Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
199.Alya jatuh cinta.


__ADS_3

Kini Risa langsung mengalungkan tangannya ke leher Denis.


"Sayang, Aku mau lebih." Pinta Denis yang tentunya dengan pikirannya mesumnya.


"Akan aku kasih, Asalkan sisanya kamu urus sendiri dikamar mandi!" Jawab Risa yang mengedipkan satu matanya pada Denis.


Denis tersenyum, Lalu langsung mel*mat bibir sang istri dengan begitu lembut, Risa begitu menikmati bibir lembut sang suami, Kini dirinya benar-benar terbuai.


Denis langsung membaringkan Risa diatas kasur, Lalu Denis menciumin perut Risa yang sudah mulai tampak besar.


"Suamiku kamu membuatku geli." Keluh Risa karena Denis terus menciumi perutnya.


Denis membenarkan posisinya, Lalu tangannya mengusap-usap perut sang istri.


"Geli-geli enak ya sayang." Jawab Denis yang diiringi senyum mesumnya.


Risa membenarkan posisi tidurnya, Kini dirinya tidur membelakangi sang suami dengan posisi miring, Denis langsung memeluk Risa dari belakang.


Tangan Denis terus mengelus-elus perut Risa, Risa hanya menikmati sentuhan tangan sang suami, Selain Risa merasa nyaman anak yang ada di dalam perutnya juga anteng sekali menikmati sentuhan tangan sang papa.


"Sayang, Apa kamu tidak jadi melakukannya?" Tanya Risa, Karena Denis berhenti meneruskan aksinya dan kini malah asik mengelus-elus perut dirinya.


"Aku lelah, Aku hanya ingin tidur memelukmu dan memeluk anak kita." Jawab Denis pelan.


"Lagian masih siang juga, Takut ada melihatnya." Canda Denis yang membuat Risa tertawa.


"Dasar kamu ini, Memangnya siapa yang mau melihat kita?" Tanya Risa dengan jail.


"Anak kita yang melihat kita!" Sambung Denis.


"Aku masih didalam perut mama, Jadi aku belum bisa melihat papa dan mama." Seolah-olah Risa menjadi bayi yang masih dikandungnya.


Denis tertawa, Risa juga ikut tertawa.


"Pasti kalau sih Ucil sudah lahir, Dia akan bawel ya sayang." Kata Denis yang membayangkan jika anaknya sudah lahir nanti.


"Iya pasti nanti kita akan sering ribut gara-gara anak, Karena kita tidak paham mau anak kita apa? Dan nanti sih ucil ngambek pada kita, Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia." Risa terus sibuk berhayal, Kini dirinya sudah tidak sabar menanti kelahiran anak pertamanya.


Denis mempererat pelukannya, Kini dirinya benar-benar merasa bahagia karena akan menjadi seorang papa.


"Aku tidak anakku laki-laki atau perempuan, Tapi sepertinya jika itu perempuan akan lucu." Batin Denis.


"Sayang, Jika nanti sih Ucil sudah lahir kamu tidak boleh pilih kasih ya." Kata Denis yang membuat Risa tersenyum dalam hatinya.


"Aku tidak pilih kasih, Tapi kalau gunung kembarku pasti nanti dua-duanya akan dimiliki oleh anak kita, Dan papanya pasti tidak akan boleh menyentuhnya apalagi menikmatinya." Jawab Risa yang membuat Denis langsung berdecak kesal.


"Pokoknya harus adil satu-satu," Rengkek Denis dengan begitu manja, Membuat Risa ingin sekali tertawa.

__ADS_1


"Dasar orangtua tidak mau mengalah." Batin Risa kesal.


Risa tahu seperti apa suaminya, Tapi jika suaminya berebut gunung kembarnya itu pasti akan lucu nanti.


"Yang tua mengarahlah!" Pinta Risa.


"Aku tidak mau, Pokoknya gunung kembar itu milikku." Tolak Denis dengan manja.


Denis-Denis sangking sukanya dengan gunung kembar milik sang istri, Sampai-sampai tidak mau mengalah dengan sang anak.


Dalam hati Risa hanya tertawa, Risa tahu dulu sebelum Risa hamil gunung kembarnya selalu menjadi bagian kesukaan sang suami, Bahkan dulu kalau pagi Denis suka menyusu dari pabriknya langsung, Kadang Denis membuatnya sampai bengkak karena ulahnya.


Akhirnya Denis malah tidur sambil memeluk sang istri, Dan tidak jadi sibuk dengan kamar mandi seperti rencananya tadi.


Alya.


Alya masih duduk diruang tengah, Kini dirinya sedang senyam-senyum sendirian. Mama Rasti yang baru saja pulang ntah darimana? Langsung menghampiri Alya yang sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri.


"Alya, Apa yang membuatmu senyam-senyum sendiri nak?" Tanya Mama Rasti yang langsung duduk disamping Alya membuat Alya kaget.


