
Babymoon yang dilakukan Liam dan Loveta memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka bisa menikmati waktu berdua. Karena pasti setelah anak mereka lahir, mereka akan sangat sibuk.
Setelah Babymoon, kini mereka akan lebih fokus pada kandungan Loveta. Apalagi waktu melahirkan sebentar lagi.
“Kapan kamu akan berhenti bekerja?” Di usia kandungan tujuh bulan, Loveta masih bekerja. Tentu saja itu membuat waswas Liam. Mengingat kandungan Loveta sudah besar.
“Bulan depan aku sudah cuti. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.” Loveta tersenyum. Dia masih nyaman bekerja. Merasa pekerjaan tidak mengganggu kehamilannya sama sekali.
Liam hanya bisa pasrah. Sang istri memang tidak pernah mengeluh apa-apa. Sejauh ini hanya hal-hal ringan saja yang dikeluhkannya.
“Baiklah, bulan depan, dan jangan mundur lagi.” Liam memberikan peringatan pada sang istri.
“Siap, Papi Bos.” Loveta memberikan hormat pada suaminya.
Loveta mencubit pipi Loveta. Merasa gemas dengan sang istri. Semakin hari sang istri memang semakin menggemaskan. Liam hanya membayangkan, pasti anaknya juga akan sama menggemaskannya dengan sang istri.
__ADS_1
Loveta dan Liam segera berangkat bekerja. Liam mengantarkan sang istri ke toko lebih dulu. Barulah Liam berangkat bekerja.
...****************...
Kamar sudah siap untuk menyambut calon bayi yang sebentar lagi hadir. Dekorasi lebih dominan putih karena memang belum tahu mau di dekorasi apa. Liam dan Loveta hanya mempersiapkan ala kadarnya saja. Nanti setelah anak mereka lahir, barulah mereka akan memikirkan akan didekor apa kamarnya nanti.
“Sebenarnya mau perempuan dan laki-laki, dekor putih cocok saja. Aku rasa tidak perlu berlebihan mendekor pastinya aman.” Liam merasa jika memang tidak perlu dekorasi untuk membedakan jenis kelamin.
“Tetap saja, anak perempuan itu suka warna-warna lembut.” Loveta memberitahu sang suami.
“Padahal perempuan sekarang suka pakaian yang warnanya bertabrakan. Jadi aku rasa warna-warna lembut hanya diciptakan oleh orang tua. Orang tua memberikan anak mereka warna-warna lembut, jadi mau tidak mau anak ikut juga.” Liam menyanggah ucapan Loveta.
__ADS_1
Loveta malas sekali berdebat dengan suaminya. Tetap saja dia akan kalah. Lebih baik dia mengalihkan pembicaran.
“Aku lapar.” Loveta menatap sang suami memohon. Hari ini kebetulan asisten rumah tangga pulang. Karena takut nanti setelah Loveta melahirkan akan sulit untuk pulang, dia memilih untuk pulang dulu.
Suami mana yang tega istrinya meminta makan. Tentu saja Liam tidak tega dengan hal itu. “Ayo, aku akan masakkan untukmu.” Liam meraih tangan sang istri. Mengajaknya ke dapur.
Di dapur, Liam mencari bahan masakan yang bisa dipakai. Setelah melihat-lihat makan masakan, Liam memilih untuk membuat lasagna. Tentu saja dengan keju yang meleleh. Pastinya akan sangat enak nanti.
Loveta menunggu sang suami yang sedang beraksi bak chef terkenal. Dia tidak ikut membantu karena sang suami memintanya untuk duduk manis saja. Dia justru asyik mengajak sang suami mengobrol. Mengobrol banyak hal.
Setelah satu jam berada di dapur, akhirnya masakan jadi juga. Liam menyajikan masakannya ke dalam sebuah piring. Meminta sang istri untuk memakannya.
“Emm ….” Rasa gurih bercampur dengan rasa asin dari keju mozzarella menyatu sempurna. Loveta menikmati setiap gigitan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. “Ini enak sekali.” Loveta tak bisa berbohong jika memang suaminya memiliki bakat memasak. Jika restoran jatuh ke tangan Liam. Memang sudah sepantasnya.
“Makanlah yang banyak. Agar anak kita saat keluar sehat.” Liam senang ketika sang istri makan dengan lahap. Berharap jika sang anak akan lahir dengan keadaan sehat. Jika ibunya bahagia, anaknya juga akan bahagia, jika ibunya sehat, maka anaknya juga sehat. Itu hanya sepenggal harapan Liam.
__ADS_1