Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
178.Calon mantu.


__ADS_3

Sesampainya dikamar, Panji langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Satu minggu harus bawa kekasih kerumah? Mau cari pacar dimana Aku?" Pikir Panji.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Panji sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, Sebelum berangkat ke kampus Panji sarapan dulu.


Diruang makan sudah ada Papa Pandu dan Mama Anita yang menunggunya, Kini Panji hanya diam sambil duduk dikursi meja makan.


"Aduh tatapan Mama dan Papa benar-benar seperti macan yang ingin menerkam mangsanya." Gumam Panji sambil menyendok nasi ke piringnya.


Panji mulai menikmati sarapan,Namun sedang enak menikmati makanannya, Tiba-tiba Mama Anita berkata pada Panji.


"Panji, jangan lupa secepatnya bawa kekasihmu kerumah!" Pinta Mama Anita dengan tegas.


Panji hanya menghela nafasnya, Kini nasi yang ada di dalam mulutnya rasanya sulit sekali untuk ditelan, Tenggorokan Panji juga rasa kering sekali.


"Iya Ma iya, Secepatnya Panji bawa!" Jawab Panji dengan tegas.


"Biarpun Aku tidak tahu siapa yang akan Aku bawa nanti!" Batin Panji.


"Pokoknya Kamu harus cepat bawa calon mantu buat Mama dan Papa." Pinta Mama Anita dengan entengnya.


Aduh Mama Anita, Tidak tahu kalau Panji itu jomblo kali, Ngebet banget pingin dibawain calon mantu.


"Iya Papa juga sudah pingin gendong cucu." Sambung Papa Pandu.


"Iya iya Mama, Papa." Jawab Panji yang langsung pergi meninggalkan kedua orangtuanya, Tanpa berpamitan karena merasa kesal pada mereka.


Panji langsung menuju keluar dari rumahnya, Lalu Panji segera melajukan mobilnya menuju ke kampus.


Sesampainya dikampus, Panji langsung memarkirkan mobilnya, Lalu Panji berjalan menuju ke dalam kampus.


Ditengah-tengah perjalanannya, Panji melihat Alya dan Ayumi sedang duduk, Panji terus memperhatikan Alya.


"Alya cantik juga, Mungkin Aku bisa meminta bantuannya untuk menjadi pacar bohonganku." Pikir Panji.


Panji langsung menghampiri Ayumi dan Alya yang sedang duduk, Karena tidak melihat Risa, Panji langsung bertanya.


"Risa mana?" Tanya Panji sambil duduk ditengah-tengah Alya dan Ayumi.


"Masih dimobil, Ihh itukan tempat duduk banyak! Kenapa harus duduk disampingku." Jawab Alya sambil mengomeli Panji.


"Biar lengket Alya, Kaya amplop dan perangko." Ledek Ayumi.


"Iya dalamnya surat cinta." Sambung Panji.


Dimobil Risa, Sedang menjalankan ritual paginya sebagai istri.


"Cium dulu!" Pinta Denis sambil menunjukkan bibirnya dengan jadi telunjuk.


Tanpa melakukan protes, Risa langsung mencium bibir Denis.


"Cup," Satu cuman mendarat dibibir Denis.


"Sekarang istriku, Semakin pinter!" Puji Denis.


"Gimana tidak pintar, Tiap pagi diingetin Mulu." Sambung Risa.


Setelah melakukan ritual paginya sebagai seorang istri, Risa langsung turun dari mobilnya, Lalu segera masuk ke dalam kampus.


Setelah melihat Risa masuk, Denis langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya.


Sesampainya dikantor, Denis melewati ruangan Alan, Denis melihat Alan sedang senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras.


"Sepertinya laki-laki bodoh itu sudah mulai tidak waras."Gumam Denis, yang langsung masuk kedalam ruangan Alan.


"Apa Aku perlu membawamu ke rumah sakit jiwa?" Tanya Denis tiba-tiba, Membuat Alan membuyarkan semua lamunannya.


"Dasar, Masuk ruangan orang tidak ketuk pintu dulu." Omel Alan pada Denis.


