
Dengan raut wajah yang masih agak kesal, Denis langsung membuka gagang pintu.
"Ceklek..." suara gagang pintu.
"Siapa sih menganggu saja." kesal Denis dalam hatinya.
Dengan perasaan yang masih kesal, Denis melihat ternyata yang ada adalah Alan dan Lissa.
"Dasar sekertaris sialan, menganggu saja." omel Denis dalam hatinya.
"Kalian, ada apa kesini jam segini?" tanya Denis sambil melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi.
"Aku mau menengok Risa, Aku juga bawakan bubur untuk Risa." jawab Alan sambil menunjukkan tentengan yang ada ditangannya.
Denis tersenyum, lalu bertanya pada Lissa.
"Lalu Kamu Lis?" tanya Denis.
"Saya sengaja ikut dengan sekertaris Alan, untuk melihat keadaan Nona Muda, Tuan." jawab Lissa dengan senyum menyebalkannya.
"Aku tidak mungkin bilang, kalau Aku kesini biar bisa dekat dengan Sekretaris Alan." gumam Lissa.
"Masuklah!" Denis menyuruh Alan dan Lissa masuk kedalam rumahnya.
Alan dan Lissa berjalan dibelakang Denis, sesampainya diruang tengah, Alan dan Lissa langsung menyapa Risa.
"Apa kabar Nona." sapa Lissa pada Risa.
"Kabar Aku baik Lis." jawab Risa sambil melihat kearah Lissa.
"Hay Ris, ini bubur untukmu." sapa Alan sambil menaruh tentengan plastik yang berisi bubur diatas meja.
Risa langsung menyunggingkan senyumnya, lalu langsung mengambil bubur yang Alan bawah diatas meja.
"Hay juga sekretaris Alan, terimakasih buburnya." Risa mungucapkan terimakasih pada Alan sambil menjawab sapaan dari Alan.
Risa langsung membuka bubur tersebut dari tempatnya, lalu langsung memakannya.
Alan dan Lissa, mereka duduk di sofa, Alan sudah duduk agak jauh dari Lissa namun Lissa malah berpindah dan duduk disamping Alan.
"Ini enak sekali!" kata Risa sambil menikmati bubur yang dibawa oleh Alan.
Risa melihat Lissa dengan tatapan tidak suka, apalagi Lissa terlihat agak genit pada Alan, bahkan Lissa sampai berpindah duduk disamping Alan.
"Sepertinya Lissa, ada maksud lain. Awas saja jika Kamu sampai macam-macam sama Alan Aku akan menjambak rambutmu." kesal Risa dengan tatapan tidak suka pada Lissa.
Biar bagaimanapun Alan adalah kekasihnya Ayumi yang tidak lain adalah sahabat Risa sendiri, jadi kalau sampai Alan menyakiti hati Ayumi, Risa adalah salah satu orang yang akan memberikan pelajaran untuk Alan.
Alan hanya membiarkan Lissa duduk disampingnya,karena Alan juga tidak mau sampai membuat keributan di depan Denis dan Risa.
"Lissa, kenapa Kamu harus berpindah duduk disampingku!" omel Alan dalam hatinya.
Risa terus melirik kearah Lissa, dengan lirikan mata yang tidak suka pada Lissa.
"Sofa begitu lebar, kenapa harus duduk berdekatan seperti itu dengan Sekretaris Alan." kesal Risa dalam hatinya.
Melihat tatapan Risa, Alan sadar kalau Risa sedang melirik kearah Lissa, apalagi posisi duduknya yang begitu berdekatan bahkan lengan tangan Risa bisa menyentuh lengan tangan Alan.
"Kamu memang sangat tampan sekretaris Alan." Lissa memuji Alan dalam hatinya.
Alan yang melihat lirikan tidak suka dari Risa pada Lissa, sebenarnya merasa tidak enak.
"Aduh pasti Risa berpikir macam-macam, kesal banget sama Lissa." gumam Alan yang diiringi rasa kesal dalam hatinya.
"Sayang berhentilah menatap Alan! habiskan cepat buburmu!" omel Denis, yang ternyata dari tadi memperhatikan Risa melirik Lissa namun Denis salah paham, Denis pikiran Risa sedang melirik kearah Alan.
"Aku tidak sedang menatap sekretaris Alan." tegas Risa, sambil melihat wajah Denis.
Denis duduk disamping Risa, lalu Alan bertanya pada Denis.
"Den, bagaimana keadaan Bayinya?" tanya Alan mengingat kemarin Risa jatuh dikamar mandi.
"Allahamdulillah baik-baik saja Al." jawab Denis sambil melihat kearah Alan.
"Sepertinya Lissa, ada maksud lain, lihat saja duduk saja sampai dempetan kaya gitu." batin Denis sambil memperhatikan Lissa.
