Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
134. Dua pengawal.


__ADS_3

Keesokan harinya, Risa sudah bersiap untuk berangkat kuliah. pagi ini Risa tidak membuat sarapan karena Risa masih kesal dengan Denis, gara-gara Risa harus pakai dua pengawal.


Denis juga sudah bersiap, kini Denis sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam.


"Sudah jangan mamanyukan bibirmu terus, karena itu tidak akan merubah keputusanku dan dua pengawal pribadi untukmu juga sudah berada di depan rumah." kata Denis yang melihat Risa sedang manyun.


Denis sudah menghubungi dua pengawal untuk menjaga Risa, selama Risa berada dikampus.kini kedua pengawal tersebut sudah menunggu Risa dan Denis di depan rumah mereka.


"Aku tidak mau pakai pengawal." protes Risa.


"Aku tidak menerima protes darimu, ayo sekarang Kita berangkat!" kata Denis.


Dengan langkah yang begitu malas, Risa berjalan dibelakang Denis.


Kini Risa dan Denis naik mobil Denis, sedangkan kedua pengawal tersebut mengikuti mobil Denis dengan mobil lainnya.


Didalam mobil.


Risa hanya terdiam, percuma melakukan protes pun itu tidak akan membuat Denis merubah keputusannya.


"Kenapa Kamu diam saja?" tanya Denis.


"Karena tidak ada yang perlu dibicarakan." jawab Risa tanpa melihat kearah Denis.


"Lihatlah wajahku, kalau bicara denganku!" pinta Denis dengan nada kesal.


"Aku tidak mau, Aku sedang marah." jawab Risa yang terus melihat kearah jendela mobilnya.


"Baiklah lanjutkan marahmu, tapi ingat nanti sarapan dulu dikampus." kata Denis dengan begitu perhatian.


Biarpun Denis merasa kesal pada Risa, tapi Denis tetap memperhatikan Risa dengan baik.


"Sayang, Aku mending dihukum diatas ranjang daripada Aku harus dikawal dengan dua pengawal, karena itu berlebihan sekali." Risa mencoba bernegosiasi dengan Denis.


Denis sudah sampai didepan Kampus Risa, kini Denis langsung menepikan mobilnya yang diikuti oleh mobil pengawal dibelakang mobil Denis.


"Baiklah, maka ayo Kita pergi bulan madu untuk kedua kalinya! Aku mau Kita fokus buat sih Ucil." jawab Denis sambil melihat kearah Risa.


Risa terdiam sambil berpikir.


"Kuliahku saja belum selesai, apa Aku harus menuruti saja mau Denis?" pikir Risa.


"Kita bicarakan itu nanti dirumah saja, Aku berangkat dulu ya." pamit Risa sambil mencium punggung tangan Denis.


"Iya Kamu hati-hatilah." jawab Denis sambil mencium kening Risa.


Risa hendak turun dari mobilnya, namun Denis menarik tangan Risa.


"Ada apa?" tanya Risa.


"Itu Ayumi sama Alan." kata Denis sambil menunjukkan Ayumi dan Alan yang sedang berdiri didepan gerbang kampus.


Hari ini Alan menjemput Ayumi, untuk mengantarnya ke kampus.


"Iya itu mereka, Kamu tidak turun?" tanya Risa pada Denis.


"Tidak usah, nanti ketemu Alan dikantor saja." jawab Denis.


Kedua pengawal sudah turun dari mobilnya, dengan cepat salah satu dari pengawal tersebut langsung membukakan pintu mobil untuk Risa.


Setelah turun dari mobil, Risa langsung mengucapkan terimakasih pada pengawal yang sudah membukakan pintu.


"Terimakasih pak." kata Risa pada pengawal tersebut.

__ADS_1


"Sama-sama Nona." jawab pengawal tersebut.


Denis sudah keluar dari mobilnya, lalu langsung mengenalkan kedua pengawal tersebut pada Risa, karena tadi belum sempat kenalan dan juga bertatap muka.


"Ris, kenalin ini Pak lie dan ini Pak Yun." Denis memperkenalkan kedua pengawal tersebut.


"Iya Pak, kenalkan saya Risa." jawab Risa dengan begitu santun pada Pak lie dan Pak Yun.


"Iya Nona, Kami sudah tahu." jawab Pak lie dan Pak Yun.


"Pak, tolong jaga Risa baik-baik ya." Denis berkata pada kedua pengawal tersebut.


"Baik Tuan Muda." jawab mereka berdua dengan kompak.


Risa langsung menuju ke dalam kampus, sedangkan Denis langsung berangkat ke kantornya.


"Wooy.... sudah jangan pacaran terus, ayo berangkat ke kantor!" teriak Denis dengan begitu jailnya.


Alan yang sedang asik mengobrol dengan Ayumi, langsung melihat kearah Denis sambil menatap Denis dengan tatapan begitu kesal.


"Dasar Denis ini mengganggu saja." gumam Alan.


"Yum, asik dianterin pacar baru." ledek Risa.


"Iya masih baru, masih anget-angetnya." jawab Ayumi sambil tersenyum pada Risa.


"Kaya apem baru dikukus Yum anget-anget empuk." jawab Risa yang diiringi dengan tawa jailnya.