Salah Alan pintu ruangan tidak ditutup, Jadi ya Denis masuk begitu saja tanpa permisi ataupun mengetuk pintu.


"Hey, Berani sekali Kamu mengomeli atasanmu." Denis kembali mengomeli Alan.


Melihat Alan memegang kotak kecil, Yang berisi cincin berlian, Denis langsung merebutnya.


"Wihh akhirnya sekretaris Alan, Akan memantapkan hatinya untuk satu wanita." Kata Denis dengan lantang, Sambil memegang kotak cincin tersebut.


Alan langsung berusaha merebut kotak tersebut, Namun tidak berhasil.


Kini Denis langsung duduk dikursi yang terbatas dengan meja kerja Alan.


"Kapan Kamu akan melamarnya?" Tanya Denis dengan begitu antusias.


"Tiga bulan lagi, Ayumi akan lulus kuliah jadi Aku berniat untuk segera melamarnya." Jelas Alan pada Denis.


Denis langsung mengacungkan jempol, Ya Denis memberikan dukungan penuh buat Alan untuk segera melamar Ayumi.


"Menikahlah secepatnya! Untuk masalah pernikahan tidak usah khawatir, Nanti Aku yang akan membiayai semuanya." Denis menyuruh Alan segera menikah.


"Terimakasih Den, Iya Aku akan segera menikahnya." Tegas Alan.


"Punya Istri enak, Tiap malam kita punya bantal guling bernyawa yang bisa diajak bermain."Ledek Denis dengan begitu jailnya.


"Dasar payah, Apa Kamu ini menganggap Risa sebagai bantal guling bernyawa!" Omel Alan pada Denis..


Denis hanya terkekeh, Lagian tidak salah kok mengistilahkan Risa sebagai bantal guling bernyawa menurut Denis.

__ADS_1


"Nanti Kamu akan tahu, Setelah menikah!" Ledek Denis, dengan tatapan mesum.


Membuat Alan merasa jijik, Lalu segera mengusir Denis dari dalam ruangannya.


"Keluarlah, Dari ruanganku! Atau Aku akan ikutan menjadi gila sepertimu." Alan mengusir Denis dengan tatapan jijik.


Denis hanya tersenyum pada Alan, Lalu mengedipkan satu matanya pada Alan.


Denis menaruh kotak kecil yang berisi cincin berlian dimeja kerja Alan, Kini Alan hanya menggelengkan kepalanya karena merasa jijik pada sahabatnya sekaligus atasannya itu.


Alan kembali mengambil kotak cincin tersebut, Lalu Alan mencium cincin berlian tersebut.


"Aku akan segera menyematkan cincin ini dijari manis Ayumi." Gumam Alan.


Iya Alan sudah memesan cincin berlian itu dari jauh-jauh hari, Setelah jadi Alan langsung mengambilnya, Cincin berlian yang berharga ratusan juta itu akan digunakan untuk melamar kekasihnya yaitu Ayumi Larasati.


Tapi tidak usah kawatir, Gajian Alan tidak akan habis hanya untuk membeli satu cincin berlian untuk Ayumi.


Dikampus.


Setelah selesai kelas, Tiba-tiba Panji menarik tangan Alya, Membuat Alya sangat bingung.


Ayumi dan Risa hanya saling menatap, Lalu sama-sama menggelengkan kepalanya.


"Mereka kenapa? Mereka tidak akan main cakar-cakaran?" Tanya Risa pada Ayumi.


"Cakar-cakaran memangnya mereka kucing Ris." Jawab Ayumi yang langsung melepaskan tawanya.


"Sudahlah, Ayo ke kantin saja! Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka." Ajak Ayumi yang langsung menggandeng tangan Risa.


Risa dan Ayumi, Mereka langsung menuju ke kantin kampus sedangkan Panji tidak tahu menculik Alya kemana?


Di balkon.


Panji langsung mempepetkan tubuh Alya ke tembok, Lalu Panji mengunci tubuh Alya dengan tubuhnya, Kini Alya hanya diam karena saat ini jarak wajah mereka juga hanya beberapa centi saja.


"Detak jantungku, Berdetak lebih cepat dari biasanya." Gumam Panji, yang berusaha menyembunyikan detak jantungnya.