"Mami, Mengangetkan Alya saja," Cetus Alya yang langsung mengembangkan senyumnya pada wanita yang disebutnya sebagai mami.


Alya membaringkan kepalanya dipangkuan sang mami, Membuat Mama Rasti terkejut.


"Alya ada apa? Ceritakan pada mami!" Pinta Mama Rasti dengan lembut, Mama Rasti membelai-belai rambut Alya dengan penuh kasih sayang.


"Ternyata anak mami sudah mulai jatuh cinta, Katakan pada mami! Siapa laki-laki yang membuatmu jatuh cinta?" Tanya Mama Rasti penasaran.


"Panji mi, Dan aku baru sadar kalau aku ternyata mulai menyukainya." Jelas Alya dengan raut wajah yang begitu malu-malu.


"Ingat kamu boleh jatuh cinta, Kamu boleh pacaran tapi kamu harus menjaga mahkotamu, Jadi kamu pacaran tidak boleh macam-macam! Atau mami nanti akan menjewer telingamu." Mami Rasti memberikan peringatan pada Alya dengan tegas.


"Iya mi, Mami tahu ternyata aku mencintai laki-laki yang sudah dijodohkan denganku selama ini." Jelas Alya membuat sang mami bingung.


Mama Rasti merasa bingung, Apalagi Hendra Dan Yulia tidak pernah menceritakan tentang perjodohan Alya pada dirinya.


"Maksudnya nak?" Tanya Mami Rasti dengan wajah bingung.


"Ternyata mi, Panji itu adalah laki-laki yang dijodohkan dengan Alya selama ini dan Alya juga tidak tahu Alya mulai menyukainya." Alya me menjelaskan pada sang mami, Sang mami menganggukan kepalanya pertanda dirinya paham.


"Perjodohan menjadi cinta," Sambung Mami Rasti yang langsung membuat Alya tertawa.


Mami Rasti dan Alya asik mengobrol, Setelah selesei mengobrol Alya langsung masuk ke kamarnya, Mama Rasti juga langsung pergi ke kamarnya.


Dikamar Mama Rasti.


Mama Rasti langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, Kini dirinya memeluk bantal guling, Saat ini dirinya sangat merindukan sang suami yang sudah lama tidak pulang.

__ADS_1


"Papa, Kapan pulang? Mama merindukan papa." Kata Mama Rasti sambil memeluk bantal guling.


Mama Rasti tersenyum, Karena mengingat cerita Alya.


"Alya kamu itu lucu banget, Kamu mencintai laki-laki yang dijodohkan denganmu." Gumam Mama Rasti.


Menurut Mama Rasti perjodohan itu bukan hal yang salah, Karena dirinya menjodohkan Denis dan Risa juga akhirnya mereka bahagia dan saling mencintai, Dalam hati Mama Rasti.


"Percayalah cinta bisa datang kapan saja." Batin Mama Rasti.


Mama Rasti terdiam, Lalu memejamkan matanya berharap dirinya bisa bermimpi bertemu dengan sang suami didalam tidurnya.


Dikamar Alya.


Alya duduk dikursi meja rias, Kini dirinya sedang berkaca.


"Panji sedang apa ya?" Gumam Alya.


Alya mengambil ponselnya, Lalu menggeser layar ponselnya.


"Aku mau nelponnya saja," Kata Alya.


Alya sudah menekan no ponsel Panji, Namun mengurungkannya.


"Aku tidak boleh menelponnya, Aku harus jual mahal padanya." Gumam Alya lagi.


"Apa aku mengirim pesan saja ya?" Tanya Alya pada dirinya sendiri.


Kini Alya merasa bingung karena perasaannya saat ini, Disisi lain Alya ingin mendengar suara Panji, Alya berniat mengirim pesan, Namun Alya juga mengurungkan niatnya.


"Aku dilema." Batin Alya bingung.


"Panji telponlah aku!" Alya berharap Panji menelponnya.


Alya terus menggeser layar ponselnya, Lalu Alya mengecek status dan Alya melihat Panji memasang foto dirinya dengan gadis lain. Betapa kesalnya hati Alya melihat Panji berfoto dengan pose begitu akrab dengan gadis lain.


"Dasar laki-laki ganjen, Katanya ada urusan penting, Katanya mau ngaterin Tante Anita, Tapi ini apa? Kamu malah foto-foto dengan gadis lain." Alya langsung marah dalam hatinya.


Iya Panji hari ini sedang mengantarkan mamanya arisan, Namun Alya tidak tahu apa saja yang Panji lakukan disana dan gadis mana saja yang Panji godain selama di arisan.


"Susah payah meminta restu, Sekarang kamu malah enak-enakan foto-foto dengan gadis lain." Batin Alya yang merasa sangat kesal.


"Aku cemburu." Gerutu Alya yang langsung melemparkan ponselnya ke kasur.


BERSAMBUNG πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2