Lissa adalah salah satu pegawai dikantor Denis, namun seperti Lissa menyukai Alan tapi Alan selalu mengabaikannya.
Kini mereka berempat sedang asik mengobrol, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuknya lagi, lalu dengan cepat Denis langsung membukakan pintu rumahnya.
__ADS_1
"Tok...tok..tok..." suara ketukan pintu.
"Mudah-mudahan Ayumi, biarkan saja Alan dan Ayumi berperang." Doa Denis dalam hatinya.
Denis langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek...." suara gagang pintu.
Betapa senangnya, melihat benar-benar Ayumi yang datang.
"Akhirnya Doaku terkabul, siap-siap Kamu Al dicabik-cabik sama Ayumi." Batin Denis yang diiringi dengan senyum jailnya.
"Yumi, silahkan masuk!" Denis menyuruh Ayumi untuk masuk kedalam rumahnya.
Tiba-tiba Panji yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya, menghampiri Ayumi dan Denis.
"Apa hanya Ayumi yang disuruh masuk?" tanya Panji tiba-tiba.
Denis langsung menatap Panji dengan tatapan yang begitu sengit.
"Untuk apa Kamu datang kerumahku?" tanya Denis dengan tatapan sengit.
"Tentu saja, Aku juga mau melihat keadaan Risa, Aku denger dari Ayumi Risa sedang sakit jadi Aku bawakan buah-buahan untuk Risa." jawab Panji sambil memperlihatkan parcel buah yang ada ditangannya.
Denis menghela nafasnya, biarpun Denis tidak suka dengan Panji, lebih tepatnya sangat cemburu pada Panji, Denis juga menyuruh Panji untuk masuk kedalam rumahnya.
"Biarkan sajalah laki-laki brengsek ini masuk, awas saja kalau matanya terus melihat wajah cantik Risa, akan Aku jadikan cincangan daging Kamu." batin Denis yang diiringi ancaman untuk Panji.
"Baiklah, cepat Kamu juga masuk!" suruh Denis dengan agak ketus.
Ayumi dan Panji langsung mengikuti langkah Denis masuk kedalam rumahnya, melihat sosok Alan, Ayumi terus memperhatikannya.
"Bukankah itu Alan, lalu siapa wanita yang duduk disampingnya itu? bukankah itu yang kemarin Aku lihat dikantor? Wahh jangan-jangan Dia biji cabe yang ingin merusak hubungan orang (Dasar calon pelakor)." pikir Ayumi dengan rasa kesal dihatinya.
Ayumi langsung berjalan kearah Risa lalu menghampiri Risa, kini Ayumi langsung memeluk tubuh Risa.
"Risa, Kamu sudah baikan?" tanya Ayumi sambil memeluk erat tubuh Risa.
"Yum, Kamu membuatku sesak nafas, Aku sudah baikan Yum." jawab Risa.
Ayumi langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Risa, lalu Ayumi langsung melihat kearah Alan.
Alan tersenyum, lalu langsung menjawab pertanyaan dari Ayumi.
"Iya, Kamu datang sama siapa? kenapa tidak bilang kalau mau kesini? kan Aku bisa menjemputmu." jawab Alan sambil bertanya balik pada Ayumi.
"Menjemputku? Kamu saja datang kesini dengan wanita lain." jawab Ayumi sambil menatap Lissa dengan tatapan tidak suka.
Ayumi berjalan menuju kearah Alan, lalu Ayumi berkata pada Lissa.
"Maaf Nona, bisa geser sedikit!" kata Ayumi dengan begitu sengaja.
"Enak saja duduknya mepet-mepet pacar Aku." kesal Ayumi dengan lirik tidak suka pada Lissa.
Lissa langsung bergeser dari tempat duduknya.
"Dasar Anak kecil, tidak sopan sekali Kamu menyuruhku geser dari sebelah Alan." kesal Lissa dalam hatinya.
"Ayumi datang denganku." Panji menjawab pertanyaan dari Alan.
Dengan tatapan kesal karena rasa cemburunya, Alan langsung menjawab jawaban dari Panji.
"Aku tidak bertanya padamu Anak kecil." jawab Alan dengan tatapan kesal.
Namun Panji mengabaikan jawaban dari Alan, kini Panji duduk, lalu memberikan parcel buah yang dirinya bawa Risa.
"Ris ini untukmu, Kamu harus makan buah-buahan biar Kamu cepat sehat." kata Panji dengan penuh perhatian.
Denis melirik Panji dengan tatapan tidak suka.
"Dasar laki-laki brengsek!! sok-sokan memperhatikan istriku." kesal Denis dalam hatinya.
Risa mau menerima parcel buah dari Panji, namun dengan cepat Denis langsung menerimanya.
"Terimakasih." kata Denis sambil menerima parcel buah dari tangan Panji.
