
Dua hari di rumah membuat Loveta benar-benar beristirahat. Sayangnya, mual dan rasa ingin muntah tidak menghilang sama sekali. Tetap terasa begitu menyiksa. Seperti pagi ini, Loveta sudah bersiap untuk pergi ke Marlene Shoes. Namun, tiba-tiba rasa ingin muntah menghampiri. Terpaksa dia muntah.
“Hoek … hoek ….” Loveta terus mengeluarkan isi perutnya. Memuntahkan semua apa yang baru saja dimakannya pagi ini.
Liam memijat tengkuk sang istri. Berharap itu dapat meredakan apa yang dirasakan sang istri. Sejujurnya, Liam tidak tega ketika melihat sang istri yang muntah, tetapi memang itu adalah sebagian dari proses yang dialami ibu hamil.
Setelah merasa tidak ada yang bisa keluar lagi, akhirnya Loveta menghentikan aksinya. Dengan segera membasuh mulutnya. Sambil menegakkan kepalanya, dia menatap sang suami dari pantulan cermin.
“Ayo, aku akan buatkan teh hangat.” Liam menatap sang istri dari pantulan cermin.
Loveta mengangguk. Dia memang ingin duduk dan menyandarkan tubuhnya. Karena tubuhnya terasa lemas.
Liam memapah sang istri untuk ke kamar. Dia membantu sang istri untuk duduk di atas tempat tidur. Bersandar dengan headboard tempat tidur. Setelah memastikan sang istri baik-baik saja, Liam segera ke dapur. Membuat teh hangat.
Beberapa saat Liam datang dengan membawa secangkir teh. Kemudian memberikan pada sang istri.
Loveta menyesap teh hangat tersebut. Saat minuman hangat itu masuk ke tubuhnya, dia merasa jauh lebih baik.
“Apa sebaiknya kamu tidak perlu datang ke toko hari ini?” Sebenarnya Liam ragu mengatakan ini. Namun, dia sadar jika keadaan istrinya tidak memungkinkan.
Mendapati permintaan suaminya itu Loveta membulatkan matanya. Tidak mungkin dia tidak datang ke toko untuk launching produk yang dibuatnya. Ini adalah impiannya bisa membuat sesuatu. Pencapaian pertamanya sejak bekerja. Jadi jika diminta untuk datang tentu saja Loveta tidak bisa.
“Aku harus datang. Aku tidak mau kehilangan momen ini.” Loveta menatap sang suami penuh harap. “Sayang, tolong izinkan aku. Aku yakin akan baik-baik saja.” Dia berusaha untuk meyakinkan sang suami.
__ADS_1
Liam sebenarnya tidak mau sama sekali melakukan hal ini, tetapi mau apa lagi istrinya sangat ingin hadir. “Baiklah, tetapi berjanjilah jika merasa tidak enak, langsung katakan padaku. Aku tidak mau kamu pingsan lagi di tengah-tengah acara nanti.” Liam memang mengkhawatirkan akan hal itu. Takut jika sang istri akan pingsan tiba-tiba seperti tempo hari.
“Aku janji, jika merasa pusing, atau mual yang tak tertahankan, aku akan mengatakan padamu.” Loveta tentu tidak mau kehilangan kesempatan ini.
“Baiklah, habiskan tehmu dan kita pergi.” Liam tersenyum. Istrinya sangat bersemangat dalam hal ini. Jadi wajar jika sang istri akan tetap pergi meskipun mungkin tubuhnya lemas.
***
Launching produk baru yang diciptakan oleh Loveta berkolaborasi dengan Liam begitu ramai. Banyak orang yang ingin melihat koleksi cantik sepatu dengan hiasan permata itu. Rata-rata dari mereka adalah calon pengantin, artis, dan model. Mereka tentunya ingin menggunakan sepatu itu di acara-acara khusus.
Loveta dan Liam dengan semangatnya menjelaskan koleksi terbaru. Bagaimana proses pembuatan dan juga bahan yang digunakan. Semua dijelaskan secara rinci. Antusias para pengunjung yang hadir pun sangat tinggi. Terbukti mereka langsung menjajal sepatu tersebut, ditemani oleh staf khusus. Beberapa yang suka pun langsung memesan sepatu tersebut. Baru saja dibuka sudah ada dua puluh yang memesan sepatu itu. Mengingat harganya dibandrol cukup mahal, wajar jika tidak semua dapat membelinya.
“Lihatlah, sudah ada banyak yang membeli.” Loveta tidak menyangka jika ternyata akan banyak peminat dari sepatu khusus buatnya itu.
Loveta berharap jika apa yang dikatakan sang mama akan jadi kenyataan. Berharap anak ada pembelian dalam jumlah banyak. Karena tentu saja akan memberikan banyak keuntungan.
“Kamu pasti bisa menjual lebih banyak, Sayang.” Mami Neta ikut bahagia dengan pencapaian anaknya.
“Terima kasih, Mami.” Loveta juga turut bahagia karena saat launching produk pertama yang dibuatnya ini, semua keluarga hadir.
Papi Dathan yang melihat putri kecilnya sudah begitu hebat, membuatnya merasa bangga sekali. Tentu saja sebagai orang tua dia merasa senang dengan pencapaian sang anak.
Papa Adriel memberikan dukungan dengan memuat berita launching ini di majalah. Dia akan memuat foto Liam dan Loveta di depan majalah bisnis. Tentu saja ini akan menjadi daya tarik para pengusaha untuk turut melihat produk dari Loveta dan Liam. Apalagi Malya Jawelry adalah toko pertama yang bekerja dengan perusahan dari Italia.
__ADS_1
Nessia, Danish, dan Alca yang turut hadir, melihat koleksi-koleksi yang dibuat oleh kakak mereka. Alca belajar tentang detail sepatu tersebut. Belajar bagaimana produk itu dipasarkan. Dia memang harus banyak belajar karena kelak dia dan kakaknya akan mengelola toko perhiasan. Danish yang melihat pun sama. Mencari tahu celah yang bisa dipelajari. Tidak mau kesempatan sia-sia begitu saja.
Berbeda dengan dua pria tersebut, Nessia lebih suka dengan mengagumi sepatu tersebut. Dia benar-benar terpesona. Karena begitu terkagum-kagum, dia segera menghampiri sang kakak.
“Kak, sepatunya bagus sekali. Aku mau.” Nessia begitu terpesona dengan sepatu buatan kakaknya.
“Menikahlah dulu, maka aku akan memberikannya.” Loveta tersenyum.
“Baiklah, aku akan mencari pria dan menikah. Maka aku akan mendapatkan sepatu itu.” Nessia tidak sabar untuk mendapatkan sepatu tersebut.
“Pacar saja tidak punya mau menikah!” Danish mencibir saudaranya itu.
“Aku akan cari nanti.” Nessia dengan percaya diri menjawab.
“Mau aku carikan?” tanya Danish tersenyum.
“Boleh-boleh.” Nessia berbinar.
“Itu.” Danish menunjuk kakek-kakek tua yang sedang berada di depan toko sepatu. Dia tahu saudaranya suka pria-pria yang lebih tua.
“Sial!” Nessia langsung memukul bahu Danish.
Danish tertawa. Dia selalu suka menggoda saudaranya itu.
__ADS_1