
Tanpa terasa tiga bulan persidangan berlangsung. Hari ini adalah pembacaan hasil putusan sidang. Keluarga Smith sudah bersiap pagi-pagi sekali. Mereka tidak mau sampai terlambat datang ke pengadilan.
Di tengah-tengah sedang bersiap, ponsel Leo berdering. Saat melihat ponselnya, ternyata Loveta yang menghubunginya.
“Halo, Lo. Ada apa?” tanya Leo yang mengangkat sambungan telepon.
“Apa kamu sudah siapkan berkas pernikahan? Papi menanyakan itu. Dari kemarin kamu tidak memberikannya. Pernikahan kita sebulan lagi.” Loveta terdengar kesal sekali.
Leo mengembuskan napas kasar. Memang benar dua bulan ini dia sibuk mengurus urusan restoran. Dia terus mengumpulkan bukti agar restoran bisa menjadi milik keluarganya. Sampai-sampai dia lupa mengurus pernikahannya.
“Setelah putusan pengadilan ini aku akan mengurus berkasnya. Aku masih sangat sibuk.” Leo mencoba menjelaskan pada Loveta. Dia memang tidak bisa fokus selama restoran belum jatuh ke tangannya.
“Baiklah, kabari aku jika urusanmu sudah selesai.” Loveta segera mematikan sambungan teleponnya.
Leo menyesali apa yang dilakukannya. Namun, untuk saat ini tenaga dan pikirannya memang terfokus pada urusan restoran saja. Belum bisa fokus pada urusan pernikahannya.
“Leo, ayo.” Bella memanggil sang anak.
Mendengar suara sang mama, Leo segera keluar dari kamarnya. Dengan segera dia menyusul sang mama yang sudah keluar dari rumah.
Kali ini mereka memakai satu mobil. Leo menyetir mobil. Melajukan mobil ke pengadilan.
...****************...
__ADS_1
Di tempat berbeda, Liam tengah bersiap. Setelah sekian lama melalui banyak hal dan perjalanan panjang. Akhirnya persidangan akhirnya berakhir. Dengan putusan sidang hari ini, akan terjawab siapa yang berhak memiliki restoran itu.
Liam menuju ke pengadilan bersama dengan pengacaranya. Tepat saat dia datang, keluarga Smith pun juga datang. Sayangnya, sebagai rival mereka memilih untuk tidak saling bertegur sapa. Liam memilih untuk mengobrol dengan pengacara.
“Berapa persen kemungkinan kita menang?” Liam menatap pengacaranya.
“Jika melihat bukti yang sudah diberikan, ada kemungkinan kita akan menang telak, Pak.” Pengacara memberikan pendapatnya.
“Jika kita menang, apa mereka masih bisa mengajukan banding?” tanya Liam. Dia memikirkan kemungkinan itu.
“Bisa saja, Pak, tapi tetap akan sulit.”
Mendapati jawaban itu Liam berharap jika keluarga papanya tidak akan mengajukan banding. Karena dia merasa lelah harus bolak-balik pengadilan. Waktunya habis untuk mengurus urusan ini saja. Sampai-sampai tidak memedulikan dirinya sendiri.
Akhirnya persidangan mereka dimulai juga. Saat sidang dimulai, mereka semua duduk mendengarkan hasil putusan. Mereka semua begitu berdebar-debar ketika menunggu hasil putusan itu.
Liam begitu bersyukur sekali karena akhirnya perjuangan panjangnya berbuah manis juga. Kini restoran itu akhirnya menjadi miliknya.
Leo, Josep, dan Bella begitu terkejut dengan keputusan hakim itu. Tidak menyangka jika keputusan akan seperti itu. Tentu saja keputusan ini adalah pukulan berat untuk mereka. Karena mereka harus merelakan restoran yang sudah dibesarkan.
Josep yang mendengar putusan itu seketika pingsan. Dia merasa tidak terima dengan keputusan ini. Terlalu menyakitkan sekali. Karena restoran yang dibesarkan harus dilepaskan.
Tubuh Josep langsung limbung. Lemas tepat di samping istrinya.
__ADS_1
“Papa.” Bella tak kalah terkejut dengan yang terjadi. Dengan sigap dia menahan tubuh sang suami.
Leo yang duduk d seberang sang papa tak kalah terkejut dengan apa yang terjadi pada sang papa.
“Papa.” Leo langsung menghampiri sang papa.
Leo menepuk pipi sang papa. Sayangnya tidak ada respons. Karena itu dia segera mengangkat tubuh sang papa. Membawanya keluar dari ruang persidangan. Mama Bella juga ikut di belakang Leo. Dia tak kalah khawatir pada sang suami.
Melihat reaksi papanya, Liam sedikit khawatir. Dia refleks ikut menghampiri. Saat melihat Leo membawa papanya pergi, dia mengikutinya.
Leo segera membawa papanya ke rumah sakit terdekat. Beruntung rumah sakit tak jauh dari pengadilan agama. Jadi dia dapat dengan cepat sampai.
Di depan ruang UGD, perawat sudah bersiap. Mereka memindahkan Josep dengan brankar. Kemudian membawa ke ruang UGD.
Dokter di ruang UGD langsung memeriksa. Diketahui jika Josep terkena serangan jantung.
Bella langsung menangis ketika mengetahui jika suaminya terkena serangan jantung.
“Bagaimana papamu, Leo?” Bella menangis kencang. Ketakutan hal buruk akan terjadi pada sang papa.
“Tenanglah, Ma. Dokter pasti akan berusaha untuk menyelamatkan papa.” Leo menenangkan sang mama.
Leo benar-benar tidak menyangka. Di balik tegarnya sang papa, menyimpan ketakutan yang luar biasa. Sebagai anak, jelas Leo tidak tega melihat hal ini.
__ADS_1
Dokter terus berupaya menyelamatkan Josep. Sampai akhirnya keadaan Josep stabil. Namun, dia masih harus dibawa ke ruang ICU untuk observasi terlebih dahulu.
Leo pun mempersilakan dokter melakukan apa pun. Asal papanya dapat selamat. Leo tidak mau sampai terjadi apa-apa pada sang papa.