Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 28


__ADS_3

Usai makan siang, Loveta dan Liam melanjutkan kembali menatap rumah. Kali ini bagian ruang tamu. Loveta memasang taplak meja, vas bunga, dan pernak-pernik lainnya. Kemarin dia juga sempat beli bantal sofa. Jadi Loveta membukanya dan meletakkannya di sofa. Kini apartemen Liam sudah benar-benar rapi sekali.


Usai merapikan apartemen, Loveta dan Liam duduk di sofa. Menikmati waktu istirahat.


“Lihatlah sekarang sudah rapi.” Loveta begitu senangnya ketika melihat rumah rapi.


“Terima kasih sudah membuat rumah rapi.” Liam tersenyum.


“Sama-sama, Kak.” Loveta tersenyum memamerkan deretan giginya.


Mereka meminum jus kemasan yang dibeli di supermarket. Meredakan dahaga yang menghinggapi.


“Apa setelah ini kamu akan pulang?” Liam menatap Loveta.


“Iya, sepertinya.” Loveta yang melihat waktu menunjukkan jam empat, merasa jika lebih baik dirinya pulang dibanding harus kembali ke toko.


“Baiklah, aku akan antar kamu pulang, tapi aku akan mandi lebih dulu.” Liam tidak mau pergi ke dari rumah dalam keadaan berkeringat. Tentu saja membuatnya merasa tidak nyaman.


“Baiklah.” Loveta tentu saja akan menunggu Liam.


Liam segera menuju ke kamarnya. Meninggalkan Loveta sendiri.


Di  saat Liam ke kamarnya, Loveta memilih menunggu di sofa. Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan. Jadi tentu saja itu membuat Loveta mengantuk.

__ADS_1


Tak tahan dengan rasa kantuknya, Loveta merebahkan tubuhnya di sofa. Memejamkan matanya seraya menunggu Liam yang tidur.


Lima belas menit berlalu. Liam akhirnya selesai juga mandi. Dia segera keluar dari kamarnya. Menghampiri Loveta yang ada di ruang tamu.


“Cin—“ Baru saja ingin memanggil cinta, tetapi tiba-tiba Liam langsung menghentikan aksinya itu. Dia melihat Loveta yang tertidur di sofa. Tentu saja itu membuatnya tidak mau mengganggu.


Liam menghampiri Loveta. Dilihatnya dari kejauhan Loveta begitu cantik saat tertidur. Pipinya yang gembil tampak menggemaskan sekali. Mirip anak-anak yang memiliki pipi chabi.


Rasa penasaran Liam mengantarkan langkahnya menghampiri Loveta. Dia bersimpuh di samping sofa. Memandangi wajah Loveta.


“Cantik.” Satu kata yang diucapkan Liam tanpa suara. Hanya gerakan mulut saja.


Liam melihat jelas wajah cantik Loveta. Kulit kuning langsat khas negara Indonesia tampak tidak mengurangi kecantikan itu. Definisi cantik tidak harus putih, memang dimiliki oleh Loveta.


Bulu mata lentik miliki Loveta juga membuat Liam mengaguminya. Liam terus memandangi Loveta. Memuji dalam hatinya kecantikan yang tersuguh di depannya.


“Kak Liam.” Loveta beranjak bangun secara tiba-tiba.


Liam yang melihat Loveta begitu terkejut membuatnya langsung membantu Loveta untuk bangun.


“Apa aku mengagetkan kamu?” Liam merasa tidak enak ketika Loveta terkejut.


Loveta mengatur irama jantungnya yang tak beraturan. Dia merasa jika tatapan Liam begitu membuatnya salah tingkah. Namun, tentu dia tidak berani mengatakan itu. Dia tidak mau terlalu percaya diri karena Liam memandanginya.

__ADS_1


“Kak Liam mengagetkan aku.” Loveta membenarkan ucapan Liam.


“Maaf tadi aku berniat membangunkanmu, tetapi tampak pulas sekali.” Liam tidak mau ketahuan baru saja memandangi Loveta.


“Tadi menunggu Kak Liam lama, jadi aku tidur sebentar.” Loveta tersenyum.


“Tidak apa-apa. Kamu pasti lelah membantu aku merapikan rumah dan tadi pagi kamu bangun lebih awal untuk mengantarkan makanan ke sini.” Liam memaklumi apa yang membuat Loveta mengantuk.


Loveta membenarkan apa yang dikatakan Liam. Mungkin karena maminya tadi memintanya bangun pagi, alhasil dia mengantuk sekarang.


“Ayo aku antarkan pulang kalau begitu.” Liam segera berdiri. Tak mau berlama-lama karena kasihan Loveta.


“Ayo.” Loveta segera berdiri. Meraih tas yang berada di sebelahnya.


Bersama Liam dia keluar dari apartemen.


“Tunggu.” Liam menghentikan langkah Loveta ketika nyaris sampai ke pintu.


“Ada apa, Kak?” tanya Loveta bingung.


“Rambutmu berantakan.” Liam merapikan rambut Loveta. Menyelipkan rambut ke balik telinga Loveta. Karena bangun tidur, rambut Loveta jadi berantakan.


Apa yang dilakukan Liam jelas membuat Loveta terperangah. Tatapannya tertuju pada wajah Liam yang sedang asyik merapikan rambutnya.

__ADS_1


Jika seperti ini terus, lama-lama aku bisa jatuh cinta.


Loveta merasa perhatian Liam padanya membuat hatinya goyah. Padahal Loveta tahu pasti jika dirinya sudah punya kekasih.


__ADS_2