Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
183.Tiba-tiba perhatian.


__ADS_3

Sedang asik mengobrol tiba-tiba, Ada yang membuka pintu rumah. Karena memang pintunya tidak dikunci.


Ntah siapa yang datang, Tanpa mengetuk pintu lebih dulu?


Denis dan Alan datang membawa beberapa paper bag yang berisi baju hamil, Melihat suaminya membawa beberapa paper bag Risa merasa sangat binggung.


"Apa yang Denis bawa?" Pikir Risa.


Denis langsung mengembangkan senyumnya, Lalu langsung memeluk Risa dihadapan semuanya teman-teman, Membuat Risa agak risih dan merasa tidak enak.


"Sayang, Lepaskan ih." Pinta Risa, Sambil mendorong Denis agar melepaskan pelukannya dari tubuhnya.


"Bisa tidak sih, Tidak usah main peluk-pelukan di depan para jomblo." Sindir Panji dengan sengaja.


"Sirik saja Kamu!" Omel Denis, Sambil melihat Panji dengan tatapan kesal.


Denis langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Risa, Lalu Denis langsung memberikan paper bag yang dibawanya pada Risa.


"Sayang, Ini untukmu." Kata Denis dengan begitu menggemaskan.


Risa menerima paper bag tersebut dari Denis, Lalu membukanya, Setelah membukanya Risa mengeluarkan semua isinya. Betapa terkejutnya ternyata isinya ada baju-baju wanita hamil.


"Kamu yang membeli ini semua?" Tanya Risa dengan tatapan tajam pada Denis.


"Iyalah, Memangnya siapa lagi?" Jawab Denis, Sambil bertanya balik pada Risa.


Risa hanya bisa menahan rasa kesalnya, Karena Denis itu kalau membeli apa-apa selalu berlebihan.


"Kenapa, Tidak dibeli sekalian dengan tokonya?" Tanya Risa dengan tegas.


"Kenapa membeli baju hamil sebanyak ini, Nanti usia kandunganku tujuh bulan pasti sudah tidak muat lagi." Gumam Risa.


"Apa,Kamu mau Aku membeli dengan tokonya sekalian?Alan besok belilah toko pakaian wanita hamil tempat kita belanja tadi!" Jawab Denis, Sambil memerintah Alan untuk membeli toko tempat membeli baju tadi.


"Denis,Aku hanya bercanda." Tegas Risa.


"Papamu benar-benar sudah tidak waras Nak."Keluh Risa dalam hatinya.


"Kak Denis, Dasar kamu ini." Omel Alya.


"Kak Risa dan Kak Denis, Kalian memang pasangan koplak." Gumam Alya.


"Alya, Anak kecil dilarang pacaran!" Ledek Denis dengan cengiran jailnya.


"Siapa juga yang pacaran." Bela Alya.


Alan hanya menggelengkan kepalanya, Lalu langsung duduk disamping Ayumi.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Alan pelan.


"Sama Panji sama Risa tadi." Jawab Ayumi, Alan langsung mencubit pipi Ayumi dengan begitu gemasnya, Membuat Ayumi memanyunkan bibirnya sambil memegang pipi yang baru saja dicubit oleh Alan.


"Bukannya Kamu harusnya dikantor?" Tanya Ayumi, Yang masih memegangi pipinya yang dicubit oleh Alan.


"Aku habis ngaterin Denis, Membeli baju hamil." Jawab Alan, Yang diiringi dengan tawa kecilnya.


Ayumi hanya tertawa pelan, Sambil melihat wajah tampan Alan.


"Pasti lucu tadi waktu Alan sedang menemani suaminya Risa membeli baju hamil." Batin Ayumi.


Kini mereka saling terdiam, Lalu Denis membuka pembicaraan untuk memecahkan keheningan diantara mereka.


Alya dan Panji sibuk aduh mulut, Ntah apa yang mereka ributkan karena suara mereka pelan jadi tidak mendengarnya.


"Hey Kamu, Duduknya agak jauh dari Alya." Kata Denis, Yang melihat Panji duduk begitu dekat disamping Alya.


Dalam hati Panji, Merasa kesal dengan Denis.


"Kak Denis tidak tahu saja, Kalau Aku ini calon suami Alya." Gumam Panji, Dengan tatapan kesalnya.


Panji langsung bergeser dari tempat duduknya, Kini jarak Panji dan Alya sudah agak jauhan.


"Sekarang kalian seperti dua sejoli yang sedang bertengkar." Ledek Alan yang diiringi dengan tawanya.


"Mau kalian berdua apasih?" Kesal Panji pada Denis dan Alan.

__ADS_1


"Mau Aku, Kamu jangan dekat-dekat dengan Alya." Cetus Denis dengan tegas.


