Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 100


__ADS_3

“Aku rindu makan malam bersama Kak Cinta. Sudah seminggu Kak Cinta tidak makan malam di rumah.” Danish menggoda sang kakak.


Nessia melihat Danish yang sengaja benar-benar kesal sekali. Saudara kembarnya itu memang sangat menyebalkan.


“Kamu sedang merayuku?” tanya Loveta tersenyum.


“Aku serius. Aku rindu Kak Cinta.” Danish mendekat ke arah Loveta.


Loveta tersenyum. “Hanya kamu yang rindu?” Loveta berbicara pada Danish, tapi matanya memandang Nessia.


“Aku juga rindu.” Nessia memberanikan diri untuk bicara.


Loveta tersenyum. Dia tahu adiknya sedang takut padanya. Semarah-marahnya Loveta, tidak akan sampai lama. Apalagi maminya sudah turun tangan memberi nasehat.


Mendapati senyum sang kakak membuat Nessia tersenyum. Dia cukup senang karena kakaknya tampak tidak marah padanya lagi. Dia menebak pasti maminya sudah turun tangan.


“Sudah ayo makan.” Mami Neta mengajak anak, suami, dan menantunya untuk makan bersama.


Mereka semua segera menuju ke meja makan. Menikmati makan malam bersama. Liam merasa senang bisa menikmati makan malam bersama keluarga barunya. Ada perasaan menghangat yang dirasakannya.


Loveta melayani Liam. Mengambilkan makanan untuk suaminya itu.


Mami Neta senang melihat anaknya yang begitu perhatian pada suaminya. Memberi contoh pada Loveta paling tidak bisa membuat anaknya melakukannya.


“Ma, Pi, kami akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu sebelum mendapatkan rumah untuk tinggal.” Di tengah-tengah makan malam, Loveta menjelaskan pada kedua orang tuanya.


“Kenapa cepat sekali mau pindah?” Papa Dathan merasa anaknya terlalu cepat pergi dari rumah. Dia masih belum rela jika anaknya pergi. Merasa belum mau kehilangan.


Liam dan Loveta saling pandang. Tampak Papi Dathan tidak suka dengan keputusan mereka. Tentu saja itu membuat mereka bingung.


Mami Neta tahu kenapa anaknya mau buru-buru mau pergi. Jadi dia memberikan kode pada suaminya. Menepuk paha sang suami.


Papi Dathan menatap sang istri. Tatapan yang mengisyaratkan kenapa sang istri menghentikan aksinya itu.

__ADS_1


Mami Neta memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya. Seketika Papi Dathan langsung bungkam.


“Kapan kalian pindah? Mami akan bantu.” Mami Neta tersenyum pada sang anak.


Mendapati tanggapan sang mami yang mengizinkan membuat Liam dan Loveta berbinar. Paling tidak ada yang mendukung mereka.


“Besok aku akan kemasi pakaianku, Mi. Mungkin sore kami akan pindah.” Loveta tidak akan banyak berkemas. Dia bisa bolak-balik untuk mengambil bajunya. Jadi paling tidak, dia hanya akan mengambil yang dibutuhkan saja.


“Besok Mami akan bantu. Agar siang kalian bisa pindah.” Mami Neta tersenyum.


“Aku juga akan bantu, Kak.” Nessia tersenyum. Dia ingin menebus kesalahannya. Jadi dia akan membantu kakaknya.


“Baiklah, jika banyak yang membantu. Pasti akan jauh lebih cepat.” Loveta senang ketika keluarganya mau ikut membantu.


Papi Dathan masih penasaran sekali. Kenapa istrinya mengizinkan anaknya buru-buru pindah. Padahal dia masih ingin anaknya di rumah. Dia berpikir jika nanti akan menanyakannya.


 


...****************...


“Mereka butuh privasi.” Mami Neta duduk di kursi depan meja rias.


Setiap malam Mami Neta mengoleskan krim wajah untuk membuat kulitnya tetap sehat ketika dimakan usia.


“Privasi apa?” tanya Dathan polos.


“Sayang, mereka baru menikah. Mereka sedang ingin selalu berdua. Jadi wajar mereka ingin tinggal sendiri. Paling tidak mereka lebih leluasa.” Mami Neta mencoba menjelaskan pada sang suami. Tangannya terus mengoleskan krim di wajahnya.


Papi Dathan mengerti ke mana arah pembicaraan suaminya, tetapi dia masih belum bisa melepaskan anaknya.


Mami Neta menghampiri sang suami yang sedang duduk bersandar di tempat tidur. Duduk juga di samping sang suami.


“Tapi, aku masih ingin mereka di sini.” Papi Dathan mengungkapkan keinginannya.

__ADS_1


“Jangan egois. Kita pernah muda. Tahu bagaimana waktu berdua itu begitu menyenangkan. Jadi harusnya kamu lebih paham.” Mami Neta kembali mencoba memberikan pengertian pada sang suami.


Papi Dathan mengembuskan napasnya. Dia sangat mengerti sekali. Sewaktu muda dia juga seperti itu.


“Baiklah, aku mengerti.” Papi Dathan akhirnya mengalah. Dia tidak bisa egois. Karena sewaktu muda pun rasanya ingin selalu bersama istrinya. Apalagi setelah menikah.


“Pintar.” Mami Neta mendaratkan kecupan di pipi sang suami.


Mami Neta segera merebahkan tubuhnya. Perdebatannya sudah selesai. Jadi dia ingin segera tidur.


Melihat sang istri yang menciumnya, Papi Dathan segera mendaratkan kecupan di pipi sang istri.


“Berhenti.” Mami Neta langsung menghentikan aksi sang suami. Menahan bibir sang suami .


“Kenapa?” tanya Papi Dathan.


“Aku sudah pakai krim wajah. Jadi jangan dicium.” Mami Neta melarang sang suami untuk mencium bagian tersebut.


Papi Dathan heran sang istri benar-benar menyebalkan. Sampai tidak mau dicium, hanya karena pakai krim malam di wajah.


“Kalau begitu aku cium ini saja .” Papi Dathan langsung mendaratkan bibirnya di bibir sang istri.


“Tunggu-tunggu.” Mami Neta langsung menghentikan sang suami. Mencegahnya untuk mencium bibirnya.


“Kenapa lagi?” tanya Papi Dathan.


“Aku sudah pakai pelembab bibir.” Mami Neta memberikan alasannya.


Papi Dathan mengembuskan napas kasar. Istrinya benar-benar menguji kesabarannya.


“Kalau begitu aku akan mencium bagian yang tidak diberikan krim malam atau pelembab.” Papi Dathan menyeringai.


“Bagian mana?” tanya Mami Neta.

__ADS_1


“Bagian ini.” Papi Dathan langsung menurunkan baju tidur milik sang istri yang bertali spageti. Mendaratkan ciuman di bagian tubuh yang tak terkena krim malam dan pelembab bibir. Tempat yang selalu menjadi favoritnya meski sudah bertahun-tahun.


Mami Neta kali ini tidak bisa menolak. Apalagi gerakan sang suami begitu cepat. Membuatnya langsung terbuai. Jika sudah seperti ini, dia tahu ke mana arah ciuman itu. Karena tak ada kata bosan untuk tetap memuja satu sama lain. Alasan untuk mempererat hubungan mereka. Meluapkan rasa cinta yang tak pernah habis.  


__ADS_2