
Ruang persalinan telah siap. Dokter kandungan pun sudah siap. Dokter sebelumnya sudah berkoordinasi dengan dr. Lyra, mengingat Loveta adalah pasien dr. Lyra.
“Saya akan membantu persalinan. Tolong kerjasamanya, Dok. Nanti tarik napas, buang, dan dorong bayi. Kerahkan usaha untuk mengejan agar bayi bisa segera lahir.” Dokter memberitahu Loveta.
Loveta hanya menjawab dengan anggukan.
“Sayang, kamu pasti bisa. Kita akan bertemu dengan anak kita.” Liam memberikan semangat pada Loveta. Berharap dapat berjuang.
Loveta menatap sang suami. Dia tentu saja akan terus berusaha. Apalagi dia juga ingin bertemu anak mereka.
“Baiklah, Bu. Kita mulai. Ibu bisa menarik napas dan membuangnya bersamaan dengan mengejan.” Dokter memberikan aba-aba.
Loveta segera mengambil napas. Kemudian membuangnya. Bersamaan dengan itu, dia mendorong bayi tersebut. “Uuucccchhhh ….” Dia berusaha sekuat tenaga mengejan. Mengencangkan genggaman tangannya yang digenggam sang suami.
“Bagus, lakukan seperti itu lagi, Bu.” Dokter melihat jalan lahir miliki Loveta terbuka lebar.
“Uuuuchhh ….” Setelah kembali menarik napas, Loveta kembali mengejan. Dia berusaha keras agar anaknya dapat lahir. Bulir keringat yang keluar menandakan seberapa usahanya.
Liam mengusap keringat sang istri. Dia melihat jelas bagaimana sang istri sedang berusaha keras melahirkan anaknya. Sejujurnya Liam tidak tega melihat hal itu, tetapi dia tidak bisa menggantikan istrinya itu.
“Uuuchhhh ….” Loveta berusaha kembali mendorong bayi di dalam kandungannya keluar. Saat mendorong bayi tersebut, dia merasakan seperti tulang-tulangnya ingin patah. Belum lagi perutnya yang benar-benar mulas sekali. membuat keringat dingin membasahi tubuhnya. Pendingin ruangan pun tak menghalangi keringatnya mengalir deras.
“Terus, Bu. Kepalanya sudah kelihatan.” Dokter memberitahu Loveta. Berharap Loveta bisa berusaha lebih keras lagi.
Rasanya Loveta benar-benar tidak sanggup. Tubuhnya benar-benar lemas ketika terus berusaha mendorong bayinya.
“Sayang, teruslah berusaha. Kita akan bertemu anak kita. Buah cinta kita.” Sebuah kecupan mendarat di dahi sang istri.
Mengingat jika dia akan bertemu dengan anaknya, Loveta terus berusaha lagi. Dia kembali menarik napas lagi dan berusaha untuk mendorong bayi di dalam kandungannya.
“Uuuchhhh ….” Loveta mengejan sekuat tenaga.
“Terus, Bu. Dorong terus.” Dokter memberikan aba-aba.
“Uuuucccchhhh ….” Kali ini Loveta tidak lagi menggenggam tangan sang suami. Dia mencengkeram erat tangan suaminya itu sekuat tenaga. “Uuuuchhhh ….” Saat mengejan semua urat di tubuh Loveta terlihat jelas. Dia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya.
“Sedikit lagi, Bu.” Dokter meminta Loveta untuk kembali mengejan. Kepala bayi sudah setengah keluar. Jadi butuh dorongan lagi agar seutuhnya keluar.
“Uuuuchhh ….” Loveta berusaha untuk mengejan. Dia merasakan jelas sesuatu yang besar keluar dari jalan lahir bayi.
Dokter yang melihat bayi terlahir segera menarik tubuhnya. Kemudian menggunting ari-ari tersebut. Suara tangis bayi itu pun langsung terdengar. Hal itu membuat ketegangan di ruang persalinan terpecah.
“Selamat, Pak. Anak Ibu dan Bapak perempuan.” Dokter memberitahu Liam dan Loveta.
Air mata Liam tak tertahan lagi. Tidak menyangka jika anaknya yang lahir perempuan . Ini adalah kejutan yang luar biasa untuknya. Kejutan terindah dalam hidupnya.
__ADS_1
“Anak kita perempuan.” Liam berbisik pada sang istri.
Loveta yang mendengar itu merasa begitu bahagia sekali. Akhirnya anaknya lahir juga, dan yang menjadi kejutan adalah anaknya perempuan.
Dokter memberikan bayi pada perawat untuk dibersihkan, dokter masih melanjutkan persalinan untuk mengeluarkan ari-ari dalam rahim sang ibu. Setelah ari-ari keluar. Barulah persalinan selesai.
Perawat memberikan bayi mungil itu pada Loveta, menaruh tepat di dada sang ibu. Bayi kecil itu memegangi tubuh sang ibu. Berada di dalam kehangatan pelukan ibu.
“Anak kita.” Loveta menatap suaminya. Air matanya tak tertahan lagi. Begitu bahagia sekali ketika melihat anaknya akhirnya lahir.
“Lihatlah, dia perpaduan aku dan kamu.” Liam menatap sang anak. Sebuah kecupan pun mendarat di pipi sang anak. Anaknya begitu cantik sekali. Tak pernah terbayangkan olehnya kini dia jadi seorang ayah dari putri cantik.
...****************...
Di luar ruang persalinan, semua bernapas lega ketika suara bayi terdengar. Hal itu membuat mereka senang karena cucu pertama mereka lahir juga.
“Cucu kita.” Mami Neta memeluk sang suami. Air matanya menetes.