"Pan, Kamu jangan macam-macam ya!" Ancam Alya dengan tatapan serius.


Panji terus menatap wajah cantik Alya.


"Ternyata Alya, Cantik juga." Panji memuji Alya dalam hatinya.


"Hey, Dasar otak mesum!" Kesal Panji pada Alya.


"Lepaskan Aku!" Pinta Alya, Karena Panji sudah memegang tangannya.


"Panji, Apa Kamu ternyata laki-laki tidak baik." Gumam Alya.


"Aku akan melepaskanmu, Tapi dengan satu syarat." Jawab Panji sambil terus menatap wajah cantik Alya.


"Apasih Pan, Syarat apa? Lagian Aku juga tidak berbuat salah padamu." Tanya Alya dengan begitu bawelnya.


"Syaratnya, Kamu harus menjadi pacar pura-puraku!" Tegas Panji, yang membuat darah Alya langsung naik dan tatapan Alya begitu membunuh.


"Dasar laki-laki kurang ajar, Kamu pikir Aku gadis apaan? Disuruh menjadi pacar pura-puramu!" Alya langsung marah pada Panji.


Panji bingung harus bagaimana memenuhi syarat dari orangtuanya, Panji juga tidak mau dijodohkan, Panji juga tidak mungkin mengajak Risa karena sudah punya suami atau suami Risa akan murka, Panji juga tidak mungkin menjadikan Ayumi sebagai pacar pura-puranya atau Alan akan membunuhnya.


Panji langsung memasang wajah memelas pada Alya, Kini Panji terus memohon pada Alya.


"Aku sekarang tidak boleh gengsi, Daripada Aku dijodohkan." Gumam Panji.


"Alya, Aku mohon bantulah Aku, Jika Aku tidak membawa kekasih secepatnya makan Mamaku akan membunuhku." Panji memohon pada Alya agar membantunya.


Alya terdiam.


"Apa Orangtua Panji begitu jahat, Sampai-sampai Panji mau dibunuh gara-gara tidak membawa kekasih kerumahya." Pikiran Alya terus berputar.


"Alya, Aku janji Aku akan melakukan apapun untuk membalas semuanya." Panji kembali memberikan penawaran pada Alya.


Alya mendorong tubuh Panji dengan pelan, Lalu mereka berdua duduk berdampingan diatas balkon.


"Pan, Membohongi Orangtua itu tidak baik nanti dosa." Kata Alya dengan nada lembut.


Panji terdiam, Sambil terus memperhatikan wajah cantik Alya.


"Ternyata Alya bisa lemah lembut juga bicaranya." Gumam Panji.


"Aku tau Alya, Tapi Aku juga tidak mau dijodohkan." Jawab Panji dengan pelan.


"Alya, Aku mohon bantu Aku." Panji kembali memohon pada Alya.


Alya merasa kasian pada Panji, Ya biar bagaimanapun sekarang mereka sudah berteman biarpun lebih sering berdebat.


"Baiklah, Aku akan membantumu." Jawab Alya dengan pasrah.


"Daripada Panji mati konyol gara-gara tidak membawa kekasih pulang, Ya sudah Aku mau saja jadi pacar pura-puranya." Pikir Alya.


"Ingat hanya pacar pura-pura ya!" Tegas Alya.


"Iya Alya iya," Jawab Panji yang langsung memancarkan senyum bahagianya.


Kini Panji langsung mencubit pipi Alya dengan kedua tangannya.


Setelah selesai berbicara pada Alya, Panji dan Alya langsung menyusul Ayumi dan Risa ke kantin.

__ADS_1


Sesampainya dikantin, Risa dan Ayumi hanya tersenyum pada Panji dan Alya. Lalu mereka langsung memesan makanan, kini mereka berempat hanya diam sambil menikmati makanannya.


Pulang kuliah hari ini, Panji akan langsung mengajak Alya kerumahnya.


"Kak Denis, Aku pinjam Alya nya dulu ya." Kata Panji pada Denis.


Disini Panji tanpa sadar memanggil Denis dengan sebutan Kakak.


"Cie Kakak." Ledek Alan yang diiringi tawa jailnya.


