Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 101


__ADS_3

“Apa tidak masalah aku tinggal kamu mengemasi pakai sendiri?” tanya Liam seraya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.


“Tidak masalah. Tenang saja. Ada mami dan Nessia yang akan bantu.” Loveta menghampiri sang suami yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Liam jauh lebih tenang. Karena ada keluarganya yang membantu. Jika bukan karena ada rapat di restoran. Mungkin Liam akan ikut membantu.


“Baiklah.” Liam mengangguk.


“Kenapa aku melihatmu begitu seksi sekali?” Loveta membelai lembut dada sang suami yang basah. Air yang mengalir di perut kotak-kotak sang suami tampak indah sekali.


“Sayang, aku sudah berusaha keras untuk menahan diri. Jadi tolong jangan menggodaku.” Semalam Liam memilih tidak menjamah sang istri. Dia merasa tidak leluasa ketika berada di rumah mertuanya. Takut suara indah yang keluar dari mulut sang istri terdengar.


Loveta tersenyum. Dia paham betul semalam sang suami menahan diri. Walaupun sebenarnya tidak tega, tetapi dia senang menggoda sang suami. Dia masih membelai lembut dada sang suami sampai perut.


“Jangan.” Liam memberikan peringatan pada sang istri. Mencekal tangan sang istri agar tidak ke mana-mana.


Loveta hanya tertawa ketika suaminya mencekal tangannya.


“Sejak kapan kamu berani?” tanya Liam. Dia tahu istrinya biasanya malu-malu. Namun, kali ini sang istri berani sekali.


“Sejak melihatmu yang berusaha menahan diri. Kamu tampak menggemaskan sekali.” Loveta tersenyum.


“Kali ini aku akan menahan diri, tapi nanti saat di apartemen aku tidak akan melepaskanmu.” Liam menyeringai.


“Kita lihat saja.” Loveta benar -benar senang sekali menggoda sang suami.

__ADS_1


 


...****************...


Loveta mengemasi pakaiannya. Karena tidak banyak yang dibawa, jadi tidak banyak yang dikerjakan.


“Hanya ini yang kamu bawa?” tanya Mami Neta.


“Iya, Mi. Hanya ini. Lagi pula aku bisa pulang untuk mengambil apa yang aku butuh jika aku perlu.”


Mami Neta memikir kan hal itu. Ada benarnya juga sang anak membawa barang terlalu banyak. Lagi pula rencananya anaknya akan mencari rumah. Jadi tinggal di apartemen hanya sementara saja.


“Kapan rencananya kalian akan mencari rumah?” Kemarin Liam sudah bercerita ingin mencari rumah. Jadi Mami Neta ingin tahu.


“Aku belum bicara dengan Kak Liam. Mungkin setelah ini kami akan pikirkan.” Sejak bulan madu, pembahasan mereka berdua hanya seputar cinta. Belum membahas sejauh itu.


“Aku belum tahu mau cari di mana.” Loveta sendiri merasa bingung.


“Coba tanyalah pada Kean. Siapa tahu Adion sedang membuat perumahan.” Mami Neta memberikan ide.


Lovetu tidak terpikir sama sekali untuk bertanya pada Kean. Padahal Adion Company sering membuat perumahan baru. perumahan-perumahan dari Adion, biasanya sangat bagus-bagus. Fasilitas yang ditawarkan juga biasanya ramah anak. Jadi jika sudah berkeluarga, pas sekali membeli rumah di Adion.


“Aku akan coba tanya Kean nanti, Mi.”


Loveta dan Mami Neta merapikan pakan yang tersisa, sedangkan Nessia membantu merapikan barang barang yang berada di atas meja rias. Tak butuh waktu lama sebelum makan siang semua sudah beres. Loveta berpikir jika setelah makan siang, pastinya dia akan bisa pindah sekalian.

__ADS_1


...****************...


Liam menyelesaikan rapatnya. Hari ini Liam membahas rencana restoran ke depan. Beberapa inovasi juga dibuat Liam untuk memajukan restoran. Liam memang tidak mau sampai restoran bangkrut.


Liam juga sudah belajar banyak dari restoran tersebut miliki temannya. Jadi Liam sudah banyak ilmu yang didapat dan bisa diterapkan.


“Saya sudah mengirimkan berkas data chef restoran kita, Pak.” Asisten memberitahu Liam. Liam sendiri yang ingin tahu siapa saja yang akan menjadi chef baru di restoran miliknya.


“Terima kasih.” Liam mengangguk.


“Ada informasi tentang Pak Leo, Pak.” Asisten kembali memberitahu Liam.


Seketika Liam mengalihkan pandangan pada asistennya ketika ada informasi dari adik tirinya itu.


“Informasi apa?” tanya Liam.


“Rumah miliki keluarga Smith itu sudah dijual. Sudah ada pembeli yang membeli rumah tersebut.”


Sebenarnya rumah itu dibeli saat mamanya masih menikah dengan papanya. Namun, Liam tidak meminta hak atas rumah itu. Liam sudah mendapatkan restoran. Jadi dia tidak mau merebut rumah itu juga, karena tidak tega dengan adik tirinya itu.


“Siapa yang membelinya?” tanya Liam.


“Rumahnya dibeli pengusaha batu bara.”


“Baiklah, terima kasih informasinya.” Liam berniat tidak mau ikut campur urusan Leo. Dia berpikir mungkin Leo menjual rumah untuk membuat usaha atau untuk membeli rumah. Apa pun alasannya Liam hanya bisa berharap adik tirinya itu baik-baik saja.

__ADS_1


“Permisi, Pak.” Asisten segera keluar dari ruangan Liam.


Liam segera menyelesaikan pekerjaannya. Tadi sang istri sudah memberikan kabar jika sudah selesai mengemasi pakaian. Jadi siang ini bisa langsung ke apartemen. Liam ingin segera menyelesaikan. Agar bisa segera pindah ke apartemen. Tak sabar menikmati waktu berdua dengan sang istri di apartemennya.


__ADS_2