
Alya merasa sangat kesal, Lalu melempar ponselnya dengan begitu kasar.
"Bayangkan saja, Setelah lulus kuliah langsung nikah? Gumam Alya.
Malam hari kemudian, Panji duduk di depan teras rumahnya.
Sambil menikmati teh dan cemilan,Panji membayangkan wajah cantik Alya.
"Alya, Kamu itu cantik jadi tidak ada salahnya Aku menerima perjodohan ini." Kata Panji sambil membayangkan wajah cantik Alya.
Panji merebahkan tubuhnya di atas lantai, Lalu menatap indahnya langit malam ini.
"Mama, Papa, Kalian tidak salah memilihkan Aku wanita hanya saja Dia sedikit galak."
"Tapi biarpun galak, Kelak Dia akan menjadi istriku."
"Alya, Aku tidak perduli kamu menolak perjodohan ini yang penting aku menerimanya."
Kini di depan teras rumahnya, Panji sudah seperti orang tidak waras, Kini Dia bicara sendiri bahkan sesekali Dia tertawa karena membayangkan jika dirinya menikah dengan Alya nanti.
"Alya, Bayangkan saja jika kita sudah menikah, Maka kita akan sering ribut diatas ranjang daripada cecok mulut." Gumam Panji, Dengan pikiran mesumnya.
Malam ini Panji benar-benar tidak waras, Gara-gara kesambet cintanya Alya.
Sepertinya Panji sudah mulai kasamaran.
Dikamar Alya.
Setelah selesai makan malam, Alya langsung masuk kedalam kamarnya. Kini Alya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Mama, Papa, Kalian membuatku gila."
"Kalian menjodohkan anak kalian yang masih polos ini, Semau kalian, Bahkan kalian tidak meminta izin dariku terlebih dahulu."
"Kuliah cuma tinggal beberapa bulan lagi, Setelah lulus kuliah Aku akan kalian nikahkan."
"Kalian tahu, Cita-cita anak kalian ini masih panjang."
"Ahhh pokoknya Alya kesal, Alya pingin makan orang!!!"
"Mama, Papa, kalian tega sama Alya."
Didalam kamar, Alya juga sudah seperti orang tidak waras. Gara-gara masalah perjodohannya dengan Panji, Kini Alya merasa kesal dengan kedua orangtuanya.
Alya terus berguling-guling, Hingga Dia tiba-tiba tertidur begitu pulas.
Alan dan Ayumi.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Alan dan Ayumi mereka sedang video call.
Ayumi yang tadinya sudah tidur, Langsung terbangun karena mendengar ponselnya berbunyi dan ternyata itu telpon dari Alan.
"Emmhh kenapa?" Tanya Ayumi, Dengan raut wajah yang masih ngantuk.
"Kamu sudah tidur?" Tanya Alan, Yang melihat Ayumi sedang berada didalam selimut.
"Aku tidur dari tadi." Jawab Ayumi.
"Bangunlah, Ayo temenin Aku ngobrol, Aku belum bisa tidur." Pinta Alan, Yang sedang duduk di depan laptopnya.
"Kamu tampan sekali kekasihku." Cetus Ayumi, Sambil melihat Alan yang sedang memakan cemilan.
"Bangunlah!!" Pinta Alan lagi.
"Aku sangat mengantuk," Jawab Ayumi.
"Baiklah, Kamu istirahat saja! Aku mau telpon gadis lain saja." Ancam Alan, Karena Ayumi tidak kunjung bangun.
"Awas saja kalau berani, Aku akan menjambak gadis lain itu nanti!!" Cetus Ayumi, Yang langsung bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Hahaha dasar kamu ini." Omel Alan yang diiringi tawa.
"Aku tidak mau kamu menelpon gadis lain." Kata Ayumi, Dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
"Iya iya, Aku tidak akan menelpon gadis lain." Jawab Alan, Yang masih tertawa.
