
Sesuai dengan rencana kemarin, hari ini Loveta membantu Liam untuk menyiapkan acara lamaran. Liam datang ke toko perhiasan untuk mencari cincin untuk acara melamar.
“Cincin mana yang bagus?” tanya Liam seraya menatap etalase kaca yang memperlihatkan deretan cincin.
“Semua cincin bagus, Kak.” Loveta mencoba menjelaskan.
“Tapi, aku mau yang spesial.” Liam menatap Loveta. Tatapannya seolah memohon Loveta untuk mencarikannya mana cincin yang pas.
Loveta merasa sedih ketika ada wanita lain yang begitu diperhatikan oleh Liam. Rasanya tidak rela jika Liam membagi perhatian itu pada orang lain.
“Koleksi limited edition sepertinya pas, Kak. Ayo aku tunjukkan.” Loveta tetap harus melayani dengan baik pelanggan di tokonya. Jadi dia harus memberitahu koleksi terbaik di toko.
Liam dengan senang hati mengikuti Loveta.
Loveta menunjukkan koleksi terbaik tokonya. “Ini dibuat dengan belian terbaik. Desainnya juga tidak pasaran.” Loveta menjelaskan pada Liam.
Liam melihat cincin tersebut. Tampak begitu indah sekali.
“Kamu suka yang mana?” tanya Liam.
Mendapati pertanyaan itu Loveta terdiam. Mencerna ucapan Liam lebih dulu.
“Maksud aku jika kamu diminta memilih, kamu pilih yang mana? Selera wanita kadang sebelas dua belas. Jadi aku rasa seleramu akan sama.” Liam mencoba menjelaskan ketika Loveta tampak terkejut dengan ucapannya.
Pendapat Liam tidak ada salahnya. Jadi dia tidak keberatan untuk memilihkan cincin untuk Liam.
__ADS_1
“Cincin ini dibuat hanya tiga pasang. Berlian terbaik dengan ukuran yang pas. Sekali memandang, kita akan langsung dibuat jatuh cinta.” Loveta menunjukkan satu cincin yang menurutnya paling disukanya.
Liam memerhatikan cincin tersebut. Cincin tampak cantik sekali. Membuat Liam juga suka melihatnya.
“Kalau begitu aku pesan ini saja.” Liam akhirnya setuju dengan pilihan Loveta.
“Baiklah, aku ambilkan. Ukurannya mau ukuran berapa?” tanya Loveta seraya mengambil cincin.
“Sama dengan jarimu.”
Loveta benar-benar diuji. Yang diberikan cincin bukan dirinya, tetapi dirinya yang memilih. Ukurannya pun sesuai jarinya. Itu membuat Loveta cukup kesal sekali.
Tak mau banyak berdebat, akhirnya Loveta memilih untuk mengambil cincin sesuai dengan ukurannya.
“Aku mau mencari bunga. Bisakah kamu mencarikan bunga untuk malam ini melamarnya?” Liam menatap Loveta penuh harap.
Ternyata siksaan itu belum selesai juga. Karena ternyata Liam masih meminta bantuannya.
“Baiklah.” Walaupun hatinya tidak suka, tetapi mulutnya tidak bisa menolak.
“Baiklah.” Liam begitu senang.
Tepat jam makan siang, Loveta dan Liam pergi untuk mencari bunga untuk diberikan nanti malam. Setelah urusan selesai, mereka melanjutkan untuk makan siang.
“Aku tidak bawa tas, bisakah aku menitipkan cincinnya di tasmu?” Sebelum turun untuk dari mobil untuk ke restoran, Liam meminta tolong pada Loveta.
__ADS_1
“Baiklah, nanti jangan lupa Kak Liam minta padaku.” Loveta adalah pelupa. Jadi dia harus mengandalkan orang lain untuk mengingatnya.
“Baiklah.” Liam mengangguk.
Loveta dan Liam ke restoran. Sambil menunggu makanan datang, Liam memberitahu karyawannya untuk menyiapkan dekorasi untuk malam nanti. Rencananya Liam akan melakukan lamaran di restoran. Tepatnya di lantai paling atas restoran.
Loveta mendengarkan semua penjelasan Liam. Tampak Liam mempersiapkan dengan baik. Ada alunan musik yang akan mengiringi. Dekorasi lampu yang akan menghiasi dan terutama bunga-bunga yang akan dipesan. Liam menjelaskan secara detail pada karyawannya.
Saat makanan datang, Liam dan Loveta segera menikmati makanan tersebut. Sambil makan, Liam menceritakan rencananya. Membuat lamaran romantis untuk calon istrinya. Mendengar cerita itu membuat Loveta kesal. Namun, dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Mengingat tidak punya hak atas semua itu.
Liam mengantarkan Loveta ke toko lagi setelah makan siang.
“Terima kasih sudah menemani aku.” Liam senang Loveta mau menemaninya.
“Sama-sama. Semoga acara nanti malam lancar.” Loveta memaksakan senyumnya.
“Tentu saja. Aku berharap juga acaranya lancar.” Liam tersenyum. “Kalau begitu aku pamit dulu.” Liam bergegas pergi meninggalkan Loveta.
Loveta melihat mobil Liam yang perlahan hilang dari pandangan. Dia tidak bisa bayangkan akan sebahagia apa orang yang mendapat kejutan dari Liam. Mendengar bagaimana rencana Liam saja, membuatnya iri.
“Astaga, cincin Kak Liam ada padaku.” Baru saja memikirkan rencana lamaran yang akan dilakukan Liam, Loveta teringat dengan cincin yang dititipkan Liam. “Bisa-bisa gagal jika cincinnya tidak dibawa.” Loveta memikirkan kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1