
Bella terus menangis di samping sang suami. Dia tidak menyangka sang suami akan terkena serangan jantung seperti ini. Dia tahu bagaimana perjuangan sang suami selama ini.
Di ruangan dokter, Leo berbicara dengan dokter. Membahas perkembangan papanya.
“Keadaan Pak Josep baik. Dia hanya terkena serangan jantung ringan. Untung segera cepat dibawa ke sini. Tapi, tetap ke depan harus tetap dijaga. Jangan sampai membuat dia terkejut.” Dokter memberitahu Leo.
“Terima kasih, Dok. Kami akan menjaga dengan baik.” Leo mengangguk.
Dokter pergi meninggalkan Leo.
Leo hanya bisa pasrah ketika melihat jika ternyata papanya begitu terpukul sekali dengan putusan sidang.
Leo sendiri merasa ini adalah pukulan berat untuknya juga. Karena akhirnya dia harus merelakan restoran tersebut.
Saat keluar dari ruangan dokter dan menuju ke ICU, Leo melihat Liam di sana. Hatinya langsung bergemuruh melihat hal itu.
“Brengsek!” Leo tanpa aba-aba langsung memukul Liam.
Liam cukup terkejut dengan gerakan Leo yang mendadak. Sehingga dia tidak bisa menghindar.
“Leo.” Loveta yang sampai di depan ruang ICU pun langsung berlari. Menarik tubuh Leo untuk menjauh dari Liam.
__ADS_1
Tadi Loveta sempat menghubungi Leo menanyakan tentang hasil sidang. Namun, justru mendapat kabar jika papa Leo di rumah sakit. Loveta yang memang sedang bersama maminya langsung ke rumah sakit ketika mendapat kabar itu.
Mami Neta yang kebetulan ikut pun langsung membantu Liam yang tersungkur di lantai.
“Untuk apa kamu ke sini? Apa kamu mau menertawakan papaku yang masuk ICU?” tanya Leo ketus.
Liam memilih diam. Dia sendiri datang karena khawatir melihat papanya. Ini hanya perasaan iba sesama manusia.
“Leo, tenanglah, ini rumah sakit.” Loveta mencoba menenangkan Leo. Dia beralih pada Liam dan maminya. “Sebaiknya Kak Liam pergi saja.” Loveta tidak mau kehadiran Liam menjadi masalah. Apalagi mereka sedang berada di rumah sakit.
“Ayo Liam.” Mami Neta mengajak Liam.
Leo mengembuskan napasnya ketika Liam pergi. Dia benar-benar benci dengan Liam. Gara-gara pria itu papanya masuk rumah sakit.
“Kamu lihat. Dia bukan pria baik. Dia membuat papaku terkena serangan jantung.” Leo menatap Loveta.
Loveta tidak bisa berkata apa-apa. Apalagi Leo sedang dalam keadaan emosi jelas itu akan memperkeruh keadaan.
“Tenanglah. Fokuslah saja pada papamu. Jangan pikirkan yang lain dulu.” Namun, tetap saja Loveta tidak bisa tinggal diam saja. Dia tetap harus menenangkan Leo.
Leo melihat ke arah ICU. Dia harus fokus pada papanya lebih dulu. Hanya dirinya yang bisa diandalkan.
__ADS_1
Loveta mengajak Leo ke ruang tunggu. Mencari tempat duduk yang nyaman untuk Leo agar lebih tenang.
...****************...
Mami Neta membawa Liam ke restoran yang berada di rumah sakit. Pipi Liam tampak lebam karena pukulan Leo tadi. Hal itu membuatnya meminta air es untuk mengompresnya.
“Kompres dulu pipimu.” Mami Neta memberikan botol dingin pada Liam.
Liam segera menerima botol tersebut. Kemudian menempelkannya di pipi. Walaupun sedikit sakit, tetapi Liam berusaha menahannya.
“Apa hasil sidang mengatakan jika kamu yang menang?” Mami Neta menebak apa yang terjadi. Karena tidak mungkin Josep bisa sampai kena serangan jantung jika dia yang menang.
“Iya, aku yang menang.” Liam mengangguk.
Ternyata tebakan Mami Neta benar. Namun, memang tidak menyangka jika sampai seperti ini.
“Apa aku salah menang dalam penderitaan orang lain, Kak?” Liam menatap Mami Neta. Walaupun dia tidak suka dengan papanya, tetapi membuat orang lain terluka membuat Liam sendiri sedih.
“Tergantung kamu melihatnya. Jika kamu merasa itu bayaran setimpal dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu, aku rasa tidak salah. Tapi, jika kamu merasa jika bagimu masa lalu sudah biarkan berlalu, maka kamu bisa memilih jalan lain. Yaitu mengikhlaskan. Walaupun aku tahu akan sangat sulit untuk mengikhlaskan.” Mami Neta memberikan sudut pandangnya.
Liam mencoba memahami kata-kata Mami Neta. Walaupun dia sadar jika akan sulit melakukannya. Terlebih perjuangannya tidak sebentar.
__ADS_1