"Iya sama-sama Suami cemburuan." jawab Panji sambil meledek Denis.
"Dasar suami Risa ini, bikin Aku pingin ngakak." gumam Panji.
__ADS_1
Risa melihat kearah Panji, lalu Risa menggelengkan kepalanya.
"Dasar Denis, cemburunya masih saja berlebihan." gumam Risa.
Ayumi terus menatap Lissa dengan tatapan tidak suka, bahkan dengan sengaja Ayumi menyandarkan kepalanya di bahu Alan. Ayumi terus mengusap-usap tangan Ala dengan tangannya, lalu Ayumi bertanya pada Alan.
"Wanita yang datang bersamamu itu siapa? perasaan genit banget, bahkan Dia duduk sangat dekat denganmu." tanya Ayumi dengan suara pelan.
Alan kembali memegang tangan Ayumi, lalu menjawab pertanyaan dari Ayumi.
"Dia hanya teman kerjaku sayang." jawab Alan.
Denis dan Risa saling melempar senyum satu sama lain.
"Sukurin emang enak kedatangan pacar sah, dasar biji cabe." gumam Risa dengan senyum bahagianya.
Panji yang mendengar perkataan Alan, langsung menyambunginya.
"Teman kerja, tapi datangnya berduaan ya." sambung Panji dengan sengaja.
"Ehh kau Anak kecil diamlah, jangan memperkeruh suasana." omel Alan pada Alan.
"Keruh! Dikira air bekas cucian kali." jawab Panji sambil menggelengkan kepalanya.
Lissa terus menatap Alan dengan tatapan begitu genit, Ayumi yang melihat tatapan Lissa merasa sangat kesal dan tidak suka sekali.
"Jaga mata ya, ini pacar orang!" sindir Ayumi dengan sengaja.
"Iya hati-hati Yum, ada biji cabe disini." sambung Risa dengan sengaja.
Denis melihat Kearah Alan, lalu ikut menimpali perkataan Ayumi.
"Iya Yum, itu ada bawa biji cabe kerumah." timpal Denis sambil melihat kearah Alan.
"Aduh kalian ini dasar kompor." omel Alan.
Lissa yang sadar mereka semua sedang menyindir dirinya, langsung menjawab sindiran dari mereka.
"Iyalah biji cabe pilihan dan untuk kuwalitas jangan diragukan lagi." jawab Lissa sambil tersenyum genit pada Alan.
Ayumi hanya menggelengkan kepalanya.
"Biji cabe pilihan, dimana-mana memang calon pelakor itu tidak punya ahklak." gumam Ayumi tidak percaya mendengar jawaban dari Lissa.
"Sudahlah Yum, memang biji cabe itu kadang tidak punya ahklak." Kata Risa pada Ayumi.
"Iyalah Ris, mereka tidak tahu malu." jawab Ayumi.
Lissa merasa sangat kesal sekali pada Ayumi karena Ayumi terus menyindirnya, lalu Lissa tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
"Ehh Kamu Anak kecil, jaga ya mulutmu! Kamu itu hanya kecil dan berhenti menyindirku." Omel Lissa tiba-tiba.
Ayumi juga ikut beranjak dari tempat duduknya, kini Ayumi sudah berdiri dihadapan Lissa.
"Dengar ya Nona, biarpun Aku Anak kecil setidaknya Aku punya akhlak dan tidak berniat merebut pacar orang tidak seperti dirimu yang dari tadi terus menatap pacarku dengan tatapan kotormu itu." jawab Ayumi yang merasa tidak terima.
Ayumi yang sedari sadar kalau Lissa terus menatap Alan dengan tatapan genit, membuat Ayumi murka dan harus segera membasmi Lissa agar tidak menganggu pacarnya lagi.
"Sepertinya akan terjadi perang." bisik Denis ditelinga Risa.
"Biarkan saja! Lissa calon pelakor yang harus dibasmi." jawab Risa yang diiringi dengan senyum senangnya.
"Hajar Yum, Aku mendukungmu!" gumam Risa.
Panji hanya duduk sambil melipat kedua tangannya ke dada, sedangkan Alan menghela nafasnya melihat pertunjukan dihadapannya.
"Lissa, Aku serahkan pada Ayumi saja biarkan saja Ayumi yang mengurusnya." gumam Alan.
Alan sudah sering memperingati Lissa bahkan sering menolak Lissa, namun Lissa tetap tidak mau tahu, jadi ya Alan membiarkan Ayumi yang mengurusnya.
"Dasar Anak kecil kurang ajar!!!!!!!! teriak Lissa yang langsung mengangkat tangannya untuk men*mpar pipi Lissa ....
Bersambung ๐
Terimakasih para pembaca setia ๐
Dengerin juga Audio "Perjodohan karena hutang" suara kakaknya bagus Authornya senang banget dengerin suara kakaknya๐
__ADS_1