Denis tidak tahu kalau Alya dan Panji itu jodohkan oleh orangtua mereka, Dan rencananya setelah lulus kuliah mereka akan segera dinikahkan.


"Kalau Aku mau kalian pacaran saja, Daripada kalian menjadi jomblo kelamaan nanti karatan." Sambung Alan yang diiringi tawanya.


Alya hanya menatap Panji, Denis dan Alan dengan tatapan kesal, Kali ini rencananya pura-pura sakit biar tidak bertemu dengan Panji, Ini malah harus melihatnya ada dirumahnya.


"Haduh udah pura-pura sakit, Ini malah dibuat pusing benaran." Gumam Alya.


"Sudah-sudah, Panji sana kamu pulang!" Lerai Alya sambil menyuruh Panji untuk segera pulang.


"Iya iya Aku pulang, Nanti kamu jangan lupa makan, Minum obat terus makan buah-buahan yang Aku bawakan! Biar Kamu punya tenaga untuk melawanku." Pesan Panji buat Alya sebelum pulang.


Mendengar Panji tiba-tiba perhatian dengan Alya membuat Denis, Risa, Alan dan Ayumi saling menatap bingung pada Panji.


Sedangkan Alya hanya menganggukkan kepalanya, Karena tidak mau sampai berdebat lagi dengan Panji.


"Punya tenaga untuk melawanmu, Memangnya kita mau bertempur dimedan perang." Gumam Alya, Sambil melirik Panji dengan tatapan kesal.


Panji langsung meninggalkan Alya dan yang lainnya, Dengan perasaan kesal Panji langsung pulang menuju kerumahnya.


"Orang lagi PDKT, Ehh dua penganggu datang tiba-tiba." Gumam Panji, Yang merasa kesal pada Denis dan Alan.


Alan dan Ayumi juga langsung berpamitan untuk segera pulang, Setelah Alan dan Ayumi juga pulang kini tinggal Alya, Denis dan Risa.


"Kamu pacaran dengan Panji?" Tanya Denis dengan tatapan mata yang begitu serius.


"Aku tidak berpacaran dengan Panji Kak, Sudahlah Kak kepala Alya pusing, Alya ke kamar dulu ya." Jawab Alya, Yang langsung beranjak dari tempat duduknya, Lalu langsung masuk kedalam kamarnya.


Denis melihat kearah Risa, Namun dengan cepat Risa berkata pada Denis.


"Sepertinya Panji dan Alya menyembunyikan sesuatu dari kita." Kata Denis dengan begitu yakin, Kalau Alya dan Panji itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya dan juga Risa.


"Sudahlah, Mereka sudah gede, Mereka tahu apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk hubungan mereka." Sambung Risa dengan nada lembut.


Biarpun Panji dan Alya belum pacaran, Iya tetap saja hubungan mereka ya mereka yang akan menentukan kedepannya .


Tiba-tiba Denis langsung mengangkat tubuh Risa, Namun Risa malah langsung mengalungkan tangannya ke leher Denis.


Kini mereka berciuman sambil berjalan, Denis langsung membuka pintu kamarnya, Lalu menutupnya kembali, Denis langsung merebahkan tubuh Risa diatas ranjang, Berniat mau melanjutkan aksinya namun dengan cepat Risa menolaknya.


"Kenapa?" Tanya Denis kesal, Karena Risa mencegah aksinya.


"Ini masih terlalu siang, Takut ada orang yang mendengarnya." Jawab Risa pelan.


"Kamar ini kedap suara, Jadi tidak akan kedengaran oleh siapapun." Jawab Denis, Dengan senyum mesumnya.


Denis duduk dihadapan Risa sambil memayunkan bibirnya, Lalu Risa langsung memegang kedua pipi Denis dengan tangannya.


"Kita lakukan nanti malam." Kata Risa dengan penuh kelembutan.


"Tapi Aku maunya sekarang sayang, Aku sudah sangat merindukan sih Ucil dalam perutmu, Kamu kan tahu akhir-akhir ini Aku jarang menengoknya." Rengek Denis dengan manja.


Risa hanya tersenyum, Lalu langsung mencium bibir Denis dengan pelan.


"Dasar suamiku yang manja." Omel Risa, Yang sudah melepaskan ciumannya dari bibir Denis.


"Kamu juga istriku satu-satunya." Jawab Denis, Yang diiringi senyum bahagia dibibirnya.


Risa langsung memeluk Denis, Denis juga langsung memeluk Risa.


"Ambillah baju-baju yang tadi Kamu beli, Aku mau mencobanya!" Pinta Risa, Denis langsung melepaskan pelukannya dari Risa.


Lalu Denis langsung menuju keluar untuk mengambil baju-baju hamil yang tadi dibelinya dengan Alan.


Setelah beberapa lama, Denis kembali masuk kedalam kamarnya membawa baju-baju tersebut.


Risa langsung mencoba baju-baju tersebut satu persatu.


