
Panji dan Alya benar-benar dibuat bingung oleh Orangtua Panji.
"Dijodohkan!!??" Panji dan Alya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Kini semuanya sudah duduk diruang keluarga, Panji duduk disebelah Alya, Mama Anita terus melihat kearah Panji dan Alya tatapan mata Mama Anita sungguh begitu bahagia.
"Kalian sangat serasi." Mama Anita memuji Panji dan Alya, bahwa mereka sangat serasi.
Alya dan Panji hanya diam saja, Hari ini membuat mereka sangat bingung yang awalnya hanya ingin menolong Panji untuk menjadi pacar pura-pura Panji, Ini malah lain lagi ceritanya dan Orangtua Panji bilang kalau mereka ternyata dijodohkan.
Panji melihat Mamanya dengan tatapan serius, Lalu Panji memberanikan diri untuk bertanya pada Mamanya.
"Mama, Maksudnya Aku dan Alya dijodohkan itu apa? Terus darimana Mama kenal dengan Alya?" Tanya Panji dengan rasa ingin tahunya.
Mama Anita dan Papa Pandu langsung melempar senyum bahagia mereka, Lalu Mama Anita langsung menceritakan semua pada Panji awal mula terjadinya perjodohan Panji dan Alya.
"Akan Mama ceritakan." Tegas Mama Anita.
Flashback
Waktu itu tidak sengaja ada acara kantor diluar negeri dan kebetulan diacara itu Mama Anita dan Papa Pandu bertemu dengan, Kedua Orangtua Alya dan Alya diacara tersebut.
Papanya Alya ternyata temannya Papa Pandu sejak kecil, Begitu juga Mamanya Alya adalah teman sekolah Mama Anita.
Akhirnya mereka saling mengobrol, Orangtua Alya juga langsung mengenal Alya pada kedua Orangtua Panji.
"Anita, Kenalkan ini putriku satu-satunya." Yulia atau Mamanya Alya, Memperkenalkan Alya pada Anita atau Mamanya Panji.
"Cantik sekali, Siapa namamu sayang?" Tanya Mama Anita dengan nada lembut.
Alya tersenyum pada Mama Anita, Lalu langsung menjabat tangannya Mama Anita.
"Namaku Alya, Bi." Jawab Alya dengan sopan dan langsung menyalami tangan Mama Anita, Lalu mencium punggung tangan Mama Anita.
Biarpun hidup diluar negeri tapi Alya di didik dengan baik, Oleh kedua orangtuanya. Ketika Alya bertemu dengan orang-orang dari kotanya dan orang-orang itu lebih tua darinya, Pasti Alya akan bersalaman lalu mencium punggung tangannya.
"Bibi, Namanya Bibi Anita dan Ini Paman Pandu." Mama Anita juga memperkenalkan dirinya pada Alya, Lalu Mama Anita juga memperkenalkan Papa Pandu pada Alya.
Setelah berkenalan dengan Orangtuanya Panji, Alya langsung pamit pulang duluan dari acara tersebut karena Alya kurang enak badan.
Alya pulang diantar oleh supirnya, Setelah Alya pulang kedua orangtua Alya dan Orangtua Panji saling mengobrol.
"Yul, Anakmu sangat cantik, Apa Dia sudah punya kekasih?" Tanya Anita.
"Belum, Dia sedang fokus kuliah." Jawab Yulia sambil menikmati hidangan yang ada dimeja.
"Sungguh Anakmu belum punya kekasih?" Tanya Pandu pada Hendra.
"Aku melarangnya pacaran, Apalagi pergaulan diluar negeri sangat bebas sekali, Jadi Aku takut nanti Alya malah terjerumus ke pergaulan bebas." Jelas Hendra pada Pandu.
Mama Anita begitu senang mendengar cerita tentang Alya, Apalagi Alya juga begitu sopan.
"Panji menurut Mama Alya adalah wanita yang cocok untukmu." Batin Mama Anita.
"Yulia, Aku juga punya Anak laki-laki yang usianya mungkin hanya berbeda sedikit dengan Alya." Cerita Mama Anita sambil menunjukkan foto Panji yang ada diponsel miliknya.