Ayumi dan Alan malam ini, Mereka asik video call sekalian Ayumi menemani Alan yang tidak bisa tidur, Mungkin Alan udah kebelet nikah makanya susah tidur.
Dikamar Denis dan Risa.
Malam ini Denis dan Risa sama-sama belum bisa tidur, Kini mereka masih terjaga dan asik mengobrol.
"Sayang, Nanti Anak kita mau dikasih nama siapa?" Tanya Risa, Sambil membelai pipi Denis dengan manja.
"Aku saja tidak tahu anakku perempuan atau laki-laki." Jawab Denis.
Kadang Risa itu suka lemot jelas-jelas belum di USG, Ehh ini udah nanyain nama saja. Jelaslah Denis tidak tahu anaknya mau dikasih nama siapa?
"Kita cari nama anak laki-laki dan perempuan, Tapi harus yang kembar! Takutnya anak kita kembar nanti." Kata Risa, Dengan pikirannya sendiri.
Denis hanya menggelengkan kepalanya, Karena merasa istrinya begitu lucu.
"Dasar Risa-Risa, Orang kalau mau anak kembar tinggal buat lagi atau program bayi kembar." Gumam Denis.
"Apa kamu sangat menginginkan anak kembar?" Tanya Denis memastikan.
"Iya, Biar lucu terus nanti Aku bisa membeli baju-baju lucu yang samaan gitu sayang." Sambung Risa, Kali ini Risa benar-benar membuat Denis merasa sangat gemas.
"Kamu terlalu bawel Istriku." Jawab Denis, Yang langsung mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Risa.
Membuat Risa terkejut, Namun Risa juga menerima permainan sang suami. Setelah beberapa lama Denis melepaskan ciumannya.
"Ayo kita buat anak kembar!" Goda Denis dengan tatapan mesum.
Risa hanya terdiam, Kini pikirannya sedang muter-muter.
"Buat anak kembar memangnya bisa? Kan di dalam perut Aku ada sih Ucil." Gumam Risa.
Sampai akhirnya keduanya benar-benar hanyut dalam balutan sprai tebal yang membungkus tubuh mereka yang sudah polos, Karena Denis sudah membuang semua pakaian dirinya dan Istrinya kesembarang tempat.
Setelah sama-sama puas, Mereka langsung membuka sprei yang membalut tubuh polos mereka.
Dengan senyum bahagia Denis langsung memeluk Risa.
"Mudah-mudahan jadi anak kembar." Doa Denis, Sambil mencium kening Risa.
"Lalu gimana nasib sih Ucil?" Tanya Risa dengan begitu polosnya.
"Iya gimana? Sih Ucil pasti senanglah jadi punya teman di dalam perut kamu." Ledek Denis, Sambil mencubit pipi Risa.
Risa hanya memanyunkan bibirnya, Lalu langsung dusel-dusel memeluk sang suami.
Malam yang begitu dingin, Namun terasa hangat bagi Risa karena bisa tidur dipelukan sang suami tercinta.
Keesokan harinya, Risa dan Denis sudah duduk dimeja makan bersama Mama Rasti.
"Alya mana?" Tanya Denis.
"Ini Aku Kak, Kenapa apa Kamu merindukanku?" Sahut Alya yang sedang berjalan menuju meja makan.
"Tidak, Siapa juga yang merindukanmu males sekali." Elak Denis, Sambil menjulurkan lidahnya.
Alya langsung menarik kursi meja makan, Lalu langsung mengambil nasi dan bermacam-macam lauk untuk dirinya sarapan.
"Kalau tidak merindukanku, Untuk apa Kakak menanyakanku?" Gerutu Alya.
Denis hanya fokus menikmati sarapan paginya, Lalu Mama Rasti bilang pada Alya.
"Sudahlah nak, Kakakmu memang seperti itu!" Lerai Mama Rasti.
__ADS_1
"Tahu itu Mi, Dari dulu selalu saja menyebalkan." Alya mengadu pada Mama Rasti.
