Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
232.Denis & Alan.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu Alan sudah mulai aktif kembali kerja di kantor Denis.Setelah pulang dari bulan madunya Alan langsung masuk ke kantor karena memang masa cuttinya sudah berkahir.


Sebenarnya kalau Alan mau libur lebih lama lagi pasti Denis akan mengizinkannya. Tapi Alan tidak enak pada Denis karena dia sudah terlalu baik pada dirinya.


"Selamat pagi istriku." sapa Alan yang melihat sang istri sedang sibuk di dapur.


Alan memeluk Ayumi dari belakang, lalu membenamkan wajahnya di leher jenjang milik Ayumi.


"Selamat pagi juga suamiku." Ayumi membalas sapaan sang suami.


Alan mematikan kompornya tiba-tiba, membuat Ayumi merasa bingung.


"Kenapa dimatikan?" Tanya Ayumi.


"Kamu istrihat saja, aku mau langsung berangkat ke kantor takut terlambat." jelas Alan dengan nada lembut.


Alan membalikkan tubuh Ayumi agar menghadap pada dirinya.


"Aku berangkat ke kantor dulu ya istriku, kamu jangan terlalu capek!" Alan mencium kening Ayumi, lalu Ayumi mencium punggung tangan suaminya sebelum sang suami pergi ke kantor.


Alan berlalu pergi dari hadapan Ayumi untuk berangkat ke kantor. Setelah sang suami berangkat ke kantor Ayumi kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Tidak ada kerjaan bahkan dirumah sendirian juga sepi. Mungkin kalau sudah ada anak pasti aku tidak akan kesepian." Batin Ayumi dalam hatinya.


Ayumi sudah seminggu setelah pulang bulan madu tinggal dirumah Alan. Kalau Ayumi kesepian ya wajar saja mereka dirumah hanya berdua saja jika Alan pergi ke kantor Ayumi pasti dirumah sendirian.


Dirumah Denis dan Risa.


Denis sedang menikmati sarapan pagi bersama sang istri tercintanya.


"Sayang sebentar lagi kamu akan melahirkan, jadi kamu tidak boleh terlalu kecapean ya." pinta Denis disela-sela menikmati sarapan paginya.


"Iya aku tidak kecapean, aku setiap pagi jalan-jalan dihalaman depan kalau tidak disekitar komplek, karena aku jenuh jika terus-terusan dirumah apalagi setelah Alya menikah dia tidak pernah main ke rumah kita." jelas Risa dengan nada lembut.


Denis mengacak-acak rambut Risa, lalu mencubit pipi Risa yang sekarang terlihat gembul membuat Denis merasa gemas.


"Alya sedang sedang pergi liburan, mungkin setelah liburan Alya akan berkunjung ke rumah." jawab Denis yang membuat Risa mengerti.


Alya dan Panji beberapa hari yang lalu mereka berangkat liburan. Karena waktu itu mereka menunda bulan madu mereka gara-gara Panji membobol gawang milik Alya sampai Alya tidak bisa jalan dan hanya berbaring di kasur saja.


"Sudah aku berangkat ke kantor dulu, hari ini aku akan bertemu Alan dan aku akan mencecarnya habis-habisan." Denis berpamitan pada Risa dengan senyum bahagianya.


Denis menghujani Risa dengan banyak ciuman seperti biasanya, Risa juga tidak lupa selalu mencium punggung tangan suaminya sebelum sang suami berangkat kerja.


Setelah berpamitan pada istrinya Denis langsung berangkat ke kantor. Setelah Denis pergi ke kantor Risa duduk diruang tengah sambil menonton film drama kesukaannya.


"Sepi tidak ada suami, anak mama cepatan lahir biar mama tidak kesepian." Risa mengelus-elus perut yang sudah terlihat besar.

__ADS_1


Risa sedang memperhatikan flim drama kesukaannya.


"Lihat nak pasti akan lucu jika papa menganti pampers kamu nanti." Risa melihat adegan sang suami sedang menganti pampers anaknya yang masih bayi.


Risa terus tersenyum membayangkan sang suami jika anaknya sudah lahir nanti.


Dikantor Denis.


Denis yang baru saja tiba di kantor langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Aturan hari ini Alan sudah masuk, karena Alan tidak mau mengambil cutti lebih." Denis berbicara pada dirinya sendiri.


Iya pagi ini Denis sengaja menunggu Alan, karena ada niatan terselubung yaitu ingin meledeknya. Denis ingin menanyakan sesuatu pemberian dari dirinya waktu di pesta malam itu.


"Tok...tok..." suara ketukan pintu.


"Masuklah!" pinta Denis dari dalam ruangannya.