Yulia melihat foto Panji, Lalu tersenyum.
"Anaknya Anita tampan sekali." Batin Yulia.
"Apa Dia sudah punya kekasih?" Tanya Yulia.
"Belum, Dia juga masih kuliah.Dia juga tidak pernah membawa perempuan kerumah." Jawab Anita.
"Bagaimana kalau Anak-anak Kita, Kita jodohkan saja!" Usul Anita.
Dengan senang hati Yulia dan Hendra, Juga langsung menerima.
"Boleh, Kita atur pertemuan untuk Anak-anak Kita nanti ya." jawab Yulia dengan senang hati.
__ADS_1
Iya pikir Yulia apa salahnya, menjodohkan Alya dengan Panji lagian Panji juga ternyata adalah Anak dari teman sekolahnya dulu.
Setelah pembicaraan itu, Mereka para orangtua sebenarnya berniat mempertemukan Panji dan Alya secepatnya, Namun siapa sangka ternyata Alya kuliahnya dipindahkan ke kota asalnya.
Jadi belum sempat membicarakan perjodohan ini pada Alya, Alya sudah pindah kuliah ke kota asalnya. Dan Yulia dan Hendra, Berniat membicarakan masalah ini ketika mereka pulang nanti ke kota asalnya.
Namun takdir berkata lain, Ternyata Alya dan Panji sudah saling bertemu sebelum orantua mereka memperkenalkan mereka satu sama lain.
Of flashback.
"Dan ternyata kalian sudah pacaran." Kata Mama Anita tiba-tiba.
"Iya Papa tidak menyangka, Ternyata Anak Papa pandai sekali mencari seorang istri." Sambung Papa Pandu.
Alya hanya diam, Kini hati dan perasaan menjadi campur aduk tidak jelas, Panji langsung bangun dari tempat duduknya lalu menarik tangan Alya.
"Ikut denganku!" Pinta Panji sambil menarik tangan Alya.
"Mau kemana?" Tanya Alya bingung.
"Ini apalagi, Tiba-tiba dijodohkan." Batin Alya.
"Mama, Aku mau bicara dulu dengan Alya." Kata Panji pada Mamanya.
Mama Anita langsung menganggukan kepalanya, Lalu Panji langsung membawa Alya pergi dari ruang keluarga.
Ntah kemana Panji akan membawa Alya?
Dirumah Mama Rasti.
Hari ini Risa dan Mama Rasti begitu kompak, Bahkan sekarang mereka sudah ada di dapur untuk membuat kue coklat kesukaan Denis.
"Ris, Denis sangat suka dengan kue coklat buatan Mama." Cerita Mama Rasti pada Risa.
"Ajarin Risa ya Ma, Biar Risa buatkan juga untuk Denis waktu dirumah nanti." Pinta Risa.
Dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar, Mama Rasti mengajari Risa membuat kue kesukaan Denis.
"Den, Ris, Mama mau pergi arisan." Pamit Mama Rasti yang sudah berpakaian rapi.
"Iya Ma hati-hati." Jawab Risa.
"Pintu jangan dikunci, Takut Alya pulang!" Pinta Mama Rasti.
Risa sudah memberi tahu Mama Rasti, Kalau Alya pergi ke toko buku dengan Panji dan Risa juga bilang Panji adalah sahabat Risa, Jadi Mama Rasti tidak khawatir.
Mama Rasti langsung pergi meninggalkan Denis dan Risa, Sedangkan Denis dan Risa kembali menonton televisi.
Kini keduanya duduk di sofa, Risa mengambil kue yang tadi dibuatnya dengan Mama mertuanya.
"Sayang cobain ini kue buatanku!"Pinta Risa dengan manja.
Risa menyuapkan kue ke dalam mulut Denis, Lalu Denis mulai mengunyahnya.
"Rasanya terlalu pahit." Keluh Denis.
Risa langsung memanyunkan bibirnya, Lalu Denis langsung mendarat bibirnya dibibir Risa.
"Cup..." Denis mendaratkan bibirnya dibibir Risa.