“Iya, cucu kita sudah lahir.” Papi Dathan tak bisa menyembunyikan kebahagiaan.
“Dengarkan, suara tangisnya merdu sekali.” Mama Arriel juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Di dalam pelukan sang suami dia menangis.
Papa Adriel berusaha untuk menenangkan sang istri. Dia turut bahagia dengan kehadiran cucu pertamanya.
“Anaknya perempuan, Bu.” Perawat menjelaskan hal itu.
“Cucu kita perempuan.” Mami Neta langsung memberitahu sang suami. Padahal sang suami jelas mendengar jawaban dari perawat.
“Iya.” Papa Dathan tersenyum.
“Loveta kecil sudah lahir.” Papa Adriel menambahkan.
Papi Dathan membenarkan. Loveta kecil kini hadir. Dia yakin jika cucunya akan secantik anaknya.
Perawat membawa anak Loveta dan Liam keluar. Papi Dathan, Mami Neta, Mama Arriel, dan Papa Adriel langsung menghampiri cucu mereka. Mereka melihat jelas jika cucu mereka begitu cantik sekali. Kulit putih dengan bibir merah yang cantik sekali.
“Seperti Cinta sewaktu lahir.” Papi Dathan meneteskan air matanya. Seolah dia dikembalikan pada puluhan tahun lalu di mana sang anak.
“Iya, mirip Lolo sewaktu lahir.” Mama Arriel membenarkan ucapan sang suami.
Mereka begitu merasa senang melihat cucu mereka. Sayangnya, mereka tidak bisa berlama-lama. Karena bayi kecil itu harus dibawa ke ruang bayi. Untuk mendapatkan pemeriksaan.
__ADS_1
...****************...
Loveta sudah berada di ruang perawatan. Keluarga senantiasa menemani Loveta yang berada di ruang perawatan. Mereka ikut senang karena Loveta akhirnya berhasil berjuang melahirkan anaknya. Setelah dua puluh empat jam, akhirnya anak mereka bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bersatu dengan ibunya. Semua keluarga ada di ruang perawatan. Mereka ingin ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Liam dan Loveta.
“Dia benar-benar mirip kamu.” Papi Dathan tersenyum. Merasa jika Loveta kecil sama persis seperti itu.
Loveta tersenyum. Dia pernah melihat foto masa kecilnya, dan benar saja. Memang anaknya mirip dengannya.
“Setelah ini kita harus beli baju untuk ….” Mami Neta menggantung ucapannya. Cucunya sudah lahir, tetapi belum tahu siapa namanya. “Siapa namanya?” tanya Mami Neta ingin tahu.
Loveta menatap sang suami. Meminta izin untuk memberitahu mereka. “Luella Lumina.” Dia sudah menyiapkan nama itu untuk anaknya.
“Nama yang cantik.” Mama Arriel begitu terpesona dengan nama yang disebut sang anak.
“Kenapa panggilannya susah seperti nama kakak.” Nessia melayangkan protes.
“Apa yang susah? Bisa dipanggil Luella, Ella, Lumi, Mina, atau ….” Danish memikirkan nama apa lagi yang bisa mewakilkan nama keponakannya itu.
“Lulu.” Alca menambahkan nama itu.
Danish mengangguk. Membenarkan jika banyak nama panggilan untuk keponakannya.
“Apa pun panggilannya. Yang penting dia adalah cucu oma yang cantik.” Mama Arriel begitu gemas sekali ketika melihat cucunya yang berada di dalam gendongan sang mami.
“Benar, dan karena cucu yang cantik ini, Omi akan belikan baju yang bagus-bagus agar semakin cantik.” Mami Neta begitu gemas sekali. Tak sabar melakukan hal itu.
“Iya, kita akan beli setelah ini.” Mama Arriel begitu tak sabar melakukan itu.
Papi Dathan dan Papa Adriel saling pandang. Mereka hanya bisa menggeleng heran. Yang lain pun sudah bisa menebak akan seperti apa jika dua wanita itu berbelanja bersama. Namun, mereka semua tahu jika itu adalah kebahagiaan sebagai seorang nenek.
...****************...
Keluarga sudah pulang. Kini tinggal Liam dan Loveta saja, Liam memandangi anak mereka. Anaknya begitu cantik sekali. Membuatnya tak berhenti bersyukur karena istrinya benar-benar berjuang dengan hebatnya.
“Terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan malaikat kecil kita.” Liam mendaratkan kecupan di punggung tangan sang istri.
Loveta tersenyum. “Aku juga berterima kasih karena sudah menemani aku selama berjuang. Mungkin jika tidak ada kamu aku akan kesulitan untuk melewati semua.” Kehadiran Liam adalah kekuatan terbesarnya.
“Aku tentu akan selalu ada untukmu. Untuk anak kita. Aku akan selalu menjaga kalian selamanya. Menjadikan kalian tujuan hidupku dan rumahku untuk pulang.” Liam mendaratkan kecupan di punggung tangan sang istri.
Loveta tersenyum. Merasa bahagia sekali dengan kehadiran Liam di hidupnya. Tidak pernah dia sangka jika jodohnya adalah teman masa kecilnya. Walaupun sudah berpacaran dengan Leo, tetapi dia kembali pada Liam. Pesona Liamlah yang meluluhkan hatinya. Membawanya ke pernikahan. Kini kebahagiaan mereka semakin bertambah ketika si kecil hadir.
__ADS_1
Liam merasa kebahagiaan sudah lengkap. Perjalanan kembali ke tanah air selain membuatnya mendapatkan restoran, juga mendapatkan Loveta, dan kini bertambah lengkap dengan bertambah anak hasil cintanya dengan Loveta. Dia berharap jika hidup mereka akan bahagia selamanya.