
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Loveta menatap Leo.
“Entahlah sejak pria itu ingin merebut restoran, pikiranku jadi kacau.” Leo benar-benar ketakutan. Apalagi dari mulut Liam, dia mendengar jika mamanya yang merebut sang papa. Jadi dia takut jika Liam akan membalas dengan merebut Loveta darinya.
Loveta tahu. Jika pasti kehilangan restoran adalah ketakutan yang Leo alami. Ingin rasanya membenci Liam di saat-saat seperti ini. Namun, dia sadar jika dia sudah berjanji pada Liam jika harus percaya padanya. Jadi sebelum mengambil kesimpulan, dia memilih untuk menunggu penjelasan Liam.
“Leo, cobalah berpikir jernih dulu. Saat pikiranmu kacau, kamu justru bisa menuduh yang tidak-tidak.” Loveta tidak tega melihat Leo seperti sekarang.
“Aku akan tenang jika kamu tidak berhubungan dengannya lagi.” Leo menatap Loveta. Satu harapannya adalah Loveta tidak dekat dengan Liam.
Loveta terperangah. Kedua bola mata indahnya membulat sempurna. Permintaan Leo masih tetap saja sama dengan yang tadi.
“Dengar, Liam adalah adik mami. Mau seberapa aku menjauh tidak akan bisa. Jadi aku mohon jangan meminta itu lagi.” Kali ini Loveta lebih tegas.
Leo sadar jika Liam adalah bagian dari panti asuhan. Artinya ada kedekatan antara Liam dan keluarga Loveta. Jadi akan sulit mencegah Loveta dekat.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa.” Jika Loveta tidak bisa dipaksa menjauh, maka Liam yang harus diminta menjauh.
__ADS_1
“Aku anggap masalah ini selesai.” Tepat saat itu, lift terbuka. Loveta segera masuk ke lift.
Leo masih diam di tempat Loveta meninggalkannya.
“Apa kamu mau diam di sana terus?” tanya Loveta.
Mendapati pertanyaan Loveta, Leo tersadar. Dengan segera, dia masuk ke dalam lift.
Loveta menekan angka di lantai basemen. Lift segera meluncur ke lantai bawah.
Saat pintu terbuka, mereka segera keluar. Mengayunkan langkah ke mobil mereka.
“Baiklah.” Leo mengangguk.
Mereka masuk ke mobil masing-masing. Kemudian melajukan mobilnya ke tujuan masing-masing.
...****************...
__ADS_1
Leo sampai di rumah. Kebetulan papanya juga ada di rumah. Setelah dari pengadilan tadi. Bersama sang istri Josep memang memutuskan untuk pulang.
“Ma, Pa, ada yang ingin aku bicarakan.” Leo yang datang langsung bergabung dengan sang mama dan papa.
“Ada apa, Le? Tampaknya serius.” Bella melihat jika anaknya begitu tampak tegang sekali.
“Aku ingin menikah dengan Lolo.” Leo sudah memikirkan dengan matang ucapannya itu. Ini semua dilalukan agar tidak kehilangan Loveta. Lagi pula dia juga sudah berjanji pada orang tua Loveta akan menikahi Loveta.
“Kamu sudah mau menikah?” Bella begitu berbinar ketika melihat anaknya akan segera menikah. Setelah sekian lama, akhirnya hari ini yang ditunggu-tunggu.
“Bagus kalau kamu sudah siap menikah.” Josep tak kalah senang. Berbesanan dengan keluarga Fabrizio tentu saja diharapkan Josep. Mengingat keluarga Fabrizio cukup kaya.
“Iya, dan aku tidak mau menunggu lama. Aku mau besok Papa dan Mama melamar Lolo.” Leo tidak mau berlama-lama karena merasa jika Liam bisa saja bertindak cepat untuk merebut Loveta. Jadi, dia harus secepat mungkin.
“Kenapa cepat-cepat, Le?” Bella merasa terlalu cepat untuk melamar. Apalagi mereka belum melakukan persiapan apa pun.
“Sudahlah, lebih cepat lebih baik.” Josep menepuk tangan sang istri. Meminta untuk tidak melarang anaknya. Dia justru senang jika anaknya segera menikah dengan Loveta.
__ADS_1
“Baiklah, Mama dan Papa akan siapkan semua.” Bella pun setuju.
“Terima kasih, Ma.” Leo jauh lebih tenang sekarang. Karena setelah ini, tentu saja dia tidak perlu khawatir Liam akan merebut Loveta.