"Ceklek." suara gagang pintu, membuat Denis menoleh kearah pintu dan Denis langsung mengembangkan senyumnya. Melihat ternyata Alan yang datang.


"Senang banget perasaan." cetus Alan dengan tatapan kesal, mengingat waktu itu ternyata bos sekaligus sahabatnya ini memberikan jamu kuat untuk malam pertamanya bersama Ayumi.


Denis terus menyunggingkan senyum termanisnya, Alan melihat Denis dengan tatapan jijik.


"Sungguh aku rasa Denis sudah tidak waras." Batin Alan dalam hatinya.


"Rasa apa?" Tanya Alan bingung, karena Denis tidak menjelaskan apa maksudnya?


"Rasa ahh masa kamu tidak tahu, rasa sesuatu yang akan berikan waktu di pesta malam itu." jelas Denis sambil senyam-senyum pada Alan.


Alan baru paham apa yang maksud oleh Denis, rasanya Alan ingin sekali mengajak Denis berantem. Gara-gara ulahnya Ayumi sampai tidak bisa berjalan, tapi Alan juga senang malam pertamanya sangat puas karena bisa bermain beronde-ronde dengan sang istri.


"Jangan tanya rasanya! Kamu juga sudah lebih dulu merasakannya." jawab Alan dengan tatapan kesal.


"Aku yakin pasti kamu ketagihan." Denis terus meledek Alan dengan penuh kejailannya.


"Aturan disini ada Panji. Jadi aku tidak di bully sendirian." Alan mengalihkan pembicaraan agar Denis berhenti meledeknya.


Denis semakin mengeluarkan tawanya, membuat Alan geleng-geleng kepala. Kali ini Alan sungguh berpikir bahwa Denis itu sungguh sudah tidak waras.


"Percuma Panji sedang berlibur dengan istrinya." jelas Denis dengan tawanya.


"Panji mah aneh aku sudah pulang bulan madu, lah dia malah baru berangkat liburan." Alan kembali menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah wajar masih pengantin baru, masih anget-angetnya." jawab Denis yang membuat Alan menganggukan kepalanya.


"Iya anget kaya tempe yang baru saja di goreng." cetus Alan dengan sorot mata kesal.

__ADS_1


Denis paham sekali kalau sahabatnya ini sudah merasa sangat karena dari tadi dirinya terus meledeknya.


"Sudah-sudah jangan dibahas lagi." kata Denis dengan senyum manisnya.


Betapa geramnya Alan saat ini.


"Dasar b*doh dari tadi kamu yang terus membahasnya." Batin Alan dalam hatinya.


"Katakan ada perlu apa datang ke ruanganku?" Tanya Denis kali ini sebagai atasan Alan.


"Ini berkas-berkas yang harus Tuan Denis tandatanganin." Alan menyerahkan berkas-berkas yang ada di tangannya pada Denis.


Denis menerima berkas-berkas tersebut, lalu mengeceknya dengan teliti.


Denis dan Alan memang seperti itu, mereka bisa menjadi sahabat yang begitu akrab. Mereka juga bisa menjadi atasan dan bawahan yang profesional saat berkerja.


"Baiklah Tuan Denis saya pamit ke ruangan saya dulu." Alan membungkukkan kepalanya dengan sopan pada Denis.


Alan hendak pergi dari ruangan Denis, tapi dengan cepat Denis menghentikan langkah kaki Alan.


"Tunggu Al." pinta Denis.


Alan menoleh kearah Denis dengan senyum terpaksanya.


"Jangan bilang dia akan bersikap tidak waras lagi atau dia akan kembali meledekku lagi." Pikiran Alan sudah traveling kemana-mana.


"Ada apa tuan?" Jawab Alan dengan sopan.


"Katakan padaku jika kamu ingin jamu itu lagi." Denis tersenyum jail pada Alan.


Alan geleng-geleng kepala, sungguh otak Denis itu kadang menyebalkan tapi ada gunanya.


"Akan aku katakan padamu." jawab Alan yang langsung buru-buru pergi dari ruangan Denis. Atau Denis akan kembali menjailinya.


Denis kembali duduk dikursi kerjanya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata telpon dari sang istri.


"Hallo istriku." sapa Denis dengan begitu manis.


"Cepat pulang perutku mules-mules!" kata Risa dengan manja.


"Apa kamu mau melahirkan?"


BERSAMBUNG πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊


Dia terlalu mendalami cerita Author apa bagaimana ya? Sungguh jarinya jahat padahal Authornya masih lajang dan setiap kali membuat cerita itu hanya sebuah karangan.

__ADS_1



__ADS_2