alya dengan lembut.


Tiba-tiba Alya tersenyum senang membuat Panji merasa kebingungan.


"Dasar Alya, apa kamu sedang menguji kesabaranku?" Gumam Panji agak kesal.


"Sekarang kamu makan ya!" Panji berusaha membujuk sang istri agar mau makan, tapi lagi-lagi Alya menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Panji menyerah dan kembali melanjutkan sarapannya. Alya hanya melihat Panji yang sedang menikmati makanannya.


"Aku kok pingin makan bubur ayam dekat rumah Kak Denis ya," Batin Panji dalam hatinya.


"Sayang jalan yuk!" Ajak Panji dengan manja.


"Jalan kemana?" Alya tersenyum pada Panji.


"Kita makan bubur ayam dekat rumah Kak Denis, tiba-tiba aku pingin makan itu." Panji memasang wajah memelas.


Alya terkejut sang suami yang tidak terlalu suka dengan bubur ayam, tiba-tiba meminta makan bubur ayam.


"Bukannya kamu tidak terlalu suka dengan bubur ayam?" Tanya Alya.


"Iya tapi tiba-tiba aku kepingin." Panji kembali memasang wajah memelas, membuat Alya tidak tega.


"Baiklah ayo kita kesana!!"


BERSAMBUNG πŸ™

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2