"Mau kemana?" Tanya Denis dengan tegas.


"Mau ke toko buku Kak." Jawab Alya dengan cepat.


"Aku tanya sama Panji!" Tegas Denis pada Alya.


Panji melihat kearah Denis, Lalu menjawab pertanyaan dari Denis.


"Iya Kak, Mau ke toko buku." Jawab Panji.


"Baiklah, Nanti antar Alya jangan sampai telat!" Kata Denis dengan tegas.


"Siap Kak!" Jawab Panji.


Panji dan Alya langsung menuju ke mobil Panji, Lalu mereka langsung naik ke dalam mobil, Hari ini Panji akan mengajak Alya bertemu dengan Orangtuanya.


Ayumi dan Alan juga langsung menaiki Mobilnya, Begitu juga dengan Risa dan Denis.


Didalam mobil Denis.


"Sayang, Apa Alya dan Panji sedang dekat?" Tanya Denis tiba-tiba.


"Aku juga kurang tahu." Jawab Risa yang memang tidak tahu.


Iya biar bagaimanapun Alya dan Panji kerjaannya berdebat, terus hari ini akur ya merasa aneh saja.


Sesampainya dirumah, Risa langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Kita akan tetap dirumah Mama sampai kapan?" Tanya Risa tiba-tiba.


"Sampai Kamu melahirkan Nak." Jawab Mama Rasti tiba-tiba.


Risa langsung membenarkan posisinya, Lalu langsung duduk.


"Tinggallah disini sampai melahirkan, Biar Mama juga bisa jagain Kamu." Pinta Mama Rasti dengan lembut.


Risa langsung memancarkan senyum bahagianya, Apalagi Mama mertuanya sangat menyayanginya dan begitu memperhatikannya.


"Mama benar sayang, Kita tinggal disini sampai Kamu melahirkan." Sambung Denis yang setuju dengan usulan Mamanya.


"Iya Ma, Terimakasih ya Ma." Jawab Risa yang langsung mengucapkan terimakasih pada Mama mertuanya, Lalu Risa langsung memeluk tubuh Mama Rasti.


Mama Rasti membalas pelukan dari Risa, Denis hanya bisa bersyukur ternyata wanita pilihan Mamanya tidak pernah salah.


Panji dan Alya.


Sesampainya dirumah Panji, Panji langsung mengandeng tangan Alya dengan begitu mesra untuk menyakinkan kedua orangtuanya.


"Tok..tok.." Panji mengetuk pintu rumahnya.


Mama Anita yang sedang duduk, Langsung bangun untuk membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek.." Suara gagang pintu.


Betapa terkejutnya Mama Anita melihat Panji, Membawa seorang gadis, Mama Anita terus Melihat Alya.


"Perasaan kenal."Gumam Mama Anita sambil terus berpikir.


"Bibi Anita.... !!" Seru Alya yang merasa terkejut.


"Kamu Alya kan? Anaknya Hendra dan Yulia." Tanya Mama Anita memastikan.


"Iya Bibi, Ini Alya." Jawab Alya dengan sopan.


"Apa gadis cantik ini kekasihmu Pan?" Tanya Mama Anita pada Panji.


"Eemmhh Iya Ma." Jawab Panji.


Panji merasa sangat binggung, Sedangkan Mama Anita sudah membawa Alya masuk kedalam rumahnya.


"Pa, Lihat siapa yang datang." Kata Mama Anita dengan begitu antusias.


"Bukankah itu Alya, Calon mantu Kita." Jawab Papa Pandu yang tidak kalah antusias.


Kini Panji dan Alya sama-sama menatap dengan tatapan begitu bingung.


"Calon mantu?" Gumam Panji.


"Panji adalah Anaknya Paman Pandu dan Bibi Anita?" Batin Alya tidak percaya.


"Mama bilang calon mantu?" Tanya Panji binggung.


"Iya Alya, Itu gadis yang mau Mama jodohkan denganmu Nak." Tegas Mama Alya.


Panji dan Alya benar-benar dibuat bingung oleh Orangtua Panji.


"Dijodohkan!!??" Panji dan Alya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

__ADS_1


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2