
Mendapati telepon dari Leo yang meminta Liam untuk bertemu. Tentu saja itu membuat Liam cukup terkejut. Tidak ada angin tidak ada hujan, pria itu mengajak bertemu. Tentu saja Liam bingung apa yang membuat Leo memintanya untuk bertemu.
Rasa ingin tahu Liam membuat dia segera ke restoran, tempat di mana Leo memintanya untuk bertemu.
Setengah jam perjalanan, akhirnya Liam sampai di restoran. Tampak Leo sudah menunggunya di salah satu meja yang berada di sudut restoran.
“Ada apa kamu meminta aku ke sini?” tanya Liam seraya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya.
Leo masih diam. Dia menunggu Liam benar-benar duduk terlebih dahulu. Seraya menyusun kalimat yang pas untuk dikatakan pada Liam.
“Apa penawaranmu masih berlaku?” Leo memberanikan diri bertanya hal itu pada Liam. Saat tak ada jalan keluar membuat Leo berpikir jika menerima tawaran Liam menukar Loveta adalah jalan keluar. Walaupun sejujurnya berat untuknya menerima ini semua.
Liam mencoba mengingat tawaran yang diberikan. Hingga akhirnya dia mengingat jika tawaran itu adalah tawaran menukar Loveta dengan restoran.
“Apa kamu sudah menyerah?” Liam menyeringai. Terakhir kali menawarkan pertukaran itu, Leo dengan lantangnya menolak. Namun, kini dia menanyakan penawaran itu. Seolah sudah pasrah jika tawaran itu saja jalan keluarnya.
__ADS_1
“Aku tidak ingin menyerah, tetapi keadaan yang memaksa aku untuk menyerah.” Leo sadar jika sulit baginya mendapatkan restoran lagi. Karena itu dia memilih untuk merelakan Loveta. Leo tidak bisa melihat keluarganya terpukul kehilangan keluarga.
“Penawaran itu sudah tidak berlaku. Aku tidak mau menyakiti Cinta dengan menukarnya dia dengan restoran.” Liam sudah memikirkan baik-baik. Penawaran ini justru akan merugikannya. Jadi dia memilih untuk menarik penawarannya itu.
Leo mengembuskan napasnya kesal. Tidak menyangka jika Liam justru sudah menarik penawarannya itu. Padahal kali ini dia butuh penawaran itu.
“Apa kamu yakin jika Lolo menikah denganku dia akan baik-baik saja? Terlebih lagi aku sudah tidak punya apa-apa. Apa kamu yakin menarik penawarannya?” Leo mencoba menjelaskan bagaimana kehidupan mereka ke depan agar Liam berpikir ulang menarik penawarannya itu. Terlebih kini keluarganya sudah tidak pun restoran.
Liam hanya tersenyum tipis. Ternyata selemah itu pria di depannya. Jika ditanya rela atau tidak melepaskan Loveta, jelas dia tidak akan rela. Apalagi pada pria lemah seperti Leo.
“Jika Cinta yakin memilihmu, harusnya kamu malu jika tidak bisa memberikan kehidupan yang layak padanya.” Liam justru merasa Leo benar-benar tidak mau berusaha sama sekali untuk Loveta. Jadi paling tidak sindiran itu lebih pas.
“Tidak. Aku tidak akan melakukan penawaran ini karena aku tidak mau bermasalah di kemudian hari. Jika Loveta harus menjadi milikku, tentu saja buka karena penawaran ini, tetapi karena dia datang padaku sendiri.” Liam menolak tegas. Dia tidak mau membuat Loveta bagai barang yang bisa ditukar begitu saja. Karena itu dia memilih menarik penawarannya itu.
Leo semakin putus asa. Kini sudah tidak ada jalan lagi baginya.
__ADS_1
“Jika urusanmu sudah selesai, aku permisi dulu.” Liam tidak mau terlalu lama bersama Leo. Jika melihat Leo yang begitu frustrasi membuat Liam takut tidak tega.
Liam segera pergi. Meninggalkan Leo di restoran.
Leo benar-benar kesal sekali. Karena kini tidak ada jalan baginya untuk mendapatkan kembali restoran. Membayangkan akan seperti apa kehidupan nanti.
Leo memberikan isyarat tangan pada pramusaji. Memintanya untuk mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya pramusaji.
“Bawakan aku wiski untukku.” Leo memberikan perintah pada pramusaji.
Pramusaji tidak bisa menolak permintaan Leo, mengingat Leo adalah pemilik restoran. Dengan segera pramusaji mengambilkan minuman beralkohol itu untuk Leo.
Leo meminum minuman beralkohol itu. Dia sudah pusing. Butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya itu.
__ADS_1
Leo terus menuang wiski ke dalam gelas dan meminumnya. Dia benar-benar frustrasi. Tidak tahu harus berbuat apa lagi.