"Yumi, Risa, Aku berangkat ke kantor dulu ya." pamit Alan pada mereka berdua.


"Iya Kamu hati-hati ya, jangan telat makan ya." kata Ayumi pada Alan dengan begitu perhatian.


Alan beranjak pergi dari tempat itu, namun Alan melihat dua sosok laki-laki dibelakang Risa, lalu Alan bertanya pada Risa.


"Pengawal baru, gara-gara Denis cemburu berlebihan sekarang Aku harus dikawal oleh dua pengawal." jawab Risa dengan nada mengeluh.


"Sabar Ris, baru dua pengawal." kata Alan sambil tertawa pada Risa.


Risa langsung menarik tangan Ayumi masuk kedalam kampus, Karena Risa merasa kesal gara-gara menertawakannya. kedua pengawal Risa terus mengikutinya.


Melihat Risa dan Ayumi sudah berjalan masuk kelas, lalu Alan langsung pergi ke kantornya.


"Maaf Pak lie dan Pak Yun, tunggu disini saja jangan ikut masuk." kata Risa yang melihat kedua pengawal tersebut selalu mengikutinya.


"Maaf Nona, Kami akan tetap masuk dan Kami akan menjaga Nona dari luar ruangan." jawab keduanya dengan begitu tegas.


"Tapi Pak..." kata-kata Risa terpotong.


"Ini perintah dari Tuan Muda, jadi Kami harus mematuhinya." Kata Pak lie.


"Iya Itu memang benar Nona." sambung Pak Yun.


Denis memerintahkan kedua pengawal untuk mengawal Istrinya dengan baik, bahkan kedua pengawal tersebut tidak boleh jauh dari Risa.


Risa hanya terdiam.


"Sudahlah, percuma bicara pada Pak lie dan Pak Yun itu tidak akan merubah semuanya." gumam Risa.


Akhirnya Risa masuk kedalam kelas dan kedua pengawal tersebut berdiri tegak didepan kelas Risa.


"Panji kemana Yum?" tanya Risa yang tidak melihat Panji didalam kelas.


"Tidak Tahu, sepertinya Dia cutti." jawab Ayumi.

__ADS_1


Dosen telah datang, kini Ayumi dan Risa fokus mengikuti mata kuliah hari ini.


Dikantor Denis.


Kini Denis sedang berada diruangannya, sambil membalas email dari para rekan bisnisnya.


"Tok...tok..." suara ketukan pintu.


"Masuk." jawab Denis.


Salah satu pegawai Denis masuk kedalam ruangan Denis.


"Fandi, duduklah." Denis mempersilahkan Fandi untuk duduk.


"Iya Tuan, terimakasih." jawab Fandi yang sudah duduk dikursi yang terbatas dengan meja kerja Denis.


"Katakan ada perlu apa?" tanya Denis.


"Ini Tuan laporan keuangan bulan ini." kata Fandi sambil menyerahkan berkas yang sudah tertata rapi didalam map.


Denis menerima berkas tersebut dari tangan Fandi.


"Terimakasih Fan, nanti saya cek dulu." kata Denis.


Fandi terdiam, lalu dengan perasaan ragu berkata pada Denis.


"Maaf Tuan, apa boleh saya meminta bantuan dari Tuan Denis?" tanya Fandi dengan ragu-ragu.


"Katakan saja!" jawab Denis.


"Tuan, saya mau minjam uang dari perusahaan untuk membayar biaya Operasi anak saya." kata Fandi sambil menundukkan kepalanya.


"Memangnya Anak Kamu sakit apa Fan?" tanya Denis.


"Mata Anak saya, terkena pecahan kaca Tuan sudah lama dan kata Dokter harus segera dioperasi secepatnya." jawab Fandi.


Denis terdiam sebentar, lalu berkata pada Fandi.


"Boleh Aku minta nomor rekeningmu?" tanya Denis.


"Boleh Tuan, ini nomor rekening Saya." jawab Fandi sambil mengirimkan no rekeningnya ke ponsel Denis.


"Baiklah, Kamu tidak usah meminjam uang dari perusahaan! Saya yang akan membiayai biaya operasi Anak Kamu Fan." kata Denis.


Dengan rasa penuh syukur Fandi, langsung mengucapkan terimakasih pada Denis.


"Terimakasih Tuan, terimakasih Tuan..." berulang kali Fandi mengucapkan terimakasih pada Denis.


"Iya sama-sama, Aku sudah mentransfer ke rekeningmu untuk biaya operasi Anak Kamu. katakan saja jika kurang." kata Denis pada Fandi.


"Sekarang, Kamu pulanglah dan segera pergi kerumah sakit untuk pekerjaanmu biar nanti Alan yang mengerjakannya." kata Denis pada Fandi lagi.


Fandi keluar dari ruangan Denis dengan perasaan yang begitu bahagia, Fandi langsung menuju Kerumah sakit untuk menemui Istri dan Anaknya yang sudah menunggunya.


Denis terdiam.


"Bersyukur Aku dilahirkan dari keluarga yang kaya dan berkecukupan." gumam Denis.


Biarpun Denis terbilang sombong dan angkuh, namun Denis tidak tega jika mendengar orang lain yang sedang kesusahan.


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2