"Sayang bagus tidak?" Tanya Risa, Kini Risa mencoba baju hamil dengan ukuran yang lumayan besar, Membuat tubuhnya terlihat sepertinya gemuk sekali.


Denis hanya langsung mengeluarkan tawanya, Membuat Risa kesal.


"Kenapa kamu malah tertawa?" Tanya Risa dengan raut wajah yang begitu kesal.

__ADS_1


"Sekarang, Kamu terlihat seperti balon sayang." Jawab Denis yang kembali mengeluarkan tawanya.


Risa sadar kehamilannya yang semakin besar membuat bentuk tubuh Risa juga berubah, Mulai dari gunung kembar Risa, Perut Risa yang semakin membuncit dan berat badan Risa yang mulai naik, Hingga banyak dress cantik miliknya yang sudah tidak muat lagi dipakainya.


"Berhentilah tertawa, Aku menjadi seperti balon juga semua ini karena ulahmu." Kata Risa sambil memanyunkan bibirnya.


Denis langsung menghentikan tawanya, Lalu berjalan menuju ke tempat Risa berdiri. Lalu Denis memeluk Risa dari belakang.


"Maafkan Aku istriku, Benar katamu semua ini karena ulahku." Jawab Denis sambil meminta maaf pada Risa.


"Aku yang sudah membuatmu hamil, Terimakasih istriku sudah mau mengandung calon anakku." Gumam Denis.


"Aku kesal padamu, Kamu sudah mengataiku seperti balon." Risa ngambek sama Denis.


Denis hanya tersenyum, Lalu membenamkan wajahnya dileher Risa.


"Untuk menebus kesalahanku, Kamu mau apa katakan padaku!" Bujuk Denis agar Risa tidak ngambek lagi.


"Mau tidur sambil dielus-elus perutnya." Rengek Risa dengan manja.


Denis langsung menuruti apa mau istrinya, Kini Denis langsung mengangkat tubuh Risa keatas ranjang tempat tidurnya.


Kini mereka berdua sama-sama merebahkan tubuhnya diatas kasur, Denis dengan posisi miring sambil menyangga kepalanya dengan satu tangannya, Lalu tangan satunya mengelus-elus perut Risa.


"Aku pingin Anak kembar." Kata Risa tiba-tiba.


"Aku tidak tahu caranya membuat anak kembar itu bagaimana sayang." Jawab Denis, Yang memang tidak tahu cara membuat anak kembar.


Risa hanya tersenyum, Lalu langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Denis.


Biarpun Denis awalnya menolak perjodohan ini, Tapi sekarang Denis sudah sangat mencintai Risa dan melupakan Maya.


Dikamar Alya.


Alya sedang sibuk dengan laptopnya, Tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata itu telpon dari Mamanya diluar negeri.


"Mama menelpon." Gumam Alya.


"Hallo Ma." Sapa Alya.


"Hallo anak Mama, Mama dengar dari Bibi Anita katanya Kamu pacaran dengan Anaknya ya." Tanya Mama Yulia tanpa bertele-tele.


Ternyata Anita atau Mamanya Panji sudah mengabari Mamanya Alya, Kalau Alya dan Panji ternyata pacaran.


Alya terdiam.


"Semua ini gara-gara Aku pura-pura menjadi pacar Panji." Gumam Alya.


"Alya, Kamu tahu Mama dan Papa memang berniat menjodohkan kalian, Ehh kalian ternyata sudah pacaran." Kata Mama Yulia lagi.


"Iya Ma iya, Alya tahu. Tapi kenapa Mama dan Papa tidak memberi tahu Alya sebelumnya?" Tanya Alya dengan kesal.


"Tadinya, Mama mau memberi tahu tapi Kamu kan sudah pulang dari luar negeri." Jawab Mama Alya.


"Mama, Aku tidak mau dijodohkan!" Kata Alya tiba-tiba.


"Mama tidak mau tahu, Setelah lulus kuliah kalian langsung menikah saja." Jawab Mama Yulia, Yang tidak menerima penolakan dari Alya.


Dengan kesal Alya langsung mematikan saluran teleponnya.


"Dasar Mama, Bisa-bisanya menjodohkanku tanpa persetujuan dariku." Gumam Alya.


Mama Yulia langsung menaruh ponselnya diatas meja, Lalu menggelengang kepalanya.


"Mama menjodohkanmu, Karena Mama mau mendapatkan laki-laki yang baik." Kata Mama Yulia.


Iya alasan Mama Yulia menjodohkan Alya itu demi kebaikan Alya, Tapi tetap saja itu menjadi kemarahan untuk Alya.


Alya merasa sangat kesal, Lalu melempar ponselnya dengan begitu kasar.


"Bayangkan saja, Setelah lulus kuliah langsung nikah? Gumam Alya.


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2