Risa hanya tersenyum, Lalu melihat kearah Denis.
"Dasar sukanya jail." Omel Risa.
"Kamu tahu sayang, Alya itu dulu bandel sekali makanya Aku suka menjailnya." Sambung Denis, Sambil melihat kearah Alya.
"Kak Denis menyebalkan." Alya manyun.
Setelah selesai sarapan Denis, Risa dan Alya langsung berpamitan dengan Mama Rasti, Mereka menyalami tangan Mama Rasti secara bergantian.
Di dalam mobil.
Denis fokus menyetir sedangkan Risa dan Alya asik mengobrol.
"Kak Risa, Menikah itu enak tidak sih?" Tanya Alya tiba-tiba, Membuat Denis langsung mengurangi kecepatan laju mobilnya.
"Kenapa kamu bertanya tentang pernikahan?" Tanya Denis, Sambil menyetir.
"Kak, Aku bertanya sama Kak Risa, Kamu tidak usah menjawabnya." Omel Alya, Sambil memayunkan bibirnya.
Risa hanya tersenyum, Lalu menjawab pertanyaan dari Alya.
"Senang atau tidaknya sebuah pernikahan, Hanya kamu yang tahu nantinya, Karena pernikahan setiap orang itu beda-beda." Jelas Risa dengan nada lembut.
"Apa Kamu akan segera menikah?" Tanya Risa pada Alya.
"Emmhh tidak Kak, Alya hanya ingin tahu saja." Elak Alya, Yang berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Kalau Aku bilang Aku sudah jodohkan dengan Panji, Apa kira-kira reaksi mereka?" Gumam Alya.
"Kirain mau menikah, Itu Panji masih jomblo."Ledek Risa, Dengan kejailannya.
"Kak Risa...." Rengek Alya.
"Kak Risa tidak tahu Aku sedang memikirkan perjodohanku dengan Panji, Coba kalau tahu pasti kamu akan menertawakanku." Gumam Alya.
Sesampainya dikampus Risa dan Alya langsung turun dari mobil Denis, Kali ini Risa hanya mencium tangan Denis karena tidak mau kejadian waktu itu terulang kembali.
"Alya, Kamu juga harus mencium tanganku sebelum berangkat kuliah!" Suruh Denis sedang begitu jail.
Alya hanya menatap Denis dengan tatapan kesal, Namun Alya juga langsung melakukan perintah dari Denis yaitu mencium tangan Denis sebelum berangkat kuliah.
"Aku berangkat dulu ya Kakakku yang menyebalkan." Pamit Alya, Dengan kesal.
"Iya hati-hati adikku, Ingat jangan pacaran terus!!" Pesan Denis buat Alya.
"Iya Aku tidak pacaran, Tapi Aku akan langsung menikah saja." Sambung Alya, Yang langsung ditatap tajam oleh Denis.
"Alya, Ayo pergi sebelum singanya ngamuk!" Ajak Risa, Sambil mengedipkan satu matanya pada Denis.
Denis hanya menggelengkan kepalanya, Lalu tersenyum pada Risa.
"Dasar istriku, Suami sendiri dikatain singa." Gumam Denis.
Denis langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor, Sedangan Alya dan Risa langsung masuk kedalam kampus mereka.
Melihat rame-rame ditaman kampus, Membuat Alya dan Risa merasa bingung.
"Ada apa ya disana?" Tanya Alya bingung.
"Aku juga tidak tahu, Ayo Kita kesana!" Jawab Risa, Sambil mengajak Alya ke taman kampus.
Kira-kira ada apa ya?
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π
__ADS_1
Maaf ya Author baru up, Sibuk banget dari tadi, Maaf tidak bisa kaya dulu up sehari bisa lebih dari 1 bab, Karena Author sudah mulai masuk kerja lagi, Tapi Author bakal usahain up setiap hari demi para pembaca setia π