Setelah beberapa lama Denis melepaskannya.
"Kue ini memang pahit, Tapi jika makannya sambil mencium bibirmu pasti akan manis." Goda Denis dengan tatapan mesumnya.
"Dasar, Selalu saja mencuri kesempatan." Omel Risa pada Denis, Tiba-tiba Denis merebahkan kepalanya kepangkuan Risa.
Denis mendekatkan kepalanya, Ke perut Risa yang sudah agak buncit kandungan Risa sudah berjalan mau 4 bulan.
"Sayang, Sih Ucil kapan keluarnya?" Tanya Denis dengan raut wajah yang begitu polos.
__ADS_1
"Tunggu saatnya, Nanti kalau Anak Kita lahir pasti Aku akan lebih sibuk dengan Anak Kita." Jawab Risa, Sambil memberikan pengertian boada Denis.
Denis hanya terdiam.
"Nak kelak kalau Kamu sudah lahir, Kita rebutan Mama ya." Batin Denis sambil mencium perut membuat Risa merasa kegelian.
"Tidak apa-apa, Yang penting Papanya juga harus dapat jatah." Jawab Denis dengan begitu menyebalkan.
Risa hanya menggelengkan kepalanya, Apalagi Risa tahu sekali kalau suaminya itu sangat pencandu kalau masalah ranjang.
"Tunggu Anak kita tidur!" Sambung Risa.
"Kita titipkan saja pada Mama dan Papa, Kalau kita mau membuat adek untuk sih Ucil." Saran Denis yang diiringi dengan senyum kemenangan.
Risa hanya tersenyum, Ternyata suaminya ada saja idenya.
"Kamu mau punya Anak berapa?" Tanya Denis pada Risa.
"Jangan banyak-banyak, Aku cuma pingin Anak kembar." Jawab Risa sambil mengelus rambut Denis.
"Bagaimana caranya buat Anak kembar?" Tanya Denis, yang membuat Risa bingung karena Risa juga tidak tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu Suamiku." Jawab Risa.
Risa terus mengelus-elus rambut Denis, hingga tidak terasa Denis sudah tidur dipangkuannya.
Risa mengelus pipi Denis, Kini Risa terus melihat Denis dengan tatapan bahagia.
"Suamiku, Kamu adalah laki-laki terbaik dalam hidupku." Batin Risa.
Panji dan Alya.
Kini mereka berdua duduk ditaman halaman belakang rumah Panji.
Panji duduk dengan raut wajah yang begitu frustasi, Sedangkan Alya juga merasa bingung.
"Awalnya pura-pura, Tapi ternyata lain ceritanya." Keluh Alya dengan nada lemas.
"Aku juga tidak tahu kalau gadis yang dijodohkan denganku adalah Kamu." Sambung Panji dengan nada lemas juga.
Panji menatap kearah Alya, Lalu Panji berkata pada Alya.
"Kamu sudah punya kekasih?" Tanya Panji dengan tatapan mata yang begitu serius.
Melihat tatapan Panji membuat Alya merasa sangat risih.
"Jangan menatapku seperti itu!"Tegas Alya.
"Jawab saja pertanyaanku!" Pinta Panji masih dengan tatapan mata yang begitu serius.
Alya menuduhkan kepalanya, Kini Alya menjawab pertanyaan dari Panji tanpa melihat kearah Panji.
"Aku belum punya kekasih." Jawab Alya dengan suara pelan.
"Aku juga belum punya kekasih." Sambung Panji dengan begitu senang.
Ntah apa yang membuat Panji begitu senang mendengar jawaban dari Alya.
"Lalu?" Tanya Alya dengan nada malas.
"Lalu, Apa salahnya kita sama-sama menerima perjodohan ini saja!" Jawab Panji dengan serius.
Alya langsung mendongkahkan kepalanya, Lalu langsung melihat kearah Panji.
"Apa Kamu bilang? Sama-sama menerima." Jawab Alya sambil balik bertanya pada Panji.
Panji menganggukan kepalanya, Lalu Alya menggelengang kepalanya.
Bersambung ๐
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia๐