Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 105


__ADS_3

Hari ini Liam membuat janji dengan mertuanya. Kebetulan sang mertua ingin mengenalkan Liam pada temannya yang akan menyewakan gedung. Mereka membuat janji di restoran miliknya.


“Pi.” Liam menyapa mertuanya.


“Mereka bilang akan datang segera.” Papi Dathan tersenyum.


“Baiklah.” Liam tidak masalah menunggu. Dia juga penasaran siapa gerangan teman mertuanya.


Liam dan Papi Dathan menunggu tamu sambil menikmati secangkir kopi.


“Permisi.” Seorang pria menghampiri Liam dan Papi Dathan.


Liam dan Papi Dathan langsung mengalihkan pandangan. Seorang pria tua menghampiri mereka. Tak hanya sendiri, pria tua itu bersama dengan dua pria. Liam melihat jika dua pria itu adalah tamu yang hadir di pestanya.


“Selamat pagi, Pak Bryan.” Papi Dathan langsung berdiri dan menyalami Bryan Adion.


“Senang sekali saya akhirnya Pak Dathan menghubungi saya.” Bryan Adion tersenyum. Di usianya yang sudah cukup tua, garis ketampanannya masih terlihat jelas.


“Tentu saja. Kita sudah bahas waktu di pesta. Jadi sekarang kita realisasikan.” Papi Dathan tersenyum. Waktu di pesta pernikahan anaknya, dia bertemu dengan Bryan Adion. Mereka sempat membahas perihal gedung yang akan disewa Liam.

__ADS_1


Bryan Adion mengalihkan pandangan pada Liam. “Halo, aku Bryan Adion.” Dia mengulurkan tangan pada Liam.


“Wiliam.” Liam menerima uluran tangan Bryan Adion.


“Maaf aku tidak langsung memberikan ucapan selamat waktu itu. Maklum tidak sanggup mengantre terlalu lama.” Bryan Adion tersenyum. Sewaktu pernikahan Liam dan Loveta Bryan Adion datang. Hanya saja dia tidak memberikan ucapan selamat ada pengantin. Hanya bertemu dengan Dathan Fabrizio saja.


Liam tidak tahu jika Bryan Adion adalah salah satu tamu undangan. Karena yang dilihatnya adalah pemuda di sampingnya saja.


“Tidak masalah, Pak.” Liam tersenyum.


“Kenalkan ini adalah cucu-cucuku. Ini Kean dan ini Lean.” Bryan Adion memperkenalkan Liam dan Kean pada Liam.


Walaupun sudah bertemu, Liam baru tahu nama dari pria-pria tersebut.  


“Aku Wiliam, panggil saja Liam. Karena banyak antrean yang ingin mengucapkan selamat kita tidak bisa saling berkenalan.” Liam tersenyum.


“Iya, tamu undangan cukup banyak. Jadi kami harus buru-buru.” Lean menimpali. “ Hai, aku Lean.” Lean bergantian dengan saudara kembarnya mengulurkan tangannya.


“Aku Liam.” Liam tersenyum menerima uluran tangan Lean.

__ADS_1


“Mari kita duduk.” Papi Dathan segera mempersilakan tamunya untuk duduk.


Kean dan Lean membantu sang kakek untuk duduk. Mereka sengaja diajak oleh kakeknya agar bisa belajar dari Liam. Mendengar cerita dari Dathan Fabrizio tentang menantunya, membuat Bryan Adion mau mengenalkan cucu-cucunya pada Liam.


“Kami punya gedung yang tidak terlalu besar. Kebetulan itu adalah gedung lama dan sudah direnovasi. Jika kamu mau kamu bisa menyewanya.” Bryan Adion menjelaskan.


“Wah ... kebetulan sekali. Saya memang mencari gedung yang tidak terlalu besar.” Liam senang ketika banyak orang yang membantunya.


“Kean dan Lean yang akan mengurus semua. Jadi kamu nanti bisa bersama mereka untuk mengecek gedung itu sekaligus mengurus berkas sewanya. Mereka sedang belajar bisnis. Jadi kamu bisa sekalian mengajari mereka.” Bryan Adion tersenyum. Menurutnya ilmu bisa datang dari mana saja. Mau berbeda bisnis, tetapi bisa dipelajari bersama.


“Tentu saja.” Liam mengangguk.


Mereka membicarakan bisnis. Liam berbagi pengalamannya. Apalagi Kean dan Lean baru mulai bekerja. Jadi masih harus banyak belajar.


“Besok aku akan antar untuk meliat gedung. Nanti urusan berkas, biar Liam yang urus.” Sebelum pulang Kean memberitahu rencananya itu pada Liam.


“Baiklah, kita bertemu besok.” Liam tersenyum. Walaupun cucu dari pemilik perusahaan besar Kean dan Lean mau turun langsung menangani ini. Liam cukup salut karena mereka mau memulai dari bawah.


Akhirnya mereka berpamitan. Bertemu kembali besok untuk melihat gedung yang akan disewa Liam.

__ADS_1


 


 


__ADS_2