
Akhirnya Liam dan Loveta sampai juga di vila tempat mereka menginap. Saat sampai di hotel, mereka disambut dengan pemandangan indah lautan dari kamar hotel. Tampak begitu indah sekali. Tempat tidur sudah dihiasi bunga-bunga. Liam memang memesan paket honeymoon. Jadi tentu saja kamar di dekor dengan bunga.
“Wah ... pemandangannya indah sekali.” Liam sendiri yang memesan hotel, dan dia dibuat tercengang dengan pemandangan indah.
Liam segera membuka pintu kaca kamarnya yang menghadap ke laut. Ada kolam renang yang seolah terhubung dengan laut. Padahal laut cukup jauh dari hotel. Udara laut yang menerpa membuat Liam melebarkan tangannya. Merasakan angin laut yang menerpanya.
Loveta hanya tersenyum saja. Sang suami ternyata begitu kagum melihat pemandangan laut. Padahal baginya itu tampak biasa saja.
“Akan lebih indah jika kita menyelam. Kamu akan lihat keindahan bawah laut.” Loveta menghampiri sang suami.
“Benarkah? Aku tak sabar untuk menyelam ke laut.” Liam berbinar ketika mendapat ajakan sang istri.
“Iya, aku akan mengajakmu menyelam.”
“Tapi, sepertinya sekarang aku mau menyelam.” Liam menatap sang istri.
“Kak Liam mau menyelam sekarang?” Loveta lebih pendek dibanding Liam. Jadi dia sedikit mendongak ketika menatap sang suami.
“Iya, menyelam ke lautan cinta.” Liam langsung menangkup tubuh sang istri.
__ADS_1
“Ach ....” Karena gerakan Liam tiba-tiba, membuat Loveta begitu terkejut sekali.
Liam menggendong Loveta ala bridal style. Kemudian membawanya masuk ke kamar.
“Kak Liam mau apa?” tanya Loveta polos.
“Mengarungi samudra kenikmatan.” Liam mengedipkan matanya. Menurunkan tubuh Loveta perlahan ke atas tempat tidur.
Loveta tahu apa yang akan dilakukan oleh Liam. Apalagi jika bukan mengajaknya untuk melakukan malam pertama mereka.
“Apa Kak Liam akan melakukannya siang-siang seperti ini?” tanya Loveta memastikan. Ini masih jam sepuluh, karena tadi dia berangkat dari hotel jam delapan pagi. Jadi sampai di Bali jam sepuluh.
Loveta merasa jika yang dikatakan oleh Liam ada benarnya. Tidak melulu jika malam pertama harus malam hari. Namun, rasanya agak aneh jika siang-siang.
“Tutup dulu pintunya, Kak.” Tidak ada alasan untuk menolak. Jadi tentu saja Loveta justru mengizinkan Liam melakukannya.
Liam langsung bangkit lagi. Segera berjalan ke pintu yang ke mengarah ke pantai. Dia menutup pintu kaca tersebut. Tak hanya pintu kamar tersebut, gorden juga ditutup. Tak mau sampai ada orang yang melihat kegiatan mereka siang bolong.
Saat pintu ditutup tiba-tiba kamar jadi gelap. Loveta langsung bangun untuk menyalakan lampu tidur. Kamar pun ada sedikit cahaya dari lampu kecil di kamar itu.
__ADS_1
Liam langsung menghampiri sang istri. Memeluknya dari belakang.
Jantung Loveta begitu berdebar-debar. Nyalinya langsung ciut ketika Liam mendekat ke arahnya. Keberanian yang sudah dia kumpulkan selama ini seketika sirna begitu saja.
Liam menyibak rambut panjang Loveta. Mendaratkan kecupan di leher sang istri. Aroma wangi tubuh sang istri membuat Liam tak kuasa menahan diri.
Kecupan singkat di leher menuju ke bahu yang diberikan Liam membuat Loveta memejamkan matanya. Menikmati gelenyar aneh yang tiba-tiba dirasakannya.
Liam membalikkan tubuh sang istri. Tatapan penuh damba terlihat jelas dari sorot matanya.
Loveta tersipu malu ketika Liam menatapnya. Tatapan itu terasa menyentuh hatinya. Dia jelas merasakan cinta yang diberikan Liam untukku.
“Terima kasih sudah mau menikah denganku.” Liam membelai lembut pipi Loveta.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih sudah menungguku selama ini. Terima kasih sudah tanpa henti mencintaiku. Terima kasih tidak menempatkan orang lain di tempat yang seharusnya menjadi milikku.” Loveta merasa sangat beruntung sekali karena Liam tidak pernah menjalin hubungan sama sekali. Tetap mencintainya. Meski akhirnya meliat dirinya bersama yang lain.
“Cintaku hanya untuk. Tempatmu memang tidak akan bisa diisi oleh wanita lain.” Liam mendaratkan bibirnya tepat di bibir sang istri.
__ADS_1